BIMBINGAN TADARUS ALQURAN BAGI PENGURUS
DAN JAMAAH
MAJELIS TAKLIM INDONESIA (MTI) KOTA
PADANG
OLEH ROSNIATI HAKIM
Bagian Pertama: Tadarus
Alquran
Alquran
merupakan pedoman utama dalam memberikan tuntuntan berperilaku bagi umat Islam.
Segala bentuk tata pelaksanaan berkehidupan manusia di muka bumi ini harus
berdasarkan pada sumber utama ajaran Islam tersebut. Sehingga upaya untuk
menggali petunjuk yang ada di dalam Alquran harus terus menerus dilakukan.
Proses penggalian makna yang terkandung dalam Alquran merupakan tugas setiap
muslim, yang dilakukan tanpa kenal lelah. Belajar terus menerus untuk mendalami
kandungan Alquran memang tidak mengenal batas umur. Meskipun demikian, jika
proses mempelajari Alquran telah dimulai sejak dini, niscaya akan menghasilkan
penguasaan yang lebih baik terhadap kandungan Alquran.
Keberadaan Alquran tidak
hanya untuk dibaca dan dihafalkan semata. Namun dengan memahami kandungan
Alquran akan mengantarkan kita untuk mengamalkannya. Hal ini dilakukan agar
pemahamannya benar dan pengamalannya terarah. Konsep Islam telah mengajarkan untuk
membentuk wadah amar makruf (tindakan proaktif) dan nahi mungkar (tindakan
reaktif) terhadap lingkungan sekitarnya. Ajaran ini berimplikasikan bahwa
pendidikan terutama Alquran, merupakan tanggung jawab bersama; keluarga,
sekolah, pemerintah, lingkungan sosial seperti dalam Q.S. Ali Imran; [3]: 104;
`ä3tFø9ur
öNä3YÏiB
×p¨Bé&
tbqããôt
n<Î)
Îösø:$#
tbrããBù'tur
Å$rã÷èpRùQ$$Î/
tböqyg÷Ztur
Ç`tã
Ìs3YßJø9$#
4
y7Í´¯»s9'ré&ur
ãNèd
cqßsÎ=øÿßJø9$#
ÇÊÉÍÈ
Artinya:
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma'ruf [segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada
Allah] dan mencegah dari yang munkar [segala perbuatan yang menjauhkan kita dari
pada-Nya.
Keadaan
kolektif umat Islam tentang pentingnya menuntut ilmu agama dalam kehidupan
sehari-hari yang dilakukan secara teroganisir, teratur dan sistematik, dipahami
dari firman Allah swt. dalam QS. at-Taubah [9]: 122;
* $tBur c%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuÏ9 Zp©ù!$2 4 wöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuÏj9 Îû Ç`Ïe$!$# (#râÉYãÏ9ur óOßgtBöqs% #sÎ) (#þqãèy_u öNÍkös9Î) óOßg¯=yès9 crâxøts ÇÊËËÈ
Artinya: dan tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke
medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka
beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk
memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya,
supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Selanjutnya juga terilhami oleh tugas mulia setiap nabi dan Rasul,
sebagaimana bunyi ayat QS. al-Baqarah [2]: 129;
$uZ/u ô]yèö/$#ur öNÎgÏù Zwqßu öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Gt öNÍkön=tæ y7ÏG»t#uä ÞOßgßJÏk=yèãur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur öNÍkÏj.tãur 4
y7¨RÎ) |MRr& âÍyèø9$# ÞOÅ3ysø9$# ÇÊËÒÈ
Artinya:
Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang
akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka
Al kitab (Alquran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Sabda Rasulullah saw. menyatakan bahwa menuntut ilmu itu wajib
hukumnya, sebagaimana hadis berikut (M. Alfis Chaniago, I/2012: 667):
Artinya; carilah ilmu sekalipun di negeri Cina, karena sesungguhnya
mencari ilmu itu wajib atas setiaap muslim. Sesungguhnya para malaikat sayapnya
kepada orang yang mencari ilmu karena ridha terhadap amal perbuatannya itu (HR
Ibnu Abdul-Barr)
Tadarus
atau
tadarusan biasanya berbentuk sebuah majelis di mana para pesertanya
membaca Alquran bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak dan
umumnya dilaksanakan di masjid/mushalla di malam-malam bulan Ramadhan dan atau
di rumah orang yang baru meninggal dunia. Tetapi inipun tidak berlangsung lama
bahkan hampir tidak ada dilakukan lagi seperti masa-masa lalu. Kata tadarus berasal dari asal kata darasa-yadrusu,
yang artinya mempelajari, meneliti, menelaah, mengkaji dan mengambil pelajaran.
Lalu ditambahkan huruf ta’ di depannya sehingga menjadi tadarasa -
yatadarasu, maka maknanya bertambah menjadi saling belajar, atau
mempelajari secara lebih mendalam.
Firman Allah swt. QS.
al-A’raf, 7: 204 mememerintahkan untuk mendengarkan dan memperhatian bacaan
Alquran, sebagai berikut:
A.
#sÎ)ur Ìè%
ãb#uäöà)ø9$# (#qãèÏJtGó$$sù
¼çms9 (#qçFÅÁRr&ur
öNä3ª=yès9 tbqçHxqöè?
ÇËÉÍÈ
Artinya:
Dan apabila dibacakan Alquran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah
dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.
Sentuhan
baca Alquran seharusnya menjadi karakteristik bagi mukmin sejati, sebagaimana
dinyatakan Allah dalam firman-Nya dalam QS. al-Anfal [8]: 2 sebagai
berikut:
$yJ¯RÎ)
cqãZÏB÷sßJø9$#
tûïÏ%©!$#
#sÎ)
tÏ.è
ª!$#
ôMn=Å_ur
öNåkæ5qè=è%
#sÎ)ur
ôMuÎ=è?
öNÍkön=tã
¼çmçG»t#uä
öNåkøEy#y
$YZ»yJÎ)
4n?tãur
óOÎgÎn/u
tbqè=©.uqtGt
ÇËÈ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang
beriman [orang yang sempurna imannya] ialah mereka yang bila disebut nama Allah
[menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya] gemetarlah hati
mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
Dalam QS. Shad; 38:29; ditegaskan untuk
mempelajari Alquran.
ë=»tGÏ. çm»oYø9tRr& y7øs9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿrã/£uÏj9 ¾ÏmÏG»t#uä t©.xtFuÏ9ur (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ
Artinya: Ini adalah sebuah kitab
yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan
ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.
Tadarus dalam arti yang
sebenarnya, ialah mempelajari isi dan kandungan Alquran. Di masa nabi saw.
adalah dengan cara mempelajari beberapa ayat, setelah mendalam dan mengerti,
baru diteruskan lagi beberapa ayat. Dari Ibnu Mas’ud ra berkata: “Adalah
seorang dari kami jika telah mempelajari 10 ayat maka ia tidak menambahnya sampai
ia mengetahui maknanya dan mengamalkannya” Hadis ini di-shahih-kan oleh
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam tahqiq-nya atas tafsir At-Thabari (I/80).
Bagian Kedua: Keutamaan membaca dan mempelajari Alquran.
a. Orang
yang belajar dan mengajarkan Alquran adalah sebaik-baik umat. Kelak mereka akan
menerima balasan pahala dari Allah yang berlipat ganda, Rasulullah saw. Dari ‘Utsman, dari Nabi saw. Telah bersabda: sebaik-baik kamu ialah
orang yang belajar Alquran dan yang mengajarkannya. (HR. Bukhari)
b. Orang
yang membaca Alquran, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan
merugi (QS. Al-Fathir; 35:29.)
c. Disamping
amal kebajikan, memperbanyak membaca Alquran dapat membebaskan kita dari
sentuhan api neraka, karena ia datang kelak pada hari kiamat memberi syafa’at.
Abdul Mukti TS. (1987:216-217)
d. Membaca
Alquran merupakan ibadah yang lebih utama dari umat Muhammad saw.
Tujuan
mempelajari Alquran selain dari pada untuk jadi ibadah membacanya, Mahmud Yunus
dalam bukunya; Metodik Khusus Pendidikan
Agama (1978:55-56) mengemukakan sebagai berikut:
a. Memelihara
kitab suci dan membacanya serta memperhatikan apa-apa isinya, untuk jadi
petunjuk dan pengajaran bagi kita dalam kehidupan didunia.
b. Mengingat
hukum agama yang termaktub dalam Alquran, serta menguatkan keimanan dan
mendorong berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.
c. Mengharapkan
keridhaan Allah dengan menganut i’ktikad yang sah dan mengikuti segala
suruhan-Nya dan menghentikan segala larangan-Nya.
d. Menanamkan
akhlak yang mulia dengan mengambil ‘ibrah dan pengajaran, serta tiru teladan
yang baik dari riwayat-riwayat yang termaktub dalam Qur’an.
e. Menanam
rasa keagamaan dalam hati dan menumbuhkannya, sehingga bertambah tetap
ke-imanan dan bertambah dekat hati kepada Allah.
Mempelajari
Alquran amat penting sekali dimulai sejak kanak-kanak, baik di sekolah, atau
diluar sekolah, seperti di rumah, di mesjid, di langgar, atau surau, di Taman
pendidikan Alquran, dan lain-lain. Sementara Moh. Saleh Samak, dalam Rosniati
Hakim (Metode Pembelajaran Alquran: 2011: 11), mengemukakan bahwa tujuan
mengajarkan Alquran kepada murid-murid adalah sebagai berikut:
1. Untuk
menjelaskan asas utama syariat Islam.
2. Untuk
meninggikan daya berfikir murid-murid tentang hidup dan menikmati keindahan
bahasanya.
3. Untuk
memberi faham ayat-ayat yang dipelajarinya.
4. Untuk
mengetahui hukum-hukum agama yang terkandung
di dalam Alquran dan mengingati serta menghafalnya.
5. Untuk
membentuk akhlak mulia
Ajaran Islam sarat dengan berbagai makna yang berhubungan dengan
pendidikan. berangkat dari itu, para ahli pendidikan Islam merumuskan bahwa
pendidikan Islam perlu dilihat dari dua sudut pandang. Secara umum dan secara
khusus. Secara umum pendidikan Islam didasarkan pada tiga faktor, yaitu: (1)
hakikat penciptaan manusia, yaitu manusia menjadi pengabdi Allah yang taat dan
setia, (2) peran dan tanggung jawab manusia sejalan dengan statusnya selaku
hamba Allah SWT; al-Basyr, al-Insan, al-Nas, bani Adam maupun khalifah Allah,
dan (3) Tugas utama Rasul yaitu membentuk akhlak mulia serta memberi rahmat
bagi semesta alam. (Ramayulis: 2005 dan Jalaluddin: 2003)
Rumusan pendidikan yang umum tersebut, dihubungkan dengan pendapat para
ahli, oleh para pendidik Islam dikatakan; pendidikan adalah “usaha membimbing
dan mengembangkan potensi manusia baik sebagai makhluk maupun sosial secara
bertahap sesuai tahap pertumbuhan dan perkembangannya (Jalaluddin: 2003).
Berdasarkan rumusan tersebut, konsep pendidikan Islam secara khusus terdiri
atas: (1) pendidikan harus berdasarkan tingkat pertumbuhan dan perkembangan (2)
pendidikan harus berdasarkan jenis kelamin (3) pendidikan harus berdasarkan
tingkat kecerdasan (4) pendidikan harus berdasarkan kelembagaan, yakni (a)
kelembagaan formal seperti sekolah, madrasah, pesantren, dan kelembagaan
nonformal seperti majelis taklim, baik di mesjid maupun di majelis lainnya.
Bagian Ketiga: Program
Tadarus Alquran
Melaksanakan
pembelajaran tadarus Alquran sebagai kegiatan pendahuluan dalam rangka mendapat
informasi tentang kemampuan, pemahaman, dan minat serta pelaksanaan tadarus
berlangsung selama ini. Berdasarkan pengamatan, tanya jawab dengan jamaah, maka
disusun rencana program ini. Pembelajaran program tadarus Alquran dimaksud
adalah sebagai berikut:
Rancangan Program Tadarus
Alquran
Nama Program : Tadarus Alquran
Peserta : Jamaah Majelis Taklim
Waktu Pelaksanaan : Semester Ganjil Tahun 2014
Alokasi waktu : 3 x 50 menit (1 kali pertemuan)
Tujuan Umum : Memberikan pelayanan dalam bidang pendidikan
keagamaan
Islam tentang Alquran agar dapat diaplikasikan
dalam
kehidupan sehari-hari
Tujuan Khusus :
Menyajikan materi tadarus Alquran dengan berbagai
metode dan
pendekatan serta diselingi shalawat, do’a dan
zikir
dalam senandung dengan:
a. Menerapkan
pembelajaran baca Alquran secara berulang-ulang dengan berbagai metode, jamaah
akan terbiasa membaca Alquran setiap hari dengan lancar, baik
secara individu maupun secara bersama-sama.
b.
Menerapkan tajwid praktis dalam membaca Alquran, jamaah
akan terhindar dari kesalahan membaca, serta mampu membaca Alquran dengan
baik dan benar sesuai kaedah ilmu tajwid
c.
Menjelaskan makna kandungan Alquran, jamaah termotivasi
untuk menerapkan pesan-pesan ayat Alquran yang dipahaminya dalam
kehidupan sehari-hari.
d.
Menerapkan metode saling belajar dan saling membaca serta
mendengar dalam membaca Alquran, jamaah
memiliki sikap saling menghargai orang lain.
1). Materi Tadarus Alquran
|
No
|
Materi Pokok
|
Sub Materi
|
Ket.
|
|
2
|
..
|
………
|
|
|
3
|
QS. Ibrahim [14]: 40-41
Do’a bagi keluarga
|
1.Membaca QS. Ibrahim [14]: 40-41
2. Analisis tajwid QS. Ibrahim [14]: 40-41
3.Menerjemahkan QS. Ibrahim [14]: 40-41
4.Kandungan
QS.
Ibrahim [14]: 40-41
|
|
2). Metode dan pendekatan
Pembelajaran Tadarus,
Metode ceramah, membaca, takrir,
dril/latihan, kisah, penugasan dll.
Pendekatan Pembelajaran Kontekstual atau Contextual
Teaching Learning (CTL).
3). Kegiatan Pembelajaran
a). Kegiatan Pendahuluan
Orientasi:
Memusatkan perhatian jamaah pada materi yang akan dikaji/dibahas, dengan cara berdo’a, bersenandung,
beristighfar, berzikir, dsb.
Appersepsi: Memberikan appersepsi atau test awal kepada jamaah tentang tema yang akan disajikan.
Motivasi: Guru memberikan gambaran manfaat mempelajari tema
yang akan diajarkan. Pemberian
Acuan
berkaitan dengan tema
yang akan dipelajari. Acuan dapat berupa penjelasan tema
dan materi dari beberapa pengajian
Penjelasan
mekanisme pelaksanaan pengajian atau pengalaman belajar (sesuai dengan rencana langkah-langkah
pembelajaran).
b). Kegiatan Inti
Proses
pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran/pengajian
-
Dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi jamaah.
-
Menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik jamaah dan tema, yang dapat meliputi proses mengamati
materi/ayat-ayat, membaca, menanyakan, mengasosiasikan (seperti membaca secara
kolektif, berkelompok, secara bergantian saling membaca dan mendengar,
menerjemah dsb.), mengkomunikasikan (melafalkan, menampilkan bacaan,
menerjemahkan, atau kandungan ayat), dsb
-
Menekankan
kepada proses keterlibatan jamaah, mendorong
agar jamaah
dapat menemukan hubungan
antara materi
yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, mendorong jamaah untuk dapat menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.
c). Kegiatan Penutup
Dalam
kegiatan penutup, guru bersama jamaah baik secara individu maupun kelompok
menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai dengan materi pengajian,
dan melakukan penilaian dari proses komunikasi yang berkembang. Melakukan
refleksi untuk mengevaluasi semua rangkaian aktivitas pembelajaran dan
hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat
langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung.
Pemberian pertanyaan atau tugas, dan memberikan arahan
tindak lanjut pembelajaran, dapat berupa kegiatan di luar pengajian; di rumah
untuk selalu membaca dan memahami apa yang dibaca dan mencontohkan dalam
perilaku sehari-hari kepada keluarga, khususnya membaca Alquran.
4).
Alat dan Sumber Belajar
-
Alat: copy materi pengajian
- Sumber Belajar:
a.
pengalaman guru dan jamaah, lingkungan dan lainnya
b.
Mujamma’ Khadim al-Haramaini asy-Syarifain al-malik Fahd li-thiba’at
al-Mushhaf asy-Syarif, Alquran dan Terjemahnya, Madinah Munawwarah No. 11079,
c.
M. Quraih Shihab, 2002. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan dan keserasian
Al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati
d. Al-Maraghiy, Ahmad Mushthafa, 1993.
Tafsir al-maraghiy Juz VIII. CV. Tohaputra Semarang, Semarang Indonesia
e. Dan lain-lain.
5).
Penilaian Proses dan Hasil Belajar
-
Teknik penilaian : tes lisan,
kinerja dan pengamatan
-
Bentuk instrumen :
Essay (memberikan pertanyaan secara
langsung/ tidak secara formal)
Praktek membaca, malafazkan huruf-huruf
Alquran (bentuk keterampilan)
-
Instrumen (Tes dan Non-tes)
-
Kunci dan Pedoman penskoran (terlampir)
-
Tugas
CONTOH MEMBUAT PROGRAM
PROGRAM TADARUS ALQURAN MAJELIS TAKLIM (MT)
BAGI JAMAAH MT MESJID/MUSHALLA
..................................PADANG
=======================================================
SATUAN ACARA KEGIATAN PENGABDIAN
Nama Pengajian
: Program Tadarus Alquran
Waktu Pertemuan : 1 x 3 jam x 50
Pertemuan ke : 1
Materi :
QS. Surat Ibrahim, [14]
:40-41
Dosen
Pengabdi/Guru : Dr.
Rosniati Hakim, M. Ag
A. Learning Outcomes (Capaian Pembelajaran)
1.
Jamaah dapat membaca Alquran surat Ibrahim, 40-41
dengan tepat dan benar sesuai tajwidnya.
2. Jamah dapat menjelaskan kandungan QS Ibrahim ayat 40-41
3. Jamaah dapat menghafalkan QS Ibrahim ayat 40-41
B. Pengalaman Belajar
Mendengarkan, menanyakan, mengamatai, bertanya jawab,
membacakan, menganalisis, menjelaskan, menunjukan dan sebagainya.
C. Materi Pokok: Alquran surat QS
Ibrahim 40-41
D. Sub Materi :
a.
Membaca QS Surat
Ibrahim [14]: 40-41
b.
Analisis tajwid praktis QS Surat Ibrahim [14]:
40-41
c.
Terjemahan QS Ibrahim
[14]: 40-41
d.
Kandungan QS Ibrahim
[14]: 40-41
E. Uraian singkat Materi
1. Membaca Alquran surat Ibrahim ayat 40-41 secara bersama
2. Membaca Alquran surat Ibrahim ayat 40-41 secara individu
3. Menganalisis tajwid Alquran Surat
Ibrahim 40-41
4. Menjelaskan asbabun nuzul Alquran Surat
Ibrahim 40-41
5. Menjelaskan arti Alquran Surat Ibrahim
40-41
6.
Menjelaskan kandungan ayat Alquran Surat Ibrahim 40-41
Pelajaran Ketiga QS. Surat Ibrahim, [14]: 40-41
1. Membaca
Éb>u
ÓÍ_ù=yèô_$#
zOÉ)ãB
Ío4qn=¢Á9$#
`ÏBur
ÓÉLÍhè
4
$oY/u
ö@¬6s)s?ur
Ïä!$tãß
$oY/u
öÏÿøî$#
Í<
£t$Î!ºuqÏ9ur
tûüÏZÏB÷sßJù=Ï9ur
tPöqt
ãPqà)t
Ü>$|¡Åsø9$#
ÇÍÊÈ
2. Meperbaiki bacaan
sesuai Tajwid
a.
Membaca dengan
makharijul huruf dan sifat-sifat huruf yang benar dan tepat
b.
Membaca menurut
Hukum huruf yang benar dan tepat
c.
Membaca dengan
hukum mad dan qashar yang benar dan tepat
d.
Membaca; cara
memulai dan memberhentikan bacaan yang benar dan tepat
e.
Membaca dengan
adab yang benar dan tepat
3. Mempelajari Makna dan Kandungan
Ayat
Artinya: Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku
orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah
doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku
dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab
(hari kiamat)".
Maksudnya
a.
Ya
Allah, jadikanlah aku orang yang melaksanakan kewajiban yang telah Engkau
wajibkan padaku.
b.
Jadikanlah pula anak cucuku orang-orang yang mendirikan
shalat.
Pengkhususan shalat diantara sekian
banyak kewajiban agama, karena ia merupakan ciri yang membedakan orang Mukmin
dengan lainnya, dan karena ia mempunyai keutamaan sangat agung dalam mensucikan
hati dengan meninggalkan segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang
tidak tampak.
c.
Dimaksudkan
dengan do’a di sini ialah ibadah, yakni; ya Allah terimalah ibadahku. Maksud
ini seperti yang diungkapkan di dalam firman Allah dalam QS Maryam, 19: 48
وَأَعْتَزِلُكُمْ
وَمَا تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ وَأَدْعُوْ رَبِّى
“Dan
aku akan menjauhkan diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain
Allah, dan aku akan beribadah kepada Tuhanku.
Di dalam khabar dari Rasulullah saw.
dikatakatan:
وَقَالَ
رَبُّكُمُ ادْعُوْنِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ
عِبَادَتِى سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ
“Sesungguhnya
doa adalah ibadah.” Kemudian beliau membacakan QS al-Mukmin ayat 40:60: “Dan Tuhan kalian berfirman,
“beribadahlah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagi kalian. Sesungguhnya
orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka
Jahannam dalam keadaan hina dina.
$oY/u
öÏÿøî$# Í< £t$Î!ºuqÏ9ur tûüÏZÏB÷sßJù=Ï9ur tPöqt ãPqà)t Ü>$|¡Åsø9$#
d.
Ya
Allah, ampunilah aku atas dosa yang terlanjur telah kulakukan, dan ampunilah
kedua orang tuaku. Diriwayatkan dari Hasan, bahwa ibu Nabi Ibrahim adalah seorang yang beriman. Permohonan ampun
bagi orang tuanya adalah bagi bapaknya, karena dia berjanji akan memohonkan
ampun bagi bapaknya. Tapi setelah jelas, bahwa bapaknya adalah musuh Allah,
maka dia berlepas diri daripadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS
al-Taubah 9: 114:
وَمَا كَانَ
اسْتِغفَارُ إبْرَاهِيْمَ لِأَبِيْهِ…
“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk
bapaknya...”
e.
Juga
ampunilah orang-orang yang beriman kepada-Mu, yang mengikutiku dalam agama yang
aku peluk, sehingga mereka mentaati perintah dan larangan-Mu, pada hari Engkau
menghisab para hamba-Mu, lalu Engkau memberikan balasan atas amal yang telah
mereka lakukan. Jika amal itu baik, maka baiklah balasannya, dan jika amal itu
buruk, buruk pulalah balasannya.
F. Metode
pengajian
1.
Ceramah,
2.
Tanya
jawab,
3.
penugasan,
4.
tilawah,
5.
menirukan,
6.
Kitab
Alquran, hand-out, Slide, power point
G. Kriteria
Penilaian
Tes: lisan
Non tes: pengamatan, unjuk kerja,
Padang, 21 Mei 2016 M/14 Sya’ban 1437 H
ROSNIATI HAKIM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar