Rabu, 03 Desember 2014

PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN BERBASIS ALQURAN

 Rosniati Hakim[1]
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang


Abstract
The formation of the human personality (character and moral building) which is balanced, healthy and strong, heavily influenced by religious education and internalization of religious values within the learners. The basics of religious education which has been placed the elderly, also the task of the teacher, society and Government through a variety of educational institutions. Paper discusses the importance of Alquran   education, education-based Alquran, character formation and learners through education. Education is a process that never fails a crucial character in the present and the future. Does a nation would emerge as the nation character good or bad, the nation character depends greatly on the quality of education that can form the character of the nation's children. The formation of character through education approach Alquran   besides being part of  the process of the formation of noble morals, is expected to be a major boost in Foundation degrees and the dignity of the nation's children as learners.

Key words: Characters, personalities, Alquran   Education, Morals, learners

Abstrak

Pembentukan kepribadian manusia (character and moral building) yang seimbang, sehat dan kuat, sangat dipengaruhi oleh pendidikan agama dan internalisasi nilai keagamaan dalam diri peserta didik. Dasar-dasar pendidikan agama yang telah diletakkan orang tua, juga menjadi tugas guru, masyarakat dan pemerintah melalui berbagai lembaga pendidikan. Tulisan membahas tentang pentingnya pendidikan Alquran, pendidikan berbasis Alquran, dan pembentukan karakter peserta didik melalui pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses yang tidak berkesudahan yang sangat menentukan karakter bangsa pada masa kini dan masa datang. Apakah suatu bangsa akan muncul sebagai bangsa berkarakter baik atau bangsa berkarakter buruk, sangat tergantung pada kualitas pendidikan yang dapat membentuk karakter anak bangsa tersebut. Pembentukan karakter melalui pendekatan pendidikan Alquran selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak mulia, diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam meningkatkan derajat dan martabat peserta didik sebagai anak bangsa.

Kata kunci: Karakter, Kepribadian, Pendidikan Alquran, Akhlak, Peserta didik.


A.  PENDAHULUAN
         Negara Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 3 UU tersebut menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
         Wacana tentang pendidikan karakter juga muncul dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanggapai maraknya korupsi beserta perilaku negatif lain, yang menunjukkan pelakunya tidak berkarakter baik. Karakter yang dibangun pada siswa tidak semata-mata tugas guru atau sekolah. Mengingat siswa beraktivitas tidak hanya di sekolah, namun siswa juga menghabiskan waktu di rumah dan sekaligus menjadi anggota masyarakat yang merupakan bagian dari warga negara Indonesia maupun warga dunia. Disatu sisi guru dituntut untuk mendidik siswa menjadi generasi muda yang berkarakter baik, namun disisi lain setiap hari siswa melihat contoh orang tua di rumah dan masyarakat yang mungkin sering tidak taat pada peraturan.
         Pendidikan karakter selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam meningkatkan derajat dan martabat bangsa Indonesia. Di lingkungan Kementerian Pendidikan nasional sendiri, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. Pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan Tuhan, yang kemudian membentuk jati diri dan perilaku. Dalam prosesnya sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku. Sekolah dan masyarakat sebagai bagian dari lingkungan memiliki peranan yang sangat penting, oleh karena itu setiap sekolah dan masyarakat harus memiliki pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Para pemimpin dan tokoh masyarakat juga harus mampu memberikan suri teladan mengenai karakter yang akan dibentuk tersebut.
Secara spesifik makalah ini akan menjabarkan tentang bagaimana proses pembentukan kepribadian peserta didik dalam lingkungan pendidikannya membawa peserta didiknya berkarakter islami. Pembahasan makalah ini adalah didukung oleh hasil penelitian dan kajian kepustakaan. Di awali dengan sebuah gagasan, kemudian memahami pentingya Pendidikan Alquran, pembentukan karakter melalui pendidikan berbasis Alquran.
B.  PEMBAHASAN
1.    Sebuah Gagasan
         Dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, sebgaimana tesebut di atas, menjadi perhatian sungguh-sungguh bagi pemerintah daerah di Indonesia. Di Sumatera Barat misalnya, diterbitkannya Peraturan Daerah Kota Padang No. 06 Th 2003 tentang kewajiban bagi peserta didik SD/MI pandai BTQ/A. Dan Peraturan Gubernur no.70 Tahun 2010 tentang Pendidikan Alquran. Ditegaskan bahwa pendidikan Alquran merupakan bagian dari struktur kurikulum pada semua jenjang pendidikan formal (pasal 6 ayat 1), penyelenggaraan pendidikan Alquran   merupakan bagian dari kurikulum nasional (pasal 5 ayat 3). Pendidikan Alquran    bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., cerdas, terampil, pandai baca tulis Alquran, berakhlak mulia, mengerti dan memahami serta mengamalkan kandungan Alquran”.
         Setidaknya ada empat aspek yang menjadi alasan untuk menerapkan gagasan ini. Pertama, aspek dogmatis. Secara dogmatis diyakini bahwa Alquran adalah pedoman hidup manusia. Alquran tidak hanya berbicara tentang kehidupan spiritual an sich, akan tetapi mengandung ajaran yang komprehensif, holistik dan universal. Bahkan Alquran juga mengandung isyarat-isyarat ilmiah yang tetap relevan sepanjang zaman sehingga tatanan kehidupan masyarakat memiliki peradaban yang tinggi. Hanya saja, perlu pengembangan metodologi dalam pemahaman Alquran sehingga ia lebih "membumi" dan mampu menjawab tantangan dan kebutuhan umat. Jadi, jika muncul anggapan dewasa ini umat Islam terbelakang bukan berarti Alquran yang bermasalah, akan tetapi manusia itu sendirilah yang tidak mampu memahami pesan-pesan Alquran   tersebut.
         Kedua, aspek sosio-kultural. Secara sosio-kultural, masyarakat Sumatera Barat  Minangkabau dan beragama Islam memiliki kultur yang menyatu dengan Alquran. Bahkan ketika orang berbicara tentang sosio-kultural Sumatera Barat, maka key word yang ada dalam persepsinya hanya ada dua kata: adat dan agama (Islam). Hal ini beralasan mengingat falsafah Adat Basandi Syarak; Syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK) begitu mengakar dalam budaya mereka. Untuk melestarikan dan mewujudkan falsafah yang selalu didengungkan ini dalam kehidupan nyata, perlu dilakukan upaya melalui proses pendidikan sehingga mampu menerapkan Kitabullah (Alquran) tersebut. Jika tidak, maka falsafah ABS-SBK hanya menjadi buah bibir semata.
Ketiga, aspek historis. Berbicara tentang sejarah pendidikan Minangkabau di Sumatera Barat tentu tidak terlepas dari pendidikan surau. Sistem pendidikan Surau masih tetap menarik untuk dikaji dan diteliti hingga saat ini. Sebab, pendidikan surau telah memberikan kontribusi yang amat besar terhadap pembangunan daerah Sumatera Barat, bahkan terhadap bangsa Indonesia secara nasional dengan tampilnya beberapa ulama dan cendikiawan terkemuka yang merupakan produk dari pendidikan surau tersebut. Dan perlu ditegaskan bahwa setiap surau yang berperan sebagai lembaga pendidikan pasti di dalamnya terdapat pendidikan Alquran. Namun, pendidikan surau tidak mampu tampil sebagai lembaga pendidikan survive seperti pesantren di tanah Jawa. Kini, masyarakat Sumatera Barat banyak yang mengalami romantisme sejarah, lalu mempopulerkan gagasan "babaliak ka surau" karena surau telah dianggap berhasil pada zamannya. Cara yang paling bijak untuk menerapkan gagasan itu adalah dengan menerapkan kembali ciri khas sistem pendidikan surau itu sendiri, yaitu pedidikan al-Qurān.
Keempat, aspek politik. Secara politik, gagasan Alquran   sebagai karakter pendidikan juga sangat beralasan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 4, misalnya, disebutkan bahwa pada tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kata-kata iman dan takwa jelas terinspirasi dari isi Alquran. Dalam perspektif Islam, mustahil seseorang mampu beriman dan bertakwa tanpa mengamalkan kandungan Alquran. Karenanya, mempelajari Alquran   merupakan keniscayaan bagi yang ingin mengamalkan Alquran secara baik.
         Selain itu, kebijakan pemerintah dewasa ini sedang menerapkan pendidikan karakter. Hakikat pendidikan karakter adalah akhlak mulia. Dalam perspektif Islam, akhlak itu mesti merujuk pada Rasulullah saw. sebagai uswatun hasanah. Suatu ketika sahabat bertanya pada Aisyah radhiallahu ’anha tentang akhlak Nabi saw.
عَنِ الْحَسَنِ قَالَ : سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟
فَقَالَتْ : كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ (أحمد(
Artinya: Dari Al-Hasan ia berkata: Aisyah ditanya tentang akhlaq Rasulullah saw., maka dia menjawab: Akhlaqnya adalah Alquran . (HR Ahmad).
Oleh karena itu, pendidikan Alquran melahirkan dan memperkuat pendidikan karakter yang saat ini sedang dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Propinsi Sumatera Barat. Bahkan Alquran sejatinya menjadi karakter atau ciri khas pendidikan Islam di seluruh Indonesia ini.
2.    Pentingya Pendidikan Alquran  
Pentingya Pendidikan Alquran, dapat dilihat pada:
Pertama pada tujuan mempelajari dan mengajarkan Alquran.
Alquran adalah kalamullah, kitab suci mulia yang paling paripurna, pedoman dan landasan hidup setiap manusia beriman, yang mengakui Allah swt. sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Isinya mencakup segala segi kehidupan manusia. Kemuliaan umat ini adalah tergantung kepada bagaimana mereka berinteraksi terhadap Alquran. “Hidup di bawah naungan Alquran”, demikian kata al-Syahid Saiyyid Quthb, dalam Zhilal-nya.
Sebagai kitab pedoman, ia harus dibaca dan bahkan sangat dianjurkan untuk dijadikan bacaan harian. Hal ini tersirat dalam berbagai keistimewaan, baik dalam keistimewaan tilawah, keistimewaan tadabbur, dan keistimewaan hifzh atau hafalan (Abdul Aziz  Rauf Al Hafidz,Lc,1998:1-2).
         Keistimewaan tilawah, artinya Alquran adalah sebuah kitab yang harus dibaca, bahkan dianjurkan untuk dijadikan bacaan harian. Membacanya dinilai oleh Allah swt sebagai ibadah. Pahala yang diberikan–Nya berlipat ganda, sebagaimana sabda Rasulullah saw. ;
لأقول الم حرف واكن الف حرف ولام حرف وميم حرف  (رواه الترمذى)
Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. (HR. Turmuzi).
Pada hakikatnya tilawah bukanlah hal yang sederhana, namun dalam bertilawah seorang qari (pembaca) dituntut untuk menjaga keaslian bacaan Alquran   seperti yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad saw.  malalui Jibril as. Firman Allah:
#sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ  
Artinya;  Apabila Kami telah membacanya maka ikutilah bacaannya itu.
(QS. al Qiyamah; [75]: 18).
Rasulullah saw. dalam hal pengajaran Alquran ini, menunjuk dan memberi kepercayaan kepada beberapa orang sahabat untuk mengajarkannya, di antaranya kepada Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Salim Maula Abi Hudzaifah. Para sahabat kemudian mengajarkannya kepada Tabi’in, dan demikian seterusnya. Alquran   diajarkan secara turun temurun dalam keadaan asli tanpa terkurangi huruf-hurufnya, kalimat-kalimatnya, bahkan sampai teknis bacaannya. Untuk menjaga keaslian itulah  ulama menjaga sanad Alquran   (runtutan para pengajar Alquran dari sejak zaman Rasulullah saw. sampai sekarang). Karena itu pulalah, metode yang asasi dan asli dalam mempelajari Alquran   dengan Talaqqi, yaitu mempelajari Alquran    melalui seorang guru langsung berhadap-hadapan dimulai dari surat al Fatihah sampai al-Nas. Namun mengingat terbatasnya jumlah orang yang menguasai Alquran   , terutama dalam hal tilawah, maka ulama ahli qiraat meletakkan kaedah-kaedah cara membaca yang baik dan benar, yang  disebut  dengan tajwid.
         Keistimewaan dalam tadabbur, artinya Alquran akan benar-benar menjadi ruh (penggerak) bagi kemajuan kehidupan manusia manakala selalu dibaca dan ditadabburkan makna yang terkandung dalam setiap ayat-ayatnya. Allah swt.  berfirman :
y7Ï9ºxx.ur !$uZøym÷rr& y7øs9Î) %[nrâ ô`ÏiB $tR̍øBr& 4 $tB |MZä. Íôs? $tB Ü=»tGÅ3ø9$#
Ÿwur ß`»yJƒM}$# `Å3»s9ur çm»oYù=yèy_ #YqçR Ïök¨X ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±®S ô`ÏB $tRÏŠ$t6Ïã 4 y7¯RÎ)ur üÏöktJs9 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡B ÇÎËÈ  
Artinya; Dan demikianlah Kami wahyukan  kepadamu sebuah ruh (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Alquran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa d-iantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Q.S. al-Syura; [42]: 52)
ë=»tGÏ. çm»oYø9tRr& y7øs9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£uÏj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.xtFuŠÏ9ur (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ  
Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan berkah agar mereka mentadabburkan ayat-ayatnya dan agar menjadi peringatan bagi orang-orang yang berakal. (Q.S Shad; [38]: 29)
         Keistimewaan hafalan, artinya Alquran selain dibaca atau direnungkan juga perlu dihafal, dipindahkan dari tulisan  ke dalam dada, karena hal ini merupakan ciri khas orang-orang yang diberi ilmu, juga sebagai tolok ukur keimanan dalam hati seseorang. Firman Allah swt.:
ö@t/ uqèd 7M»tƒ#uä ×M»oYÉit/ Îû Írßß¹ šúïÏ%©!$# (#qè?ré& zOù=Ïèø9$#
4 $tBur ßysøgs !$uZÏF»tƒ$t«Î/ žwÎ) šcqßJÎ=»©à9$# ÇÍÒÈ  
Artinya: Sebenarnya Alquran itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada-dada orang-orang yang diberi ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang dzalim. (QS al-Angkabut; [29]: 49).
Rasulullah saw.  bersabda:
إن الذى ليس في جوفه شئ من القران كالبيت الخرب (رواه الترمذى)
Artinya: Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya tidak terdapat sebagian ayat daripada Alquran, bagaikan rumah yang tidak ada penghuninya. (HR. Turmuzi)
Kedua, dilihat pada keutamaan belajar dan mengajarkan Alquran, seperti berikut:
a.       Orang yang belajar dan mengajarkan Alquran adalah sebaik-baik umat, kelak mereka akan menerima balasan pahala dari Allah yang berlipat ganda,  Rasulullah saw. bersabda:
خيركم من تعلم القران وعلمه                                                 
Artinya; Dari ‘Utsman, dari Nabi saw. telah bersabda: sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Alquran    dan yang mengajarkannya. (HR. Bukhari)
Telah berkata Ibnu Mas’ud, bersabda Nabi saw.:
إقرؤ القران فإنكم تؤجرون عليه بكل حرف عشرحسنات .........
Artinya; Bacalah olehmu Alquran, maka sesungguhnya kamu akan diberi pahala dengan setiap huruf itu sepuluh kebaikan….(HR.Turmuzi)
b.      Orang yang membaca Alquran, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Allah swt.  befirman dalam surat  al Fathir ayat 29:
¨bÎ) tûïÏ%©!$# šcqè=÷Gtƒ |=»tGÏ. «!$# (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qà)xÿRr&ur $£JÏB
öNßg»uZø%yu #uŽÅ  ZpuŠÏRŸxtãur šcqã_ötƒ Zot»pgÏB `©9 uqç7s? ÇËÒÈ  
Sesungguhnya orang-orang yang membaca Alquran, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Al Fathir; [35]: 29)
c.       Di samping amal kebajikan, memperbanyak membaca Alquran dapat membebaskan  seseorang dari sentuhan api neraka, karena ia datang kelak pada hari kiamat memberi syafa’at. Abdul Mukti (1987:216-217), mengemukakan fatwa Imam Jalaluddin Al Suyuthy;
.....إقرؤا القران فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه                    
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, hadits dari Abi Amamah, barsabda Nabi saw.: Bacalah olehmu Alquran   karena Alquran  itu datang pada hari kiamat memberi syafa’at bagi pembacanya.
d.      Membaca Alquran merupakan ibadah yang lebih utama dari umat Muhammad saw. Rasulullah saw. pernah menerangkan kepada para sahabatnya tentang kemuliaan orang yang membaca Alquran, sebagaimana riwayat berikut:

Artinya: … Barang siapa yang mengharap hendak bertemu dengan Allah, maka hendaklah ia memuliakan ahli Allah, sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah Allah mempunyai ahli? Jawab Nabi: Ya. Kemudian sahabat bertanya lagi: Siapakah mereka itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Ahli Allah di dunia ialah orang-orang yang membaca Alquran. Ketahuilah, barang siapa yang memuliakan mereka itu, Allah akan memuliakannya, dan memberikan surga kepadanya. Dan barang siapa yang menghinakan mereka itu, maka Allah akan menghinakannya pula, dan akan memasukkannya  ke dalam neraka. Hai Abu Hurairah, tidak ada seorangpun yang paling mulia di sisi Allah selain dari orang yang membaca Alquran. Ketahuilah, sesungguhnya orang yang membawa Alquran  (untuk dibaca) itu di sisi Allah lebih mulia daripada semua orang selain para nabi…
Pada riwayat lain Nabi Muhammad saw. membanggakan umatnya yang gemar membaca Alquran:افضل عبادة أمتي تلاوة القـرإن                                    
Ibadah umatku yang lebih utama ialah yang membaca Alquran (Abdul Mukti TS, 1987:217-220) 

Begitu pentingnya membaca Alquran, Rasulullah saw.  telah bersabda; Artinya: “Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai nabimu, mencintai keluarga nabi, dan membaca Alquran ”, HR Thabrani)”. Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran    dan mengajarkannya , HR: Bukhari)”.
         Pentingnya pendidikan Alquran, dapat juga dilihat dari tujuan mempelajari Alquran   dan mengajarkannya. Tujuan mempelajari Alquran selain sebagai ibadah membacanya, Mahmud Yunus dalam bukunya; (1978:55-56) mengemukakan sebagai berikut:
1.      Memelihara kitab suci dan membacanya serta memperhatikan apa-apa isinya, untuk jadi petunjuk dan pengajaran bagi kita dalam kehidupan didunia.
2.      Mengingat hukum agama yang termaktub dalam Alquran, serta menguatkan keimanan dan mendorong berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.
3.      Mengharapkan keridhaan Allah dengan menganut i’ktikad yang sah dan mengikuti segala suruhan-Nya dan menghentikan segala larangan-Nya.
4.      Menanamkan akhlak yang mulia dengan mengambil ‘ibrah dan pengajaran, serta suri teladan yang baik dari riwayat-riwayat yang termaktub dalam Alquran.
5.      Menanam rasa keagamaan dalam hati dan menumbuhkannya, sehingga bertambah tetap keimanan dan bertambah dekat hati kepada Allah.

         Mempelajari Alquran amat penting sekali dimulai sejak kanak-kanak, baik di sekolah, atau diluar sekolah, seperti di rumah, di mesjid, atau langgar, atau surau, di Taman Pendidikan Alquran (TPA), di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), di pondok-pondok Alquran dan sebagainya, karena waktu ini (sebagai langkah awal), tenaga hafalan kanak-kanak  sangat kuat, sehingga mudah baginya  menghafal ayat-ayat. Hal ini sejalan dengan pendidikan shalat, bahwa anak-anak harus bisa menghafal ayat-ayat yang perlu dibaca dalam shalat atau di luar shalat. Sebab itu pula sudah menjadi kebiasaan dari dahulu kala, kanak-kanak belajar Alquran itu di surau-surau (langgar) di seluruh Indonesia. Perguruan Alquran itu harus dihidupkan di tempat-tempat seperti disebut di atas, baik petang hari atau malam hari, pagi atau siang. Tetapi supaya pelajaran itu lebih teratur dan menghasilkan tujuan di atas, haruslah diikuti cara-cara yang baik untuk mengajarkannya. Lebih lanjut Mahmud Yunus mengatakan bahwa, pada zaman sekarang, kita merasa perlu mempelajari Alquran   menurut dasar-dasar yang kokoh, bukan semata-mata membaca dan melagukan saja.  Karena Alquran    itu di turunkan Allah untuk petunjuk dan penuntun bagi masyarakat Islam khususnya dan masyarakat / ummat manusia umumnya.
         Sementara Moh. Saleh Samak, mengemukakan pula dalam bukunya; Ilmu Pendidikan Islam-Fannu al Tadris  (1983:65-66), bahwa tujuan mengajarkan Alquran   kepada murid-murid adalah sebagai berikut:
1.      Untuk menjelaskan asas utama syariat Islam.
2.      Untuk meninggikan daya berfikir murid-murid tentang hidup dan menikmati keindahan bahasanya.
3.      Untuk memberi faham ayat-ayat yang dipelajarinya.
4.      Supaya murid-murid mengetahui hukum-hukum agama yang terkandung di dalam Alquran   dan mengingati serta menghafalnya.
5.      Untuk membentuk akhlak murid-murid.
       Untuk memberi paham tentang ayat-ayat yang dipelajari, misalnya mengerti tiap-tiap arti perkataan, makna ayat dan seterusnya, harus dilakukan melalui hafalan di samping membaca. Di saat itu murid dibiasakan menghafal ayat-ayat Alquran sesuai kandungan ayat secara bertahap sesuai kemampuan murid. Tujuan mengajar Alquran   untuk membentuk akhlak murid, dapat dicapai dengan memahami dan mengerti nas-nas dari Alquran.
         Pentingnya pendidikan Alquran merupakan suatu kewajiban bagi setiap orang beriman (mukmin), di samping mengimani, membaca, mengamalkan, dan memeliharanya. Melalui pedidikan Alquran setiap peserta didik akan mencapai tujuan yang diharapkan yaitu terbentuknya karakter baik atau akhlak mulia sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan Islam.
Disini letak pentingnya tugas seorang guru, baik dalam pendidikan informal, nonformal dan formal. Guru sebagai insan termulia, mempunyai fungsi yang tidak dapat terlepas dari tiga fungsinya, sebagaimana dinyatakan Daoed Yoesoef (1980), bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan.
3.    Pendidikan Berbasis Alquran  
Pendidikan Alquran bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., cerdas, terampil, pandai baca tulis Alquran, berakhlak mulia, mengerti dan memahami serta mengamalkan kandungan Alquran”. Pendidikan berbasis Alquran adalah pendidikan yang mengupas masalah Alquran dalam makna; membaca (tilawah), memahami (tadabbur), menghafal (tahfizh) dan mengamalkan serta mengajarkan atau memeliharanya melalui berbagai usnsur. Pendidikan Alquran adalah pendidikan yang menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran yang terlihat dalam sikap dan aktivitas peserta didik dimana dia berada.
         Hal ini mengingatkan kita semua, terutama kalangan pendidik, bahwa mu’allim (guru) memegang peranan penting dalam pembentukan perilaku manusia dalam menjalani hidupnya. Karena anak didik adalah amanah Allah, maka para pedidiknya terlebih dahulu harus mengubah diri mereka sebelum mendidik orang lain. Dalam sejarah pendidikan Islam dialog antara calon pendidik dengan orang tua anak sangat terkenal sebagaimana dikutip oleh Ibnu Khaldum, dari amanah Umar bin Utbah yang diucapkannya kepada calon pendidik anaknya sebagai berikut: “Sebelum engkau membentuk dan membina anakku, terlebih dahulu hendaklah engkau membentuk dan membina dirimu sendiri, karena anakku tertuju dan tertambat kepadamu. Seluruh perbuatanmu itulah yang baik menurut pandangannya. Sedangkan apa yang engkau hentikan dan tinggalkan itu pulalah yang salah dan buruk di matanya (Nashruddin, 1979:107)
Di sekolah, Pendidikan Alquran berfungsi sebagai, pengenalan, pembiasaan, pencegahan, dan penanaman nilai-nilai. Sedangan Ruang Lingkup Pendidikan Alquran, kepada peserta didik diajarkan dan dididik menulis, membaca, menghafal ayat-ayat pendek dan pilihan serta mencontohkan nilai-nilai dalam Alquran sekaligus melatih dan membiasakan membaca Alquran bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari (Kurikulum Pendidikan Alquran   di sekolah, 2008)
         Untuk menghidupkan dan menyuburkan semaraknya pendidikan Alquran   diperlukan kerja sama terpadu secara berkelanjutan antara sekolah, rumah tangga dan masyarakat. Hal ini tidak diragukan lagi, bahwa  pendidikan Alquran adalah bahagian dari PAI, yang merupakan mata pelajaran wajib diberikan dari TK sampai perguruan tinggi. Di dalam masyarakat ditemukan dan dilaksanakan pendidikan agama Islam nonformal seperti adanya TPA/TPSA dan MDA/MDW dan MDU yang ada disetiap mesjid dan mushalla dan pondok Alquran di setiap kecamatan. Bagi orang dewasa pendidikan Alquran   dilakukan melalui majelis Taklim dan pengajian Alquran   lainnya dalam berbagai bentuk seperti yasinan, tadarrus Alquran, tafsir Alquran dan lain-lain.
         Pemerintah memberikan dorongan di samping adaya Perda tentang BTQ bagi anak usia SD/MI, ada pencanangan dan himbauan untuk maghrib mengaji, subuh mubarakah dan lain. Adanya wirid remaja, pesantren ramadhan serta kegiatan keagamaan lainnya yang di dalamnya ada pendidikan Alquran.
        Hal-hal seperti demikian setidaknya ada empat manfaat yang dapat diperolah, yaitu; (a) tercegahnya masalah kenakalan remaja, (b) dapat menyempurnakan pendidikan agama di sekolah, (c) meningkatkan kesadaran siswa akan kebutuhan terhadap pembinaan keagamaan dan rasa memiliki kegiatan keagamaan khususnya tentang Alquran, (d) membuka lapangan kerja bagi alumni atau orang yang berkewajiban memberikan ilmunya (Muhaimin, 2003:127)
         Pendidikan Alquran secara bertahap membawa seseorang kepada pemahaman yang akhirnya mampu mengamalkan dan merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari menjadi kepribadian yang terpuji. Untuk memperoleh pemahaman yang layak dari kajian tentang Alquran, perlu dilakukan pendekatan untuk merefleksikan apa yang sedang dibaca. K. Murad dalam eseinya “Jalan menuju Alquran (The way to the Quran), mengungkapkan sebagai berikut:
1.      Perhatikan syarat-syarat dasar guna memperoleh buah kajian Alquran
a.       Yakini sedalam-dalamnya bahwa dihadapan anda tengah terbentang wahyu ilahi
b.      Bacalah dengan niat hanya mencari ridha Allah swt.
c.       Terimalah petunjuknya secara penuh dan utuh
d.      Leburkan diri anda ke dalam petunjuk yang dikandungnya
e.       Mohonlah perlindungan kepada Allah dan agungkan asma-Nya.
2.      Perkuat dan jaga kehadiran hati
a.       Selalu sadari bahwa Allah swt. selalu memperhatikan  anda
b.      Rasakanlah seolah-olah anda mendengar langsung Alquran dari Allah swt.
c.       Rasakanlah seolah-olah Alquran disampaikan langsung kepada anda
d.      Lakukan dengan gerak jasmani yang wajar, dan sucikanlah diri anda lahir dan batin
3.      Refleksikanlah Alquran dan berupayalah dengan ber-sungguh-sungguh untuk memahaminya;
a.       Perhatikan bahwa setiap ayat relevan dengan kondisi sekarang
b.      Bacalah keseluruhan Alquran   agar mendapat gambaran meyeluruh
c.       Hindari pembahasan yang terlalu panjang.
d.      Pelajarilah bahasa Alquran
e.       Hayati secara mendalam apa yang tengah anda baca,
 dan daraslah dengan cara yang harmonis (bacaan tartil)
4.      Ajaklah hati anda untuk terlibat dalam pengkajian Alquran
a.       Pelajari bagaimana Rasul saw. dan para sahabatnya berinteraksi dengan al-Qurān
b.      Padanglah bahwa setiap ayat merupakan wahyu yang ditujukan untuk anda
c.       Kembangkanlah tanggapan hati terhadap ayat, dan ungkapkanlah dengan memuji Allah, serta mohonlah ampunan-Nya.

         Abul A’la Maududi mengemukakan beberapa pedoman untuk mengkaji Alquran;
a.       Bacalah Alquran  dengan fikiran yang terbebas bias bayangan lain
b.      Bacalah Alquran lebih dari satu kali, sehingga mendapatkan pandangan yang shahih
c.       Catat pertanyaan yang muncul,
d.      Sementara anda membaca, carilah perintah Alquran yang sudah anda tangkap dan rasakan
e.       Sesudah membaca pertama kali, segera lakukan pembacaan yang semakin rinci, pikirkan bagaimana hal tersebut dapat diterapkan
f.       Jangan lupakan bahwa kunci nyata untuk memahami Alquran adalah melaksanakan secara praktis ajaran Alquran. (Baca A.Van Denffer, 1981:211)

          Perlu diperhatikan bahwa seseorang tidak akan pernah menyentuh kebenaran yang dikandung Alquran   apabila hanya sekedar membaca saja. Untuk itu ia harus aktif melibatkan diri dalam perjuangan kaum beriman yang dipesankan Alquran, yaitu membaca, menghafalkannya dan mempelajari isi kandungannya, sehingga mampu mengamalkannya.
        Memperhatikan paparan di atas, akan sangat dirasakan oleh setiap siswa dan kaum beriman umumnya apa yang menjadi pesan dan fungsi Alquran; sebagai rahmat dan hudan bagi manusia, di antaranya;
ö@è% $ygƒr'¯»tƒ ÚZ$¨Z9$# ÎoTÎ) ãAqßu «!$# öNà6ös9Î) $·èŠÏHsd Ï%©!$# ¼çms9 ہù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ¾ÇósムàMÏJãƒur ( (#qãYÏB$t«sù «!$$Î/ Ï&Î!qßuur ÄcÓÉ<¨Y9$# ÇcÍhGW{$# Ï%©!$# ÚÆÏB÷sム«!$$Î/ ¾ÏmÏG»yJÎ=Ÿ2ur çnqãèÎ7¨?$#ur öNà6¯=yès9 šcrßtGôgs? ÇÊÎÑÈ  
Artinya: Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk" (QS. al-A’raf; [7]:158).
!$tBur $uZø9tRr& y7øn=tã |=»tGÅ3ø9$# žwÎ) tûÎiüt7çFÏ9 ÞOçlm; Ï%©!$# (#qàÿn=tG÷z$# ÏmŠÏù   Yèdur ZpuH÷quur 5Qöqs)Ïj9 šcqãZÏB÷sムÇÏÍÈ     
Artinya: Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Alquran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman ( An-Nahl; [16]: 64-65)
         Sungguh sangat naif bila seorang atau pelajar muslim tidak mengambil petunjuk dan rahmat Allah swt. yang telah di turunkan melalui kitab Alquran  sebagai sumber ajarannya. Oleh karena itu pembentukan karakter atau akhlak, yang menjadi misi Rasulullah saw. di utus ke dunia, perlu diformulasikan dalam penyelenggaraan pendidikan Islam sebagai pendidikan berkarakter, melalui berbagai lembaga pendidikan dan oleh semua komponen.
         Ssurat al-fatihah (ibu Alquran) mengandung berbagai prinsip hidup, termasuk prinsip-prinsip untuk menggali dan melejitkan potensi diri. Setiap muslim harus mempelajari tentang manthuq (arti tersurat) dan mafhum (arti tersirat) dari ayat-ayat al-Qurān. Wajdi (2007) mengemukakan ada 7 (tujuh) prinsip menggali dan melejitkan diri dengan Quranic Quotiont, yang termaktub dalam surat al-fatihah sebagai berikut;
Prinsip pertama: awali dengan basmalah, prinsip kedua: terimalah diri apa adanya, prinsip ketiga: berikan yang terbaik, prinsip keempat: lihatlah impian, prinsip kelima: temukan potensi dan peluang diri, prinsip keenam: rumuskan cara meraih impian, dan prinsip ketujuh: belajarlah dari pengalaman.
4.    Pembentukan Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan
          Menurut Dr Daoed Joesoep (http://lemlit, 15/03/2013), bahwa ada tiga elemen dasar pembentukan watak atau karakter bangsa Indonesia yaitu, pola pikir, kebudayaan nasional, dan pancasila. Pertama, pola pikir ini didasari oleh fakta empiris, religiusitas/mitologi, politik etik, dan generalisasi ilmiah. Dari keempat dasar pola pikir tersebut ketiganya (fakta empiris, religius dan politik) cenderung divergen yang pada akhirnya bisa membuat bias watak/karakter bangsa. Kedua, kebudayaan nasional bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan keanekaragaman bentuk dan latar belakangnya. Ini bisa menjadi sebuah modal dasar yang positif dalam bingkai bhineka tunggal ika, tapi tak jarang menimbulkan tantangan tersendiri dalam pengelolaannya. Ketiga, pancasila adalah merupakan modal positif untuk menjadi butir-butir yang pantas menjadi filosafi, tapi belum cukup untuk menjadi sistem filosofi bangsa. Sebagai butir-butir yang pantas menjadi filosofi perlu diurai lebih dalam menjadi sistem filosofi. Mencermati tantangan yang muncul dari ketiga elemen dasar pembentukan watak/karakter bangsa tersebut maka mepecahanya adalah melalui pembenahan bidang pendidikan. Pendidikan yang sebenarnya yaitu pendidikan yang memanusiakan manusia Indonesia. Tidak hanya menggunakan pendekatan ekonomi semata. Sebagai umat yang beragama tentunya kita telah memahami bahwa ayat pertama yang diturunkan adalah Iqro, bacalah belajarlah, berfikirlah. Pergunakan akal untuk menggali ilmu pengetahuan. Akal adalah makna dari otak yang dimanfaatkan untuk berfikir dan ilmu pengetahuan yang dapat menghantarkan martabat dan karakter bangsa hanya bisa dikembangkan oleh akal (otak yang dioperasionalisasikan). Dari sini jelas bahwa memang untuk membangun karakter, watak martabat bangsa harus dimulai dari pendidikan. (Daoed Joesoep, 15/03/2013)
         Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
         Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Melalui program ini diharapkan setiap lulusan memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.
         Pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya. Dengan demikian manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam pendidikan karakter di sekolah. Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah. Budaya sekolah yang dimaksud yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar sekolah (Ide Guru: 2005)
            Menurut Mulyasa (2012: 125), pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai model, yaitu model pembiasaan dan keteladanan, pembinaan disiplin, hadiah dan hukuman, pembelajaran kontekstual, bermain peran, dan pembelajaran partisipatif.
Pembentukan karakter peserta didik melalui pendidikan berbasis Alquran   dimaksudkan, dapat melakukan pembiasaan dan keteladanan, pembinaan disiplin, memberi hadiah dan hukuman, menerapkan pembelajaran kontekstual, bermain peran, dan pembelajaran partisipatif, yang dilakukan secara berkelanjutan dan secara terpadu oleh pendidik terhadap peserta didiknya, baik di rumah, di sekolah atau di masyarakat. Pendidikan berbasis Alquran ini sebenarnya telah diterapkan sejak lama melalui pendidikan surau yang sekarang umumnya dilaksanakan melalui pendidikan di sekolah/madrasah melalui mata pelajaran PAI dan Quran-Hadis, dan di TPA/Q dan MDA/MDTA yang tersebar diseluruh Nusantara.
Di sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah di Sumatera Barat khususnya, Alquran   selalu dikumandangkan dan dibaca oleh peserta didik. Diselingi dengan do’a, asmau al-husna dan kalimat thayyibah lainnya. Alquran juga dibaca dan dikumandangkan pada hari Jum’at sebagai kegiatan rutin disetiap sekolah, dan setiap hari minggu subuh disetiap mesjid dan mushalla. Alquran   bahkan dipelajari di TPA/Q dan MDA, di pondok Alquran   dan majelis Taklim, di kelompok-kelompok pengajian dan lain-lain. Alquran   juga dibaca pada setiap kegiatan atau acara keluarga ataupun kegiatan kemasyarakatan, baik di sekolah, di kantor, ataupun di mana kegiatan diadakan, selalu diawali dengan membaca Alquran. Alquran   dibaca dan dipelajari melalui pesantren Ramadhan oleh peserta didik di sekolah yang dialihkan ke mesjid dan mushalla tempat dia bermukim.
Dengan demikian, Alquran yang senantiasa dibaca dan dipelajari sejak kecil, hingga akhir hayatnya dan dilakukan diberbagai tingkat dan tempat, oleh semua umur, bila dipahami dengan baik, akan dapat mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Alquran   diambil sebagai petunjuk dan pedoman hidup setiap muslim, tentu akan menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt. Iman dan takwa adalah karakter yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah swt., dan itulah orang yang paling mulia di sisi Allah swt.
         Menurut Adian Husaini (2010), pada skala mikro, pendidikan karakter ini harus dimulai dari sekolah, pesantren, rumah tangga, juga Kantor Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Dari atas sampai ke bawah, dan sebaliknya. Sebab, guru, murid, dan juga rakyat sudah terlalu sering melihat berbagai paradoks. Banyak pejabat dan tokoh agama bicara tentang taqwa; berkhutbah bahwa yang paling mulia di antara kamu adalah yang taqwa. Tapi, faktanya, saat menikahkan anaknya, yang diberi hak istimewa dan dipandang mulia adalah pejabat dan yang berharta. Rakyat kecil dan orang biasa dibiarkan berdiri berjam-jam mengantri untuk bersalaman. Kalau para tokoh agama, dosen, guru, pejabat, lebih mencintai dunia dan jabatan, ketimbang ilmu, serta tidak sejalan antara kata dan perbuatan, maka percayalah, Pendidikan Karakter yang diprogramkan Kementerian Pendidikan hanya akan berujung slogan!
Ada beberapa penelitian yang membuktikan bahwa karakter seseorang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Di antaranya berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (http://akhmadsudrajat.Wordpress .com/…/pendidikan-karakter-di-smp/), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Sementara itu Ratna Megawangi (2007) mencontohkan bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-an. Menurutnya pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing the good, loving the good, and acting the good (suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga berakhlak mulia).
Penelitian tentang Manajemen Madrasah Diniyah Awaliyah; Studi Kasus MDA Baitul Haadi (Hakim: 2013) dan Lez (Investigasi, 2013), mampu melahirkan peserta didik berkarakter dan islami. Manajemen yang diterapkan di MDA Baitul Haadi, melalui fungsi-fungsi manajemen, telah memberikan keberhasilan bagi pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran peserta didiknya. Implikasi dari pengelolaan yang diterapkan kepala MDA tersebut mempunyai arti dan pengaruh besar terhadap meningkatkan kualitas pembelajaran, baik pada proses pembelajaran maupun pada hasil dan tujuan. Kegiatan ini mewujudkan peserta didik yang berkualitas; berprestasi; yang mampu memahami dan menguasai kompetensi pembelajaran, berdisiplin dan bertanggung jawab, serta berperilaku terpuji atau berakhlaqul karimah, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, menimbulkan rasa dihargai, dan rasa diperhatikan, adanya budaya berani tampil, persaingan sehat/berkompetisi. Terlaksananya manajemen MDA ini, merupakan sebuah sistem yang dibangun dan dipelihara secara terus menerus antara kepala MDA, guru, peserta didik, orang tua, pengurus dan masyarakat, serta pemerintah. Kerjasama yang dibangun membuat MDA Baitul Haadi mampu meningkatkan kualitas sumber daya madrasahnya, sehingga menjadikan popularitas di antara MDA yang ada di kota Padang.
Berkarakter atau Berakhlak mulia itu dalam ajaran Islam adalah orang yang dipujikan Allah dan ditinggikan derjatnya. Orang yang berakhlak mulia itu adalah orang yang sukses, sehat dan bahagia hidupnya. Setiap pribadi semestinya memiliki akhlak yang mulia, apalagi para pendidik, agar ia lebih bijaksana dalam menjabarkan nilai-nilainya ke dalam program-program untuk dituangkan dalam rencana-rencana pembangunan manusia seutuhnya. Dalam ajaran Islam, pribadi dan sepak terjang Rasulullah adalah manifestasi dan realisasi dari ajaran-ajaran Alquran, yang di dalamnya terkandung sumua sifat-sifat Tuhan. Siti ‘Aisyah, dalam menerangkan sifat-sifat Rasulullah dengan ringkas tetap berkata: ”akhlak Rasulullah ialah Alquran” (Hamka,1982;I:70, dan Humaidi Tatamangarsa,1980:16-7). Lebih dari itu Alquran   sendiri telah dengan tegas menyatakan bahwa Rasulullah adalah sebagai panutan/ikutan yang baik. (QS. al Ahzab, 33:21). Dalam sejarah tercatat, selama hidupnya beliau senantiasa mempunyai karakter terpuji; membantu orang lain, dan sangat peduli terhadap penderitaan orang lain.   
Sahabat pernah bertanya pada Nabi tentang inti agama sebagai berikut: Hai Nabi! Apakah inti agama itu (maad diin)? Pertanyaan ini ditanyakan sahabat kepada Nabi sebanyak empat kali. Tiga kali Nabi menjawab pertanyaan itu dengan  “akhlak yang baik” (husnul-khuluq). Sedang jawaban keempat Nabi memberikan “amaa tafqahu, wahuma allaa taghdhab!” (Ahmad bin Hambal,1981:255 dan 288). Jawaban ini hakikatnya juga akhlak, yakni agar orang jangan cepat emosi. Dalam menjawab tentang  hakikat (inti) agama, Nabi saw., ada yang mengatakan bahwa agama itu adalah nasehat menasehati (ad-diinul nashiihah), agama itu adalah muamalah (ad-diinul mu’amalah), agama itu adalah iman (ad-diinul iimaan), akhlak itu tandan kesempurnaan iman (akmalul mukminiina iimaanan ahsanuhum khuluqan), akhlak itu wadah agama (akhlaqu wi’aaud diin), dan bahwa kebahagiaan seseorang itu terletak pada akhlaknya yang baik (min sa’aadatil mar’i husnul khuluq). (Muhammad  Mawardi, Jawahir al Hadis, t.t.:22). Nabi sendiri menegaskan bahwa aku diutus menjadi Rasul adalah bertugas untuk menyempurnakan akhlak manusia (innamā bu’istu liutammimā makārim al-akhlāq) (Hambal, 1981:331). Di samping itu pribahasa (Syauqy) mengatakan pula bahwa “Tegaknya suatu umat itu karena akhlak baiknya dan apabila akhlaknya rebah maka rebah pulalah umat (bangsa) itu” (Asmaran,1992:5).
Saat ini di samping MTQ secara nasional, juga dibudayakan musabaqah dibidang Alquran   ini dalam berbagai bentuk dan tingkatnya oleh beberapa lembaga atau instansi yang mempunyai kepedulian terhadap Alquran. Hal ini dipahami sebagai pendidikan berbasis Alquran, dalam rangka memelihara Alquran, dan mengambil i’tibar, dan nilai-nilai daripadanya untuk dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
C.PENUTUP
            Pendidikan Alquran  berfungsi sebagai, pengenalan, pembiasaan, pencegahan, dan penanaman nilai-nilai kepada peserta didik dalam rangka membangun manusia beriman dan bertakwa kepada Allah swt. Pembentukan karakter peserta didik, sangat penting dan tidak boleh diabaikan oleh siapapun terhadap masa depan bangsa dan terpeliharanya agama. Pembentukan karakter peserta didik adalah tanggung jawab setiap orang; keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah. Pembentukan karakter sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan perilaku peserta didik. Pembentukan karakter melalui pendidikan Alquran   yang berkualitas (membaca, mengetahui dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya), sangat perlu dan tepat serta mudah dilakukan, secara berjenjang dan oleh setiap lembaga secara terpadu melalui manajemen yang baik. Para pendidik harus lebih bijaksana dalam menjabarkan nilai-nilai Alquran   ke dalam program-program untuk dituangkan dalam rencana-rencana pembangunan manusia seutuhnya melalui proses pembelajaran. Diikuti dengan menerapkan pembiasaan dan keteladanan, melakukan pembinaan disiplin, memberi hadiah dan hukuman, pembelajaran kontekstual, bermain peran, dan pembelajaran partisipatif.

Disempurnakan, 28 Juni 2014 M/ 2 Ramadhan 1435 H
Rosniati Hakim



REFERENSI
Adian, Husaini. 2010. Perlukah Pendidikan Berkarakter, dalam:http://insistnet. com/index.php?option=com_content&view=article&id=133perlukahpendidikan-berkarakter&catid=1%3Aadian-husaini&Itemid=23. Diakses jum’at 15/03/2013
Al- Abrasyi, Athiyah, Mohammad, 1970. Al-Tarbiyah al-Islamiyah, (terj.), Bustami: Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang. Mukti, Al-Ustadz Abdul TS, Editor,
Artikel Pendidikan: Konsep Pendidikan Karakter, Sumber http://elementary-education-schools.blogspot.com/2011/08/all-about-elementary-education-in.html/15-03-2013
Asmaran, As., 1992. Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: Rajawali
Darraz, Muhammad Abdullah. 1882. La Morale Du Koran, terj. Abdush Shabur
Denffer, A.Van, 1981. Ilmu Al-Quran Pengenalan Dasar, Jakarta: Rjawali.
Hakim, Abdul Hamid, 1995. Tahzib al Akhlaq, Bukittinggi: Pustaka Nusantara.
Hakim, Rosniati, 2013. Manajemen Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA); Studi Kasus MDA Baitul Haadi Padang, Disertasi, PPS IAIN Imam Bonjol Padang.
Hambal, Ahmad bin. 1981. Al Musnad Ahmad bin Hambal, Beirut: Daar al Fikr.
Hamka.  1982. Tafsir Al Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas.
Ide-ide guru, Peranan Guru Dalam Pendidikan Karakter, Budaya, Dan Moral, dalam http://ide-guru.blogspot.com/2010/05/peranan-guru-dalam-pendidikan-karakter.html diakses tanggal 15/03/2013
Joesoep, Daoed, Membangun Karakter Mulai dari Pendidikan Sesuai Ajaran Islam, dalam: http://lemlit.uhamka.ac.id/index.php?pilih=news&mod= yes&aksi= lihat &id= 153&judul=dr-daoed-joesoep-:-membangun-karakter-mulai-dari-pendidikan-sesuai-ajaran-islam.html, diakses Jum’at 15/03/2013)
Lez (penulis), 5 Maret 2013. Rosniati Hakim, MDA Lahirkan Generasi Berkarakter dan Islami,  Padang, Investigasi, dalam: http://mingguaninvestigasi.blogspot.com/ 2013/03/dr-dra-rosniati-hakim-mag-mda-lahirkan.html, selasa 28 Juni 2014
Majdi, Udo Yamin Efendi, 2007. Quranic Quontient; Menggali dan Melejitkan potensi Diri Melalui Al-Quran, Jakarta: Qultum Media.
M. Furqon Hidayatullah. 2010. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
Maskawaih, Ibnu, 1908. Tahzibu al-Akhlaq, Kairo: Dar al Nahdhah al Mishriyah
Megawangi, Ratna, 2007. Semua Berakar Pada Karakter. Jakarta: FE-UI.
Muhaimin, 2003. Arah Baru Pengembangn Pendidikan Islam, Bandung: Nuansa Cendikia,
Muhammad, Mawardi, tt. Jawahir al Ahadis, Padang Panjang: Pustaka Sa’adiyah.
Mukti, Al-Ustadz Abdul, TS., 1987. Manhalul ’Irfan,Ilmu Tajwid dan Adab Memmbaca Al-Quran, di edit oleh: Harry Suryana, Bandung: Pen, CV. Sinar Baru
Mulyasa, 2012. Manajemen Pendidikan Karakter, Jakarta: Bumi Aksara
Nata, Abuddin.  1996. Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Razak, Nashruddin, 1993. Dienul Islam, Bandung: Al-Ma’arif
Samak, Saleh, M., 1983. Ilmu Pendidikan Islam-Fannu al Tadris  
Syahain. Judul asli: “Dustuur al Akhlaq fii al-Qur’an,” Kuwait, Daar al Buhuusti al ‘Ilmiiyah.
Tim Perumus, 2008. Kurikulum Pendidikan Alquran   di sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Pertama, Sekolah Lanjutan Atas, Dinas Pendidikan Nasional Sumatera Barat.
UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Yunus, Mahmud, 1878 M/1398 H. Metodik Khusus Pendidikan Agama, Jakarta: PT. Hidakarya
Yunus, Mahmud. 1975. Akhlak, Jakarta: Hidakarya Agung




         [1] Makalah pernah disampaikan pada Seminar Internasional; Rekonstruksi Formulasi Penyelenggaraan Pendidikan Islam sebagai pendidkan Islam Berkarakter. Kegiatan dalam rangka HUT ke-63 Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) di Provinsi Sumatera Barat, bersama IAIN Imam Bonjol dan Kementerian Agama , 16 Maret 2013 di Auditorium Gebernuran Padang Prov. Sumatera Barat. Untuk jurnal ini, beberapa bagian dilakukan penyempurnaan, walaupun masih jauh dari kesempurnaan.

1 komentar:

  1. Terimakasih Tulisnya sangat bermanfaat untuk bahan referensi. :)

    BalasHapus