Jurnal Ilmiah Kajian Gender
197
PENDIDIKAN SUMATERA BARAT BERWAWASAN
GENDER: LINTAS SEJARAH TAHUN 1890 – 1945
Rosniati Hakim
Abstract
Woman is the object and the target of educational audiences, which
inevitably links with educational institutions as the embodiment of moral
responsibility, as well as a necessity that can not be ignored. Education of
women between 1890 to 1945, held under the Dutch government, and
through a national movement, spawned a variety of organizations, to be
realized in the form of schools, madrassas and other associations. Education
at that time was shared between women and men, as are composed
exclusively of women, as bequeathed by the past history of the hero women
of West Sumatra.
Keywords : Education and Gender
A. Pendahuluan
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan tahun 1975 sebagai
tahun wanita (di Indonesia tanggal 22 Desember 1974 sebagai hari
Ibu), yang ditetapkan sebagai titik tolak kegiatan program tahun
wanita Internasional. Kemudian disusul pernyataan 10 tahun
berikutnya sebagai dasawarsa wanita (United Nations Decade for
Women) dengan tema: Equality, Development and Peace. Keadaan di
dunia mendesaknya untuk melaksanakan berbagai konvensi dan
menghasilkan berbagai deklarasi. Pada tahun 1995 the Fourth World
Conperence on Women di Beijing menghasilkan Plan of Action yang
bermaksud untuk memerangi masalah kritis yang menimpa kaum
wanita, di antaranya adalah kesenjangan di dalam memperoleh
pendidikan yang berkualitas.
i
Jauh sebelum kemerde-kaan, wanita
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
198
Indonesia sudah ikut melakukan kegiatan ditengah-tengah masyarakat
baik dalam bidang pendidikan, agama, sosial, ekonomi, dan juga
dalam bidang politik. Dalam pergerakan kemerdekaan, wanita
Indonesia tidak hanya berada di garis belakang tetapi juga ada yang
langsung berada di garis depan. Partisipasi kaum wanita itu telah
menempatkannya dalam kedudukan yang sama dan seimbang dengan
kaum pria. Dalam UUD 1945 antara lain pasal 31 berbunyi: Tiap-tiap
warga Negara berhak mendapat pengajaran. Kedudukan wanita
menurut GBHN Ketetapan MPR No. III/MPR/1993 tentang GBBPP
butir 10 bagian c dinyatakan bahwa peranan dan tanggung jawab
wanita dalam pembangunan makin dimantapkan melalui peningkatan
pengetahuan dan keterampilan diberbagai bidang sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuannya
ii
.
Di Sumatera Barat, dan juga di daerah lain di Indonesia, sejak
penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga kemerdekaan dengan
periode Orde Lama, periode Baru dan periode Reformasi, gerakan
wanita Indonesia sangat kental dengan semangat pembebasan negeri
dan perlawanan terhadap penjajahan mulai dengan wanita mengangkat
senjata, wanita mendidik, wanita berpolitik dan berorganisasi, seperti
Sitti Manggopoh, Rohana Kudus dan Rahmah El Yunusiyah Rasuna
Said, Rasimah Ismael, Ratna Sari, dan lain-lain. Seiring itu juga sejak
Orde Baru muncul organisasi wanita Islam yang dikenal dengan
Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI),
yang beranggotakan berbagai organisasi Islam wanita
iii
.
Wanita adalah merupakan pelaku dan target audience
pendidikan, yang tak dapat dihindarkan keterkaitannya dengan
kelembagaan pendidikan sebagai perwujudan tanggung jawab moral,
di samping juga merupakan kebutuhan yang tak boleh diabaikan
terutama dalam kaitannya dengan program pemerintah. Oleh karena
itu tulisan ini akan mengemukakan pendidikan wanita dalam lintas
sejarah Sumatera Barat antara tahun 1890 – 1945 dengan ruang
lingkup pembahasan melalui lembaga pendidikan informal, non formal
dan formal. Permasalahannya adalah bagaimana pendidikan wanita di
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
199
Sumatera Barat antara tahun 1890 sampai tahun 1945 sehingga ia
dapat mengambil bagian dalam membangun kaumnya dan
membangun bangsanya?
B. Pendidikan sebagai Alat Perjuangan
Pendidikan wanita di Sumatera Barat memiliki sejarah yang
panjang. Sejak Rohana Kudus, Siti Manggopoh, Rasuna Said, dan
Rahmah El Yunusiyah hingga munculnya intitusi Menteri Negara
Urusan Wanita dengan segala programnya. Namun pendidikan wanita
masih saja tetinggal dari pendidikan kaum laki-laki, sehingga terjadi
kesenjangan dalam bidang pendidikan yang hal ini juga berdampak
dalam kepangkatan dan posisi dalam masyarakat atau pemerintahan.
Dalam alam merdeka wanita Indonesia mempunyai hak dan
kesempatan yang sama untuk mengikuti semua pendidikan, asal saja
tidak bertentangan dengan sifat-sifat jasmaniah dan rohaniah wanita.
Di samping itu juga masih tetap diselenggarakan pendidikan khusus
untuk wanita, terutama yang berhubungan dengan tugas wanita
sebagai ibu, dan sebagai kepala rumah tangga. Seperti: Sekolah
Kepandaian Putri (SKP) dan Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP)
yang sekarang disebut Sekolah Kesejahteraan Keluarga dan Sekolah
Kesejahteraan keluarga Tingkat Pertama dan Sekolah Kesejahteraan
Keluarga Tingkat Atas (SKKP dan SKKA). Sekolah tersebut adalah
khusus untuk keperluan wanita dan diselenggarakan di banyak
tempat. Pendidikan khusus untuk wanita lainnya adalah pendidikan
bidan, karena sifatnya sebagai wanita kerap kali lebih sesuai dengan
syarat-syarat untuk jabatan tertentu.
iv
Keterbelakangan yang dirasakan kaum wanita di Minangkabau
Sumatera Barat adalah kesempatan mendapatkan pendidikan, dapat
dikatakan sangat sedikit sekali dibanding kaum laki-laki. Hal ini
disebabkan antara lain karena wanita tidak dapat banyak bergerak
untuk keluar rumah, dan dalam usia muda telah dikawinkan dengan
laki-laki yang belum dikenalnya, serta dalam perbedaan usia yang
jauh berbeda, sedang peranan mamak terhadap kemenakan
perempuan sangat besar. Sementara masyarakat memandang, tempat
wanita adalah di dapur. Namun akhirnya kenyataan ini membawa dan
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
200
menyadarkan kaum wanita untuk mengadakan berbagai usaha untuk
mengubah diri mereka kepada yang lebih baik
v
Hal ini terlihat pada
sistem matrilineal dengan menarik garis keturunan dari ibu (Bundo
Kanduang), dalam fungsinya memelihara anak kemenakan, kontrolnya
menjadi lebih besar, (di samping mamak, dan anggota suku lainnya).
Dengan istilah Bundo Kanduang, secara psikologis wanita
cukup dihargai dan penghargaan itu direalisasikan dengan
memberikan kepercayaan untuk memelihara harta pusaka dan
membelanjakan hasilnya untuk kepentingan anak kemenakan.
Penghargaan itu telah memotivasi wanita Minangkabau untuk berani
maju dan menyuarakan pikiran-pikiran baru untuk kemajuan para
wanita yang pada akhir abad 19 hingga awal abad ke 20 dirasakan
masih terbelakang. Misalnya, Rohana Kudus (1884-1972) mendirikan
sekolah untuk para gadis yaitu Amai Setia (1892) di Koto Gadang,
tahun 1911, ia membentuk organisasi Kerajinan Amai Setia untuk
menghimpun para wanita, guna memberikan berbagai keterampilan.
Rohana Kudus, 1912 menerbitkan surat kabar Sunting Melayu, khusus
wanita yang pertama di Indonesia. Tanggal 25 Agustus 1974, ia diberi
gelar Pelopor wartawati Sumatera Barat. Kemudian, Siti Manggopoh
(1880-1965), seorang perempuan biasa yang berpendidikan surau,
berani menyerang benteng penjajahan Belanda, dengan memimpin
kelompok kecil tahun 1908. Selanjutnya, Rasuna Said (1910-1965)
aktif dibidang polotik dan pernah menjadi anggota Parlemen (Dewan
perwakilan Sumatera tahun 1945 dan Dewan Perwakilan Rakyat
Sementara tahun 1950).
Pengakuan terhadap eksistensi wanita sebagaimana di atas,
juga memberikan kesempatan kepada para wanita untuk bergerak dan
memberdayakan kaumnya, seperti Rahmah El Yunusiyah (1910-1969), mendirikan sekolah khusus untuk wanita yaitu Diniyah Putri di
Padang Panjang, tahun 1923. Sekolah tersebut banyak didatangi olah
anak-anak wanita dari berbagai penjuru. Dia juga mempertahankan
kehormatan wanita-wanita Minangkabau dari pelecehan seksual oleh
tentara Jepang waktu itu (1943-1945)
vi
.
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
201
Memperhatikan pentingnya peran wanita di dalam keluarga,
menuntut wanita-wanita agar memperoleh bekal ilmu dan
keterampilan, sebagai seorang pendidik keluarga di rumah tangganya.
Namun menurut Rahmah, tujuan pendidikannya tidak hanya sebatas
rumah tangga , tapi lebih jauh dari itu, yaitu pendidik di rumah tangga,
pendidik di sekolah dan pendidik dalam masyarakat.
vii
Diniyah Putri sebagai lembaga pendidikan Islam, telah merintis
pendidikan Islam bagi wanita-wanita waktu itu, yang secara bertahap
terus mengalami kemajuan, walaupun penjajahan selalu mencekam
perjalanan pendidikannya. Sebagai sekolah pertama khusus wanita,
Rahmah bercita-cita memperbaiki kedudukan wanita melalui
pendidikan modern berdasarkan prinsip agama
viii
Senada dengan itu Jacqueline Chabaud
ix
, mengungkapkan:
pendidikan tidak hanya sangat membantu menghilangkan angapan
bahwa wanita adalah lebih rendah, melainkan juga membantu
menghilangkan rendahnya status mereka. Oleh karenanya pendidikan
kaum wanita adalah kebutuhan seluruh dunia. Pendidikan kaum
wanita telah menjadi keharusan yang bersifat internasional, karena
kemajuan yang merupakan kebutuhan mendesak itu menciptakan dan
sekaligus menuntut jenis wanita yang baru. Persoalannya ialah
bagaimana menyediakan dasar-dasar pendidikan tidak atas dasar
perikemanusiaan semata; kaum wanita harus diberi segala persyaratan
untuk ikut ambil bagian dalam membangun dunia ini.
Berdasarkan hal itulah kaum wanita telah menjalankan
peranannya yang sangat penting, baik dalam sejarah memperjuangkan
kemerdekaan melawan penjajahan, maupun dalam usaha memperbaiki
nasib bangsa Indonesia umumnya dan kedudukan wanita pada
khususnya. Ini terbukti dengan munculnya pahlawan-pahlawan wanita
seperti disebutkan di atas. Pasca tahun 1920, berdiri organisasi-organisasi wanita berbasis agama. Kemudian setelah pemerintahan
Orde Baru, terhimpun dalam suatu wadah bernama: Badan
Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) tahun
1969, yang beranggotakan organisasi Islam wanita bersifat nasional
yang mempunyai cabang-cabang di daerah
x
. Melalui organisasi ini
kaum wanita selalu memperoritaskan pendidikan wanita, dengan
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
202
berbagai kegiatannya. Kemudian tahun 1928, Kongres Perempuan
Pertama diadakan di Yogyakarta, dihadiri oleh 30 perkumpulan wanita
waktu itu.
Secara jelas di dalam program pemerintah
xi
dinyatakan bahwa
program peningkatan kualitas hidup perempuan bertujuan untuk
meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan sebagai individu,
yaitu baik sebagai insan dan sumber daya pembangunan; sebagai
bagian dari keluarga yang merupakan basis terbentuknya generasi
sekarang dan masa mendatang; sebagai makhluk sosial yang
merupakan agen perubahan sosial diberbagai bidang kehidupan dan
pembangunan. Sasaran kinerja program ini adalah meningkatnya
kualitas dan peranan perempuan terutama di bidang-bidang: hukum,
ekonomi, politik, pendidikan, sosial, dan budaya.
Memahami pokok pokok pikiran di atas, bahwa pendidikan
sangat penting bagi kemajuan pribadi, keluarga, masyarakat dan
bangsa. Kalau ada ungkapan “Wanita adalah pengkokoh Negara” atau
“didiklah wanita, maka kita mendidik bangsa” itu berarti betapa
strategisnya kedudukan wanita dalam melipat-gandakan manfaat
pendidikan. Dengan menyadari adanya pergeseran-pergeseran pola
komunikasi yang disebabkan oleh perkembangan industri barang dan
jasa, wanita tetap mempersepsikan tugas mendidik anak sebagai tugas
utama. Oleh karena itu banyak peluang yang dapat direbut oleh kaum
wanita untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai pengemban tugas
ganda, sebagaimana contoh yang telah diwariskan sejarah masa lalu
oleh pejuang-pejuang srikandi Sumatera Barat, yang akan dikaji dalam
bahasan berikut. Seperti Kerajinan Amai Setia (plus keterampilan),
Diniyah Putri (plus agama) Padang Panjang, sebagai perintis
pendidikan wanita pertama, sangat relevan dengan kehendak
pendidikan perempuan saat ini, walaupun telah melalui beberapa
masa; ia dapat dikatakan merupakan bingkai pendidikan wanita di
Sumatera Barat. Begitu juga pendidikan yang didirikan oleh
organisasi-organisasi pada masa itu sangat memperhatikan masalah
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
203
pendidikan untuk memajukan masyarakat baik laki-laki maupun
wanita.
C. Wanita dan Pendidikan
Walaupun perjuangan pendidikan wanita tidak pernah berhenti,
namun kenyataannya wanita masih saja mengalami banyak
permasalahan dalam daerah yang mempunyai falsafah “Adat Basandi
Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah”, di dalam Negara yang
mendambakan manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
xii
.
Sejak akhir abad 19 hingga awal abad 20, wanita dengan jelas
sangat tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan. Kini seabad sudah
perjalanan perjuangan wanita, namun masih dirasakan perbedaan
tersebut yang walau secara berangsur-angsur telah mengalami
kemajuan, terutama dalam bidang pendidikan.
Kultur masyarakat merupakan diantara kendala dalam
peningkatan pendidikan kaum wanita, masyarakat lebih
mengutamakan pendidikan anak laki-laki dibandingkan anak wanita.
Oleh karena itu, kesempatan yang lebih optimal bagi kaum wanita
dalam bidang pendidikan perlu ditingkatkan, agar ia dapat sejajar
dengan kaum laki-laki dalam berbagai peran.
Wanita Indonesia tidak tinggal diam melihat keadaan-keadaan
yang menyedihkan di lingkungannya. Bahkan menjadi motivasi
timbulnya usaha-usaha untuk mengubah kedudukan wanita Indonesia.
Nasib wanita Indonesia mulai diperjuangkan, agar mendapat perbaikan
sepenuhnya. Berbagai jalan ditempuhnya dan salah satu jalan yang
tepat ialah melalui pendidikan wanita. Pendidikan ini dipandang
sebagai suatu jalan yang besar artinya, yang dapat menjunjung kaum
wanita dari kesengsaraan dan penghinaan.
xiii
terutama jika diajarkan
kepadanya kepandaian khusus untuk mencari nafkah sendiri, seperti
dengan berbagai pekerjaan tangan, di samping ilmu pengetahuan
lainnya.
Dalam Islam, melaksanakan ketentuan wajib belajar tanpa
membedakan jenis kelamin, bahwa ”menuntut ilmu itu suatu
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
204
kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah” (hadits). Rasulullah
juga telah mencanangkan konsep belajar seumur hidup dengan
sabdanya: “tuntutlah ilmu itu dari buaian sampai ke liang lahat” Dan
”Allah akan mengangkat derjat orang yang beriman dan berilmu
pengetahuan” (QS. Al Mujadalah,11)
Ilmu pengetahuan adalah kunci kemajuan, kemajuan membawa
kemudahan dan kesenangan. Ilmu pengetahuan juga mampu
mengubah sikap menjadi lebih positif dan dinamis. Perbedaan tingkat
kemakmuran banyak terkait dengan penguasaan dan pendayagunaan
ilmu pengetahuan. Firman Allah menyatakan: “Tidak sama orang yang
tahu dengan orang yang tidak tahu” (QS, 39:9). Kalau ingin
membangun, termasuk membangun wanita, kunci yang paling ampuh
ialah pendidikan atau ilmu, sains dan teknologi. Nabi Muhammad
SAW, disuruh oleh Allah agar ia mendo’a: “Ya Tuhanku, tambahilah
ilmuku” (QS. 20: 114).
Memahami ayat dan hadits Rasul di atas diperlukan kesadaran
dari kaum wanita untuk menuntut ilmu pengatahuan di
sekolah/madrasah secara formal ataupun non formal sebagai
tambahan, baik ia sebagai pribadi dan sebagai ibu untuk memajukan
diri dan memajukan keluarganya, tanpa membedakan jenis kelamin.
Sehingga kelak wanita sebagai ibu, sebagai pendidik, sebagai warga
Negara akan dapat berperan dalam pembangunan secara luas.
Dalam Undang Undang yang berlaku di Negara Indonesia,
tidak ada diskriminasi atau perbedaan hak antara wanita dan pria
dalam bidang pendidikan. Meskipun demikian dalam praktek ada
perbedaan yang menyolok dalam angka pendidikan wanita dan pria
seperti: a. Dari penduduk yang berumur 10 tahun ke atas wanita yang
buta huruf berjumlah hampir dua kali pria buta huruf, b. pada
penduduk usia sekolah nonschooling gap (keterlantaran pendidikan )
pada wanita lebih besar dari pria (55,33% wanita dan 53,01 % pria), c.
pada penduduk usia sekolah menengah nonschooling gap pada wanita
lebih besar daripada pria (79.206% pada wanita dan 66.415%) pada
pria, d. pada usia perguruan tinggi lebih sedikit wanita bersekolah
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
205
daripada pria. Kesimpulannya,
xiv
pada semua golongan umur,
nonschooling gap lebih besar pada wanita daripada pria, makin tinggi
golongan umur, makin tinggi pula nonschooling gap. Oleh karena itu
pada tahun enampuluhan (1961) berikutnya pemerintah memprakarsai
hadirnya pendidikan Kesejahteraan Keluarga dan Pembinaan
Kesejahteraan Keluarga (PKK).
D. Pendidikan Wanita pada masa pemerintah Hindia Belanda
dan pergerakan Nasional
Pendidikan wanita di Sumatera Barat yang kental dengan
agamanya Islam tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang dilalui
oleh kaum laki-laki. Yang oleh Ibrahim Buchari Sidi
xv
dikenal dengan
pendidikan sistem lama (secara perorangan, rumah tangga dan secara
Surau atau mesjid), sistem peralihan, dan sistem baru. Dan telah
berhasil mempersiapkan para siswa atau alumninya menjadi ulama.
Pendidikan dengan sistem lama ini, di mana kaum ibu di
beberapa tempat mempunyai Surau
xvi
yang khusus untuk mereka. Di
samping pelajaran agama, dipelajari pula pengetahuan praktis seperti
belajar anyam-anyaman, jahit-menjahit, masak-masakan dan terutama
pengetahuan yang berhubungan dengan kaum wanita.
xvii
Pada saat ini
Surau khusus untuk kaum wanita itu mengalami perkembangan, tidak
hanya tempat mempelajari agama dan pengetahuan praktis, tetapi juga
tempat berkumpul menghimpun anggota dan organisasinya dalam
memperkuat persatuan dan kesatuan baik ke dalam maupun ke luar.
Dan ada juga khusus tempat menetapnya kaum ibu lanjut usia, yang
pekerjaannya semata-mata hanya beribadah kepada Allah.
Pada sisi lain pendidikan di Sumatera Barat dapat dilihat
melalui pendidikan dalam masa pemerintah Hindia Belanda dan
pendidikan pergerakan Nasional, yang terdapat diberbagai sekolah,
dan madrasah waktu itu. Pendidikan wanita dimaksud adalah dalam
bentuk pendidikan sekolah, pendidikan madrasah, baik khusus wanita
maupun campuran (laki-laki dan wanita) dan pendidikan non formal
melalui berbagai lembaga/organisasi kemasyarakatan.
Pendidikan pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, dapat
dilihat dari pendirian sekolah yang dilakukannya di Sumatera Barat,
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
206
seperti: -Sekolah Kelas Dua (Gouvernements Inlandsche School) di
Padang (1853), - Sekolah Raja (Kweekschool), di Bukittinggi (1856).
Sekolah Raja ini merupakan sekolah tertinggi sampai akhir tahun
1917. - Sekolah Kelas Satu (Gouvernements Inlandsche de Eerste
Klasse) (1910), -Sekolah Desa (Volk School) (1912), - Sekolah
Kelas II (Vervolg School), Sekolah Keutamaan Isteri di Padang
Panjang (1914) khusus bagi orang tuanya terbilang terkemuka. -Sekolah Guru perempuan (Maejes Normal School), di Padang Panjang
(1918) khusus untuk anak-anak gadis Sumatera, - Sekolah yang
memberikan pengajaran rendah bumi putra dan pengajaran rendah
Barat (Schakel School), di Padang Panjang
xviii
. Di samping itu,
terdapat pula Sekolah Kepandaian Putri (SKP), di berbagai daerah di
Sumatera Barat (Sumatera Tengah), serta Sekolah-Sekolah Modevak,
khusus tentang keputrian. Di dibeberapa tempat ada SKP-SKP
partikulir yang didirikan oleh organisasi-organisasi wanita, seperti
kepunyaan ‘Aisyiyah, kepunyaan Perti di Bengkawes, dan kepunyaan
Zuster (Khatolik). Sementara sekolah-sekolah modevak khusus
keputrian dimaksud, terdiri dari jahit-menjahit (costumiere) atau
masak-memasak. Tercatat di sini kepunyaan Zuster di Bukittinggi, dan
kepunyaan “Dharmaputri”
xix
.
Berdasarkan 50 jumlah lokasi sekolah
xx
, yang tersebar
diseluruh pelosok Sumatera Barat, jumlah murid pada sekolah Kelas
Dua dan Sekolah Kelas Satu dalam Keresidenan (tepatnya pada
tanggal 31 Desember 1913) di Sumatera Barat, sudah banyak terdapat
sekolah, namun belum mencerminkan kemajuan. Hal ini melihat
jumlah murid untuk Kelas Dua, laki-laki = 8144 orang dan wanita =
926 orang . Perbandingan tiap 100 laki-laki, 5 wanita (11:5). Sedang
untuk Sekolah Kelas Satu, laki = 657 orang, dan wanita = 89 orang.
Perbandingannya tiap 100 laki-laki, 14 orang wanita. Jumlah total =
9816 orang (laki-laki 8801 orang dan murid wanita 1015 orang) atau
(100:12). Sudah 60 tahun (sejak tahun 1853 – 1913) sekolah pertama
didirikan masih belum sampai setengah prosen (0,49%) penduduk
Sumatera Barat yang mendapatkan pendidikan rendah. Dengan
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
207
perbandingan laki-laki dan wanita di atas, tentu labih jauh lagi
perbedaannya kaum wanita yang belum mendapatkan pendidikan.
Yang jelas bahwa dari sekolah yang ada, kaum wanita ikut
mendapatkan pendidikan bersama kaum laki-laki, walau dalam
perbedaan yang masih jauh. Namun di antara sekolah-sekolah yang
didirikan tersebut, ada satu sekolah khusus wanita. Ini menunjukkan
bahwa walau jumlah wanita sedikit dapat mengikuti pendidikan,
disebabkan kondisi daerah dan adat tidak banyak memberi peluang
kepada kaum wanita untuk keluar rumah waktu itu, perhatian dan
perjuangan terhadap wanita masih tetap ada.
Pendidikan Pergerakan Nasional, lahir dari motivasi Nasional
dan motivasi keagamaan, sejak akhir abad 19 hingga awal abad 20
dengan membawa pembaharuan pada sistem pendidikan yang
kemudian melahirkan berbagai kelembagaan yang dipelopori oleh
ulama – ulama Islam Sumatera Barat.
Kelembagaan pendidikan Islam yang dipelopori oleh ulama
Islam dan lembaga pendidikan pergerakan Nasional yang bukan
bercorak Islam, dimaksud berdiri di Sumatera Barat
xxi
, seperti:
1. Sekolah Adabiyah, (1909) oleh Abd.Ahmad. Beliau juga
mendirikan Serikat Usaha (1914) yaitu badan usaha mencari dan
mengumpulkan dana untuk sekolah, di samping juga usaha
mengatur pelaksanaan pendidikan sekolah. Tahun 1915 Sekolah
Adabiyah dijadikan HIS dengan tetap memberikan pelajaran
agama. Kemudian tahun 1920 disepakati bersama berdirinya
PGAI
2. Madras School (1910), di Sungayang Batusangkar oleh M.Thaib
Umar. Tingkat pengajian tinggi, hanya satu kelas saja dengan
calon muridnya tamatan pendidikan Surau atau dari ulama yang
ingin memperdalam ilmunya dan telah berpengalaman dilapangan
(sebagai guru atau mubaligh)
3. Madrasah Diniyah, 1913, oleh Zainuddin Labai yang menerapkan
sisten koedukasi. Salah seorang muridnya adalah Rahmah El
Yunusiyah; adik kandung Zainuddin Labai sendiri. Sekolah ini
terdiri dua tingkat; Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Sekolah ini
berkembang dengan pesat ke seluruh Sumatera Barat.
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
208
4. Diniyah Putri, (1923) olah Rahmah El Yunusiyah, yang
termotivasi dari pengalamannya belajar di Madrasah Diniyah.
5. Arabiah School (1918) oleh Syekh Abbas Ladang Lawas.
6. Sekolah-Sekolah Thawalib, dengan Sumatera Thawalibnya.
(1918), sebagai lembaga pendidikan moderen Islam, yang
berawal dari Surau Jembatan Besi. Tahun 1928 jumlah
sekolahnya mencapai 39 buah, dengan murid 17.000 orang, 5
tahun kemudian menjadi 50 buah dengan murid 30.000 orang
(laki-laki perempuan)
7. Pendidikan Islam di luar sekolah, 1919 melalui majalah dan lain
sebagainya, seperti mendirikan majalah al Munir, Al Basyir, Al
Bayan, Al Itqan, Al Munir Al Manar, dan lain-lain. Pendidikan
Luar Sekolah disebut juga dengan pendidikan masyarakat, dengan
berbagai perkumpulan dan atau organisasi, seperti Taman Pustaka
Rakyat, kursus kursus, organisasi wanita dan lain sebagainya..
8. Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI), tahun 1919, oleh
Abd. Ahmad PGAI, juga mendirikan sekolah guru yang terkenal
dengan nama Nomal Islam (Kulliyatul-Mu’allimin Islamiyah),
Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Menengah. Kemudian dilanjutkan
dengan pendidikan tinggi seperti; Fakultas Tarbiyah, Syari’ah dan
Bahasa Arab.
9. Muhammadiyah (1925), Cabang I, oleh H. Rasul (HAKA).
Adapun Muhammadiyah dengan organisasi ‘Aisyiyahnya, juga
mendirikan sekolah mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak,
Sekolah Dasar, Tsanawiyah, kemudian mendirikan sekolah yang
dikenal dengan nama Sekolah Agama Islam, Sekolah Umum, dan
Sekolah Guru; seperti Sekolah Guru Muhammadiyah (SGM),
Kuliyatul Muballighin, Kweek School Isteri (KSI), Kulliyatul
Muballighat
xxii
10. Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), dengan mendirikan
Tsanawiyah di Payakumbuh dan Bukittinggi serta Islamic College
di Padang (1931), dan membina lebih dari 50 Thawalib yang
tersebar di seluruh Sumatera Barat. Kemudian juga menerbitkan
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
209
majalah dan surat kabar, seperti majalah: Medan Rakyat, Barisan
Kita, Kris, dan surat kabar; Medan Putri, semangat Muda, dan
Pahlawan Muda. Di sini tercatat nama Rasimah Ismael, Fatimah
HM, Ratna Sari Ali Nurdin Kamin dan lain-lain (aktif dalam
bidang politik). Dia pernah ditangkap dan dipenjarakan Belanda.
11. Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) 1928 M yang dibangun oleh
ulama-ulama seperti Syekh Sulaiman Arrasuli, Syekh Muhammad
Jamil Jaho dkk. Perti mempunyai banyak madrasah yang tersebar
diseluruh Sumatera Barat. Lembaga pendidikannya yang terkenal
adalah Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Candung, Tabek
Gadang, Jaho dan sebagainya.
12. INS Kayu Tanam (1926) oleh M. Syafe’i, mendirikan pendidikan
tingkat Sekolah Dasar dan tingkat lanjutan Pertama dan Atas,
melalui isi pelajarannya menggambar paling utama, kemudian
musik, pekerjaan tangan, dan budi pekerti. Tahun 1937 INS
mengalami kemajuan sehingga muridnya mencapai 600 orang
dengan fasilitas yang cukup lengkap. Tahun 1950, setelah
kedaulatan Indonesia kembali, muridnya berjumlah 30 orang laki-laki dan 16 orang wanita.
13. Pendidikan Kerajinan Amai Setia (1912) oleh Rohana Kudus,
yang telah dirintis sejak tahun1896.
14. Taman Siswa cabang Sumatera Barat (1932) dipelopori oleh Ki
Hajar Dewantara
15. Training College (1935) di Payakumbuh, adalah tingkat
pendidikan semi akademik
Dari 14 kelembagaan pendidikan Islam dan lembaga
pendidikan pergerakan nasional di atas, dua di antaranya dipelopori
oleh kaum wanita, yaitu Rahmah El Yunusiyah dan Rohana Kudus. Di
samping itu juga terdapat pendidikan khusus untuk wanita yaitu
Kweek School Isteri (KSI), Kulliyatul Muballighat, Diniyah Putri, dan
Pendidikan Kerajinan Amai Setia. Namun melalui kelembagaan dan
berbagai lembaga selain khusus wanita tersebut di atas, pada
umumnya pendidikan kaum wanita berlangsung bersama kaum laki-laki, baik secara formal maupun secara non formal, sekalipun jumlah
wanita sedikit dibanding laki laki.
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
210
Di samping sekolah, madrasah sebagai lembaga pendidikan
Islam, awal abad ke 20 merupakan cikal bakal berdirinya sekolah
sekolah secara formal dibidang agama. Madrasah hidup subur dan
berkembang sekalipun mendapat tekanan dari penjajah waktu itu.
Madrasah telah banyak berbuat untuk kemajuan kaum wanita, baik
khusus wanita maupun pendidikan koedukasi (laki-laki dan wanita),
yang dilakukan Zainuddin Labai di Diniyah School.
E. Pendidikan Kerajinan Amai Setia
Kerajinan Amai Setia didirikan pada tanggal 11 Pebruari 1911
di Kotogadang Bukittinggi oleh Rohana Kudus (1884-1972), dengan
dukungan 60 orang wanita, bertujuan untuk memberikan pendidikan
khusus buat wanita. Pada waktu itu kehidupan wanita Minangkabau
hanya di dapur dan jarang bekerja ke luar rumah, karena kurang baik
manurut pandangan adat Minangkabau. Kegiatannya yang pertama
ialah menyelenggarakan tulis baca (Latin dan Arab Melayu) kepada
anak-anak perempuan. Kegiatan selanjutnya diberikan pelajaran
kerajianan tangan, seperti menjahit, membuat kue, pelajaran agama
Islam. Pendidikan menurutnya adalah jalan terbaik untuk
melaksanakan emansipasi wanita, yang juga berhak mandapat
pendidikan yang layak seperti kaum laki-laki.
Kerajinan Amai Setia merupakan wadah untuk malakukan
emansipasi wanita tersebut. Sebenarnya pelajaran agama ini telah
dimulainya sejak tahun 1896, di waktu Rohana berumur 12 tahun, di
mana ia telah mengajar teman-temannya menulis dan membaca dalam
bahasa dan huruf Arab dan Laten. Pada umur 21 tahun ia telah
mendirikan Sekolah Gadis di Koto Gadang, Bukittinggi dengan
pelajaran utama Kerajinan Wanita. Enam tahun kemudian
didirikannya Kerajinan Amai Setia, yang pada mulanya hanya bersifat
kursus saja, akhirnya dapat dijadikan sebuah sekolah khusus buat
wanita dengan nama Sekolah Amai Setia (SAS)
xxiii
Kerajinan Amai Setia (KSA), dalam kegiatannya telah berhasil
dalam: a. Memperbaharui seni menenun, terutama dalam barang-
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
211
barang kebutuhan sehari-hari seperti menenun alas meja, kain
dinding, danlain-lain, b. Memperkenalkan renda bangku Belgia. Ini
sempat tumbuh sebagai seni kerajinan khusus dasar dan sekarang
dikenal sebagai Renda Bangku Kotogadang, c. Melahirkan hasil, baik
dalam seni sulam-menyulam, yang sekarang dikenal sebagai sulaman
terawang, suji cair (satin stitch), kepala peniti (French knots), filet,
kelengkang, dan lain-lain.
Tujuan utama Kerajinan Amai Setia (KSA) ini adalah
meningkatkan derajat wanita Kotogadang khususnya dan wanita
Minangkabau umumnya, dengan jalan memberi pelajaran menulis,
membaca, berhitung, urusan rumah tangga, etiket, kerajianan tangan
dam hasil kerajinan tangan itu. Sekarang KSA telah memperkuat
keberadaannya dengan mendirikan yayasan KSA. Sehingga KSA saat
ini mempunyai kerajianan perak, kerajinan sulaman, dan renda bangku
Kotogadang.
xxiv
Di samping itu, Rohana Kudus beserta rekannya Zoebaidah
Ratna Djoewita mendirikan sebuah surat kabar perempuan di Koto
Gadang, tahun 1912 bernama Soenting Melayu, yang bertujuan untuk
meningkatkan harkat dan kemajuan perempuan, khususnya perempuan
Minang. Melalui harian ini Rohana Kudus mengemukakan
pandangannya tentang wanita, bagaimana sebaiknya wanita Indonesia
bertindak dalam masyarakat yang pada waktu itu dikuasai oleh kaum
laki-laki.
xxv
Pendidikan bagi perempuan menurut Rohana Kudus, bukan
hanya dilakukan lewat lembaga pendidikan saja, tetapi juga lewat
media massa. Pada tahun 1930-an dan masa pendudukan Jepang,
Rohana Kudus lebih memusatkan perhatiannya pada bidang
pendidikan. Hal ini berkaitan erat dengan kebijakan politik
pemerintah Belanda yang menindas aspirasi politik bangsa Indonesia,
serta relatif memberi ksempatan berkembangnya pendidikan.
xxvi
Apa yang disuarakan oleh Rohana Kudus saat itu, secara
berangsur-angsur cita-cita itu terjawab melalui perjalanan panjang
kaum wanita dari masa ke masa selanjutnya. Akhirnya pada masa
Orde Baru terwujudlah emansipasi wanita penuh melalui dukungan
pemerintah. Sampai saat ini masih tetap disuarakan melalui program
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
212
pemerintah; yaitu Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan
Pemberdayaan Perempuan.
xxvii
Program ini bertujuan untuk
mewujudkan keserasian berbagai kebijakan pemberdayaan perempuan
di berbagai bidang pembangunan. Sasaran kenerja program ini
meliputi:
1. Terumuskannya dan terlaksananya kebijakan pembangunan yang
responsif gender yang ditujukan bagi peningkatan kedudukandan
peranan perempuan di segala bidang kehidupan dan pembangunan;
2. Terumuskannya dan terlaksananya kebijakan pembangunan
pemberdayaan perempuan yang serasi antara kebijakan
pemberdayaan perempuan di tingkat nasional dan kebijakan
pemberdayaan perempuan di tingkat daerah.
Kegiatan pokok yang akan dilakukan antara lain adalah:
melakukan pengkajian dan penyempurnaan hukum dan peraturan
perundang-undangan yang masih diskriminatif terhadap perempuan
dan tidak berkeadilan gender.
F. Pendidikan Diniyah Putri
Pendidikan Diniyah Putri adalah pendidikan yang didirikan
khusus untuk anak-anak perempuan yang dilatarbelakangi oleh
keterbatasan gerak dan kesempatan bagi wanita untuk menuntut ilmu,
serta oleh keitidakpuasan Rahmah El Yunusiyah mengikuti pendidikan
agama saat belajar bersama-sama dengan anak laki-laki di Diniyah
School.
Walau masyarakat di daerah ini merupakan masyarakat yang
taat beragama, namun pemahaman mereka terhadap ajaran agamanya
dapat dikatakan memadai dan masih sempit. Akibatnya, anak
wanitanya kurang mendapat kelonggaran untuk menuntut ilmu, hampir
merata pada masyarakat. Keadaan yang demikian, membuat Rahmah
mencoba menunjukkan kepada masyarakat, bahwa kaum wanita juga
dapat berbuat sebagaimana kaum laki-laki berbuat dalam hal-hal
agama, juga mendapat kesempatan sebagaimana kaum laki-laki
mendapat kesempatan. Untuk sampai kepada hal itu, maka kaum
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
213
wanita perlu dididik dan ditempa dalam perguruan agama yang khusus
di dirikan untuk mendidik mereka. Hal itu harus dilakukan oleh kaum
wanita sendiri,bukan oleh orang lain.
xxviii
Diniyah Putri lembaga pendidikan khusus untuk perempuan,
mempunyai tujuan “ membentuk putri yang berjiwa Islam, menjadi ibu
pendidik yang cakap dan arif serta bertanggung jawab kepada
kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada
Allah SWT”.
Lembaga pendidikan ini didirikan pada tanggal 1 November
1923 oleh Rahmah El-Yunusiyah di Padang Panjang.yang pada
mulanya kegiatan belajar diselenggarakan di serambi Mesjid Pasar
Usang Padang Panjang, namun karena jumlah murid makin bertambah
banyak maka akhirnya dipindahkan ke rumah Rahmah. Kepindahan
itu juga menandai mulainya sistem pengajaran baru yang klasikal dan
murid-murid di asramakan seta mendapat pengawasan lagsung dari
Rahmah. Untuk membiayai kegiatan belajar-mengajar Rahmah pernah
melakukan perjalanan keliling ke Sumatera Timur, Aceh dan Tanah
Semenanjung Malaysia pada tahun 1927,1933 dan 1935. Perjalanan
yang pertama berkaitan erat dengan rusaknya (runtuhnya) bangunan
sekolah akibat gempa yang mengguncang Padang Panjang pada tahun
1926.
Pada zaman penjajahan Rahmah menganut politik non-kooperatif. Beliau menolak bujukan pemerintah yang akan
memberikan subsidi kepada sekolahnya. Disamping itu, Rahmah juga
tidak membiarkan sekolahnya dipengaruhi oleh partai politik tertentu.
Rahmah pernah menentang keinginan Rasuna Said untuk mengajarkan
politik praktis di sekolahnya. Penentangan ini membuat Rasuna Said
keluar dari Diniyah Putri.
Dalam sejarahnya, Perguruan Diniyah Putri pernah mempunyai
beberapa lembaga pendidikan, seperti sekolah menyesal, Sekolah
taman Kanak-kanak Islam, Sekolah Diniyah Putri Rendah, (7 tahun)
atau Al-madrasatul-Diniyah (setingkat Sekolah Dasar), Sekolah
Diniyah Putri bagian B dengan lama belajar selama empat tahun
(setingkat SMP), Sekolah Diniyah bagian C (setingkat SLTA),
Sekolah Kulliyatul Mu’allimat El- Islamiayah (Sekolah Guru Putri
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
214
Islam), lama belajar tiga tahun dan terakhir Perguruan Tinggi Diniyah
Putri.
Perguruan Diniyah Putri mendapat perhatian dari berbagai
kalangan, tidak hanya dalam negeri tapi juga di luar negeri. Hal ini
terbukti dari beragamnya daerah asal murid yang belajar disana serta
kunjungan tamu-tamu penting dari berbagai bangsa. Salah seorang
tamu penting dan yang mempunyai pengaruh dalam dunia pendidikan
yang pernah berkunjung ke Perguruan Tinggi ini adalah Rektor
Universitas Al-Azhar yang berkunjung ke Diniyah pada tahun
1955
xxix
.
Pendidikan wanita melalui perguruan Diniyah Putri Padang
Panjang ini telah berlangsung dengan baik, sehinga dapat membawa
kaum wanita ketingkat yang labih baik dan maju. Mereka berhasil
dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan, dan mampu menanamkan
nilai-nilai keislaman yang bercirikan kediniyahannya. Hal ini dapat
dilihat di mana mereka berada dan mengabdi.
Tanpa melihat perbandingan waktu itu, pendidikan wanita
Diniyah Putri telah mampu membawa kaumnya ke arah lebih maju
mencapai tujuannya. Hal ini terlihat pada alumninya, yang tersebar
diberbagai daerah di Indonesia bahkan juga di Negara tetangga;
berkiprah dalam berbagai profesi; yang pada umumnya sebagai guru
dan dosen, di samping sebagai pimpinan sekolah yang didirikannya
sendiri, juga bergerak di bidang politik dan sosial
xxx.
Kenyataan ini
senada dengan ungkapan Nani Soewondo
xxxi
, bahwa di zaman Kartini;
gadis yang belajar di sekolah rendah-pun masih sangat sedikit, tetapi
jumlah mereka bertambah dengan cepat. Mula-mula wanita
menjalankan pekerjaan sebagai guru, bidan, perawat, pegawai rendah
di kantor dan sebagainya. Akan tetapi makin tinggi dan berjenis
pendidikan bagi gadis-gadis, makin luaslah lapangan bekerja yang
terbuka bagi mereka. Pada umumnya wanita-wanita terpelajar mencari
bidang yang lebih luas, meskipun tidak sebagai pegawai negeri,
misalnya memberi pengajaran di sekolah/madrasah, atau di tempat
kursus, dan banyak juga yang menyumbangkan tenaganya untuk
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
215
kepentingan perkumpulan sebagai pengurus. Oleh karena itu
pendidikan wanita di Perguruan Diniyah Padang Panjang, memberikan
gambaran pentingnya pendidikan wanita di Sumatera Barat.
Dalam memahami perjalanan Diniyah Putri ini, Rahmah El
Yunusiyah sebagai pendiri, pencetus Ide dan pelaksana berbagai
program yang dirancangnya, berawal dan bertitik tolak dari tujuan
perguruan tersebut. Tujuan adalah merupakan masalah sentral dalam
pendidikan, sebab tanpa perumusan tujuan yang jelas, perbuatan
pendidikan menjadi tanpa arah bahkan bisa sesat atau salah langkah.
Oleh karena itu perumusan tujuan dengan tegas dan jelas, menjadi inti
dari seluruh pemikiran pedagogis dan perenungan filosofi
xxxii.
Sementara menurut As Syaibany
xxxiii
, tujuan pendidikan adalah
perubahan yang diingini oleh proses pendidikan/usaha pendidikan
untuk mencapainya, baik tingkah laku individu, atau pada kehidupan
masyarakat. Tujuan Perguruan Pendidikan Diniyah Putri dimaksud
adalah: ”melaksanakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan ajaran
Islam, dengan tujuan membentuk puteri yang berjiwa Islam dan ibu
pendidik yang cakap dan aktif serta bertanggung jawab tentang
kesejahteraan masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada
Allah swt”
xxxiv
Dalam Adat Minangkabau, garis keturunan dari ibu, sedang
menurut Islam dari bapak. Secara prinsip adat Minangkabau dengan
Islam tidak bertentangan. Dalam adat Minangkabau ibu pemegang
segala kunci rahasia rumah tangga dan memiliki harkat dan martabat
yang tinggi. Islam banyak mengemukakan tentang keutamaan ibu.
Begitu juga dalam adat Minangkabau, secara psikologis dan
sosiologis, anak-anak lebih dekat kepada ibu dan kerabatnya.
xxxv
Untuk mencapai tujuan pendidikan dimaksud, Rahmah telah
menuangkannya dalam empat program unggulan pendidikannya
sebagai berkut; (a) Program pendidikan Umum, terdiri dari kelompok
pengetahuan umum, bahasa, keterampilan dan sebagainya. (b)
Program pendidikan keahlian di bidang agama dan pengetahuan
agama, (c) Program pendidikan khusus, (d) Program pendidikan di
asrama
xxxvi
Keempat program ini satu sama lain tidak dapat
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
216
dipisahkan, oleh karena itu Rahmah menerapkan sistem tri-tunggal;
yaitu, sekolah, asrama, keluar dan masyarakat.
Pendidikan khusus yang diberikan di perguruan ini antara lain:
(a) Pendidikan bercocok tanam, secara sistematis, (b) Pendidikan jahit
menjahit, dan sebelumnya, (c) Pendidikan masak memasak, (d)
Pendidikan berdakwah, (e) Pendidikan anyam menganyam, (f)
Pendidikan berbudi halus, (g) Pendidikan sosial, (h) Pendidikan sikap
hidup sederhana; dalam segala hal, (i) Pendidikan sosial melalui
kebiasaan pengasuhnya, khususnya Rahmah, dan (j) Pendidikan
disiplin
xxxvii
.
G. Penutup
Pendidikan wanita dalam perjuangannya senantiasa mengalami
kendala saat itu, namun berkat kegigihannya, di antara mereka dapat
menembus cita-citanya ingin mendapatkan sesuatu dan berbuat
sesuatu pula untuk orang lain terutama keluarga, dan kaumnya (yang
hidup jauh tertinggal dibanding kaum laki-laki) serta bangsanya.
Pendidikan wanita antara tahun 1890 hingga tahun 1945 atau
kemerdekaan, dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda, dan
melalui pergerakan Nasional, dengan melahirkan berbagai organisasi,
terwujud dalam bentuk sekolah, madrasah serta perkumpulan-perkumpulan, baik pendidikan wanita secara bersama kaum laki-laki,
maupun secara khusus (wanita). Akhirnya pendidikan wanita
berlangsung dan berangsur-angsur sejalan dengan pendidikan kaum
laki-laki, dan ada yang secara khusus seperti yang dirintis dan
dilakukan oleh Rohana Kudus dan Rahmah El Yunusiyah.
Inisiatif Rohana Kudus dan Rahmah El Yunusiyah, telah
memberikan konstribusi yang sangat signifikan terhadap tumbuhnya
kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi wanita pada masanya dan
masa-masa berikutnya. Pendidikan wanita yang dirintis dan didirikan
oleh Rohana Kudus dan Rahmah El Yunusiyyah, sampai saat ini
sangat relevan dan dibutuhkan oleh kaum wanita.
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
217
Pada saat ini, beberapa dekade setelah terbukanya kesempatan
secara luas bagi wanita atau perempuan untuk memasuki sekolah-sekolah yang dikehendaki, keadaan masih menunjukkan kecendrungan
umum, yakni semakin tinggi jenjang sekolah, semakin sedikit jumlah
wanita dibanding laki-laki. Jumlah yang sama juga ditemukan dalam
kepangkatan, maupun posisi di birokrasi pemerintahan. Untuk
mengatasi kesenjangan tersebut pemerintah bersama LSM
memberikan perhatian khusus terhadap pemberdayaan perempuan di
bidang: perbaikan kualitas hidup perempuan, perbaikan perlindungan
hukum terhadap buruh wanita, peningkatan peran di masyarakat dan
penciptaan serta pengkondisian iklim sosial pengembangan jati diri
perempuan.
H. Referensi
Alirman Hamzah. 2000. Perkembangan Madrasah dan Pondok
Pesantren di Sumatera Barat (Studi Sejarah Pemikiran dalam
Pendidikan Islam 1907-1999), Laporan Penelitian, Padang:
Pusat Penelitian IAIN I. Bonjol Padang.
Al Syaibany. 1979. Falsafah Pendidikan Islam, terjemahan Hasan
Langgulung, Falsafah al Tarbiyah al Islamiyah, Bulan Bintang,
Jakarta.
Aminuddin Rsyad. 1982. PerguruanDiniyah Putri Padang Panjang
1923-1978, Suatu Studi Mengenai Perkembangan Sistem
Pendidikan Agama, Disertasi Doktor, F.Tarbiyah IAIN Syahid
Jakarta.
Aminuddin Rasyad, dkk. 1991. Rahmah El Yunusiyah, Zainuddin
Labai El Yunusy, Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu
Pendidikan di Indonesia, Jakarta: Pengurus Diniyah Putri
Perwakilan Jakarta.
Arifin.1995. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum). Bumi
Aksara, Jakarta, 1995
Atho’ Mudzhar, dkk. (editor). 2001. Wanita Dalam Masyaraka
Indonesia, Akses, Pemberdayaan, dan Kesempatan,
Yogyakarta, Sunan Kalijaga Press.
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
218
Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Sumatera Barat Kerjasama
Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Propinsi
Sumatera Barat. 2003. Sumatera Barat Dalam Angka.
Bahan Pembelajaran Pengarusutamaan Gender. 2005. Kementrian
Negara Pemberdayaan Perempuan dan Badan Koordinasi KB
Nasional dan UNFPA.
Buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padang Panjang. 1978.
Ghallia Indonesia. Jakarta.
Djumhur dan Danasuparta. 1976. Sejarah Pendidikan. Bandung: CV
Ilmu.
Edwar (ed.). 1981. Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama
Sumatera Barat. Padang: Islamic Centre Sumatera Barat.
Gusti Asnan. 2003. Kamus Sejarah Minangkabau, Padang: Pusat
Pengkajian Islam dan Minangkabau (PPIM), Percetakan
Gunatama.
Hasan Langgulung. 1987. Asas-Asas Pendidikan Islam, Pustaka Al
Husna, Jakarta.
Ibrahim Buchari, Sidi. 1981. Pengaruh Timbal Balik Antara
Pendidikan Islam dan Pergerakan Nasional di Minangkabau,
Jakarta: Gunung Tiga.
Jacqueline Chabaud. 1984. Mendidik dan Memajukan Wanita, terj.
Koesalah Soebagio, judul asli: The Educational and
Advancement of Women, Jakarta, Gunung Agung.
Jamaris Jamna. 2004. Pendidikan Matrilinial, Pusat Pengkajian Islam
Dan Minangkabau (PPIM), Padang.
Kartono Kartini, Pengantar Ilmu Pendidikan Teoritis, Pustaka Al
Husna, Jakarta
Jurnal Harkat Media Komunikasi Gender, Jakarta: Pusat Studi Wanita
(PSW), vol. 4 No. 1 Oktober 2003
Laporan Tahunan 1954 Penerangan Di bawah Satu Bendera
Sumatera Tengah Jawatan Penerangan Prop.Sumatera
Tengah. h, t.t
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
219
Mardanas Safwan, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat, Dep.
P dan K, Proyek Inventaris dan Dokumentasi Kebudayaan
Daerah, 1980/1981
Nani Soewondo.1984. Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum
dan Masyarakat, Jakarta, Ghalia Indonesia.
Nila Kusuma S. 1955. Wanita di dalam dan di luar Rumah Tangga,
Jakarta-Bukittinggi, n.v. Nusantara.
Nizar Hayati. 2004. Bundo Kandung Dalam Kajian Islam dan Budaya,
Pusat Pengkajian Islam Dan Minangkabau (PPIM), Padang.
………….., The Role of Women Leaders and Women Organizations in
Struggle for Independence (Btween 1890-1945), dalam Jurnal
Penelitian dan Kemasyarakatan Imam Bonjol , Volume IV No.
4 Maret 1998
Nurlela. 1993. Muslim Women in Indonesia’s Politics: An Historical
Examination of the Political Career of Aisyah Aminy, Thesis,
Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, July
1993
Samsul Nizar. 2005. Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan
Islam Potret Timur Tengah Era Awal dan Indonesia, Ciputat,
Quantum Teaching.
Sanusi Uwes 2003. Visi dan Pondasi Pendidikan (Dalam Perspektif
Islam), Logos, Wacana Ilmu, Jakarta.
Satuan Tugas Penyusunan Naskah, Motivasi Peningkatan Peranan
Wanita Menurut Islam, Proyek Peningkatan Peranan Wanita
Bagi Umat Beragama, Jakarta : 1984/1985
Shaeful Yazan. 1998. Wanita dalam Pers Sumatera Barat, Periode
Sunting Melayu sampai Kemerdekaan RI (1912-1945),
Laporan Penelitian, Program Pelatihan Penelitian Tenaga
Edukatif, Pusat Penelitian IAIN Imam Bonjol Padang.
Soegarda Poerwakawatja R., Harahap H.A.H. 1982. Ensiklopedi
Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung.
Undang Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional 2003, Cemerlang, Jakarta.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2000 Tentang Program Pembangunan
Nasional Tahun 2000-2004, Jakarta, Sinar Grafika, 2001
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
220
i
Atho Mudzhar, dkk. (editor), Wanita Dalam Masyaraka Indonesia, Akses,
Pemberdayaan, dan Kesempatan, Yogyakarta, Sunan Kalijaga Press, 2001, h.326.
dan lihat Nani Soewondo, KedudukanWanita Indonesia dalam Hukum dan
Masyarakat, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984, 242. Persamaan hak bagi para gadis
dan wanita dalam memperoleh pendidikan merupakan persoalan prioritas yang
menjadi pemikiran Unisco di bidang pendidikan. Itulah sumbangan badan ini kepada
usaha-usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam memajukan para wanita dan
membatasi segala bentuk diskriminasi terhadap mereka, lihat: Jacqueline Chabaud,
The Education and Advancement of Women, Paris: Unisco, 1970, terjemahan
Koesasih, Mendidik dan Memajukan Wanita, Jakarta: Gunung Agung, 1984, h. v
ii
Satuan Tugas Penyusunan Naskah, Motivasi Peningkatan Peranan Wanita
Menurut Islam, Proyek Peningkatan Peranan Wanita Bagi Umat Beragama, Jakarta
: 1984/1985, h. 2
iii
Lihat: Nani Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia dalam hukum dan
Masyarakat, Jakrta: Ghalia Indonesia, 1984, h. 273. BOMIWI, sebuah organisasi
payung bagi organisasi perempuan Islam tingkat Nasional yang berdiri pada 2 Juli
1967, yang pada tahun 2002 tercatat sebanyak 26 organisasi. Lihat: Siti Musdah
Mulia, dalam Jurnal Harkat Media Komunikasi Gender, Jakarta: Pusat Studi Wanita
(PSW), vol. 4 No. 1 Oktober 2003, h.29. Lihat Taufik Abdullah, Kilasan Sejarah
Pergerakan Wanita Islam di Indonesia, dalam Marcoes Natsir dan Johan Hendrik
Meuleman, Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual,
Kumpulan Makalah Seminar Seri INIS XVIII, Jakarta: INIS, 1993, h.76 (Organisasi
wanita seperti: Wanita Islam, Muslimat NU, Wanita Syarikat Islam, ’Aisyiyah,
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
221
Wanita Perti, Widhatul Muslimat, Gosbindo Putri, Korps PII Wati, Persistri,
Kohati, Wanita KBIM, Poswa, Wanita Al Irsyad, Fatayat NU, Wanita Al Wash
liyah, Putri Al Irsyad, Nasyiatul-’Aisyiyah (NA), Pelajar Putri al Irsyad dan lain-lain. Kalau dari berbagai organisasi wanita di Indonesia, melahirkan KOWANI, yang
tergabung dalam 30 perkumpulan.)
iv
Soegarda Poerwakawatja R., Harahap H.A.H., Ensiklopedi Pendidikan,
Jakarta: Gunung Agung, 1982, h.270-271. Lihat : Jawatan Penerangan Prop.
Sumatera Tengah. Laporan Tahunan 1954 Peneranga Di bawah Satu Bendera
Sumatera Tengah, t.t., h. 174.
v
Aminuddin Rsyad, Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang 1923-1978,
Suatu Studi Mengenai perkembangan Sistem Pendidikan Agama, Disertasi Doktor,
F.Tarbiyah IAIN Syahid Jakarta, 1982, h. 98
vi
Lihat Nizar Hayati, Bundo Kandung Dalam Kajian Islam dan Budaya,
Pusat Pengkajian Islam Dan Minangkabau (PPIM), Padang, 2004, h.13-14. dan lihat:
Hayati Nizar, The Role of Women Leaders and Women Organizations in Struggle for
Independence (Btween 1890-1945), dalam Jurnal Penelitian dan Kemasyarakatan
Imam Bonjol , Volume IV No. 4 Maret 1998, h. 35
vii
Lihat Aminuddin Rasyad, dkk., Rahmah El Yunusiyah, Zainuddin Labai El
Yunusy, Dua Bersaudara Tokoh Pembaharu Pendidikan di Indonesia, Jakarta:
Pengurus Diniyah Putri Perwakilan Jakarta, 1991, h. 102
viii
Nani Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia dalam Hukum dan
Masyarakat, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1984, h.196
ix
Jacqueline Chabaud, The Educational and Advancement of Women,
(Mendidik dan Memajukan Wanita), terj. Koesalah Soebagio, Jakarta, Gunung
Agung, 1984, h. 4
x
Nani Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia dalam …, h. 272-273
xi
Undang Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2003, , Jakarta: Cemerlang, 2003, h. 7
xii
Undang-Undang No. 20 Tahun 2000 Tentang Program Pembangunan
Nasional (PROPENAS), Tahun 2000-2004, Jakarta, Sinar Grafika, 2001, h. 200
xiii
Djumhur, I, Dana Suparta, Sejarah Pendidikan, Bandung: CV Ilmu, 1976, h.
150-151
xiv
Laporan Tyanas Twani 1975 dalam Nani Soewondo, Kedudukan Wanita
Indonesia dalam…, 1984, h. 290
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
222
xv
Lihat: Ibrahim Buchari, Sidi, Pengaruh Timbal Balik Antara Pendidikan
Islam dan Pergerakan Nasional di Minangkabau, Jakarta: Gunung Tiga, 1981, h. 69-81
xvi
Surau adalah salah satu lembaga penting dalam kehidupan nagari (kampung).
Surau merupakan sebuah rumah atau bangunan yang dijadikan sebagai tempat
ibadah namun hingga tahun 1960-an sekaligus menjadi tempat tinggal para pemuda
yang telah akil baligh (juga pada duda).Umumnya Surau mempunyai arsitektur atap
tumpang dan lantai persegi empat. Cikal bakal Surau ini bisa dihubungkan dengan
pendirian biara Budha oleh Aditiawarman di Bukit Gombak.Biara juga merupakan
tempat berkumpul para pemuda guna mempelajari pengetahuan keagamaan serta
soal-soal kemasyarakatan lainnya. Ketika Islam masuk, sistem biara ini diadopsi
sedemikian rupa menjadi sistem surau, hingga ulama penyebar Islam, pusat-pusat
penyebaran Islam,dan jaringan tarekat yang berkembang di Minangkabau selalu
diidentikkan dengan surau. Disamping tempat tinggal dan mendalami agama, di
surau juga dipelajari ilmu bela diri, dan lain-lain. Lihat Gusti Asnan, Kamus Sejarah
Munangkabau,.....2003, h. 313
xvii
Ibrahim Buchari, Sidi, Pengaruh………, 1981, h. 72
xviii
Lihat: Djumhur dan Danasuparta, Sejarah Pendidikan, Bandung CV. Ilmu,
1976, h. 139-146. Lihat: Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah Pendidikan
Sumatera Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Daerah, 1980/1981, h.
76-77
xix
Lihat : Jawatan Penerangan Prop. Sumatera Tengah. Laporan Tahunan 1954
Peneranga Di bawah Satu Bendera Sumatera Tengah, t.t., h. 174. Sekolah-sekolah
tersebut kemudian, setelah kemerdekaan mengalami perkembangan dengan berbagai
jurusan.
xx
Lihat Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah…, 1980/1981, h. 77-79
xxi
Lihat Mardanas Safwan dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah...... ,
1980/1981,75-85, 108-116. Lihat juga: Djumhur dan Danasuparta, Sejarah
Pendidikan, Bandung: CV. Ilmu, 1976, h. 158-162. Lihat Gusti asnan, Kamus
Sejarah Minangkabau, .......h. 66-67, 267-269, 308-309. Lihat Edwar (ed.), Riwayat
Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat, Islamic Centre Sumatera
Jurnal Ilmiah Kajian Gender
223
Barat, 1981, h.66, 106-119, 166-175, 186-195, 206-208. Lihat: Alirman Hamzah,
Perkembangan Madrasah dan Pondok Pesantren di Sumatera Barat (Studi Sejarah
Pemikiran dalam Pendidikan Islam 1907-1999), Laporan Penelitian, Padang: Pusat
Penelitian IAIN I. Bonjol Padang , 2000, h. 11-51.
xxii
Lihat Mardanas Safwan, Sejarah Pendidikan Daerah Sumatera Barat,...,
1980/1981, h. 116
xxiii
Lihat: Djumhur dan Danasuparta, Sejarah Pendidikan, Bandung: CV, Ilmu
1976, h. 128. dan lihat Samsul Nizar, Sejarah dan Pergolakan Pemikiran Pendidikan
Islam Potret Timur Tengah Era Awal dan Indonesia, Ciputat: Quantum Teaching,
2005, h.48, dan lihat Mardanas Safwan, Sejarah Pendidikan Daerah ..., h. 155. Lihat
juga: Gusti Asnan, Kamus Sejarah Minangkabau, Pusat Pengkajian Islam dan
Minangkabau (PPIM), 2003, h. 138
xxiv
Kotogadang Nagari Pusako: Kerajinan Amai Setia Kotogadang,
@iN2/mom%20Nagari%20Pus...1/2/2003, page 1-3
xxv
Lihat Mardanas Safwan, Sejarah Pendidikan Daerah …, h. 144-145.
Sunting Melayu sebagai pers wanita, tidak terlepas dari sumbangan terbesar tokoh;
Datoe’ Soetan Maharadja dan Parada Harahap (perintis Pers di Minangkabau). Dua
orang inilah yang mempunyai perhatian dan dukungan signifikan terhadap
pertumbuhan dan keberadaan pers wanita, di samping pers wanita lainnya di
Minangkabau. Lihat Shaeful Yazan, Wanita dalam Pers Sumatera Periode Soenting
Melajoe Sampai Kemerdekaan RI (1912-1945), Pusat Penelitian IAIN Imam Bonjol
Padang, 1998, h. 20-21
xxvi
Gusti Asnan, Kamus Sejarah Minangkabau, Padang: Pusat Pengkajian
Islam dan Minangkabau (PPIM), Percetakan Gunatama, 2003, h. 288-289
xxvii
Lihat Undang-Undang No. 25, tahun 2000, tentang Program
Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004, Jakarta: Sinar Grafika, 2000, h. 200
xxviii
Leon Salim, Gerakan Pemuda Kepanduan Sekitar Diniyah School, dalam
Buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padang Panjang, Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1978, h.121-125
xxix
Gusti Asnan, Kamus Sejarah Minangkabau, Padang: Pusat Pengkajian Islam
dan Minangkabau (PPIM), Percetakan Gunatama, 2003, h. 66-67 Lihat: Edwar (ed.),
Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Sumatera Barat, Padang: Islamic Centre
Sumatera Barat, 1981, h. 207-208
Pendidikan Sumatera Barat Berwawasan Gender:
Lintas Sejarah Tahun 1890 – 1945
224
xxx
Lihat Buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padang Panjang, Jakarta:
Ghallia Indonesia, 1978, h.145-148 Lihat: Nurlela, Muslim Women in Indonesia’s
Politics: An Historical Examination of the Political Career of Aisyah Aminy, Thesis,
Institute of Islamic Studies, McGill University, Montreal, July 1993, h. 87
xxxi
Nani Soewondo, Kedudukan Wanita Indonesia dalam ..., 1984, h. 301.
xxxii
Kartono Kartini, Pengantar Ilmu Pendidikan Teoritis, Pustaka Al Husna,
Jakarta, h. 204
xxxiii
Al Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, terjemahan Hasan
Langgulung,
Falsafah al Tarbiyah al Islamiyah, Bulan Bintang, Jakarta, h. 399
xxxiv
Aminuddin Rasyad, dkk., Rahmah El Yunusiyah, Zainuddin Labai,
Dua..., 1991, h. 102-103
xxxv
Jamaris Jamna, Pendidikan Matrilinial, Pusat Pengkajian Islam Dan
Minangkabau (PPIM), Padang, 2004, h. 37
xxxvi
Buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padang Panjang, Jakarta:
Ghallia Indonesia 1978, h. 38
xxxvii
Aminuddin Rasyad, dkk., Rahmah El Yunusiyah, Zainuddin Labai,
Dua...,1991, h. 82-85
Tidak ada komentar:
Posting Komentar