Kamis, 27 Agustus 2015

SINOPSIS DISERTASI: MANAJEMEN MDA; Studi pada MDA Baitul Haadi Padang

MANAJEMEN MADRASAH DINIYAH AWALIYAH (MDA);
STUDI KASUS MDA BAITUL HADI PADANG

Rosniati Hakim
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan IAIN Imam Bonjol Padang
e-mail: rosniati_hakim@yahoo.com

Abstrak
         Keberadaan MDA dalam membudayakan dan mentransformasikan nilai-nilai agama adalah menjadi modal dasar bagi peserta didik untuk dapat dikembangkan. Agama dan pendidikan sekolah belum sepenuhnya mampu memberikan nilai lebih dalam pembentukan moral dan kepribadian anak bangsa. Karena itu diperlukan tambahan pendidikan agama dan praktik-praktik keagamaan melalui pendidikan non formal
di MDA yang berpusat di mesjid dan mushala. Pengelolaan yang komprehensif diarahkan pada berbagai fungsi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan. Manajemen yang diterapkan kepala MDA Baitul Haadi telah memberikan keberhasilan pengelolaan pendidikan dan pembelajaran bagi peserta didiknya dengan menerapkan berbagai kegiatan, langkah dan cara. 

Kata Kunci: Manajemen, Madarasah Diniyah, Implikasi.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang masalah
            Pembentukan kepribadian manusia (character and moral building) yang seimbang, sehat dan kuat, sangat dipengaruhi oleh pendidikan agama dan internalisasi nilai keagamaan dalam diri peserta didik. Pendidikan agama di MDA adalah satu tahapan dari proses pembentukan kepribadian anak bangsa. Pengajaran dan pendidikan Agama Islam secara historis, muncul secara alamiah melalui akulturasi secara damai sesuai kebutuhan masyarakat saat itu. Hampir seluruh pelosok desa di tanah air terdapat madrasah awaliyah dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, seperti pengajian, surau, rangkang, sekolah agama dan lain-lain (Mustafa dan Abdullah Aly;1998:110). Ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat Islam akan tambahan pendidikan dan pengajaran agama Islam bagi anak-anaknya, tidak pernah terabaikan sejak dulu hingga sekarang. Di Sumatera Barat dikenal dengan ”Pengajian Al-Qurān” dan ”Pengajian Kitab” disebut juga ”sistem pendidikan Surau”. Abad ke-20 pendidikan Islam ini berhasil melahirkan para pemimpin, ulama/guru besar dibidang Agama Islam, tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan serta melahirkan lembaga-lembaga pendidikan yang dikenal dengan madrasah (Mardanas Safwan, 1987:10).
        Implementasi dari pendidikan keagamaan Islam tidak sekedar teori, namun hakikatnya adalah mampu menerapkannya dalam kehidupan dengan baik. Mampu atau tidaknya seseorang melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya, akan terkait dengan kualitas kepribadian dan kemampuan manajerial kependidikan yang melahirkannya.
         Program pemerintah adalah membentuk iman dan taqwa generasi. Adanya undang-undang dan peraturan pemerintah (PP) menjadi babak baru bagi dunia pendidikan agama dan keagamaan di Indonesia, seperti UU No. 20 Tahun 2003,  PP No. 55 Tahun 2007, Permenag No. 3 tahun 2012. Peraturan Daerah Kota Padang No. 06 Th 2003, dan Peraturan Gubernur No.70 Tahun 2010. Ini berarti Negara/pemerintah menyadari keanekaragaman model dan bentuk pendidikan yang ada di Indonesia. Keberadaan peraturan perundangan tersebut telah menjadi ”tongkat penopang” bagi madrasah diniyah yang sedang mengalami krisis identitas. MDA adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan sebagai pelengkap pelaksanaan pendidikan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat (Muborak, 212-2012).
         Peserta didik harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, baik secara sosial-institusional maupun secara fungsional akademik harus dimulai dari jenjang pendidikan paling rendah (Basuni Aziz, 1993:6). Konsep Islam telah mengajarkan untuk amar makruf (tindakan proaktif) dan nahi mungkar (tindakan reaktif) terhadap lingkungan sekitarnya. Ajaran ini berimplikasikan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama; keluarga, sekolah, pemerintah, lingkungan sosial dan sebagainya (Lihat: Q.S. Ali Imran; 3:104).
         Peran dan fungsi lembaga-lembaga keagamaan belum sepenuhnya berhasil dilaksanakan dalam ikut serta mengatasi dampak negatif perubahan yang terjadi di semua aspek kehidupan, meskipun jumlah lembaga tersebut terus meningkat (Zainal, 2004:4-9). Untuk itu strategi yang perlu ditempuh adalah meningkatkan peran serta masyarakat melalui pengembangan potensi lembaga-lembaga dimaksud, karena diantara problema yang dihadapi madrasah diniyah adalah pola manajemen yang kurang transparan, dan penyelenggaraan administrasi pendidikan yang di bawah standar (Direktur Pekapontren, 20-12-2005:2).
         Keberadaan MDA sangat diperlukan karena - masyarakat merasakan bahwa pendidikan agama yang diterima di sekolah kurang memadai, jumlah jam pelajaran agama yang disediakan, - sangat tingginya kebutuhan orang tua terhadap pembinaan kehidupan beragama dan pembinaan akhlaqul karimah bagi putra putri mereka, - keresahan orang tua terhadap meningkatnya kemerosotan moral dikalangan anak usia sekolah (Irfan, 2000:4). Menurut Darwas (22-09-2007), pandai mengaji atau mampu membaca al-Qurān sebagai pelajaran dasar di MDA, adalah menjadi harapan inti bagi masyarakat, sebagaimana masa lalu. Tapi semakin tahun semakin dirasakan masih kurangnya kemampuan dan sikap peserta didik mencerminkan tujuan yang diharapkan. Berkenaan dengan itu, di harapkan manajemen MDA dan penyusunan program Pendidikan Islam, perlu dijadikan fokus utama. Sikap dan kemampuan membaca al-Qurān anak-anak masih jauh dari yang diharapkan sekalipun di sana sini dilaksanakan acara khataman.
Menurut Malik Fajar (LP3NI, tt.:104), keberadaan lembaga pendidikan Islam termasuk madrasah, masih jauh dari apa yang diharapkan umatnya. Begitu pula, secara kualitatif, lembaga-lembaga yang muncul serta dinilai terkemuka (outstanding), masih jauh dari penilaian ideal (A. Malik Fajar; 2005:250). Pendidikan Islam di Indonesia menurut Husni Rahim (200:3), merupakan warisan peradaban, dan sebagai aset bagi pembangunan pendidikan nasional. Sebagai warisan, merupakan amanah sejarah untuk dipelihara dan dikembangkan oleh umat Islam dari masa ke masa. Sedang sebagai aset, harus ditata dan dikelola sesuai dengan sistem pendidikan nasional.
Keberhasilan madrasah merealisasikan tujuan dan fungsinya, memerlukan manajemen lembaga yang baik, dan dukungan berbagai unsur. Peranan kepala madrasah merupakan tokoh kunci menentukan berhasilnya proses pembelajaran dan sekaligus menentukan keberhasilan suatu madrasah. Kualitas kepemimpinan madrasah signifikan sebagai kunci keberhasilan suatu madrasah. Kegagalan dan keberhasilan madrasah menurut Mulyasa (2003:158), banyak ditentukan oleh kepala madrasah, dan pimpinan merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh madrasah menuju tujuannya.
         Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa aspek pengelola yakni kepala MDA, merupakan aspek yang dapat diduga sebagai penyebab keberhasilan manajemen pendidikan MDA mencapai tujuan yang diharapkan, merupakan unsur yang paling menentukan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan. Pengelolaan yang komprehensif, harus diarahkan pada berbagai aspek atau fungsi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan, mulai dari input, proses, output, bahkan sampai outcome dari manajemen madrasah. Bagaimana pelaksanaan manajemen MDA Baitul Haadi sehingga bisa membawa peserta didiknya berhasil? Diketahui masih ada MDA yang dikelola secara sederhana, kemampuan tenaga pengajar profesional di bidangnya belum sepenuhnya sesuai harapan. Sementara pendapat di antara masyarakat, bahwa mengajar di MDA adalah merupakan batu loncatan dan persinggahan bagi seseorang guru menjelang mereka mendapatkan pekerjaan yang tetap. Atau sebagai persinggahan bagi umumnya mahasiswa menjelang mereka mendapatkan ijazah, sehingga terkesan mengajar di MDA sebagai tugas sampingan. Begitu pula  pembinaan dan pengawasan Kementerian Agama belum maksimal menyentuh sasaran, serta potensi MDA di Kota Padang masih sangat bervariasi. Fenomena-fenomena seperti demikian akan berdampak kepada kinerja guru, dan hasil yang hendak dicapai sebagai tujuan MDA. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka dibutuhkan kehadiran MDA yang dikelola secara profesional dengan manajemen yang baik dan tepat sehingga dapat memenuhi tuntutan masyarakat, orang tua, pengurus dan pemerintah. MDA Baitul Haadi Padang dalam pengelolaannya telah memberikan solusi alternatif dalam memenuhi keinginan dimaksud, dengan menerapkan berbagai aktivitas manajemennya, dan berhasil mencapai tujuan yang diharapkan.
B.  Fokus dan Sub Fokus Penelitian
         Penelitian difokuskan kepada; Bagaimana Manajemen MDA Baitul Haadi Padang dan implikasinya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran? Adapun sub fokus penelitian adalah (1) Bagaimana manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) guru yang diterapkan oleh kepala MDA? (2) Bagaimana manajemen peserta didik yang diterapkan oleh kepala MDA? (3) Bagaimana pelaksanaan manajemen kurikulum pembelajaran yang diterapkan oleh kepala  MDA? (4) Bagaimana manajemen keuangan yang diberlakukan oleh kepala MDA? (5) Bagaimana manajemen sarana prasarana yang diberlakukan oleh kepala MDA? (6) Bagaimana implikasi pelaksanaan manajemen MDA Baitul Haadi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran?
C. Tujuan Penelitian
       Secara umum tujuan penelitian untuk mengetahui dan mengkaji pelaksanaan manajemen yang diterapkan pada MDA Baitul Haadi Padang dan implikasinya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Secara khusus tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan dan mengkaji manajemen yang diterapkan di MDA meliputi ; (1) Manajemen Sumber Daya Manusia guru (2) Manajemen peserta didik (3) Manajemen kurikulum pembelajaran (4) Manajemen keuangan (5) Manajemen sarana prasarana (6) Implikasi pelaksanaan manajemen MDA terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
D. Manfaat Penelitian
         Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak, terutama untuk para pengambil kebijakan atau keputusan (decision maker), para pengelola satuan pendidikan, para guru atau praktisi pendidikan dan para peserta didik. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan in-put atau sumbangan pikiran berupa konseptual praktis manajemen suatu lembaga pendidikan Islam nonformal, terutama yang berkenaan dengan fungsi-fungsi manajemen yang menekankan pada perlunya kualitas kepala dan guru dalam memberdayakan setiap komponan yang ada serta keterkaitannya dengan pengelolaan pendidikan lembaga MDA. Sumbangan pikiran tersebut didasarkan pada keberhasilan pelaksanaan pendidikan berbasis masyarakat yang dikembangkan dalam pengelolaan MDA Baitul Haadi Padang dan implikasi pelaksanaannya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
E. Penjelasan Judul
      MDA adalah satuan pendidikan keagamaan Islam nonformal yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam sebagai pelengkap bagi siswa sekolah Dasar/sederajat dengan masa belajar 4 tahun. MDA Baitul Haadi adalah sebuah MDA teladan dan termasuk MDA terbaik di antara 11 MDA terbaik dari 11 kecamatan di Kota Padang, memiliki beberapa karakteristik yang dapat dilihat pada kompetensi guru, program unggulan, program rutin awal dan akhir tahun, dan suasana pembelajaran, peserta didik yang berakhlak mulia, berprestasi secara terus menerus, serta kerjasama dengan berbagai unsur.
        Manajemen MDA ialah segala usaha bersama untuk mendayagunakan berbagai sumber baik personil maupun material secara efektif dan efesien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan MDA secara optimal. Artinya kegiatan yang diupayakan kepala MDA bagi kepentingan madrasahnya yaitu kegiatan SDM guru dan peserta didik, kurikulum pembelajaran, keuangan, dan sarana prasarana, degan menerapkan fungsi-fungsi manajemen.
         Implikasi manajemen MDA terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, secara operasional dimaksud sebagai intensitas keterkaitan sistemik dan sinergis guru dan peserta didik, kurikulum dan bahan belajar, media, fasilitas, dan sistem pembelajaran dalam menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikuler.
         Studi kasus adalah pendekatan untuk meneliti gejala siosial dengan meganalisis satu kasus secara mendalam dan utuh. Studi kasus adalah salah satu metode penelitian ilmu-ilmu sosial, merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan “how” atau “why”, dan bila fokus penelitiannya tertelak pada fenomena kontemporer, lebih eksplanatoris dan lebih mengarah kepenggunaan strategi-strategi studi kasus, historis, dan eksperimen (Robert, 2002:2 dan 9).
II. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
         Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dan mengkaji secara mendalam fenomena sosial yang terjadi secara alamiah melalui fakta-fakta terkait kegiatan-kegiatan manajemen yang diterapkan di MDA. Perolehan informasi berkenaan dengan kegiatan-kegiatan tersebut, didekati melalui empirik non-statistik dengan menggunakan metode partisipan, pendekatan kualitatif atau naturalistik. Penelitian menjelaskan makna dari fenomena yang muncul, bahkan menjelaskan meta-maknawi yaitu makna dibalik makna.
2. Latar Penelitian      
         MDA Baitul Haadi Padang dijadikan setting penelitian karena MDA ini dinilai baik dan dijadikan contoh di antara MDA yang ada di Kota Padang. Penentuan wilayah ini didasarkan karena situasi sosial yang relatif sederhana untuk dipelajari dan memasukinya, dipandang praktis, dapat dipelajari, mudah diakses, penting untuk diteliti, dan karena adanya keinginan yang kuat (Muhajir, 1996: 50, Nasution 1992:43-44). MDA Baitul Haadi Padang terletak di komplek Aur Duri Indah VI Kelurahan Parak Gadang Timur Kecamatan Padang Timur Kota Padang, Propinsi Sumatera Barat (luas + 2700 M). Di samping MDA Baitul Haadi, di kelurahan ini juga terdapat 8 MDA lainnya.
         Pemilihan MDA ini dimaksudkan untuk tujuan tertentu yakni belajar dari pengalaman manajemen yang terjadi dan dilakukan oleh kepala MDA Baitul Haadi. MDA ini telah melakukan pendidikan agama Islam bagi anak-anak usia sekolah dasar, diminati masyarakat, sebagai MDA percontohan, karena pengelolaannya yang baik, serta prestasi-prestasi yang diperolehnya.
3. Subjek Penelitian
         Dalam menentukan sumber data, peneliti menggunakan teknik purposive sampling, yaitu menentukan sampel dengan tujuan tertentu yang dipandang dapat memberikan data secara maksimal (Suharsimi Arikunto, 200:14). Sementara kriteria pemilihan informan adalah harus jujur, taat pada janji, suka berbicara, tidak termasuk salah satu anggota kelompok yang bertentangan, dan mempunyai pandangan tertentu tentang sesuatu hal atau tentang peristiwa yang terjadi. Subjek penelitian dimaksud adalah; kepala MDA dan wakil kepala, guru MDA/wali kelas tata usaha/koordinator pelaksanaan didikan subuh, pengurus mesjid Baitul Haadi, pengurus MDA, pembina teknis Kementerian Agama beserta pengawas MDA, orang tua peserta didik, tokoh masyarakat, dan pengurus organisasi profesional (FKMD). Sumber tertulis; buku, dokumen, arsip, data guru dan peserta didik, laporan bulanan dan tahunan, data statistik, dan sebagainya. Data penunjang lainnya seperti foto, dan rekaman recorder, yang dapat menggambarkan suasana alamiah, kemungkinan dapat melengkapi.
4. Teknik pengumpulan Data
      Indikasi dari studi kualitatif adalah, bahwa data atau informasi yang dikumpulkan melalui pendekatan fisik dan psikologis tentang fenomena yang dikaji, lebih berbentuk kata-kata ketimbang angka. Alasannya, agar bisa memahami makna tindakan para informan melalui perkataan, pengalaman dan ketrampilan mereka sendiri yang di dukung oleh bukti-bukti fisik dan sebagainya. Semua informasi yang dikumpulkan tentang fenomena tersebut disusun dalam bentuk deskripsi verbal. Pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi (Muhajir, 1996:55).
5. Teknik Analisa Data
        Analisis dilakukan dengan langkah-langkah secara interaktif melalui proses reduksi (penyederhanaan, penyeleksian) data, display data (menafsirkan) dan memberikan makna terhadap data, mengambil kesimpulan atau verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:20).
6. Uji keabsahan data
      Cara-cara untuk memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian kualitatif, dipergunakan empat macam kriteria atau syarat, yaitu credibility (keterpercayaan), transferability (dapat ditransfer), dependability (dapat diandalkan), dan confirma-bility (dapat dikonfirmasikan). (Yvonna S. Lincoln, Dan Guba, Egon G., 1984:301-318) 
7. Tahap-Tahap Penelitian
         Tahapan yang dilakukan dalam penlelitian ini melalui tiga tahapan, yakni tahap pra-lapangan, tahap pengembangan lapangan, dan tahap pelaksanaan sebenarnya.
III. Temuan Penelitian dan Pembahasan
Manajemen Sumber Daya Manusia guru yang diterapkan pada MDA adalah kegiatan melaksanakan rekruitmen guru dengan berbagai persyaratan dan prosedur, pemberdayaan guru, penempatan serta pembagian tugas guru, pembinaan guru dengan berbagai bentuk, pengawasan guru terhadap setiap kegiatan, dan memberikan pelayanan kepada guru. Kegiatan ini mewujudkan guru yang berkualitas, kualifikasi pendidikan, guru yang profesional; mampu menyusun program pendidikan dan pembelajaran, mampu melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, menguasai keterampilan mengajar, memiliki sikap pengabdian yang tinggi, ikhlas melaksanakan tugas, dan memiliki sifat membangun. Manajemen guru demikian, telah mampu membawa peserta didiknya kepada tujuan yang diharapkan.
         Manajemen peserta didik yang diterapkan di MDA adalah kegiatan perencanaan penerimaan peserta didik melalui administrasi yang teratur dengan berbagai peraturan terkait kesuksesan pendidikan, pengorganisasian peserta didik kepada beberapa bagian terkait dengan tugas masing-masing yang terorganisir secara baik, teratur, dan terstruktur, serta memberdayakan semua peserta didik dalam bentuk tugas dan kegiatan, pelaksanaan pendidikan teratur sesuai dengan harapan yang diinginkan, pengawasan peserta didik dilaksanakan dengan memberdayakan semua staf, melakukan evaluasi dan monitoring secara terus menerus, dengan berbagai cara, memberikan pelayanan terhadap peserta didik, mengevaluasi kegiatan untuk selalu dilakukan perbaikan dengan berbagai motivasi untuk memacu tercapainya tujuan yang diharapkan. Kegiatan ini mewujudkan peserta didik yang berkualitas; berprestasi, berdisiplin dan bertanggung jawab, serta berakhlaqul karimah, melahirkan rasa tanggung jawab yang tinggi, menimbulkan rasa dihargai, dan rasa diperhatikan, adanya budaya berani tampil, persaingan sehat/berkompetisi.
         Manajemen kurikulum pembelajaran yang diterapkan di MDA adalah kegiatan membuat perencanaan kurikulum pembelajaran, membuat rencana kerja dan program pendidikan MDA secara konkrit, mengorganisasikan kurikulum pembelajaran yang lengkap dan terprogram dengan memperhatikan kebutuhan anak dan kebutuhan orang tua serta masyarakat, melaksanakan kegiatan kurikulum pembelajaran secara teratur, terprogram dengan pelaksanaan tugas yang jelas, serta melakukan pengawasan kurikulum pembelajaran secara terus menerus dan secara bersama. Kegiatan ini mewujudkan kurikulum pembelajaran yang lengkap, praktis, dan sederhana, terstruktur dan terprogram, terkoordinir, dan sistemik, dengan memperhatikan kebutuhan anak atau orang tua dan masyarakat. Terdapatnya suatu keberanian yang dilakukan MDA Baitul Haadi untuk memperkaya kurikulum, dan memperhatikan relevansi kurikulum dengan kebutuhan anak, masyarakat serta ilmu pengetahuan.
         Manajemen keuangan yang diberlakukan di MDA adalah kegiatan merencanakan pembiayaan dengan mengidentifikasi sumber dana, mengelola keuangan dengan transparans (keterbukaan), mengatur penerimaan keuangan secara bersistem yang tetap terjaga, menyusun dan merekomendasikan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana kepada stekholder (pihak yang berkepentingan), melakukan pengawasan dalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu/kualitas orang tua dan masyarakat melalui pemantauan, pengecekan langsung terhadap tugas tata usaha, melalui laporan tata usaha dan majlis guru, dan melalui musyawarah dengan pihak-pihak terkait. Kegiatan ini mewujudkan dukungan dana dari berbagai pihak, yaitu mampu menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan orang tua, pengurus dan masyarakat, terpeliharanya kerjasama yang baik dengan semua unsur terkait, tumbuhnya jiwa sosial dan tanggung jawab, dan dapat menjaga serta meningkatkan mutu/kualitas pendidikan anak.
         Manajemen sarana prasarana yang diberlakukan pada MDA adalah kegiatan membuat perencanaan sarana prasarana pendidikan MDA dengan mengidentifikasi kebutuhan dan menetapkan prioritas kebutuhan melalui musyawarah, pengelolaan sarana prasarana MDA secara terkoordinir baik dalam penggunaan, pemeliharaan, maupun pengiventarisasiannya, serta perbaikannya secara rutin, melakukan pemantauan (pengawasan) secara terus menerus dan secara bersama terhadap kinerja penggunaannya, melakukan pemeliharaan sarana prasarana melalui berbagai cara, serta memperhatikan dan mengevaluasi keadaan sarana prasarana. Kegiatan ini mewujudkan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam mendapatkan dan memelihara sarana prasarana, senantiasa terjaganya dan terpeliharanya serta difungsikan dengan baik dan maksimal, terpenuhinya faktor pendukung proses pembelajaran, terlaksananya pembelajaran dengan baik dan lancar dalam peningkatan mutu pembelajaran.
         Manajemen MDA yang dilakukan secara baik dengan berbagai kegiatan, berimplikasi terhadap terlaksana dan terjaganya kualitas pembelajaran sehingga dapat meningkatan kualitas pembelajaran dimaksud secara berkelanjutan. Hal ini diketahui dari berbagai kegiatan yang dilakukan yaitu dalam menetapkan guru yang berkualitas, sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran dan membawa MDA kepada tujuan yang diharapkan, kuantitas dan kualitas peserta didik dapat dipertahankan dan selalu meningkat melalui berbagai program dan pembinaan dalam membawa peserta didiknya kepada tujuan yang diharapkan, berbagai kegiatan baik melalui intra maupun ekstra kurikulum, baik kegiatan di dalam dan di luar MDA, serta terpenuhinya kebutuhan belanja MDA secara terus menerus, terpenuhinya sarana prasarana pendukung proses pembelajaran.
         Pelaksanaan manajemen MDA Baitul Haadi bermuara kepada peningkatan kualitas pembelajaran melalui penerapan fungsi-fungsi manajemen, dengan berbagai aktivitas dan tindakan, didukung oleh pengetahuan, pengalaman serta kepribadian pengelola, kerja sama semua unsur, yang terpelihara secara berkesinambungan. MDA Baitul Haadi menerapkan fungsi-fungsi manajemen, mempunyai potensi cukup besar, baik potensi kelembagaan maupun potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dalam melaksanakan pendidikan keagamaan Islam, mampu mempertahankan serta meningkatkan kualitas madrasahnya. Makna dari itu semua diketahui:
1.   Guru MDA yang berkualitas, memiliki tanggung jawab dan mampu membawa peserta didiknya kepada tujuan dan target yang telah ditetapkan.
2.  Peserta didik MDA yang berkualitas, berhasil, berdisiplin dan bertanggung jawab, serta berakhlaqul karimah, dapat mewujudkan tujuan pendidikan Islam sejak awal.
3.  Memiliki kurikulum pembelajaran secara terstruktur dan terprogram, terkoordinir, praktis, sistemik, dapat mewujudkan tujuan yang diharapkan sesuai visi dan misi MDA.
4.  Keuangan MDA yang cukup dapat menunjang kesuksesan pengelolaan pendidikan dan keberhasilan peserta didiknya.
5.    Sarana prasarana yang cukup, membuat pelaksanaan pendidikan berjalan dengan baik dan lancar.
         Terlaksananya manajemen MDA ini, merupakan sebuah sistem yang dibangun dan dipelihara secara terus menerus antara kepala MDA, guru, peserta didik, orang tua, pengurus dan masyarakat, serta pemerintah. Kerjasama yang dibangun membuat MDA Baitul Haadi mampu meningkatkan kualitas sumber daya madrasahnya, sehingga menjadikan popularitas di antara MDA yang ada di kota Padang. Kepala MDA mampu memberdayakan para guru dan peserta didiknya, memberdayakan masyarakat, dan menarik perhatian masyarakat  dengan berbagai aktivitas pendidikan dan kegiatan sosial.
         Manajemen MDA Baitul Haadi Aur Duri Indah, didukung oleh lima unsur penting, yakni guru yang berkualitas, didukung oleh peserta didik yang berdisiplin, berkualitas dan berkepribadian, sebagai sumber daya manusia yang handal, didukung oleh penerapan kurikulum pembelajaran secara terstruktur dan terprogram, terkoordinir, praktis, sistemik, dan didukung oleh pengelolaan keuangan yang baik dari segala unsur, serta ditunjang oleh sarana prasarana yang cukup menopang berjalannya proses pendidikan dengan baik, disamping manajemen yang lainnya, yang selalu dipelihara dan ditingkatkan secara terus menerus melalui pembinaan dan peningkatan SDM MDA
         Dalam tatanan sosial, kepala MDA sebagai pemimpin telah berupaya dan bekerja untuk memenuhi tuntutan kepemimpinan dan amanah yang diberikan kepadanya. Manajemen sebagai pengelolaan pekerjaan dan pranata sosial masyarakat menuntut pembumian nilai-nilai Islam, karena itu prinsip kerja sama, tanggung jawab melekat pada perilaku manajerial islami. Artinya kepala MDA telah menerapkan berbagai prinsip islami dalam mengelola organisasinya untuk kebaikan dan kemajuan manusia.
         Manajemen yang diterapkan kepala MDA Baitul Haadi telah memberikan keberhasilan pengelolaan pendidikan dan pembelajaran bagi peserta didiknya dengan menerapkan berbagai langkah dan cara. Implikasi pelaksanaan manajemen MDA terhadap peningkatan kualitas pembelajaran terintegrasi dalam proses pembelajaran dengan berbagai aktivitas, tindakan dan dalam terwujudnya tujuan yang diharapkan dengan berbagai prestasi dan kualitas; anak yang shaleh, berdisiplin dan bertanggung jawab, memiliki sifat terpuji, serta meguasai kompetensi pembelajaran dan berprestasi.
IV. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
A.     Kesimpulan
         Manajemen yang diterapkan di MDA Baitul Haadi, melalui fungsi-fungsi manajemen, telah memberikan keberhasilan bagi pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran peserta didiknya. Implikasi dari pengelolaan yang diterapkan kepala MDA tersebut mempunyai arti dan pengaruh besar terhadap meningkatkan kualitas pembelajaran, baik pada proses pembelajaran maupun pada hasil dan tujuan.
Manajemen SDM guru, peserta didik, kurikulum pembelajaran, keuangan, sarana prasarana yang diterapkan di MDA melalui berbagai kegiatan manajemen, yaitu: (a) mewujudkan guru yang berkualitas, memiliki kompetensi religius, berkepribadin muslim, dan mampu membawa peserta didiknya kepada tujuan yang diharapkan, (b) mewujudkan peserta didik yang saleh; berperilaku terpuji atau berakhlakul karimah, berhasil dan berkualitas, berprestasi, serta mampu memahami dan menguasai kompetensi pembelajaran, (c) mewujudkan kurikulum pembelajaran yang lengkap dan praktis, sederhana dan fleksibel, terstruktur dan terprogram, terkoordinir, dan sistemik dengan memperhatikan kebutuhan kebutuhan masyarakat, (d) mewujudkan dukungan dana dari berbagai pihak, dan menumbuhkan serta meningkatkan kepercayaan orang tua, pengurus dan masyarakat, sehingga mampu membantu kesejahteraan MDA, (e) mewujudkan pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran dengan baik dan maksimal.
Implikasi pelaksanaan manajemen MDA memberi arti dan pengaruh terhadap peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik, baik terhadap proses pembelajaran maupun terhadap hasil dan tujuannya. Kualitas proses pembelajaran membawa peserta didik kepada perilaku dan dampak belajar yang sangat baik; iklim belajar mendukung proses pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan, alat/media pembelajaran digunakan oleh guru dan peserta didik, dan sistem pembelajaran dalam menghasilkan proses dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikulum. Kualitas hasil dan tujuan yang diharapkan, mewujudkan peserta didik yang berkualitas; anak yang shaleh, berdisiplin dan bertanggung jawab, memiliki sifat-sifat terpuji, menguasai kompetensi pembelajaran dan berprestasi.
B.   Implikasi
1.    Implikasi Teoritis
            Manajemen MDA sebagai lembaga pendidikan Islam nonformal erat kaitannya dengan Manajemen Berbasis Madrasah (MBM) yang dikemas dalam istilah madrasah mandiri, dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen. Dalam implementasi MBM kepala madrasah berperan sebagai educator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator pendidikan (EMASLIM).
            Manajemen guru yang diterapkan di MDA, menjadi salah satu kekuatan yang mendukung peningkatan kualitas pembelajaran. Hal ini berimplikasi terhadap pendidik MDA yang dipersyaratkan memenuhi kriteria sebagaimana diatur PP.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yakni pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan serta UURI No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.
          Manajemen peserta didik yang diterapkan di MDA dengan memberdayakan sumber daya semua personil, membawa peserta didiknya kepada tujuan yang diharapkan. Manajemen peserta didik yang demikian menunjukkan implikasi peningkatan kualitas pembelajaran melalui kombinasi model tujuan (menekankan kepada pencapaian tujuan) dan sistem atau proses (memperhatikan karakteristik proses dan kondisi).
           Kegiatan keberhasilan manajemen kurikulum yang terpenting adalah kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru dan proses pembelajaran. Sementara faktor-faktor yang memengaruhi sistem kurikulum pembelajaran itu adalah pengembagan program, pelaksanaan pembelajaran, pengawasan dan peningkatan hasil belajar.
          Manajemen keuangan yang diterapkan di MDA Baitul Haadi, berimplikasi terhadap konsep pendidikan berbasis masyarakat (community based education) yang menekankan pada pentingnya pemahaman akan kebutuhan masyarakat dengan menggunakan potensi yang ada dilingkungannya.
          Manajemen sarana prasarana MDA berimplikasi terhadap Permendiknas nomor 24 tahun 2007 tentang standar sarana prasarana, di mana madrasah hendaknya minimal memiliki lahan, bangunan, perabot, peralatan pendidikan, dan perlengkapan lainnya sesuai dengan rasio peserta didik.
2.    Implikasi Praktis
         Manajemen MDA yang diterapkan kepala MDA telah memberikan keberhasilan pengelolaan pendidikan dan pembelajaran bagi peserta didiknya dengan menerapkan berbagai langkah dan cara, sehingga terwujudnya guru berkualitas yang mampu membawa peserta didiknya kepada tujuan, peserta didik yang berhasil dalam proses dan tujuan, kurikulum pembelajaran yang terlaksana secara teratur, terprogram, dukungan keuangan dari berbagai pihak, serta sarana prsarana yang cukup dan terpelihara.
Manajemen MDA Baitul Hadi di arahkan pada (a) sosok guru yang inovatif (pembaruan), amanah dan ikhlas dalam pengabdiannya, guru berkualitas, professional, berkepribadian, guru mampu membawa dan mengantarkan peserta didiknya kepada tujuan pendidikan, guru yang memiliki budaya kerja sama, (b) di arahkan pada peserta didik yang berhasil dan berkualitas; berprestasi, berdisiplin dan bertanggung jawab, serta berakhlaqul karimah. Peserta didik di arahkan pada pengetahuan, pemahaman dan target-target yang telah diprogramkan, melalui pendidikan yang teratur dan bersistem, (c) di arahkan pada tetap terjaganya mutu pembelajaran dan peningkatan mutu pembelajaran dimaksud secara berkelanjutan, dengan berbagai kegiatan baik melalui intra kurikulum maupun ekstra kurikulum, baik kegiatan di dalam dan di luar MDA, (d) diarahkan pada terdapatnya dukungan dana dari berbagai pihak yang berdampak kepada tumbuh dan meningkatnya kepercayaan orang tua, pengurus dan masyarakat, terjaga dan meningkatnya mutu/kualitas pendidikan, (e) diarahkan pada terpenuhinya kebutuhan sarana prasarana pendidikan dan terlaksananya pembelajaran dengan baik dan lancar dalam mendukung proses pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran, dan mendapat dukungan semua pihak. 
C.     Rekomendasi
         MDA menjadi pusat pendidikan anak usia sekolah tingat dasar dibidang pendidikan keagamaan Islam yang tidak boleh diabaikan atau terabaikan. Sebagai sub sistem pendidikan Islam, kehadirannya sangat mendukung tujuan pendidikan Nasional, khususnya dalam menciptakan manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
         Manajemen yang diterapkan di MDA Baitul Haadi terhadap pengelolaan SDM guru dan peserta didik, kurikulum pembelajaran, keuangan, dan sarana prasarana dalam menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam bagi anak bangsa, dalam usahanya telah ikut berkiprah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Secara khusus bertujuan untuk mewujudkan pendidikan agama Islam yang berkualitas berdasarkan al-Qurān dan al-Hadīs.
         Untuk terus berkembangnya MDA Baitul Haadi ini, berbagai pihak yang terkait, harus selalu meningkatkan kinerjanya, terutama kepala MDA dan para guru yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. Manajemen yang sudah diterapkan dan berkembang di MDA perlu dipelihara dan lebih ditingkatkan lagi. Hal-hal yang masih menjadi kekurangannya, perlu diperbaiki, disempurnakan, serta direalisasikan, terutama meningkatkan kompetensi guru agama melalui profesionalisasi dengan mengikutkan pelatihan keilmuan kurikulum dan ilmu penunjang lainnya.
         Kepada pihak-pihak terkait langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan pendidikan di MDA, diharapkan memberikan dukungan sepenuhnya, khususnya bagi penyelenggaraan pendidikan di MDA, yaitu pengurus mesjid dan mushala, orang tua peserta didik dan masyarakat, pemerintah daerah, kepala kantor Kementerian Agama, dan pengurus lembaga FKMD, dan lain-lainnya.
         Sebagai komponen sistem pendidikan nasional, pendidikan keagaamaan perlu diberi kesempatan untuk berkembang, dibina dan ditingkatkan mutunya oleh semua komponen bangsa, termasuk pemerintah dan pemerintah daerah.
         Kepada Kementerian Agama sebagai pembina teknis, diharapkan memberikan dan melaksanakan pembinaan dan pengawasan secara terus menerus sesuai peraturan yang berlaku. Pengelolaan MDA, menjadi bagian penting dari Direktorat Jenderal Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan moral spiritual dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan misi meningkatkan kualitas pendidikan agama dan memberdayakan lembaga keagamaan (Keputusan Menteri Agama no.1 th 2001, No. 512 th 2003). Kepada Pemerintah Daerah Kota Padang diharapkan memberikan bantuan sumber daya pendidikan kepada pendidikan keagamaan dalam hal ini MDA, sebagaimana tercantum dalam PP no. 55 tahun 2007 pasal 12 dan 25. Pendidikan keagamaan Islam melalui MDA dilaksanakan dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat (Permenag no.3 tahun 2013) dan Perda no.o6 tahun 2003 serta Pergub No.70 tahun 2010).
         Kepada organisasi FKMD/KKMD, agar senantiasa mengaktualisasikan peran pendidikan MDA lebih berdaya-guna dan berhasil, karena peran FKMD sangat diperlukan dalam pengorganisasian dan pensinergian seluruh potensi madrasah diniyah/MDA (Keputusan Menteri Agama RI No.3 th 2006, tentang susunan organisasi dan tata kerja kementerian Agama). Kepada pemerhati pendidikan agama dan atau keagamaan Islam, kiranya tergerak untuk melakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam dan lebih terarah pada fokus–fokus permasalahan di atas.




DAFTAR KEPUSTAKAN
A.   Buku
          
An-Nahlawi, Abdurrahman, (1998). Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat, Bandung: CV. Diponegoro.
As-Suyuthy, Imam Jalaluddin Aby Bakrin, (911H). Al-Jāmi’us-Shaghīr, I.II, (Beirut Libanon: Darul Kutub Ilmiyah.
Ath-Thuwairaqi, (2004). Nawwaal, Sekolah Unggul Berbasis Sirah Nabawiyah, (Terjemahan Asmuni), Judul asli: Al-‘Alaaqaat Al-Insaniyah fil As-Sirah, Jakarta: Daarul Falah.
Azizy, Qodri A. (2003). Pendidikan (Agama) Untuk Membangun Etika Sosial (Mendidik  Anak Sukses: Pandai dan Bermanfaat), Semarang: Aneka Ilmu.
Bafadal, Ibrahim, (2003). Sari manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah, Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar Dari Sentralisasi Menuju Desentralisasi, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Bafadal, Ibrahim,  (2005). Sari manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah, Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori Dan Aplikasinya, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Bogdan, Robert C. & Sari Knopp Biklen, (1998). Qualitative Research for Education: An. Introduction to Theory and Methods, Boston: Allyn and Bacon.
Burhan Bungin, (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman Filosofis dan Metodologis  ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Bush, Tonny, dan Mareanne Coleman, (2008). Manajemen Strategis Kepemimpinan Pendidikan, Seri Manajemen Mutu Pendidikan, Alih Bahasa: Fahrurrozi, Jogjakarta: IRCiSoD.
Dahlan, Taufiq, Rijal Roihan, (editor), (2005). Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah, Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jendral kelembagaan Agama Islam.
Depatemen Agama, (2005). Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan, Jakarta: Bulan Bintang.
Depatemen Agama, (2004). Pedoman Pengembangan Pesantren Dan Pendidikanan Keagamaan Tahun 2004-2009, Jakarta: Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Depatemen Agama, (2000). Pedoman Penyelenggaraan dan Pembinaan Madrasah Diniyah, Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Depatemen Agama, (2007). Pedoman Penyelenggaraan Diniyah Takmiliyah, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama.
Depatemen Agama, (2003). Standar Nasional Kurikulum Nasional Berbasis Kompetensi, Jakarta: Direktorat Pendidikan Keagamaan Pondok Pesantren Dirjen bimbaga Islam.
Dirawat, dkk., (1983). Pengantar Kepemimpinan Pendidikan, Surabaya: Usaha Nasional.
Djamas, Nurhayati, (ed.), (2005). Pedoman Implementasi Manajemen Berbasis Madrasah, Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan.
Djamas, Nurhayati, (2005). Manajemen Madrasah Mandiri, Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan.
Engkoswara, (2001). Paradigma Manajemen Pendidikan, Menyongsong Otonomi Daerah, Bandung: Yayasan Amal Keluarga.
Eiserman, William, (1991). Naturalistic Inquiry, Bandung: FPS IKIP Bandung.
Fadjar A. Malik, (2005). Holistika Pemikiran Pendidikan, ed. Ahmad Barizi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Faisal,  sanafiah,  (1990). Penelitian Kualitatif: Dasar-Dasar dan Aplikasi, Malang: Yayasan Asah Asih Asuh.
Fathoni, Muhammad Khalid, (2005). Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional (Paradigma Baru), Jakarta:  Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam.
Fattah, Nanang, (1999). Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cetakan kedua, 1999
Habibullah (ed.), Manajemen Madrasah Mandiri, Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan  Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan.
Habibullah (ed.), (2005). Kepemimpinan Madrasah Mandiri, Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan.
Hadi, Sutrisno, (2000). Metodologi Research (untuk Penulisan Laporan, Skripsi, Thesis, dan Disertasi),  Jilid 2, Yogyakarta: Penerbit Andi.
Hadiyanto,(200). Manajemen Peserta Didik, Padang: Universitas Negeri Padang (UNP) Press.
Hajar, Ibnu, (1999). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan, Jakarta: Rajagrafindo.
Hasibuan, Malayu S.P., (2007). Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hasri, Salfen, (2005). Manajemen Pendidikan Pendekatan Nilai dan Budaya Organisasi, Yayasan Pendidikan Makasar.
Imran, Ali, (1995). Pembinaan Guru Di Indonesia, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Irawan, (1990). Logika dan Prosedur Penelitian, Jakarta: STIA-LAN Press. Jalal, Fasli dan Dedi Supriadi (ed.), (2001). Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa.
Jawahir, Tanthawi, (1983). Unsur-Unsur Manajemen Menurut Al Qur’an, Jakarta: Al Husna.
Komaruddin, (1994). Ensiklopedia Manajemen, edisi kedua, Jakarta: Bumi Aksara.
Lincoln,Y.S. & Guba, E.G., (1984). Naturalistic Inquiry, London New Delhi Bevrly Hills: Sage Publications.
Miles, Metthew B. dan Huberman A. Michel, (1992). Analitis Data Kualitatif, Terjemahan: Tjetjep Rohani Rohidi, Jakarta: UI Press
Moleong, Lexy J.,  (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Bandung: Remaja Rosdakarya
Muhaimin, Abd. Mujib, (1993). Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Opersionalisasinya), Bandung: Trigenda Karya.
Mudjahid AK. dan Kailani, Muh., (Ed.), (2004). Pemberdayaan Sumber Daya Madrasah, Jakarta: Dep. Agama RI. Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Pusdiklat Administrasi
Muhajir,  H. Noeng, (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: PT Bayu Indra Grafika.
Mulyasa, (2003). Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi,  Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, (2004). Kurikulum Berbasis Kompetensi:  Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Bandung Remaja Rosda Karya.
Mulyasa, (2004). Menjadi Kepala Sekolah Profesional Dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK, Bandung: Remaja Rosda  Karya.
Mulyasa, (2005). Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah, Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Munawwir, Ahmad Warson, (1984). Kamus Arab Indonesia Al Munawir, Yogyakarta: Pondok Pesantren Krapyak, Cet. I.
Narbuko, (et-all), (1999). Metode Penelitian, Jakarta: Bumi Aksara.
Nashih, Ulwan Abdullah, (1981). Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam II,  Terjemahan: Heri Noer Ali (Tarbiyatun Lil-Aulad fil-Islam), Semarang: Asy- Syifa’.
Nasution, (1992). Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif, Bandung: Tarsito.
Nata, Abuddin, (2003). Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam Indonesia, Jakarta: Pernada Media, edisi Pertama.
Nata, Abuddin,  (2005). Pendidikan dalam Perspektif Hadits, Jakarta: UIN Press.
Nawawi, Hadari Haji, (1989). Organisasi Sekolah Dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan , Jakarta: CV Haji Masagung, Cet. Ke-3.
Nurdin, (2002). Syafruddin dan Basyiruddin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, Jakarta: Ciputat.
Nurhadi, (1983). Administrasi Pendidikan di Sekolah, Jilid I, Yogyakarta: Andi Offset.
Oemar Hamalik, (2002). Pendidikan Guru berdasarkan Pendekatan Kompetensi, Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, Made, (2004). Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Raynolds, Larry J., (2005). Kiat Sukses Manajemen Berbasis Sekolah Pedoman bagi Praktisi Pendidikan, Alih Bahasa: Teguh Budiharso, Jakarta: CV. Diva Pustaka.
Redja Mudyahardjo, (2002). Pengantar Pendidikan, Jakarta:Raja Grafindo.
Riduwan (editor), (2009). Manajemen Pendidikan, Tim DosenAdministrasi Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung: Alfabeta.
Richard M. Steers, (et-al),. (1985). Managing Effective Organization: an Introduction, Boston: Ken Publishing Companya Division of Wadsworth, Inc.
Riva’i, Veithzal, dan Sylviana Murni, (2009). Education Management Analisis Teori dan Praktik,  Jakarta: Rajawali Pers Divisi Buku Perguruan Tinggi PT Grafindo Persada, 2009
Robert. K. Yin.,  (2002). Studi Kasus (Desain dan Metode), (Alih Bahasa: Djauzi Mudzakir), Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rusyan, A. Tabrani, (1992). Manajemen Kependidikan, Bandung:  Media Pustaka, 1992
Rusman, Manajemen Kurikulum, Jakarta: Rajawali Pers.
Sahertian, Piet, A., (1994). Profil Pendidik Profesional, Yogyakarta: Andi Offset.
Saleh, Abdurrachman, (2004). Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa;  Visi, Misi dan
          Aksi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Salles, Edwad, (2008). Total Quality Management In Education, Manajemen Mutu Pendidikan, Alih Bahasa: Ahmad Ali R(2009).  Kurikulum dan Pembelajaran: Teori
dan Praktik Pengembanagan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Kencana.
Silaban, Sintong, (1993). Pendidikan Indonesia; dalam pandangan Lima Belas Tokoh pendidikan swasta, Dasa Media.
Stoner, James A.F., R. Edward Freeman, Daniel. R Gilbert Jr, (1996). Manajemen Jilid I, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Prenhallindo.
Sugiyono, (2008). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Bandung: Alfabeta.
Suprayogo, Imam, dan Tobroni, (2001). Metodologi Penelitian Sosial-Agama, Bandung PT Remaja Rosda Karya.
Suryosubroto, B., (2004). Manajemen Pendidikan Di sekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta, Cet. Suyanto, Bagong, et. al (ed.) (1995). Metode Penelitian Sosial, Surabaya: Airlangga   University Press.
Syafaruddin, (2005). Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press.
Syafaruddin dan Irwan, (2005). Manajemen Pembelajaran, Ciputat Press, Quantum
Teaching. Syamsu, Ibnu, (1983). Pokok-Pokok Organisasi dan Manajemen, Jakarta: Bima Aksara.
Tilaar, (2000). Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta.
Wahjosumidjo, (2002). Kepemimpinan Kepala Sekolah (Tinjauan Teorotik dan Permasalahannya), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Zakiah, Darajat, (1980). Kepribadian Guru, Jakarta: Bulan Bintang, II
.
B.       Web Site/Blog/Situs/Home Page
didownload tanggal 19 Maret 2009
http://idiwikipedia.org/wiki/pendidikan.com didownload tanggal 19 Maret 2009
Gagne dan Briggs, (1979) dalam,  didownload tanggal 26 Mei 2009

C.      Jurnal/Majalah/Hasil Penelitian/Laporan

Ahmad Zahro (et.al.) Antologi Kajian Islam, tinjauan tentang Filsafat, Tasawuf, Institusi, Pendidikan, Al Qur’an, al Hadis,  Hukum, Ekonomi Islam, Seri 8, Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Press: Seri 11, 2006 (M. Mustain, Mutu Pendidikan Melalui Pelaksanaan Manajemen Bebasis Sekolah (MBS) di Madrasah Aliyah Negeri Jombang)
Muhammad Syaifudin, Manajemen Madrasah Swasta; Pelaksanan Manajemen Berbasis Madrasah pada MTs Darul Hikmah Pekanbaru, Disertasi, PPS S3 IAIN Imam Bonjol Padang, 2008
Sahnan, (1989). Manajemen Pondok Pesantren di Kabupaten Tapanuli  Selatan,  Tesis, Program Pascasarjana UNP.
Saiful Annur, (2001). Strategi manajemen SD Islam Az-Zahrah, Tesis, Padang:  Program Pascasarjana UNP.
Syaichul Hadi Permono (et.al.), Antologi Kajian Islam, tinjauan tentang Filsafat, Tasawuf, Institusi, Pendidikan, Al Qur’an, al Hadis,  Hukum, Ekonomi Islam, Seri 8, Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Press: 2005 (Muhammad Thoha, Manajemen Kesiswaan dalam Perspektif Pendidikan Islam)
Thaib, Kasman, Kepala seksi Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren Kantor Deparemen Agama, Manajemen Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), disampaikan pada Pembinaan Guru dan Peningkatan Mutu MDA Kota Padang, 2004
Umaedi, (2005). Pengembangan Madrasah Diniyah Melalui Penguatan Pendidikan Berbasis Masyarakat,  Musyawarah Konsultasi Kelompok Kerja Madrasah Diniyah (KKMD), Makalah, Ciawi: Pusat Kajian Manajemen Mutu Pendidikan (Center Education Quality Manajement-CEQM), dilaksanakan di Jakarta, tanggal 21 Desember 2005.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar