MANAJEMEN MADRASAH DINIYAH AWALIYAH (MDA);
STUDI KASUS MDA BAITUL HADI PADANG
Rosniati Hakim
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Kependidikan IAIN Imam
Bonjol Padang
e-mail: rosniati_hakim@yahoo.com
Abstrak
Keberadaan MDA dalam
membudayakan
dan mentransformasikan nilai-nilai agama adalah
menjadi modal dasar bagi peserta didik untuk dapat dikembangkan.
Agama dan pendidikan sekolah belum sepenuhnya mampu
memberikan nilai lebih dalam pembentukan moral dan kepribadian anak
bangsa. Karena
itu diperlukan tambahan pendidikan agama dan praktik-praktik
keagamaan melalui pendidikan non formal
di MDA yang berpusat di mesjid dan mushala. Pengelolaan yang komprehensif diarahkan pada berbagai fungsi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan. Manajemen yang diterapkan kepala MDA Baitul Haadi telah memberikan keberhasilan pengelolaan pendidikan dan pembelajaran bagi peserta didiknya dengan menerapkan berbagai kegiatan, langkah dan cara.
di MDA yang berpusat di mesjid dan mushala. Pengelolaan yang komprehensif diarahkan pada berbagai fungsi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan. Manajemen yang diterapkan kepala MDA Baitul Haadi telah memberikan keberhasilan pengelolaan pendidikan dan pembelajaran bagi peserta didiknya dengan menerapkan berbagai kegiatan, langkah dan cara.
Kata
Kunci: Manajemen, Madarasah Diniyah, Implikasi.
I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang masalah
Pembentukan kepribadian manusia (character and moral building) yang seimbang, sehat dan kuat, sangat
dipengaruhi oleh pendidikan agama dan internalisasi nilai keagamaan dalam diri
peserta didik. Pendidikan agama di MDA adalah
satu tahapan dari proses pembentukan kepribadian anak bangsa. Pengajaran
dan pendidikan Agama Islam secara historis, muncul secara alamiah melalui
akulturasi secara damai sesuai kebutuhan masyarakat saat itu. Hampir seluruh pelosok desa di tanah air
terdapat madrasah awaliyah dengan nama dan bentuk yang
berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, seperti pengajian,
surau, rangkang, sekolah agama dan lain-lain (Mustafa dan Abdullah Aly;1998:110). Ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat
Islam akan tambahan pendidikan dan pengajaran agama Islam bagi anak-anaknya,
tidak pernah terabaikan sejak dulu hingga sekarang. Di Sumatera Barat dikenal dengan ”Pengajian Al-Qurān” dan ”Pengajian
Kitab” disebut juga ”sistem pendidikan Surau”. Abad ke-20 pendidikan Islam ini
berhasil melahirkan para pemimpin, ulama/guru besar dibidang Agama Islam, tokoh-tokoh
perjuangan kemerdekaan serta melahirkan lembaga-lembaga pendidikan yang dikenal
dengan madrasah (Mardanas Safwan, 1987:10).
Implementasi
dari pendidikan keagamaan Islam tidak sekedar teori, namun hakikatnya adalah
mampu menerapkannya dalam kehidupan dengan baik. Mampu atau
tidaknya seseorang melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya, akan terkait
dengan kualitas kepribadian dan kemampuan manajerial kependidikan yang
melahirkannya.
Program
pemerintah adalah membentuk iman dan taqwa generasi. Adanya undang-undang dan peraturan
pemerintah (PP) menjadi babak baru bagi dunia
pendidikan agama dan keagamaan di Indonesia, seperti UU No. 20 Tahun 2003, PP No. 55 Tahun 2007, Permenag No. 3 tahun 2012. Peraturan Daerah Kota Padang No. 06
Th 2003, dan Peraturan Gubernur No.70 Tahun 2010. Ini berarti Negara/pemerintah
menyadari keanekaragaman model dan bentuk pendidikan yang ada di Indonesia.
Keberadaan peraturan perundangan tersebut telah menjadi ”tongkat penopang” bagi
madrasah diniyah yang sedang mengalami krisis identitas. MDA adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam
yang diselenggarakan sebagai pelengkap pelaksanaan pendidikan agama Islam pada
jenjang pendidikan dasar dalam
rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat (Muborak, 212-2012).
Peserta
didik harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, baik
secara sosial-institusional maupun secara fungsional akademik harus dimulai dari jenjang pendidikan paling
rendah (Basuni Aziz, 1993:6). Konsep Islam telah mengajarkan untuk amar makruf
(tindakan proaktif) dan nahi mungkar (tindakan reaktif) terhadap lingkungan
sekitarnya. Ajaran ini berimplikasikan bahwa pendidikan merupakan tanggung
jawab bersama; keluarga, sekolah, pemerintah, lingkungan sosial dan sebagainya (Lihat:
Q.S. Ali Imran; 3:104).
Peran dan fungsi lembaga-lembaga
keagamaan belum sepenuhnya berhasil dilaksanakan dalam ikut serta mengatasi
dampak negatif perubahan yang terjadi di semua aspek kehidupan, meskipun jumlah
lembaga tersebut terus meningkat (Zainal, 2004:4-9). Untuk itu strategi yang
perlu ditempuh adalah meningkatkan peran serta masyarakat melalui pengembangan
potensi lembaga-lembaga dimaksud, karena diantara problema yang
dihadapi madrasah diniyah adalah pola manajemen yang kurang transparan, dan
penyelenggaraan administrasi pendidikan yang di bawah standar (Direktur Pekapontren, 20-12-2005:2).
Keberadaan
MDA sangat diperlukan karena - masyarakat merasakan bahwa pendidikan agama yang
diterima di sekolah kurang memadai, jumlah jam pelajaran agama yang disediakan,
- sangat tingginya kebutuhan orang tua terhadap pembinaan kehidupan beragama
dan pembinaan akhlaqul karimah bagi putra putri mereka, - keresahan orang tua
terhadap meningkatnya kemerosotan moral dikalangan anak usia sekolah (Irfan, 2000:4).
Menurut
Darwas (22-09-2007), pandai mengaji atau mampu membaca al-Qurān sebagai pelajaran dasar di MDA, adalah
menjadi harapan inti bagi masyarakat, sebagaimana masa lalu. Tapi semakin tahun semakin dirasakan masih kurangnya kemampuan
dan sikap peserta didik mencerminkan tujuan yang diharapkan. Berkenaan dengan
itu, di harapkan manajemen MDA dan penyusunan program Pendidikan Islam, perlu dijadikan fokus utama. Sikap dan kemampuan membaca al-Qurān
anak-anak masih jauh dari yang diharapkan sekalipun di sana sini dilaksanakan
acara khataman.
Menurut Malik Fajar
(LP3NI, tt.:104), keberadaan lembaga pendidikan Islam termasuk madrasah, masih
jauh dari apa yang diharapkan umatnya. Begitu pula, secara kualitatif,
lembaga-lembaga yang muncul serta dinilai terkemuka (outstanding), masih
jauh dari penilaian ideal (A. Malik Fajar; 2005:250). Pendidikan Islam di Indonesia menurut Husni Rahim (200:3), merupakan
warisan peradaban, dan sebagai aset bagi pembangunan pendidikan nasional.
Sebagai warisan, merupakan amanah sejarah untuk dipelihara dan dikembangkan
oleh umat Islam dari masa ke masa. Sedang sebagai aset, harus ditata dan
dikelola sesuai dengan sistem pendidikan nasional.
Keberhasilan madrasah merealisasikan tujuan dan fungsinya, memerlukan
manajemen lembaga yang baik, dan dukungan berbagai unsur. Peranan kepala madrasah merupakan tokoh kunci menentukan
berhasilnya proses pembelajaran dan sekaligus menentukan keberhasilan suatu
madrasah. Kualitas kepemimpinan madrasah signifikan sebagai kunci keberhasilan
suatu madrasah. Kegagalan dan
keberhasilan madrasah menurut Mulyasa
(2003:158), banyak ditentukan oleh kepala madrasah,
dan pimpinan merupakan pengendali dan penentu arah yang hendak ditempuh
madrasah menuju tujuannya.
Berdasarkan
uraian di atas, diketahui bahwa aspek pengelola yakni kepala MDA, merupakan
aspek yang dapat diduga sebagai penyebab keberhasilan manajemen pendidikan MDA mencapai tujuan yang diharapkan, merupakan unsur yang
paling menentukan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan. Pengelolaan yang komprehensif, harus diarahkan pada
berbagai aspek atau fungsi mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan,
mulai dari input, proses, output, bahkan sampai outcome dari manajemen madrasah. Bagaimana pelaksanaan manajemen MDA Baitul Haadi sehingga bisa
membawa peserta didiknya berhasil? Diketahui masih ada MDA yang dikelola secara sederhana, kemampuan tenaga pengajar profesional di bidangnya
belum sepenuhnya sesuai harapan. Sementara pendapat di antara masyarakat, bahwa
mengajar di MDA adalah merupakan batu loncatan dan persinggahan bagi seseorang
guru menjelang mereka mendapatkan pekerjaan yang tetap. Atau sebagai
persinggahan bagi umumnya mahasiswa menjelang mereka mendapatkan ijazah,
sehingga terkesan mengajar di MDA sebagai tugas sampingan. Begitu pula pembinaan dan pengawasan Kementerian Agama
belum maksimal menyentuh
sasaran, serta potensi MDA di Kota Padang masih sangat bervariasi. Fenomena-fenomena seperti demikian akan berdampak kepada kinerja guru, dan
hasil yang hendak dicapai sebagai tujuan MDA. Untuk mengatasi permasalahan
tersebut, maka dibutuhkan kehadiran MDA yang dikelola secara profesional dengan
manajemen yang baik dan tepat sehingga dapat memenuhi tuntutan masyarakat,
orang tua, pengurus dan pemerintah. MDA Baitul Haadi Padang dalam
pengelolaannya telah memberikan solusi alternatif dalam memenuhi keinginan
dimaksud, dengan menerapkan berbagai aktivitas manajemennya, dan berhasil
mencapai tujuan yang diharapkan.
B.
Fokus dan Sub Fokus Penelitian
Penelitian difokuskan kepada; Bagaimana Manajemen MDA Baitul Haadi Padang dan implikasinya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran? Adapun sub fokus penelitian adalah (1)
Bagaimana manajemen Sumber Daya
Manusia (SDM) guru yang diterapkan oleh kepala MDA? (2) Bagaimana
manajemen peserta didik yang diterapkan oleh kepala MDA?
(3) Bagaimana pelaksanaan manajemen kurikulum pembelajaran yang diterapkan oleh kepala MDA? (4) Bagaimana manajemen keuangan yang diberlakukan oleh kepala MDA? (5) Bagaimana manajemen sarana
prasarana yang diberlakukan oleh kepala MDA? (6) Bagaimana implikasi pelaksanaan manajemen MDA Baitul Haadi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran?
C. Tujuan Penelitian
Secara umum tujuan penelitian untuk
mengetahui dan mengkaji pelaksanaan manajemen yang diterapkan pada MDA Baitul
Haadi Padang dan implikasinya terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Secara
khusus tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan dan mengkaji manajemen yang
diterapkan di MDA meliputi ; (1) Manajemen Sumber Daya Manusia guru (2) Manajemen
peserta didik (3) Manajemen kurikulum pembelajaran (4) Manajemen keuangan (5) Manajemen
sarana prasarana (6) Implikasi pelaksanaan manajemen MDA terhadap peningkatan
kualitas pembelajaran.
D. Manfaat Penelitian
Secara
praktis, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi berbagai pihak,
terutama untuk para pengambil kebijakan atau keputusan (decision maker), para pengelola satuan pendidikan, para guru atau
praktisi pendidikan dan para peserta didik. Secara teoritis, hasil penelitian
ini diharapkan dapat memberikan in-put
atau sumbangan pikiran berupa konseptual praktis manajemen suatu lembaga
pendidikan Islam nonformal, terutama yang berkenaan dengan fungsi-fungsi
manajemen yang menekankan pada perlunya kualitas kepala dan guru dalam
memberdayakan setiap komponan yang ada serta keterkaitannya dengan pengelolaan
pendidikan lembaga MDA. Sumbangan pikiran tersebut didasarkan pada keberhasilan
pelaksanaan pendidikan berbasis masyarakat yang dikembangkan dalam pengelolaan
MDA Baitul Haadi Padang dan implikasi pelaksanaannya terhadap peningkatan
kualitas pembelajaran.
E. Penjelasan Judul
MDA adalah satuan pendidikan keagamaan
Islam nonformal yang menyelenggarakan pendidikan agama Islam sebagai pelengkap
bagi siswa sekolah Dasar/sederajat dengan masa belajar 4 tahun. MDA Baitul
Haadi adalah sebuah MDA teladan dan termasuk MDA terbaik di antara 11 MDA
terbaik dari 11 kecamatan di Kota Padang, memiliki beberapa karakteristik yang
dapat dilihat pada kompetensi guru, program unggulan, program rutin awal dan
akhir tahun, dan suasana pembelajaran, peserta didik yang berakhlak mulia,
berprestasi secara terus menerus, serta kerjasama dengan berbagai unsur.
Manajemen MDA ialah segala usaha bersama untuk mendayagunakan berbagai sumber baik personil maupun material secara efektif dan efesien guna menunjang
tercapainya tujuan pendidikan MDA secara optimal. Artinya kegiatan yang diupayakan kepala MDA bagi kepentingan madrasahnya yaitu
kegiatan SDM guru dan peserta didik, kurikulum pembelajaran, keuangan, dan
sarana prasarana, degan menerapkan fungsi-fungsi manajemen.
Implikasi manajemen MDA terhadap peningkatan kualitas
pembelajaran, secara operasional dimaksud sebagai intensitas keterkaitan
sistemik dan sinergis guru dan peserta didik, kurikulum dan bahan belajar,
media, fasilitas, dan sistem pembelajaran dalam menghasilkan proses dan hasil
belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikuler.
Studi kasus adalah pendekatan untuk
meneliti gejala siosial dengan meganalisis satu kasus secara mendalam dan utuh.
Studi kasus adalah salah satu metode penelitian ilmu-ilmu sosial, merupakan
strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan
dengan “how” atau “why”, dan bila fokus penelitiannya
tertelak pada fenomena kontemporer, lebih eksplanatoris dan lebih mengarah
kepenggunaan strategi-strategi studi kasus, historis, dan eksperimen (Robert,
2002:2 dan 9).
II. Metodologi Penelitian
1. Metode Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan dan mengkaji secara
mendalam fenomena sosial yang terjadi secara alamiah melalui fakta-fakta
terkait kegiatan-kegiatan manajemen yang diterapkan di MDA. Perolehan informasi berkenaan dengan kegiatan-kegiatan tersebut,
didekati melalui empirik non-statistik dengan menggunakan metode partisipan, pendekatan kualitatif atau naturalistik. Penelitian menjelaskan makna dari fenomena
yang muncul, bahkan menjelaskan meta-maknawi yaitu makna dibalik makna.
2. Latar Penelitian
MDA Baitul Haadi Padang dijadikan setting
penelitian karena MDA ini dinilai baik dan dijadikan contoh di antara MDA yang
ada di Kota Padang. Penentuan wilayah ini didasarkan karena situasi sosial yang relatif sederhana
untuk dipelajari dan memasukinya, dipandang praktis, dapat dipelajari, mudah diakses, penting untuk diteliti, dan karena adanya keinginan
yang kuat (Muhajir, 1996: 50, Nasution
1992:43-44). MDA Baitul Haadi Padang terletak di
komplek Aur Duri Indah VI Kelurahan Parak Gadang Timur Kecamatan Padang Timur
Kota Padang, Propinsi
Sumatera Barat (luas + 2700 M). Di samping
MDA Baitul Haadi, di kelurahan ini juga terdapat 8 MDA
lainnya.
Pemilihan MDA ini dimaksudkan untuk
tujuan tertentu yakni belajar dari pengalaman manajemen yang terjadi dan
dilakukan oleh kepala MDA Baitul Haadi. MDA ini telah melakukan pendidikan
agama Islam bagi anak-anak usia sekolah dasar, diminati masyarakat, sebagai MDA
percontohan, karena pengelolaannya yang baik, serta prestasi-prestasi yang
diperolehnya.
3. Subjek Penelitian
Dalam menentukan sumber data, peneliti menggunakan teknik purposive
sampling, yaitu menentukan sampel dengan tujuan tertentu yang dipandang
dapat memberikan data secara maksimal (Suharsimi Arikunto, 200:14). Sementara kriteria pemilihan informan adalah harus jujur, taat
pada janji, suka berbicara, tidak termasuk salah satu anggota kelompok yang
bertentangan, dan mempunyai pandangan tertentu tentang sesuatu hal atau tentang
peristiwa yang terjadi. Subjek penelitian dimaksud adalah;
kepala MDA dan wakil kepala, guru MDA/wali kelas tata usaha/koordinator
pelaksanaan didikan subuh, pengurus mesjid Baitul Haadi, pengurus MDA, pembina
teknis Kementerian Agama beserta pengawas MDA, orang tua peserta didik, tokoh
masyarakat, dan pengurus organisasi profesional (FKMD). Sumber tertulis; buku, dokumen, arsip, data
guru dan peserta didik, laporan bulanan dan tahunan, data statistik, dan sebagainya. Data
penunjang lainnya seperti foto, dan rekaman recorder, yang dapat menggambarkan suasana
alamiah, kemungkinan dapat melengkapi.
4. Teknik pengumpulan
Data
Indikasi dari studi kualitatif adalah, bahwa data atau informasi yang
dikumpulkan melalui pendekatan fisik dan psikologis tentang fenomena yang
dikaji, lebih berbentuk kata-kata ketimbang angka. Alasannya, agar bisa
memahami makna tindakan para informan melalui perkataan, pengalaman dan
ketrampilan mereka sendiri yang di dukung oleh bukti-bukti fisik dan
sebagainya. Semua informasi yang dikumpulkan tentang fenomena
tersebut disusun dalam bentuk deskripsi verbal. Pengumpulan data dalam
penelitian kualitatif dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan
studi dokumentasi (Muhajir, 1996:55).
5. Teknik Analisa Data
Analisis dilakukan dengan langkah-langkah secara interaktif melalui proses reduksi (penyederhanaan,
penyeleksian) data,
display data (menafsirkan) dan memberikan makna terhadap data, mengambil kesimpulan atau verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:20).
6.
Uji keabsahan data
Cara-cara
untuk memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian kualitatif, dipergunakan empat macam kriteria
atau syarat, yaitu credibility (keterpercayaan), transferability (dapat ditransfer), dependability (dapat diandalkan), dan confirma-bility (dapat
dikonfirmasikan). (Yvonna S. Lincoln, Dan Guba, Egon G., 1984:301-318)
7. Tahap-Tahap Penelitian
Tahapan yang dilakukan
dalam penlelitian ini melalui tiga tahapan, yakni tahap pra-lapangan, tahap
pengembangan lapangan, dan tahap pelaksanaan sebenarnya.
III. Temuan Penelitian dan Pembahasan
Manajemen
Sumber Daya Manusia guru yang diterapkan pada MDA adalah kegiatan
melaksanakan rekruitmen guru dengan berbagai persyaratan dan prosedur, pemberdayaan guru, penempatan serta pembagian tugas guru, pembinaan guru dengan
berbagai bentuk, pengawasan guru terhadap setiap kegiatan, dan memberikan pelayanan kepada guru. Kegiatan ini mewujudkan guru yang berkualitas, kualifikasi pendidikan, guru yang profesional; mampu menyusun program pendidikan dan pembelajaran, mampu melaksanakan
proses pembelajaran dengan baik, menguasai
keterampilan mengajar, memiliki sikap pengabdian yang tinggi, ikhlas
melaksanakan tugas, dan memiliki
sifat membangun. Manajemen
guru demikian, telah mampu membawa peserta didiknya kepada tujuan yang diharapkan.
Manajemen peserta didik yang
diterapkan di MDA adalah kegiatan perencanaan penerimaan peserta didik
melalui administrasi yang teratur dengan berbagai peraturan terkait kesuksesan
pendidikan, pengorganisasian peserta didik kepada beberapa bagian terkait
dengan tugas masing-masing yang terorganisir secara baik, teratur, dan terstruktur,
serta memberdayakan semua peserta didik dalam bentuk tugas dan kegiatan, pelaksanaan pendidikan teratur sesuai dengan harapan yang diinginkan, pengawasan peserta didik dilaksanakan dengan memberdayakan semua staf, melakukan
evaluasi dan monitoring secara terus menerus, dengan berbagai cara, memberikan pelayanan terhadap peserta didik, mengevaluasi kegiatan untuk
selalu dilakukan perbaikan dengan berbagai motivasi untuk memacu tercapainya
tujuan yang diharapkan. Kegiatan ini mewujudkan peserta didik yang berkualitas; berprestasi,
berdisiplin dan bertanggung jawab, serta berakhlaqul karimah, melahirkan rasa tanggung jawab yang tinggi, menimbulkan rasa dihargai, dan rasa diperhatikan, adanya budaya
berani tampil, persaingan sehat/berkompetisi.
Manajemen kurikulum pembelajaran yang
diterapkan di MDA adalah kegiatan membuat perencanaan kurikulum pembelajaran, membuat rencana kerja dan program pendidikan MDA
secara konkrit, mengorganisasikan kurikulum pembelajaran yang lengkap dan terprogram
dengan memperhatikan kebutuhan anak dan kebutuhan orang tua serta masyarakat, melaksanakan
kegiatan kurikulum pembelajaran
secara teratur, terprogram dengan pelaksanaan tugas yang jelas, serta melakukan
pengawasan kurikulum pembelajaran secara terus
menerus dan secara bersama. Kegiatan ini mewujudkan kurikulum pembelajaran yang lengkap,
praktis, dan sederhana, terstruktur dan terprogram, terkoordinir, dan sistemik,
dengan memperhatikan kebutuhan anak atau orang tua dan masyarakat. Terdapatnya suatu keberanian yang dilakukan MDA Baitul
Haadi untuk memperkaya kurikulum, dan memperhatikan relevansi kurikulum dengan
kebutuhan anak, masyarakat serta ilmu pengetahuan.
Manajemen keuangan yang diberlakukan
di MDA adalah kegiatan merencanakan pembiayaan
dengan mengidentifikasi sumber dana, mengelola keuangan dengan transparans (keterbukaan), mengatur penerimaan keuangan secara bersistem yang tetap
terjaga, menyusun dan merekomendasikan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana
kepada stekholder (pihak yang berkepentingan), melakukan pengawasan
dalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu/kualitas orang tua dan masyarakat
melalui pemantauan, pengecekan langsung terhadap tugas tata usaha, melalui
laporan tata usaha dan majlis guru, dan melalui musyawarah dengan pihak-pihak
terkait. Kegiatan ini mewujudkan
dukungan dana dari berbagai pihak, yaitu mampu menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan orang
tua, pengurus dan masyarakat, terpeliharanya kerjasama yang baik dengan semua
unsur terkait, tumbuhnya jiwa sosial dan tanggung jawab, dan dapat menjaga
serta meningkatkan mutu/kualitas pendidikan anak.
Manajemen sarana
prasarana yang diberlakukan pada MDA adalah kegiatan membuat perencanaan sarana prasarana pendidikan MDA dengan
mengidentifikasi kebutuhan dan menetapkan prioritas kebutuhan melalui
musyawarah, pengelolaan sarana prasarana MDA secara terkoordinir baik dalam
penggunaan, pemeliharaan, maupun pengiventarisasiannya, serta perbaikannya
secara rutin, melakukan pemantauan (pengawasan) secara terus menerus dan secara bersama terhadap kinerja penggunaannya,
melakukan pemeliharaan sarana prasarana melalui berbagai cara, serta
memperhatikan dan mengevaluasi keadaan sarana prasarana. Kegiatan ini
mewujudkan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam mendapatkan dan memelihara
sarana prasarana, senantiasa terjaganya dan terpeliharanya serta difungsikan
dengan baik dan maksimal, terpenuhinya faktor pendukung proses pembelajaran,
terlaksananya pembelajaran dengan baik dan lancar dalam peningkatan mutu
pembelajaran.
Manajemen MDA yang dilakukan secara
baik dengan berbagai kegiatan, berimplikasi terhadap terlaksana dan terjaganya
kualitas pembelajaran sehingga dapat meningkatan kualitas pembelajaran dimaksud
secara berkelanjutan. Hal ini diketahui dari berbagai kegiatan yang dilakukan
yaitu dalam menetapkan guru yang berkualitas, sebagai ujung tombak pelaksanaan
pendidikan dan pembelajaran dan membawa MDA kepada tujuan yang diharapkan,
kuantitas dan kualitas peserta didik dapat dipertahankan dan selalu meningkat
melalui berbagai program dan pembinaan dalam membawa peserta didiknya kepada tujuan yang
diharapkan, berbagai kegiatan baik melalui intra maupun ekstra kurikulum, baik
kegiatan di dalam dan di luar MDA, serta terpenuhinya kebutuhan belanja MDA
secara terus menerus, terpenuhinya sarana prasarana pendukung proses
pembelajaran.
Pelaksanaan manajemen MDA Baitul Haadi
bermuara kepada peningkatan kualitas pembelajaran melalui penerapan
fungsi-fungsi manajemen, dengan berbagai aktivitas dan tindakan, didukung oleh
pengetahuan, pengalaman serta kepribadian pengelola, kerja sama semua unsur,
yang terpelihara secara berkesinambungan. MDA Baitul Haadi menerapkan fungsi-fungsi
manajemen, mempunyai potensi cukup besar, baik potensi kelembagaan maupun
potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dalam melaksanakan pendidikan keagamaan
Islam, mampu mempertahankan serta meningkatkan kualitas madrasahnya. Makna dari
itu semua diketahui:
1. Guru MDA yang berkualitas, memiliki tanggung jawab dan mampu
membawa peserta didiknya kepada tujuan dan target yang telah ditetapkan.
2. Peserta didik MDA yang berkualitas, berhasil, berdisiplin dan bertanggung jawab, serta
berakhlaqul karimah, dapat mewujudkan tujuan pendidikan Islam sejak awal.
3. Memiliki kurikulum pembelajaran secara terstruktur dan terprogram,
terkoordinir, praktis, sistemik, dapat mewujudkan tujuan yang diharapkan sesuai
visi dan misi MDA.
4. Keuangan MDA yang cukup dapat menunjang kesuksesan pengelolaan pendidikan dan keberhasilan
peserta didiknya.
5.
Sarana
prasarana yang cukup, membuat pelaksanaan pendidikan
berjalan dengan baik dan lancar.
Terlaksananya manajemen MDA ini,
merupakan sebuah sistem yang dibangun dan dipelihara secara terus menerus
antara kepala MDA, guru, peserta didik, orang tua, pengurus dan masyarakat,
serta pemerintah. Kerjasama yang dibangun membuat MDA Baitul Haadi mampu
meningkatkan kualitas sumber daya madrasahnya, sehingga menjadikan popularitas
di antara MDA yang ada di kota Padang. Kepala MDA mampu memberdayakan para guru
dan peserta didiknya, memberdayakan masyarakat, dan menarik perhatian
masyarakat dengan berbagai aktivitas
pendidikan dan kegiatan sosial.
Manajemen MDA Baitul Haadi Aur Duri Indah,
didukung oleh lima unsur penting, yakni
guru yang berkualitas, didukung oleh peserta didik yang berdisiplin,
berkualitas dan berkepribadian, sebagai sumber daya manusia yang handal, didukung oleh penerapan kurikulum pembelajaran secara
terstruktur dan terprogram, terkoordinir, praktis, sistemik, dan didukung oleh pengelolaan keuangan
yang baik dari segala unsur, serta ditunjang oleh sarana
prasarana yang cukup menopang berjalannya proses pendidikan dengan baik,
disamping manajemen yang lainnya, yang selalu
dipelihara dan ditingkatkan secara terus menerus melalui pembinaan dan peningkatan SDM MDA
Dalam tatanan sosial, kepala MDA
sebagai pemimpin telah berupaya dan bekerja untuk memenuhi tuntutan
kepemimpinan dan amanah yang diberikan kepadanya. Manajemen sebagai pengelolaan
pekerjaan dan pranata sosial masyarakat menuntut pembumian nilai-nilai Islam,
karena itu prinsip kerja sama, tanggung jawab melekat pada perilaku manajerial
islami. Artinya kepala MDA telah menerapkan berbagai prinsip islami dalam
mengelola organisasinya untuk kebaikan dan kemajuan manusia.
Manajemen yang diterapkan kepala MDA
Baitul Haadi telah memberikan keberhasilan pengelolaan pendidikan dan
pembelajaran bagi peserta didiknya dengan menerapkan berbagai langkah dan cara.
Implikasi pelaksanaan manajemen MDA terhadap peningkatan kualitas pembelajaran
terintegrasi dalam proses pembelajaran dengan berbagai aktivitas, tindakan dan
dalam terwujudnya tujuan yang diharapkan dengan berbagai prestasi dan kualitas;
anak yang shaleh, berdisiplin dan bertanggung jawab, memiliki sifat terpuji,
serta meguasai kompetensi pembelajaran dan berprestasi.
IV. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Manajemen yang diterapkan di MDA Baitul Haadi, melalui
fungsi-fungsi manajemen, telah memberikan keberhasilan bagi pelaksanaan
pendidikan dan pembelajaran peserta didiknya. Implikasi dari pengelolaan
yang diterapkan kepala MDA tersebut mempunyai arti dan pengaruh besar terhadap
meningkatkan kualitas pembelajaran, baik pada proses pembelajaran maupun pada
hasil dan tujuan.
Manajemen
SDM guru, peserta didik, kurikulum pembelajaran, keuangan, sarana prasarana
yang diterapkan di MDA melalui berbagai kegiatan manajemen, yaitu: (a) mewujudkan guru
yang berkualitas, memiliki kompetensi religius, berkepribadin muslim, dan mampu
membawa peserta didiknya kepada tujuan yang diharapkan, (b) mewujudkan peserta didik yang saleh; berperilaku terpuji atau
berakhlakul karimah, berhasil dan
berkualitas, berprestasi, serta mampu memahami dan menguasai
kompetensi pembelajaran, (c) mewujudkan kurikulum pembelajaran yang lengkap dan
praktis, sederhana dan fleksibel, terstruktur dan terprogram, terkoordinir, dan
sistemik dengan memperhatikan kebutuhan kebutuhan masyarakat, (d) mewujudkan dukungan dana dari berbagai pihak, dan menumbuhkan serta meningkatkan kepercayaan
orang tua, pengurus dan masyarakat, sehingga mampu membantu kesejahteraan MDA,
(e) mewujudkan pelaksanaan
pendidikan dan pembelajaran dengan baik dan maksimal.
Implikasi pelaksanaan manajemen MDA memberi arti dan
pengaruh terhadap peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik, baik
terhadap proses pembelajaran maupun terhadap hasil dan tujuannya. Kualitas proses pembelajaran membawa
peserta didik kepada perilaku dan dampak
belajar yang sangat baik; iklim belajar mendukung proses pembelajaran aktif,
inovatif, kreatif dan menyenangkan, alat/media pembelajaran digunakan
oleh guru dan peserta didik, dan sistem pembelajaran dalam menghasilkan proses
dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan tuntutan kurikulum. Kualitas
hasil dan tujuan yang diharapkan, mewujudkan
peserta didik yang berkualitas; anak yang shaleh, berdisiplin dan bertanggung
jawab, memiliki sifat-sifat terpuji, menguasai kompetensi pembelajaran dan
berprestasi.
B.
Implikasi
1.
Implikasi
Teoritis
Manajemen MDA sebagai lembaga
pendidikan Islam nonformal erat kaitannya dengan Manajemen Berbasis Madrasah
(MBM) yang dikemas dalam istilah madrasah mandiri, dengan menerapkan
fungsi-fungsi manajemen. Dalam
implementasi MBM kepala madrasah berperan sebagai educator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator pendidikan (EMASLIM).
Manajemen
guru yang diterapkan di MDA, menjadi salah satu kekuatan yang mendukung
peningkatan kualitas pembelajaran. Hal ini berimplikasi terhadap pendidik MDA
yang dipersyaratkan memenuhi kriteria sebagaimana diatur PP.19/2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan yakni pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan
kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Undang-undang nomor 2 tahun
1989 tentang sistem pendidikan serta UURI No.14 tahun 2005 tentang guru dan
dosen.
Manajemen
peserta didik yang diterapkan di MDA dengan memberdayakan sumber daya semua
personil, membawa peserta didiknya kepada tujuan yang diharapkan. Manajemen
peserta didik yang demikian menunjukkan implikasi peningkatan kualitas
pembelajaran melalui kombinasi model tujuan (menekankan kepada pencapaian
tujuan) dan sistem atau proses (memperhatikan karakteristik proses dan
kondisi).
Kegiatan keberhasilan manajemen kurikulum yang terpenting adalah
kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru dan proses pembelajaran. Sementara
faktor-faktor yang memengaruhi sistem kurikulum pembelajaran itu adalah
pengembagan program, pelaksanaan pembelajaran, pengawasan dan peningkatan hasil
belajar.
Manajemen
keuangan yang diterapkan di MDA Baitul Haadi, berimplikasi terhadap konsep
pendidikan berbasis masyarakat (community
based education) yang menekankan pada pentingnya pemahaman akan kebutuhan
masyarakat dengan menggunakan potensi yang ada dilingkungannya.
Manajemen sarana prasarana MDA berimplikasi terhadap
Permendiknas nomor 24 tahun 2007 tentang standar sarana prasarana, di mana
madrasah hendaknya minimal memiliki lahan, bangunan, perabot, peralatan
pendidikan, dan perlengkapan lainnya sesuai dengan rasio peserta didik.
2.
Implikasi
Praktis
Manajemen
MDA yang diterapkan kepala MDA telah memberikan keberhasilan pengelolaan
pendidikan dan pembelajaran bagi peserta didiknya dengan menerapkan berbagai
langkah dan cara, sehingga terwujudnya guru berkualitas yang mampu membawa
peserta didiknya kepada tujuan, peserta didik yang berhasil dalam proses dan
tujuan, kurikulum pembelajaran yang terlaksana secara teratur, terprogram,
dukungan keuangan dari berbagai pihak, serta sarana prsarana yang cukup dan
terpelihara.
Manajemen MDA Baitul
Hadi di arahkan pada (a) sosok guru yang inovatif
(pembaruan), amanah dan ikhlas dalam pengabdiannya, guru berkualitas, professional, berkepribadian, guru mampu membawa dan
mengantarkan peserta didiknya kepada tujuan pendidikan, guru yang memiliki budaya
kerja sama, (b) di arahkan pada peserta didik yang berhasil dan berkualitas; berprestasi, berdisiplin dan bertanggung
jawab, serta berakhlaqul karimah. Peserta didik di arahkan pada pengetahuan,
pemahaman dan target-target yang telah diprogramkan, melalui pendidikan yang
teratur dan bersistem, (c) di arahkan pada tetap terjaganya mutu
pembelajaran dan peningkatan mutu pembelajaran dimaksud secara berkelanjutan,
dengan berbagai kegiatan baik melalui intra kurikulum maupun ekstra kurikulum,
baik kegiatan di dalam dan di luar MDA, (d) diarahkan pada terdapatnya dukungan
dana dari berbagai pihak yang berdampak kepada tumbuh dan meningkatnya kepercayaan orang tua,
pengurus dan masyarakat, terjaga dan meningkatnya mutu/kualitas pendidikan, (e)
diarahkan pada terpenuhinya kebutuhan sarana prasarana pendidikan dan
terlaksananya pembelajaran dengan baik dan lancar dalam mendukung proses
pembelajaran dan meningkatkan mutu pembelajaran, dan mendapat dukungan semua
pihak.
C. Rekomendasi
MDA menjadi pusat pendidikan anak usia sekolah tingat
dasar dibidang pendidikan keagamaan Islam yang tidak boleh diabaikan atau
terabaikan. Sebagai sub sistem pendidikan Islam, kehadirannya sangat mendukung
tujuan pendidikan Nasional, khususnya dalam menciptakan manusia beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Manajemen yang diterapkan di MDA Baitul Haadi terhadap pengelolaan SDM
guru dan peserta didik, kurikulum pembelajaran, keuangan, dan sarana prasarana
dalam menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam bagi anak bangsa, dalam
usahanya telah ikut berkiprah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang
beriman, bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Secara khusus bertujuan untuk mewujudkan pendidikan agama Islam yang
berkualitas berdasarkan al-Qurān dan al-Hadīs.
Untuk
terus berkembangnya MDA Baitul Haadi ini, berbagai pihak yang terkait, harus
selalu meningkatkan kinerjanya, terutama kepala MDA dan para guru yang terlibat
langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. Manajemen yang sudah diterapkan dan
berkembang di MDA perlu dipelihara dan lebih ditingkatkan lagi. Hal-hal yang
masih menjadi kekurangannya, perlu diperbaiki, disempurnakan, serta
direalisasikan, terutama meningkatkan kompetensi guru agama melalui
profesionalisasi dengan mengikutkan pelatihan keilmuan kurikulum dan ilmu
penunjang lainnya.
Kepada
pihak-pihak terkait langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan pendidikan
di MDA, diharapkan memberikan dukungan sepenuhnya, khususnya bagi
penyelenggaraan pendidikan di MDA, yaitu pengurus mesjid dan mushala, orang tua
peserta didik dan masyarakat, pemerintah daerah, kepala kantor Kementerian
Agama, dan pengurus lembaga FKMD, dan lain-lainnya.
Sebagai komponen sistem pendidikan nasional, pendidikan keagaamaan perlu
diberi kesempatan untuk berkembang, dibina dan ditingkatkan mutunya oleh semua
komponen bangsa, termasuk pemerintah dan pemerintah daerah.
Kepada
Kementerian Agama sebagai pembina teknis, diharapkan memberikan dan
melaksanakan pembinaan dan pengawasan secara terus menerus sesuai peraturan
yang berlaku. Pengelolaan MDA, menjadi bagian penting dari Direktorat Jenderal
Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Menjadikan nilai-nilai agama sebagai
landasan moral spiritual dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
dengan misi meningkatkan kualitas pendidikan agama dan memberdayakan lembaga
keagamaan (Keputusan Menteri Agama no.1 th 2001, No. 512 th 2003). Kepada
Pemerintah Daerah Kota Padang diharapkan memberikan bantuan sumber daya
pendidikan kepada pendidikan keagamaan dalam hal ini MDA, sebagaimana tercantum
dalam PP no. 55 tahun 2007 pasal 12 dan 25. Pendidikan keagamaan Islam melalui
MDA dilaksanakan dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat (Permenag
no.3 tahun 2013) dan Perda no.o6 tahun 2003 serta Pergub No.70 tahun 2010).
Kepada
organisasi FKMD/KKMD, agar senantiasa mengaktualisasikan peran pendidikan MDA
lebih berdaya-guna dan berhasil, karena peran FKMD sangat diperlukan dalam
pengorganisasian dan pensinergian seluruh potensi madrasah diniyah/MDA
(Keputusan Menteri Agama RI No.3 th 2006, tentang susunan organisasi dan tata
kerja kementerian Agama). Kepada pemerhati pendidikan agama dan atau keagamaan
Islam, kiranya tergerak untuk melakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam
dan lebih terarah pada fokus–fokus permasalahan di atas.
DAFTAR KEPUSTAKAN
A.
Buku
An-Nahlawi, Abdurrahman, (1998).
Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam
Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat, Bandung:
CV. Diponegoro.
As-Suyuthy,
Imam Jalaluddin Aby Bakrin, (911H). Al-Jāmi’us-Shaghīr, I.II, (Beirut
Libanon:
Darul Kutub Ilmiyah.
Ath-Thuwairaqi, (2004). Nawwaal, Sekolah Unggul Berbasis Sirah Nabawiyah, (Terjemahan Asmuni),
Judul asli: Al-‘Alaaqaat Al-Insaniyah
fil As-Sirah, Jakarta:
Daarul Falah.
Azizy,
Qodri A. (2003). Pendidikan
(Agama) Untuk Membangun Etika Sosial (Mendidik Anak Sukses: Pandai dan Bermanfaat), Semarang: Aneka Ilmu.
Bafadal, Ibrahim, (2003). Sari manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis
Sekolah, Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar Dari Sentralisasi Menuju
Desentralisasi, Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Bafadal, Ibrahim, (2005).
Sari manajemen Peningkatan Mutu
Pendidikan Berbasis Sekolah, Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori Dan
Aplikasinya, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Bogdan, Robert C. & Sari Knopp Biklen, (1998). Qualitative
Research for Education: An. Introduction to Theory and Methods, Boston:
Allyn and Bacon.
Burhan Bungin, (2003). Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman
Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Bush, Tonny, dan Mareanne Coleman, (2008). Manajemen Strategis Kepemimpinan Pendidikan, Seri
Manajemen Mutu Pendidikan, Alih
Bahasa: Fahrurrozi, Jogjakarta: IRCiSoD.
Dahlan,
Taufiq, Rijal Roihan, (editor), (2005). Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah, Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jendral kelembagaan Agama Islam.
Depatemen
Agama, (2005). Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan,
Jakarta: Bulan Bintang.
Depatemen
Agama, (2004). Pedoman Pengembangan
Pesantren Dan Pendidikanan Keagamaan Tahun 2004-2009,
Jakarta: Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren Direktorat
Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Depatemen
Agama, (2000). Pedoman Penyelenggaraan dan Pembinaan Madrasah Diniyah, Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam.
Depatemen
Agama, (2007). Pedoman Penyelenggaraan Diniyah Takmiliyah,
Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jendral
Pendidikan Islam Departemen Agama.
Depatemen
Agama, (2003). Standar Nasional Kurikulum Nasional Berbasis Kompetensi, Jakarta: Direktorat Pendidikan Keagamaan
Pondok Pesantren Dirjen bimbaga Islam.
Dirawat, dkk., (1983).
Pengantar Kepemimpinan Pendidikan, Surabaya: Usaha
Nasional.
Djamas,
Nurhayati, (ed.), (2005).
Pedoman
Implementasi Manajemen Berbasis Madrasah,
Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan
Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan.
Djamas,
Nurhayati, (2005). Manajemen Madrasah
Mandiri,
Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan
Diklat Keagamaan.
Engkoswara, (2001). Paradigma Manajemen Pendidikan, Menyongsong Otonomi Daerah, Bandung: Yayasan Amal Keluarga.
Eiserman,
William, (1991). Naturalistic Inquiry, Bandung:
FPS IKIP Bandung.
Fadjar
A. Malik, (2005). Holistika Pemikiran
Pendidikan, ed. Ahmad Barizi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Faisal, sanafiah,
(1990). Penelitian Kualitatif:
Dasar-Dasar dan Aplikasi, Malang: Yayasan Asah
Asih Asuh.
Fathoni,
Muhammad Khalid, (2005). Pendidikan Islam dan
Pendidikan Nasional (Paradigma Baru), Jakarta: Direktorat Jendral
Kelembagaan Agama Islam.
Fattah,
Nanang, (1999). Landasan Manajemen
Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, cetakan kedua, 1999
Habibullah
(ed.), Manajemen Madrasah Mandiri, Jakarta: Puslitbang
Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan
Litbang Agama dan Diklat Keagamaan.
Habibullah
(ed.), (2005).
Kepemimpinan Madrasah Mandiri, Jakarta: Pusat
Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan.
Hadi,
Sutrisno, (2000). Metodologi Research (untuk Penulisan Laporan, Skripsi, Thesis, dan
Disertasi), Jilid 2, Yogyakarta: Penerbit Andi.
Hadiyanto,(200). Manajemen Peserta Didik, Padang: Universitas
Negeri Padang (UNP) Press.
Hajar,
Ibnu, (1999). Dasar-Dasar Metodologi
Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan,
Jakarta: Rajagrafindo.
Hasibuan, Malayu S.P., (2007).
Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hasri,
Salfen, (2005). Manajemen Pendidikan Pendekatan Nilai dan Budaya Organisasi, Yayasan Pendidikan Makasar.
Imran, Ali, (1995).
Pembinaan Guru Di Indonesia, Jakarta: Dunia
Pustaka Jaya.
Irawan,
(1990). Logika dan Prosedur
Penelitian, Jakarta: STIA-LAN Press. Jalal, Fasli dan Dedi
Supriadi (ed.), (2001). Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi
Daerah, Yogyakarta:
Adi Cita Karya Nusa.
Jawahir, Tanthawi, (1983). Unsur-Unsur
Manajemen Menurut Al Qur’an, Jakarta: Al Husna.
Komaruddin,
(1994). Ensiklopedia Manajemen, edisi kedua, Jakarta: Bumi Aksara.
Lincoln,Y.S.
& Guba, E.G., (1984). Naturalistic Inquiry, London New Delhi Bevrly Hills: Sage Publications.
Miles,
Metthew B. dan Huberman A. Michel, (1992). Analitis
Data Kualitatif, Terjemahan: Tjetjep Rohani Rohidi, Jakarta: UI Press
Moleong, Lexy J., (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif
Edisi Revisi, Bandung: Remaja Rosdakarya
Muhaimin,
Abd. Mujib, (1993). Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Filosofis dan
Kerangka Dasar Opersionalisasinya), Bandung: Trigenda Karya.
Mudjahid
AK. dan Kailani, Muh., (Ed.), (2004). Pemberdayaan Sumber Daya
Madrasah, Jakarta: Dep.
Agama RI. Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Pusdiklat
Administrasi
Muhajir, H. Noeng, (1996).
Metodologi
Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: PT Bayu
Indra Grafika.
Mulyasa,
(2003). Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa,
(2004). Kurikulum Berbasis
Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan
Implementasi, Bandung Remaja Rosda Karya.
Mulyasa, (2004). Menjadi Kepala Sekolah Profesional Dalam Konteks
Menyukseskan MBS dan KBK, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Mulyasa, (2005). Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah, Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal
Kelembagaan Agama Islam.
Munawwir, Ahmad Warson, (1984). Kamus Arab Indonesia Al Munawir, Yogyakarta: Pondok Pesantren Krapyak, Cet. I.
Narbuko, (et-all), (1999).
Metode Penelitian,
Jakarta: Bumi Aksara.
Nashih, Ulwan Abdullah, (1981). Pedoman
Pendidikan Anak dalam Islam II, Terjemahan: Heri Noer Ali (Tarbiyatun Lil-Aulad fil-Islam), Semarang: Asy- Syifa’.
Nasution,
(1992). Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif, Bandung: Tarsito.
Nata, Abuddin, (2003).
Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam Indonesia, Jakarta:
Pernada Media, edisi Pertama.
Nata, Abuddin, (2005). Pendidikan dalam Perspektif Hadits, Jakarta: UIN Press.
Nawawi, Hadari Haji, (1989). Organisasi Sekolah Dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga
Pendidikan , Jakarta: CV Haji Masagung, Cet. Ke-3.
Nurdin, (2002).
Syafruddin dan Basyiruddin Usman, Guru
Profesional dan Implementasi Kurikulum, Jakarta: Ciputat.
Nurhadi, (1983). Administrasi Pendidikan di Sekolah,
Jilid I, Yogyakarta: Andi Offset.
Oemar Hamalik, (2002). Pendidikan Guru berdasarkan
Pendekatan Kompetensi, Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, Made, (2004). Manajemen
Pendidikan Indonesia, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Raynolds,
Larry J., (2005). Kiat Sukses Manajemen Berbasis Sekolah Pedoman bagi
Praktisi Pendidikan, Alih Bahasa: Teguh Budiharso, Jakarta: CV. Diva
Pustaka.
Redja Mudyahardjo, (2002). Pengantar
Pendidikan, Jakarta:Raja
Grafindo.
Riduwan (editor), (2009).
Manajemen Pendidikan, Tim DosenAdministrasi
Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung:
Alfabeta.
Richard M. Steers, (et-al),. (1985). Managing Effective
Organization: an Introduction, Boston: Ken Publishing Companya Division of
Wadsworth, Inc.
Riva’i,
Veithzal, dan Sylviana Murni, (2009). Education Management
Analisis Teori dan Praktik, Jakarta: Rajawali Pers
Divisi Buku Perguruan Tinggi PT Grafindo Persada,
2009
Robert. K. Yin., (2002). Studi Kasus (Desain dan Metode), (Alih Bahasa: Djauzi Mudzakir),
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rusyan,
A. Tabrani, (1992). Manajemen Kependidikan, Bandung: Media Pustaka, 1992
Rusman,
Manajemen Kurikulum, Jakarta:
Rajawali Pers.
Sahertian, Piet, A., (1994). Profil Pendidik Profesional, Yogyakarta: Andi Offset.
Saleh, Abdurrachman, (2004). Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa; Visi, Misi dan
Aksi, Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Salles, Edwad, (2008).
Total Quality Management In Education,
Manajemen Mutu Pendidikan, Alih Bahasa: Ahmad Ali R(2009). Kurikulum dan Pembelajaran: Teori
dan Praktik Pengembanagan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
Jakarta: Kencana.
Silaban, Sintong, (1993). Pendidikan Indonesia; dalam
pandangan Lima Belas Tokoh pendidikan swasta, Dasa
Media.
Stoner, James A.F., R. Edward Freeman, Daniel. R Gilbert Jr, (1996).
Manajemen Jilid I, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta: Prenhallindo.
Sugiyono, (2008). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Bandung: Alfabeta.
Suprayogo, Imam, dan Tobroni, (2001). Metodologi Penelitian
Sosial-Agama, Bandung PT Remaja Rosda Karya.
Suryosubroto,
B., (2004). Manajemen Pendidikan Di
sekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta, Cet. Suyanto, Bagong, et. al (ed.) (1995). Metode Penelitian Sosial, Surabaya: Airlangga University Press.
Syafaruddin,
(2005). Manajemen Lembaga
Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press.
Syafaruddin dan Irwan, (2005).
Manajemen Pembelajaran, Ciputat Press,
Quantum
Teaching. Syamsu, Ibnu, (1983). Pokok-Pokok Organisasi dan Manajemen, Jakarta: Bima Aksara.
Tilaar, (2000).
Paradigma Baru Pendidikan Nasional, Jakarta: Rineka Cipta.
Wahjosumidjo, (2002).
Kepemimpinan Kepala Sekolah (Tinjauan Teorotik dan Permasalahannya), Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.
Zakiah, Darajat, (1980).
Kepribadian Guru, Jakarta:
Bulan Bintang, II
.
B. Web
Site/Blog/Situs/Home Page
didownload tanggal 19 Maret 2009
http://idiwikipedia.org/wiki/pendidikan.com didownload tanggal 19 Maret 2009
http://cepiriyana.blogspot.com/2006/06/hakikat-kualitas-pembelajaran.html,
mengutip pendapat Bramley,1996/ didownload tanggal 26 Mei 2009
http://idwikipedia.org/wiki/pendidikan.com/pembelajaran didownload tanggal 26 Mei 2009
Gagne dan
Briggs, (1979) dalam, didownload tanggal 26 Mei 2009
http://tatangmanguny.wordpress.com/2010/04/07/pengertian-sarana-dan-prasarana-pendidikan didownload tanggal 8 Juni 2010
C. Jurnal/Majalah/Hasil Penelitian/Laporan
Ahmad Zahro (et.al.) Antologi Kajian Islam, tinjauan
tentang Filsafat, Tasawuf, Institusi, Pendidikan, Al Qur’an, al Hadis, Hukum, Ekonomi Islam, Seri 8, Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Press: Seri 11, 2006 (M. Mustain, Mutu Pendidikan Melalui Pelaksanaan
Manajemen Bebasis Sekolah (MBS) di Madrasah Aliyah Negeri Jombang)
Muhammad Syaifudin, Manajemen Madrasah Swasta;
Pelaksanan Manajemen Berbasis Madrasah pada MTs Darul Hikmah Pekanbaru, Disertasi, PPS S3 IAIN Imam Bonjol
Padang, 2008
Sahnan,
(1989). Manajemen Pondok Pesantren
di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tesis, Program Pascasarjana UNP.
Saiful Annur, (2001). Strategi
manajemen SD Islam Az-Zahrah, Tesis, Padang: Program Pascasarjana UNP.
Syaichul Hadi Permono (et.al.), Antologi Kajian Islam, tinjauan tentang
Filsafat, Tasawuf, Institusi, Pendidikan, Al Qur’an, al Hadis, Hukum, Ekonomi Islam, Seri 8, Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Press: 2005 (Muhammad Thoha, Manajemen
Kesiswaan dalam Perspektif Pendidikan Islam)
Thaib,
Kasman, Kepala seksi Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren Kantor Deparemen
Agama, Manajemen Madrasah Diniyah
Awaliyah (MDA), disampaikan pada Pembinaan Guru dan Peningkatan Mutu MDA
Kota Padang, 2004
Umaedi,
(2005). Pengembangan Madrasah
Diniyah Melalui Penguatan Pendidikan Berbasis Masyarakat, Musyawarah Konsultasi
Kelompok Kerja Madrasah Diniyah (KKMD), Makalah,
Ciawi: Pusat Kajian Manajemen Mutu Pendidikan (Center Education Quality
Manajement-CEQM), dilaksanakan di Jakarta, tanggal 21 Desember
2005.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar