Sabtu, 14 Maret 2015

METODE PEMBELAJARAN ALQURAN

METODE PEMBELAJARAN ALQURAN[1]

Rosniati Hakim
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol Padang

I. Pendahuluan
Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Nasional sebagaimana disebutkan dalam GBHN, terutama dalam hal meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maka pendidikan agama mempunyai peranan sangat penting dan menentukan.
Visi dan misi lembaga Taman Pendidikan Alquran (TPQ/TQA) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) sebagai lembaga pendidikan Islam non formal, sangat memberikan konstribusi dalam menuju tujuan tersebut.
Sejak awal Alquran diturunkan secara talaqi (langsung) dan secara hafalan. Rasulullah saw. sebagai imam para hafidz Alquran, menerima Alquran secara talaqi dari malaikat pembawa wahyu, yakni malaikat jibril sebagai gurunya, dan demikian seterusnya, beliau mengajarkannya kepada sahabatnya juga secara talaqi, sehingga Alquran sampai kepada kita sekarang.
Sehubungan dengan hal tersebut As-Suyuti bahkan mengharuskan belajar Alquran harus dengan guru yang memiliki sanad shahih, yakni guru yang jelas, tertib sanadnya, tidak cacat dan bersambung sehingga kepada Rasulullah SAW, dengan alasan bahwa Rasulullah saw.,  mengambil bacaan dari malaikat secara langsung dalam bulan ramadhan pada setiap tahun, dan bahkan pada tahun terakhir hayatnya, beliau masih mencocokkannya kepada malaikat jibril sebanyak dua kali. Di samping itu, dalam soal yang berkaitan dengan bahasa, orang sepandai apapun sulit rasanya untuk mengekspresikan fonetik suatu bahasa tanpa bimbingan seorang yang ahli dalam bidangnya, apalagi bahasa Alquran. Oleh karena itu seorang guru memiliki peranan yang penting, sebagai penjaga kemurnian Alquran dan sebagai Pentashih bacaan.  
Di samping hal-hal itu, seorang guru harus peka terhadap perkembangan proses bacaan siswa, baik yang berkaitan dengan kemampuan membaca, rutinitas bacaan tambahan dan takrir, ataupun yang berkaitan dengan psikologis pembaca. Seorang guru bukan hanya sekedar memberikan motivasi, tapi juga yang lebih penting adalah mengendalikan, sehingga pembaca tidak merasa dipaksa oleh semangat yang di luar batas kemampuannya. Dengan adanya hal-hal sebagaimana tersebut di atas maka diharapkan akan mendorong tercapainya proses membaca Alquran dengan kualitas yang baik.
Metode memiliki peran yang sangat strategis dalam mengajar. Metode berperan sebagai rambu-rambu atau “bagaimana memproses” pembelajaran sehingga dapat berjalan baik dan sistematis. Bahkan dapat dikatakan proses pembelajaran tidak dapat berlangsung tanpa suatu metode. Karena itu, setiap guru dituntut menguasai berbagai metode dalam rangka memproses pembelajaran efektif, efesien, menyenangkan dan tercapai tujuan pembelajaran yang ditargetkan. Secara implementatif metode pembelajaran dilaksanakan sebagai teknik, yaitu pelaksanakan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, melalui  pelatihan ini, seorang guru mengulang kembali, memahami apa artinya sebuah metode dalam pembelajaran dan hubungannya dengan tujuan/hasil yang hendak dicapai dalam sebuah pembelajaran Alquran. Bagaimana menerapkan metode dalam pembelajaran Alquran.  
II. PEMBAHASAN
A. Taman Pendidikan Alquran (TPQ)/TQA Dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT)
Visi TPQ/TQA adalah menyiapkan generasi Qurani yang beriman dan bertaqwa, menjadikan Alquran sebagai bacaan utama dan pedoman hidupnya, berakhlak mulia, cerdas, trampil, sehat punya rasa tanggung jawab moral dan social demi menggapai masa depan yang islami. Sedangkan misi TPQ/TQA adalah pendidikan dan dakwah, yaitu sebagai pemantap misi pendidikan Islam di TK/SD/MI, serta sebagai bagian dari gerakan dakwah islamiyah yang berhubungan erat dengan kemasjidan dan dakwah. (Kurikulum TPA, BKS TPA-TPSA Padang, 2004: 6)
Sebagai lembaga pendidikan Islam non formal dibidang Alquran tingkat dasar serta dasar-dasar agama Islam, TPQ mempunyai tujuan:
1.    Membantu mengembangkan potensi anak ke arah mampu dan lancar membaca Alquran, pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan keagamaan
2.    Mempersiapkan anak melanjutkan ketingkat yang lebih tinggi
Untuk dapat mencapai tujuan di atas diperlukan penyelenggaraan pendidikan Alquran di  TPQ secara baik khususnya tentang proses pembelajarannya.  Dalam hal ini, guru adalah merupakan kunci penting proses dimaksud. Setiap usaha peningkatan mutu pendidikan seperti pembaruan  kurikulum, pengembangan dan penggunaan  metode-metode mengajar, penyediaan sarana-prasarana  hanya akan berarti apabila melibatkan guru. (Fasli Jalal, 2001:262). Usaha pembinaan mutu guru, terutama kepada usaha meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar atau proses pembelajaran dan memanfaatkan waktu belajar sehingga benar-benar efektif, perlu menjadi perhatian. Kedua hal ini merupakan dasar bagi proses belajar yang berhasil yang pada akhirnya bermuara pada hasil belajar anak didik.
Tujuan pendidikan di MDA/MDT adalah untuk:
1.    Memberikan bekal kemampuan dasar kepada warga belajar untuk mengembangkan kehidupannya sebagai: warga muslim yang beriman, bertakwa, dan beramal saleh, serta berakhlak mulia; warga Indonesia yang berkepribadian, percaya pada diri sendiri, serta sehat jasmani dan rohaninya.
2.    Membina warga belajar agar memiliki pengalaman, pengetahuan, keterampilan beribadah, dan sikap terpuji yang berguna bagi pengembangan pribadinya.
3.    Mempersiapkan warga belajar untuk dapat mengikuti pendidikan agama Islam pada MDT Wustha (MDW)

Fungsi MDT antara lain adalah menyelenggarakan pendidikan agama Islam yang meliputi Alquran-Hadits, tajwid, akidah-akhlak, fikih, sejarah kebudayaan Islam, bahasa Arab, dan praktik ibadah. Sejak tahun 1983 MDA resmi telah memakai kurikulum secara nasional. Namun kurikulum tersebut mendapat tanggapan dari berbagai pihak karena dianggap terlalu berat. Sementara masyarakat meginginkan model kurikulum yang sederhana. Dalam perkembangan selanjutnya kurikulum MDT megalami beberapa kali perubahan hingga lahirnya kurikulum tahun 2007, 2010, dst.
Kurikulum MDT tahun 2003 misalnya, ditetapkan berbagai kompetensi yang meliputi: kompetensi rumpun Madrasah Diniyah, kompetensi spesifik pendidikan keagamaan Madrasah Diniyah, kompetensi umum Madrasah Diniyah, kompetensi jenjang Madrasah Diniyah.
1.    Kompetensi rumpun Madrasah Diniyah adalah peserta didik beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, yang mencerminkan dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya.
2.    Kompetensi spesifik pendidikan keagamaan Madrasah Diniyah, adalah dengan landasan Alquran dan Hadits Nabi Muhammad saw. peserta didik beriman dan bertakwa kepada Allah swt., berakhlak mulia yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan alam sekitar, mampu membaca Alquran, mampu beribadah, dan bermu’amalah dengan baik dan benar.
3.    Kompetensi Umum Madrasah Diniyah dimaksud di bidang Alquran adalah hafal surat pilihan, mampu membaca, menulis ayat-ayat Alquran.
4.    Kompetensi Jenjang MDT, di bidang Alquran adalah Mampu membaca Alquran dengan benar (Jakarta: Depatemen Agama, RI., 2003)
         Dalam panduan Madrasah Diniyah tahun 2007, kurikulum Diniyah Takmiliyah hanya mengemukakan kompetensi lulusan, yang kemudian dapat dijabarkan sesuai dengan kondisi riil madrasah yang berkembang di masyarakat. Kompetensi lulusan dimaksud adalah merupakan  pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak setelah murid menyelesaikan jenjang pendidikan. Disamping itu juga merupakan batas dan arah kompetensi yang harus dimiliki dan dapat dilakukan oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu. 
         Kompetensi lulusan ini dibagi dalam tiga bidang, yaitu:
Pertama kompetensi lulusan dalam bidang pengetahuan;
a.    memiliki pengetahuan dasar tentang agama Islam.
b.    memiliki pengetahuan dasar tantang Bahasa Arab sebagi alat untuk memahami ajaran gama Islam.
Kedua, dalam bidang pengalaman;
a.    dapat mengamalkan ajaran agama Islam
b.    dapat belajar dengan cara yang baik
c.    dapat bekerja sama dan dapat mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakan.
Ketiga, dalam bidang nilai dan sikap;
a.    cinta terhadap agama lslam dan bertekat untuk melakukan ibadah shalat dan ibadah lainnya.
b.    berminat dan bersikap positif terhadap ilmu pengetahuan
c.    mematuhi disiplin dan peraturan yang berlaku
d.   menghargai kebudayaan nasional dan kebudayaan lainnya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam;
e.    memiliki sikap demokratis dan mencintai sesama manusia dan lingkungan sekitarnya
f.     Menghargai setiap pekerjaan dan usaha yang halal
g.    Menghargai waktu, hemat dan produktif (Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (tim), Pedoman Penyelenggaraan MDT...).
B. Metode Pembelajaran
Pada bagian ini akan dibahas mengenai: Pengertian Metode dan Teknik Pembelajaran, Klasifikasi Metode Pembelajaran, dan Faktor-faktor dalam Menentukan Metode Pembelajaran
1.    Pengertian-Metode-Pembelajaran
Metode adalah cara untuk mencapai tujuan. Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran, untuk mencapai tujuan pengajaran. Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran.
Metode secara harfiah berarti “cara”. Secara umum, metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pendapat lain juga dijelaskan bahwa metode adalah cara atau prosedur yang dipergunakan oleh fasilitator dalam interaksi belajar dengan memperhatikan keseluruhan sistem untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan kata “mengajar” sendiri berarti memberi pelajaran (Fathurrohman dan Sutikno, 2007; 55).
Dengan demikian, metode mengajar merupakan cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode itu sendiri merupakan salah satu sub system dalam sistem pembelajaran, yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Oleh karena itu, salah satu masalah yang sangat memerlukan perhatian dalam kegiatan pembelajaran adalah metode pembelajaran (learning method). Metode digunakan oleh guru untuk mengkreasi lingkungan belajar dan menkhususkan aktivitas di mana guru dan peserta didik terlibat selama proses pembelajaran berlangsung. Secara implementatif metode pembelajaran dilaksanakan sebagai teknik pembelajaran. Secara utuh bila dirangkai dari filosofinya rangkaian itu adalah dari pendekatan,  model, stategi, metode, dan teknik pembelajaran. 
2.    Klasifikasi-Metode-Pembelajaran
Metode bukan merupakan tujuan, melainkan cara untuk mencapai tujuan sebaik-baiknya. Untuk itu tidak mungkin membicarakan metode tanpa mengetahui tujuan yang hendak dicapai. Berhasil tidaknya tujuan yang akan dicapai bergantung pada penggunaan metode yang tepat. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa sebenarnya tidak ada metode mengajar yang paling baik atau buruk. Yang ada adalah guru yang cakap dengan tidak cakap dalam memilih dan mempergunakan-metode-dalam-pembelajaran.
Klasifikasi metode pembelajaran, hanya untuk memudahkan guru dalam memilih metode sesuai dengan strategi yang akan dipilih. Untuk itu klasifikasi disini didasarkan pada strategi pembelajaran. Klasifikasi metode pembelajaran dimaksud adalah sbb.
a.    Startegi pembelajaran langsung. Strategi ini sangat diarahkan oleh guru, dan metode yang cocok antara lain: ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan, dan drill.
b.    Strategi pembelajaran tidak langsung, sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penemuan. Strategi ini berpusat pada peserta didik. Metode yang cocok digunakan antara lain: inkuiri, studi kasus, pemecahan masalah, peta konsep.
c.    Strategi pembelajaran interaktif. Strategi ini menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik, maka metode yang cocok antara lain: diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau projek, kerja berpasangan.
d.   Strategi pembelajaran mandiri. Strategi pembelajaran ini bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri. Bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Memberikan kesempatan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam merencanakan dan memacu belajarnya sendiri. Dapat dilaksanakan sebagai rangkaian dari metode lain atau sebagai strategi pembelajaran tunggal untuk keseluruhan unit. Metode yang cocok antara lain: pekerjaan rumah, karya tulis, projek penelitian, belajar berbasisi komputer, E-learning.
e.    Belajar melalui pengalaman. Berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif. Metode yang cocok antara lain: bermain peran, observasi/survey,dan simulasi.
3.    Prinsip-prinsip-Metode-Pembelajaran
Prinsip-prinsip dalam pembahasan ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan metode pembelajaran. Prinsip umum penggunaan metode pembelajaran adalah bahwa tidak semua metode pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan pembelajaran dan keadaan pembelajaran berlangsung. Semua metode pembelajaran memiliki kekhasan sendiri-sendiri dan relevan dengan tujuan pembelajaran tertentu namun tidak cocok untuk tujuan dan keadaan yang lain. Dengan kata lain, semua metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Guru sebagai agency of change harus mampu memillih metode yang tepat sesuai dengan tujuan dan keadaan pembelajaran. Kesalahan dalam memilih metode dalam mengajar berarti guru telah merancang kegagalan dalam pembelajaran.
Sebagai guide dalam memilih metode yang tepat, ada lima prinsip umum dalam menentukan metode pembelajaran;
a.     berorientasi pada tujuan pembelajaran
b.    berorientasi pada aktivitas peserta didik
c.    berorientasi pada individualitas, dan
d.   berorientasi pada integritas.
Berorientasi pada tujuan pembelajaran. Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas guru dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ini sangat penting, sebab mengajar adalah proses yang bertujuan. Oleh karena itu, keberhasilan suatu metode pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran dapat menentukan suatu metode yang harus digunakan guru akan tetapi hal ini sering dilupakan guru. Guru yang senang berceramah, hampir setiap tujuan menggunakan metode ceramah, seakan-akan dia berpikir bahwa segala jenis tujuan dapat dicapai dengan metode yang demikian. Hal ini tentu saja keliru. Apabila kita menginginkan peserta didik terampil menggunakan sesuatu tertentu, tidak mungkin menggunakan metode ceramah saja. Untuk mencapai tujuan yang demikian, peserta didik harus berpraktik secara langsung. Demikian juga, manakala kita menginginkan agar peserta didik dapat membacakan, menuliskan, menghafalkan, dll., tidak akan efektif kalau menggunakan metode diskusi. Untuk mencapai tujuan yang demikian guru harus menggunakan metode latihan, takrir, dll.
Aktivitas peserta didik. Belajar bukan sebatas aktivitas menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat (learning by doing) yakni memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, metode pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas peserta didik. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi meliputi aktivitas yang bersifat psikis atau aktifitas mental.
Oleh karena itu, dilihat dari segi jumlah peserta didik sebaiknya standar keberhasilan guru ditentukan setinggi-tingginya. Semakin tinggi standar keberhasilan ditentukan, maka semakin berkualitas proses pembelajaran.
Integritas. Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, akan tetapi meliputi pengembangan aspek afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu, pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik secara terintegrasi (ranah kognitif, afektif dan psikomotorik). Di samping itu, dalam Bab IV Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 dikatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Dari prinsip-prinsip di atas, maka faktor-faktor yang perlu di perhatikan dalam menentukan-metode-pembelajaran,-adalah:
a.  Pendidik/kemampuan pribadi pendidik/guru
b.    Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
c.    Keadan peserta didik
d.   Bidang studi/bahan pembelajaran
e.    Keadaan sarana dan fasilitas yang tersedia
f.     Situasi dan kondisi pembelajaran
g.    Waktu
Kemampuan guru merupakan pertimbangan di dalam pemilihan metode, sebab guru itulah yang melakukan pembelajaran. Sebaik apapun metode tersebut apabila guru yang melaksanakan tidak menguasai penggunaannya, maka metode tersebut tidak akan baik. Begitu juga tentang kemampuan peserta didik. Guru harus memperhatikan kemampuan intelektual anak, sehingga tepat penggunaan metodenya.
Jumlah peserta didik perlu digunakan dalam penentuan metode, di samping pertimbangan jenis materi juga sangat penting, karena jenis materi tertentu mempunyai kespesifikan masing-masing dalam menggunakan metode.
Waktu juga mempengaruhi guru di dalam menetukan metode, misalnya karena sesuatu hal maka waktu belajar peserta didik banyak digunakan kegiatan lain. Untuk itu guru harus mencari alternatif metode dengan waktu singkat mendapatkan materi yang banyak.
Fasilitas. Misalnya menurut jenis materinya Alquran, maka metode yang harus digunakan adalah metode pengamatan/pratikum, karena alat dan bahan kurang dapat diganti dengan demontrasi. Dalam memilih metode seorang guru harus memegang prinsip-prinsip antara lain:
1. Efektif dan efisien.
2. Digunakan secara bervariasi.
3. Digunakan dengan memadukan beberapa metode.
Efektif dan efisien harus selalu dipikirkan dalam penggunaan metode karena untuk supaya tidak terjadi pemborosan waktu maupun biaya dalam pembelajaran. Sedangkan variasi dan pemaduan penggunaan sangat menguntungkan karena untuk megurangi kebosanan, dan memudahkan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Karena masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangannya.
Perlu diketahui juga bahwa di dalam memandang keunggulan dan kelemahan metode perlu juga dipikirkan tentang prinsip-prinsip belajar, antara lain:
a. Prinsip motivasi.
b. Prinsip-prinsip keaktifan.
c. Prinsip umpan balik dan penguatan.
d. Prinsip kecepatan belajar.
4.    Pentingnya Metode pembelajaran
Pembelajaran tersusun atas seperangkat peristiwa (events) yang ada di luar diri sibelajar, diatur untuk maksud mendukung proses belajar yang terjadi dalam diri sibelajar tadi. Peristiwa-peristiwa pembelajaran itu adalah
a.    Menarik/membangkitkan perhatian
b.    memberitahukan tujuan belajar
c.    mengingat kembali hasil belajar pra-syarat
d.   menyajikan stimulas
e.    memberikan bimbingan belajar
f.     memunculkan perbuatan (kinerja) belajar
g.    memberikan balikan
h.    meningkatkan retensi dan transfer (Robert Gagne dalam Munandir, 2001:255)
            Metode pembelajaran Alquran adalah cara atau strategi dalam melakukan pembelajaran Alquran atau penyampaian bahan pengajaran dalam kegiatan pembelajaran. Atau suatu cara yang dipilih dan dilakukan guru ketika berinteraksi dengan anak didiknya dalam upaya menyampaikan bahan pengajaran agar bahan tersebut mudah dicerna, sesuai tujuan pembelajaran yang ditargetkan. Pada sisi lain, pembelajaran adalah proses interaksi pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar... Secara teoritik, ragam metode pembelajaran ini dipelajari dalam ilmu tersendiri yaitu metodik (didaktik khusus). Dan seorang guru harus menguasai berbagai metode pembelajaran, karena metode mempunyai peran penting dalam mencapai keberhasilan suatu pembelajaran. Hal ini dapat dilihat pada tugas dan manfaatnya sebagai berikut;
       Metode, menjadikan proses dan hasil belajar mengajar lebih berdaya guna dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran anak didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran Islam. Dengan demikian tugas utama metode pendidikan/pembelajaran Islam adalah :
a.    Mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar peserta didik mengetahui, memahami, menghayati, dan meyakini materi yang diberikan, serta meningkatkan keterampilan olah pikir.
b.    Membuat perubahan dalam sikap dan minat serta penemuan nilai dan norma (yang berhubungan dengan pelajaran) dan perubahan dalam pribadi anak serta yang demikian diharapkan menjadi pendorong kearah perbuatan nyata.
Sedangkan manfaat metode pembelajaran adalah;
a.    Membantu peserta didik dalam proses pembelajaran untuk tujuan mencapai pembelajaran;
b.    menghilangkan dinding pemisah antara pendidik dan peserta didik/memberi inspirasi pada peserta didik;
c.    Menggali dan memanfaatkan potensi peserta didik;
d.   Terjadi kemitraan antara pendidik dan peserta didik;
e.    Mempermudah dan menyerap informasi;
f.     Mempercepat sampai pada tujuan/mengarahkan keberhasilan belajar;
g.    Terkoordinir dengan sistematis;
h.    Memperoleh wawasan yang luas/utuh;
i.      Mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki;
C. Peranan guru dalam pembelajaran Alquran
Sebagaimana diungkapkan di atas, bahwa membaca Alquran yang diturunkan dalam Bahasa Arab, yang mempunyai susunan kata dan bahasa yang sangat tinggi. Dan dalam soal yang berkaitan dengan bahasa, orang sepandai apapun sulit rasanya untuk mengekspresikan fonetik suatu bahasa tanpa bimbingan seorang yang ahli dalam bidangnya, apalagi bahasa Alquran. Oleh karena itu peran guru dalam pembelajaran Alquran harus:
1.    Mencontohkan dan menanamkan adab sopan santun atau tata cara berhadapan dengan Alquran
2.    Memahami dan melaksanakan tugas sebagai penjaga kemurnian Alquran
3.    Sebagai sanad yang menghubungkan mata rantai sanad sehingga bersambung kepada Rasulullah saw.
4.    Menjaga dan mengembangkan  minat baca anak didik
5.    Sebagai mentashhih bacaan
6.    Mengikuti dan mengevaluasi perkembangan anak didik. (Ashim Wa al Hafizh,1994:64)
Guru dituntut untuk mempunyai tujuan yang suci dalam memeran tugasnya, agar bernilai ibadah disisi Allah swt. Secara umum tujuan mengajar memang untuk memenuhi tugas dalam rangka menyelesaikan suatu program, tapi secara khusus adalah
1.    Suatu pernyataan (ekspresi) rasa bersyukur atas nikmat, karunia dan hidayah ilmu yang diberikan Allah swt.
2.    Sebagai kewajiban moral, setiap yang punya ilmu dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas keilmuannya.
3.    Dapat menyumbangkan dan mengembangkan ilmunya sesuai dengan profesi yang dimilikinya (Rosniati Hakim: 2011).
D. Metode-metode pembelajaran Alquran
Dalam praktek pengajaran/pembelajaran, hampir tidak mungkin digunakan satu metode secara khusus untuk menyampaikan satu rangkaian bahan pelajaran kepada murid. Biasanya  dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada murid menggunakan metode gabungan yang terdiri atas berbagai-bagai metode. “Kombinasi penggunaan dari bebera metode mengajar merupakan keharusan dalm praktek/pelaksanaan mengajar” (Nana Sudjana, 1989:97). Diantara metode pembelajaran Alquran yaitu
1.    Metode memberitahu, membaca dan mendengar/sima’i
2.    Metode meniru/pengulangan/takrir dan mengingat
3.    Metode memusatkan perhatian
4.        Metode ceramah dan menerangkan
5.        Metode penugasan/resitasi dan latihan/driil
6.        Metode Tanya jawab
7.        Metode observasi/pengamatan
8.        Metode Demonstrasi, Simulasi
9.        Metode mencontohkan, menciplak, menebalkan, merangkai, menyalin,dikte
10.    Metode Metode global/gabungan
E. Beberapa prinsip, langkah dan teori perlu dipahami guru
1. Prinsip-prinsip dalam mengajar baca tulis alquran
a.    Niat yang ikhlas, di samping itu, kooperasi, kompetisi, korelasi dan integrasi, aplikasi dan trasformasi.
b.    Informasikan pada siswa bahwa membaca Alquran adalah suatu ibadah.
2.    Langkah-langkah mengajarkan ayat-ayat
a.    Pengantar sesuatu yang menarik (tentang alquran) sebaiknya guru membicarakan.
b.    Mencontohkan bacaan yang fashih, kecepatan wajar, disertai dengan khusyuk dan ikhlas.
c.    Siswa menyimak/mendengar guru membaca.
d.   Dalam menyalin tulisan :
0)    Perlu adanya pendalaman bentuk-bentuk huruf.
1)   Latihan-latihan harus sistematis dan terprogram.
2)   Latihan-latihan diarahkan kepada keterampilan pemikiran.
3)   Langkah-langkah tersebut dilaksanakan di madrasah dan atau di rumah.
3.    Menggunakan teori ANALOGI (menyama-nyamakan) sebagai sugesti agar siswa merasa mudah dalam belajar, seperti :
1)        Mengumpulkan kata-kata yang sama / hampir sama
2)        Kata yang banyak digunakan dalam Alquran.
3)        Dalam membaca ayat harus memperhatiakn huruf, mad, harkat, makhraj, ibtida’ dan waqaf, dan lain-lain. 
F. Pola Umum Pembelajaran Menghafal Surat-surat tanpa teks.
Secara umum kegiatan belajar mengajar menghafal surat-surat pendek/pilihan adalah sebagai berikut :
1.        Guru membacakan surat yang harus dihafal itu keseluruhannya dengan suara yang jelas dan tempo bacaan yang sedang, murid menyimak, kemudian diulangi membacakannya dengan tempo bacaan lambat.
2.        Guru membacakan surat itu per-ayat atau per-penggal ayat, siswa menirunya secara klasikal.
3.        Guru membacakan surat itu per-ayat atau per-penggal ayat, siswa menirunya secara kelompok.
4.        Siswa secara perorangan (yang dianggap mampu) melafazkan surat itu per-ayat atau per-penggal ayat yang diikuti oleh siswa lainnya.
5.        Guru membacakan beberapa ayat atau kalau ayatnya panjang cukup satu ayat, siswa menirunya secara klasikal.
6.        Siswa secara perorangan melafazkan beberapa ayat tadi, siswa lain mengikuti.
7.        Siswa secara perorangan melafazkan keseluruhan surat itu.
8.        Siswa secara perorangan melafazkan surat itu per-ayat, siswa lain menirukannya.
9.        Siswa secara klasikal memperagakan hasil hafalannya dan guru membimbing.
10.    Pekerjaan rumah untuk memperlancar hafalan surat tadi.
G. Pola Umum Pembelajaran Membaca Alquran.
Dalam hal mengajar membaca Alquran secara umum pembelajaran adalah;:
a.         Guru membacakan materi baru secara keseluruhan, siswa menyimak.
b.        Guru membacakan materi tadi, kalimat demi kalimat, siswa menirukan.
c.         Siswa, baik secara klasikal, kelompok dan perorangan membaca materi tadi, guru membimbing.
d.        Siswa berlatih menemukan/menciptakan kombinasi huruf-huruf yang menyerupai kata.
e.         Siswa berlatih membaca secara berkelompok.
f.         Siswa memperagakan bacaan dan guru menilai.
g.        Siswa diberi pekerjaan rumah atau tugas-tugas.
H. Pola Umum Pembelajaran Menulis/menyalin Alquran
Secara umum kegiatan pembelajaran menulis Alquran adalah sebagai berikut
a.       Latihan menulis huruf hijaiyyah
1)      Latihan permulaan
-          Meniru dengan gerakan tangan
-          Menjiplak
-          Menebalkan
2)      Latihan menulis menirukan :
-          Menirukan berurutan menurut huruf hijaiyyah
-          Meniru berurutan berdasarkan persamaan bentuk huruf.
-          Menurut keinginan siswa.
2)      Latihan menulis secara kelompok-kelompok.
3)      Menulis imlak huruf jika memungkinkan
b.      Latihan menulis kata/kalimat/ayat Alquran
1)      Latihan menulis kata yang dicontohkan guru.
2)      Latihan menulis menurut pilihan siswa.
3)      Latihan menulis kalimat thaiyibah tanpa melihat contoh.
Jika memungkinkan, menulis atas dasar pendengaran bukan penglihatan. Semua kegiatan tersebut dapat dilakukan secara klasikal, kelompok dan perorangan, serta selalu diiringi oleh evaluasi dan pada akhir pelajaran siswa diberi pekerjaan rumah.(Departemen Agama RI Pedoman guru PAI Seri 8, Cara Mengajarkan Membaca Alquran tingkat dasar, 1990:14-15)
I. Metode pembelajaran Alquran menurut para ahli. 
         Metode/cara Mengajarkan Alquran menurut Mahmud Yunus
1.    Melalui hafalan ayat /surat yang mudah dalam shalat
2.    Mengajarkan huruf-huruf Alquran + tanda bacanya.
3.    Melalui tulisan, membaca, melatih dan menghafal.
4.    Mengajarkan artinya.
5.    Melatih mencari dalam mashhaf, halaman dan ayat.
6.    Menyalinnya.
7.    Membaca, yang lain menyimak.
8.    Ajarkan membacanya di rumah dengan bantuan jadwal dari guru. (Metodik khusus pendidikan agama)
         Metode/Cara mengajarkan alquran menurut Muhammad Salih Samak,
         Pada tahun-tahun permulaan di tingkat sekolah rendah adalah dengan menyuruh murid menghafal setengah-setengah ayat yang pendek, melalui cara mendengar, mengikuti dan mengulanginya beberapa kali. Secara luas dapat diikuti cara berikut:
1.    Memulai pelajaran dengan sesuatu unsur yang munasabah.
2.    Membentangkan teks ayat atau surat di papan dengan tulisan yang terang dan nyata.
3.    Membacakan kepada murid dengan bacaan yang baik; perlahan-lahan dan penuh perasaan.
4.    Menerangkan maknanya dengan keterangan yang  berpatutan.
5.    Mengulangi bacaan teks ayat.
6.    Menyuruh murid membaca seorang-seorang, dan atau beramai-ramai. (Ilmu Pendidikan, Fannut-tadris, 1983:68-70)
III. PENUTUP
            Demikian sajian materi ini sebagai bahan pengantar diskusi, sehingga bagaimana metode pembelajaran Alquran itu sesungguhnya telah berjalan, dan sedang dihadapi serta kita bisa mengembangkan bagaimana ke depannya. Apa yang dibutuhkan masyarakat, tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berjalan sangat cepat ini. Tentu kita bisa meraih dan mengisi berbagai peluang dan kesempatan, di samping banyak tantangan dan kelemahan yang terbentang di hadapan kita, tidak akan menjadi penghalang untuk maju. Yang jelas metode adalah alat atau cara untuk mencapai tujuan yang bersifat procedural, dan teknik pembelajaran merupakan pelaksanaan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan yang bersifat implementatif. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Guru dituntut mengetahui dan memahami pola-pola umum pembelajaran baik membaca, menulis, menghafal dan mengamalkan Alquran, di samping metode pembelajarannya. (http://zaifbio.wordpress.com/2009/07/01/konsep-dasar-metode-dan-teknik-pembelajaran/30042014

Terima kasih
Wassalam,
Rosniati hakim


DAFTAR PUSTAKA
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Tersedia di http://mgmpips.wordpress.com/pendekatan-pembelajaran/Mrs.Admin. diakses tanggal 12 September 2011.
Alhsby Abu Abdu. Model Pembelajaran tersedia di http :// khairuddinhsb.blogspot.com/ model-pembelajaran-inductive-thinking.html
J.J. Hasibuan, Moedjiono. 1988. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya.
Moedjiono dan Moh. Dimyati. 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: DEPDIKBUD
Nasution, Noehi, dkk.2007. Pendidikan IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka

Roestiyah N.K,  Yumiati Suharto. 1985. Srategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta : Kencana.


Senjaya Wina. 2008. Pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran.Tersedia di http://akhmadsudrajat.wordpress.com/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/. diakses tanggal 12 September 2011.

 

 Sudjana, Nana. 1989. Dasar- Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru. Di akses tanggal 22 September 2010.


Sudrajat Akhmad. 2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan Model Pembelajaran. Tersedia di http://smacpiring.wordpress.com/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/. Diakses Tanggal 22 September 2010.

Syah Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosda Karya.

Toeti Soekamto. 1997. Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Zaif. 2009.  Model-model pembelajaran. tersedia di http://zaifbio.wordpress.com/model-model-pembelajaran/. diakses tanggal 19 September 2011.






                [1] Disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Mutu TPQ/TQA dan MDT se Kecamatan Kuranji, dilaksanakan oleh Camat Kuranji Kota Padang, di Aula Kantor Camat Kuranji Padang, Jum’at, 06 Maret 2015 M/ 10 Jumadil Awal 1436 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar