Rosniati
Hakim
Dosen
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol Padang
I. Pendahuluan
Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Nasional
sebagaimana disebutkan dalam GBHN, terutama dalam hal meningkatkan keimanan dan
ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maka pendidikan agama mempunyai peranan
sangat penting dan menentukan.
Visi dan misi lembaga Taman Pendidikan Alquran (TPQ/TQA) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) sebagai lembaga pendidikan Islam non formal, sangat memberikan konstribusi dalam menuju tujuan tersebut.
Visi dan misi lembaga Taman Pendidikan Alquran (TPQ/TQA) dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) sebagai lembaga pendidikan Islam non formal, sangat memberikan konstribusi dalam menuju tujuan tersebut.
Sejak awal Alquran diturunkan secara talaqi
(langsung) dan secara hafalan. Rasulullah saw. sebagai imam para hafidz Alquran, menerima Alquran secara talaqi dari malaikat pembawa wahyu, yakni malaikat
jibril sebagai gurunya, dan demikian seterusnya, beliau mengajarkannya kepada
sahabatnya juga secara talaqi, sehingga Alquran sampai kepada kita sekarang.
Sehubungan dengan hal tersebut
As-Suyuti bahkan mengharuskan belajar Alquran harus dengan guru yang memiliki
sanad shahih, yakni guru yang jelas, tertib sanadnya, tidak cacat dan
bersambung sehingga kepada Rasulullah SAW, dengan alasan bahwa Rasulullah saw.,
mengambil bacaan dari malaikat secara langsung dalam bulan ramadhan pada
setiap tahun, dan bahkan pada tahun terakhir hayatnya, beliau masih
mencocokkannya kepada malaikat jibril sebanyak dua kali. Di samping itu, dalam
soal yang berkaitan dengan bahasa, orang sepandai apapun sulit rasanya untuk
mengekspresikan fonetik suatu bahasa tanpa bimbingan seorang yang ahli dalam
bidangnya, apalagi bahasa Alquran. Oleh karena itu seorang guru memiliki peranan yang penting, sebagai penjaga kemurnian Alquran dan sebagai Pentashih
bacaan.
Di samping hal-hal itu, seorang guru harus peka
terhadap perkembangan proses bacaan siswa, baik yang berkaitan dengan kemampuan
membaca, rutinitas bacaan tambahan dan takrir, ataupun yang berkaitan dengan
psikologis pembaca. Seorang guru bukan hanya sekedar memberikan motivasi, tapi
juga yang lebih penting adalah mengendalikan, sehingga pembaca tidak merasa
dipaksa oleh semangat yang di luar batas kemampuannya. Dengan adanya hal-hal
sebagaimana tersebut di atas maka diharapkan akan mendorong tercapainya proses
membaca Alquran
dengan kualitas yang baik.
Metode
memiliki peran yang sangat strategis dalam mengajar. Metode berperan sebagai
rambu-rambu atau “bagaimana memproses” pembelajaran sehingga dapat berjalan
baik dan sistematis. Bahkan dapat dikatakan proses pembelajaran tidak dapat
berlangsung tanpa suatu metode. Karena itu, setiap guru dituntut menguasai
berbagai metode dalam rangka memproses pembelajaran efektif, efesien,
menyenangkan dan tercapai tujuan pembelajaran yang ditargetkan. Secara
implementatif metode pembelajaran dilaksanakan sebagai teknik, yaitu
pelaksanakan apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai
tujuan. Oleh karena itu, melalui pelatihan ini, seorang guru mengulang kembali,
memahami apa artinya sebuah metode dalam pembelajaran dan hubungannya dengan
tujuan/hasil yang hendak dicapai dalam sebuah pembelajaran Alquran. Bagaimana
menerapkan metode dalam pembelajaran Alquran.
II.
PEMBAHASAN
A. Taman Pendidikan Alquran (TPQ)/TQA Dan Madrasah
Diniyah Takmiliyah (MDT)
Visi TPQ/TQA adalah menyiapkan generasi Qurani yang beriman dan bertaqwa,
menjadikan Alquran sebagai bacaan utama dan pedoman hidupnya, berakhlak mulia,
cerdas, trampil, sehat punya rasa tanggung jawab moral dan social demi
menggapai masa depan yang islami. Sedangkan misi TPQ/TQA adalah
pendidikan dan dakwah, yaitu sebagai pemantap misi pendidikan Islam di
TK/SD/MI, serta sebagai bagian dari gerakan dakwah islamiyah yang berhubungan
erat dengan kemasjidan dan dakwah. (Kurikulum TPA, BKS TPA-TPSA Padang, 2004: 6)
Sebagai lembaga pendidikan Islam non formal dibidang
Alquran tingkat dasar serta dasar-dasar agama Islam, TPQ mempunyai tujuan:
1.
Membantu mengembangkan potensi anak ke arah mampu dan lancar
membaca Alquran, pembentukan sikap, pengetahuan dan keterampilan keagamaan
2.
Mempersiapkan anak melanjutkan ketingkat yang lebih tinggi
Untuk dapat mencapai tujuan di atas diperlukan
penyelenggaraan pendidikan Alquran di
TPQ secara baik khususnya tentang proses pembelajarannya. Dalam hal ini, guru adalah merupakan kunci
penting proses dimaksud. Setiap usaha peningkatan mutu pendidikan seperti
pembaruan kurikulum, pengembangan dan
penggunaan metode-metode mengajar,
penyediaan sarana-prasarana hanya akan
berarti apabila melibatkan guru. (Fasli Jalal, 2001:262). Usaha pembinaan mutu
guru, terutama kepada usaha meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola proses
belajar mengajar atau proses pembelajaran dan memanfaatkan waktu belajar
sehingga benar-benar efektif, perlu menjadi perhatian. Kedua hal ini merupakan
dasar bagi proses belajar yang berhasil yang pada akhirnya bermuara pada hasil
belajar anak didik.
Tujuan pendidikan di MDA/MDT adalah untuk:
1.
Memberikan
bekal kemampuan dasar kepada warga belajar untuk mengembangkan kehidupannya
sebagai: warga muslim yang beriman, bertakwa, dan beramal saleh, serta berakhlak
mulia; warga Indonesia yang berkepribadian, percaya pada diri sendiri, serta
sehat jasmani dan rohaninya.
2.
Membina
warga belajar agar memiliki pengalaman, pengetahuan, keterampilan beribadah,
dan sikap terpuji yang berguna bagi pengembangan pribadinya.
3.
Mempersiapkan
warga belajar untuk dapat mengikuti pendidikan agama Islam pada MDT Wustha
(MDW)
Fungsi MDT antara lain adalah menyelenggarakan
pendidikan agama Islam yang meliputi Alquran-Hadits, tajwid, akidah-akhlak,
fikih, sejarah
kebudayaan Islam, bahasa Arab, dan praktik ibadah. Sejak tahun
1983 MDA resmi telah memakai kurikulum secara nasional. Namun kurikulum
tersebut mendapat tanggapan dari berbagai pihak karena dianggap terlalu berat.
Sementara masyarakat meginginkan model kurikulum yang sederhana. Dalam
perkembangan selanjutnya kurikulum MDT megalami beberapa kali perubahan hingga
lahirnya kurikulum tahun 2007, 2010, dst.
Kurikulum MDT tahun 2003 misalnya, ditetapkan
berbagai kompetensi yang meliputi: kompetensi rumpun Madrasah
Diniyah, kompetensi spesifik pendidikan keagamaan Madrasah
Diniyah, kompetensi umum Madrasah
Diniyah, kompetensi jenjang Madrasah
Diniyah.
1.
Kompetensi
rumpun Madrasah Diniyah adalah
peserta didik beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berakhlak mulia, yang
mencerminkan dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara;
memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya.
2.
Kompetensi
spesifik pendidikan keagamaan Madrasah Diniyah,
adalah dengan landasan Alquran dan Hadits Nabi Muhammad saw. peserta didik
beriman dan bertakwa kepada Allah swt., berakhlak mulia yang tercermin dalam
perilaku sehari-hari dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan alam sekitar,
mampu membaca Alquran, mampu beribadah, dan bermu’amalah dengan baik dan
benar.
3.
Kompetensi
Umum Madrasah Diniyah dimaksud di bidang Alquran adalah hafal surat pilihan,
mampu membaca, menulis ayat-ayat Alquran.
4.
Kompetensi
Jenjang MDT, di bidang Alquran adalah Mampu membaca Alquran dengan benar (Jakarta:
Depatemen Agama, RI., 2003)
Dalam panduan Madrasah
Diniyah tahun 2007, kurikulum Diniyah Takmiliyah
hanya mengemukakan kompetensi lulusan, yang kemudian dapat dijabarkan sesuai
dengan kondisi riil madrasah yang
berkembang di masyarakat. Kompetensi lulusan dimaksud
adalah merupakan
pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan
dalam kebiasaan berfikir dan bertindak setelah murid menyelesaikan jenjang
pendidikan. Disamping itu juga merupakan batas dan arah kompetensi yang harus
dimiliki dan dapat dilakukan oleh peserta didik setelah
mengikuti proses pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu.
Kompetensi lulusan ini dibagi dalam tiga
bidang, yaitu:
Pertama kompetensi
lulusan dalam bidang pengetahuan;
a.
memiliki
pengetahuan dasar tentang agama Islam.
b.
memiliki
pengetahuan dasar tantang Bahasa Arab sebagi alat untuk memahami ajaran gama
Islam.
Kedua, dalam bidang
pengalaman;
a. dapat mengamalkan ajaran agama Islam
b. dapat belajar dengan cara yang baik
c. dapat bekerja sama dan dapat mengambil
bagian dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakan.
Ketiga, dalam bidang
nilai dan sikap;
a.
cinta
terhadap agama lslam dan bertekat untuk melakukan ibadah shalat dan ibadah
lainnya.
b.
berminat dan
bersikap positif terhadap ilmu pengetahuan
c.
mematuhi
disiplin dan peraturan yang berlaku
d.
menghargai
kebudayaan nasional dan kebudayaan lainnya yang tidak bertentangan dengan
ajaran agama Islam;
e.
memiliki
sikap demokratis dan mencintai sesama manusia dan lingkungan sekitarnya
f.
Menghargai
setiap pekerjaan dan usaha yang halal
g.
Menghargai
waktu, hemat dan produktif (Direktorat
Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (tim), Pedoman Penyelenggaraan MDT...).
B.
Metode Pembelajaran
Pada
bagian ini akan dibahas mengenai: Pengertian Metode dan Teknik Pembelajaran,
Klasifikasi Metode Pembelajaran, dan Faktor-faktor dalam Menentukan Metode
Pembelajaran
1.
Pengertian-Metode-Pembelajaran
Metode adalah cara untuk
mencapai tujuan. Metode mengajar adalah cara yang digunakan guru dalam
mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran, untuk
mencapai tujuan pengajaran. Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan,
langkah-langkah, dan cara yang digunakan guru dalam pencapaian tujuan
pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran dari
pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode
pembelajaran.
Metode
secara harfiah berarti “cara”. Secara umum, metode diartikan sebagai suatu cara
atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam pendapat lain
juga dijelaskan bahwa metode adalah cara atau prosedur yang dipergunakan oleh
fasilitator dalam interaksi belajar dengan memperhatikan keseluruhan sistem
untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan kata “mengajar” sendiri berarti memberi
pelajaran (Fathurrohman dan Sutikno, 2007; 55).
Dengan
demikian, metode mengajar merupakan cara-cara menyajikan bahan pelajaran kepada
peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Metode itu sendiri
merupakan salah satu sub system dalam sistem pembelajaran, yang tidak bisa
dilepaskan begitu saja. Oleh karena itu, salah satu masalah yang sangat memerlukan
perhatian dalam kegiatan pembelajaran adalah metode pembelajaran (learning
method). Metode digunakan oleh guru untuk mengkreasi lingkungan belajar dan
menkhususkan aktivitas di mana guru dan peserta didik terlibat selama proses
pembelajaran berlangsung. Secara implementatif metode pembelajaran dilaksanakan
sebagai teknik pembelajaran. Secara utuh bila dirangkai dari filosofinya rangkaian
itu adalah dari pendekatan, model,
stategi, metode, dan teknik pembelajaran.
2.
Klasifikasi-Metode-Pembelajaran
Metode
bukan merupakan tujuan, melainkan cara untuk mencapai tujuan sebaik-baiknya.
Untuk itu tidak mungkin membicarakan metode tanpa mengetahui tujuan yang hendak
dicapai. Berhasil tidaknya tujuan yang akan dicapai bergantung pada penggunaan
metode yang tepat. Hal tersebut mengingatkan kita bahwa sebenarnya tidak ada
metode mengajar yang paling baik atau buruk. Yang ada adalah guru yang cakap
dengan tidak cakap dalam memilih dan mempergunakan-metode-dalam-pembelajaran.
Klasifikasi metode pembelajaran, hanya untuk memudahkan guru dalam memilih metode sesuai dengan strategi yang akan dipilih. Untuk itu klasifikasi disini didasarkan pada strategi pembelajaran. Klasifikasi metode pembelajaran dimaksud adalah sbb.
Klasifikasi metode pembelajaran, hanya untuk memudahkan guru dalam memilih metode sesuai dengan strategi yang akan dipilih. Untuk itu klasifikasi disini didasarkan pada strategi pembelajaran. Klasifikasi metode pembelajaran dimaksud adalah sbb.
a.
Startegi pembelajaran langsung.
Strategi ini sangat diarahkan oleh guru, dan metode yang cocok antara lain:
ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan, dan drill.
b.
Strategi pembelajaran tidak
langsung, sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan
keputusan dan penemuan. Strategi ini berpusat pada peserta didik. Metode yang
cocok digunakan antara lain: inkuiri, studi kasus, pemecahan masalah, peta
konsep.
c.
Strategi pembelajaran interaktif.
Strategi ini menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik, maka
metode yang cocok antara lain: diskusi kelas, diskusi kelompok kecil atau
projek, kerja berpasangan.
d.
Strategi pembelajaran mandiri.
Strategi pembelajaran ini bertujuan untuk membangun inisiatif individu,
kemandirian, dan peningkatan diri. Bisa dilakukan dengan teman atau sebagai
bagian dari kelompok kecil. Memberikan kesempatan peserta didik untuk
bertanggung jawab dalam merencanakan dan memacu belajarnya sendiri. Dapat
dilaksanakan sebagai rangkaian dari metode lain atau sebagai strategi
pembelajaran tunggal untuk keseluruhan unit. Metode yang cocok antara lain:
pekerjaan rumah, karya tulis, projek penelitian, belajar berbasisi komputer,
E-learning.
e.
Belajar melalui pengalaman.
Berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik dan berbasis
aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju
penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran
empirik yang efektif. Metode yang cocok antara lain: bermain peran,
observasi/survey,dan simulasi.
3.
Prinsip-prinsip-Metode-Pembelajaran
Prinsip-prinsip
dalam pembahasan ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan
metode pembelajaran. Prinsip umum penggunaan metode pembelajaran adalah bahwa
tidak semua metode pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan
pembelajaran dan keadaan pembelajaran berlangsung. Semua metode pembelajaran
memiliki kekhasan sendiri-sendiri dan relevan dengan tujuan pembelajaran
tertentu namun tidak cocok untuk tujuan dan keadaan yang lain. Dengan kata
lain, semua metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Guru
sebagai agency of change harus mampu memillih metode yang tepat sesuai
dengan tujuan dan keadaan pembelajaran. Kesalahan dalam memilih metode dalam
mengajar berarti guru telah merancang kegagalan dalam pembelajaran.
Sebagai
guide dalam memilih metode yang tepat, ada lima prinsip umum dalam menentukan
metode pembelajaran;
a.
berorientasi pada tujuan pembelajaran
b.
berorientasi pada aktivitas
peserta didik
c.
berorientasi pada individualitas,
dan
d.
berorientasi pada integritas.
Berorientasi
pada tujuan pembelajaran. Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen
yang utama. Segala aktivitas guru dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ini sangat penting, sebab mengajar
adalah proses yang bertujuan. Oleh karena itu, keberhasilan suatu metode
pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan
pembelajaran.
Tujuan
pembelajaran dapat menentukan suatu metode yang harus digunakan guru akan
tetapi hal ini sering dilupakan guru. Guru yang senang berceramah, hampir
setiap tujuan menggunakan metode ceramah, seakan-akan dia berpikir bahwa segala
jenis tujuan dapat dicapai dengan metode yang demikian. Hal ini tentu saja
keliru. Apabila kita menginginkan peserta didik terampil menggunakan sesuatu
tertentu, tidak mungkin menggunakan metode ceramah saja. Untuk mencapai tujuan
yang demikian, peserta didik harus berpraktik secara langsung. Demikian juga,
manakala kita menginginkan agar peserta didik dapat membacakan, menuliskan,
menghafalkan, dll., tidak akan efektif kalau menggunakan metode diskusi. Untuk
mencapai tujuan yang demikian guru harus menggunakan metode latihan, takrir,
dll.
Aktivitas peserta didik. Belajar
bukan sebatas aktivitas menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah
berbuat (learning by doing) yakni memperoleh pengalaman tertentu sesuai
dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, metode pembelajaran harus dapat
mendorong aktivitas peserta didik. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada
aktivitas fisik, akan tetapi meliputi aktivitas yang bersifat psikis atau
aktifitas mental.
Oleh karena itu, dilihat dari
segi jumlah peserta didik sebaiknya standar keberhasilan guru ditentukan
setinggi-tingginya. Semakin tinggi standar keberhasilan ditentukan, maka
semakin berkualitas proses pembelajaran.
Integritas.
Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi siswa.
Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, akan tetapi
meliputi pengembangan aspek afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu,
pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian
peserta didik secara terintegrasi (ranah kognitif, afektif dan psikomotorik).
Di samping itu, dalam Bab IV Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005
dikatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Dari prinsip-prinsip di
atas, maka faktor-faktor yang perlu di perhatikan dalam menentukan-metode-pembelajaran,-adalah:
a. Pendidik/kemampuan pribadi pendidik/guru
a. Pendidik/kemampuan pribadi pendidik/guru
b.
Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
c.
Keadan peserta didik
d.
Bidang studi/bahan pembelajaran
e. Keadaan sarana dan fasilitas yang tersedia
f. Situasi dan kondisi pembelajaran
g. Waktu
Kemampuan
guru
merupakan pertimbangan di dalam pemilihan metode, sebab guru itulah yang
melakukan pembelajaran. Sebaik apapun metode tersebut apabila guru yang
melaksanakan tidak menguasai penggunaannya, maka metode tersebut tidak akan
baik. Begitu juga tentang kemampuan peserta didik. Guru harus memperhatikan
kemampuan intelektual anak, sehingga tepat penggunaan metodenya.
Jumlah peserta didik perlu digunakan dalam penentuan metode, di samping pertimbangan jenis materi juga sangat penting, karena jenis materi tertentu mempunyai kespesifikan masing-masing dalam menggunakan metode.
Jumlah peserta didik perlu digunakan dalam penentuan metode, di samping pertimbangan jenis materi juga sangat penting, karena jenis materi tertentu mempunyai kespesifikan masing-masing dalam menggunakan metode.
Waktu
juga mempengaruhi guru di dalam menetukan metode, misalnya karena sesuatu hal
maka waktu belajar peserta didik banyak digunakan kegiatan lain. Untuk itu guru
harus mencari alternatif metode dengan waktu singkat mendapatkan materi yang
banyak.
Fasilitas.
Misalnya menurut jenis materinya Alquran, maka metode yang harus digunakan
adalah metode pengamatan/pratikum, karena alat dan bahan kurang dapat diganti
dengan demontrasi. Dalam memilih metode seorang guru harus memegang
prinsip-prinsip antara lain:
1. Efektif dan efisien.
2. Digunakan secara bervariasi.
3. Digunakan dengan memadukan beberapa metode.
1. Efektif dan efisien.
2. Digunakan secara bervariasi.
3. Digunakan dengan memadukan beberapa metode.
Efektif
dan efisien harus selalu dipikirkan dalam
penggunaan metode karena untuk supaya tidak terjadi pemborosan waktu maupun
biaya dalam pembelajaran. Sedangkan variasi dan pemaduan penggunaan sangat
menguntungkan karena untuk megurangi kebosanan, dan memudahkan peserta didik
dalam mencapai tujuan pembelajaran. Karena masing-masing metode mempunyai
kelebihan dan kekurangannya.
Perlu
diketahui juga bahwa di dalam memandang keunggulan dan kelemahan metode perlu
juga dipikirkan tentang prinsip-prinsip belajar, antara lain:
a. Prinsip motivasi.
b. Prinsip-prinsip keaktifan.
c. Prinsip umpan balik dan penguatan.
d. Prinsip kecepatan belajar.
a. Prinsip motivasi.
b. Prinsip-prinsip keaktifan.
c. Prinsip umpan balik dan penguatan.
d. Prinsip kecepatan belajar.
4.
Pentingnya Metode pembelajaran
Pembelajaran tersusun atas seperangkat peristiwa
(events) yang ada di luar diri sibelajar, diatur untuk maksud mendukung
proses belajar yang terjadi dalam diri sibelajar tadi. Peristiwa-peristiwa pembelajaran
itu adalah
a. Menarik/membangkitkan perhatian
b. memberitahukan tujuan belajar
c. mengingat kembali hasil belajar pra-syarat
d. menyajikan stimulas
e. memberikan bimbingan belajar
f. memunculkan perbuatan (kinerja) belajar
g. memberikan balikan
h. meningkatkan retensi dan transfer (Robert Gagne dalam
Munandir, 2001:255)
Metode
pembelajaran Alquran
adalah cara atau strategi dalam melakukan pembelajaran Alquran atau penyampaian
bahan pengajaran dalam kegiatan pembelajaran. Atau suatu cara yang
dipilih dan dilakukan guru ketika berinteraksi dengan anak didiknya dalam upaya
menyampaikan bahan pengajaran agar bahan tersebut mudah dicerna, sesuai tujuan
pembelajaran yang ditargetkan. Pada sisi lain, pembelajaran adalah proses
interaksi pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar... Secara teoritik,
ragam metode pembelajaran ini dipelajari dalam ilmu tersendiri yaitu metodik
(didaktik khusus). Dan seorang guru harus menguasai berbagai metode
pembelajaran, karena metode mempunyai peran penting dalam mencapai keberhasilan
suatu pembelajaran. Hal ini dapat dilihat pada tugas dan manfaatnya sebagai
berikut;
Metode,
menjadikan proses dan hasil belajar mengajar lebih berdaya guna dan berhasil
guna dan menimbulkan kesadaran anak didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran
Islam. Dengan demikian tugas utama metode pendidikan/pembelajaran Islam
adalah :
a. Mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan
paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi melalui
penyampaian keterangan dan pengetahuan agar peserta didik mengetahui, memahami,
menghayati, dan meyakini materi yang diberikan, serta meningkatkan keterampilan
olah pikir.
b. Membuat perubahan dalam sikap dan minat serta
penemuan nilai dan norma (yang berhubungan dengan pelajaran) dan perubahan
dalam pribadi anak serta yang demikian diharapkan menjadi pendorong kearah
perbuatan nyata.
Sedangkan manfaat metode pembelajaran adalah;
a. Membantu peserta didik dalam proses pembelajaran
untuk tujuan mencapai pembelajaran;
b. menghilangkan dinding pemisah antara pendidik dan
peserta didik/memberi inspirasi pada peserta didik;
c. Menggali dan memanfaatkan potensi peserta didik;
d. Terjadi kemitraan antara pendidik dan peserta didik;
e. Mempermudah dan menyerap informasi;
f. Mempercepat sampai pada tujuan/mengarahkan
keberhasilan belajar;
g. Terkoordinir dengan sistematis;
h. Memperoleh wawasan yang luas/utuh;
i. Mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki;
C. Peranan guru dalam pembelajaran Alquran
Sebagaimana diungkapkan di atas, bahwa membaca
Alquran yang diturunkan dalam Bahasa Arab, yang mempunyai susunan kata dan
bahasa yang sangat tinggi. Dan dalam soal yang berkaitan dengan bahasa, orang
sepandai apapun sulit rasanya untuk mengekspresikan fonetik suatu bahasa tanpa
bimbingan seorang yang ahli dalam bidangnya, apalagi bahasa Alquran. Oleh
karena itu peran guru dalam pembelajaran Alquran harus:
1. Mencontohkan dan menanamkan adab sopan santun atau
tata cara berhadapan dengan Alquran
2. Memahami dan melaksanakan tugas sebagai penjaga
kemurnian Alquran
3. Sebagai sanad yang menghubungkan mata rantai sanad
sehingga bersambung kepada Rasulullah saw.
4. Menjaga dan mengembangkan minat baca anak didik
5. Sebagai mentashhih bacaan
6. Mengikuti dan mengevaluasi perkembangan anak didik.
(Ashim Wa al Hafizh,1994:64)
Guru dituntut untuk mempunyai tujuan yang suci dalam
memeran tugasnya, agar bernilai ibadah disisi Allah swt. Secara umum tujuan
mengajar memang untuk memenuhi tugas dalam rangka menyelesaikan suatu program,
tapi secara khusus adalah
1. Suatu pernyataan (ekspresi) rasa bersyukur atas
nikmat, karunia dan hidayah ilmu yang diberikan Allah swt.
2. Sebagai kewajiban moral, setiap yang punya ilmu
dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas keilmuannya.
3. Dapat menyumbangkan dan mengembangkan ilmunya sesuai
dengan profesi yang dimilikinya (Rosniati Hakim: 2011).
D. Metode-metode pembelajaran Alquran
Dalam praktek pengajaran/pembelajaran, hampir tidak
mungkin digunakan satu metode secara khusus untuk menyampaikan satu rangkaian
bahan pelajaran kepada murid. Biasanya
dalam menyampaikan bahan pelajaran kepada murid menggunakan metode
gabungan yang terdiri atas berbagai-bagai metode. “Kombinasi penggunaan
dari bebera metode mengajar merupakan keharusan dalm praktek/pelaksanaan
mengajar” (Nana Sudjana, 1989:97). Diantara metode pembelajaran Alquran
yaitu
1.
Metode memberitahu, membaca dan mendengar/sima’i
2.
Metode meniru/pengulangan/takrir dan mengingat
3.
Metode memusatkan perhatian
4.
Metode ceramah dan menerangkan
5.
Metode penugasan/resitasi dan latihan/driil
6.
Metode Tanya jawab
7.
Metode observasi/pengamatan
8.
Metode Demonstrasi, Simulasi
9.
Metode mencontohkan, menciplak, menebalkan, merangkai,
menyalin,dikte
10.
Metode Metode global/gabungan
E. Beberapa prinsip, langkah dan teori perlu dipahami guru
1.
Prinsip-prinsip dalam mengajar baca tulis alquran
a. Niat yang ikhlas, di samping itu, kooperasi,
kompetisi, korelasi dan integrasi, aplikasi dan trasformasi.
b. Informasikan pada siswa bahwa membaca Alquran adalah
suatu ibadah.
2. Langkah-langkah mengajarkan ayat-ayat
a. Pengantar sesuatu yang menarik (tentang alquran)
sebaiknya guru membicarakan.
b. Mencontohkan bacaan yang fashih, kecepatan wajar,
disertai dengan khusyuk dan ikhlas.
c. Siswa menyimak/mendengar guru membaca.
d. Dalam menyalin tulisan :
0)
Perlu adanya pendalaman bentuk-bentuk huruf.
1) Latihan-latihan harus sistematis dan terprogram.
2) Latihan-latihan diarahkan kepada keterampilan
pemikiran.
3) Langkah-langkah tersebut dilaksanakan di madrasah dan
atau di rumah.
3. Menggunakan teori ANALOGI (menyama-nyamakan) sebagai
sugesti agar siswa merasa mudah dalam belajar, seperti :
1)
Mengumpulkan kata-kata yang sama / hampir sama
2)
Kata yang banyak digunakan dalam Alquran.
3)
Dalam membaca ayat harus memperhatiakn huruf, mad, harkat,
makhraj, ibtida’ dan waqaf, dan lain-lain.
F. Pola Umum Pembelajaran Menghafal Surat-surat tanpa teks.
Secara umum kegiatan belajar mengajar menghafal
surat-surat pendek/pilihan adalah sebagai berikut :
1.
Guru membacakan surat
yang harus dihafal itu keseluruhannya dengan suara yang jelas dan tempo bacaan
yang sedang, murid menyimak, kemudian diulangi membacakannya dengan tempo
bacaan lambat.
2.
Guru membacakan surat itu per-ayat atau per-penggal ayat, siswa
menirunya secara klasikal.
3.
Guru membacakan surat itu per-ayat atau per-penggal ayat, siswa
menirunya secara kelompok.
4.
Siswa secara perorangan (yang dianggap mampu) melafazkan surat
itu per-ayat atau per-penggal ayat yang diikuti oleh siswa lainnya.
5.
Guru membacakan beberapa ayat atau kalau ayatnya panjang cukup
satu ayat, siswa menirunya secara klasikal.
6.
Siswa secara perorangan melafazkan beberapa ayat tadi, siswa
lain mengikuti.
7.
Siswa secara perorangan melafazkan keseluruhan surat itu.
8.
Siswa secara perorangan melafazkan surat itu per-ayat, siswa
lain menirukannya.
9.
Siswa secara klasikal memperagakan hasil hafalannya dan guru
membimbing.
10. Pekerjaan rumah untuk memperlancar hafalan surat
tadi.
G. Pola Umum Pembelajaran Membaca Alquran.
Dalam hal mengajar membaca Alquran secara umum
pembelajaran adalah;:
a.
Guru membacakan materi baru secara keseluruhan, siswa menyimak.
b.
Guru membacakan materi tadi, kalimat demi kalimat, siswa
menirukan.
c.
Siswa, baik secara klasikal, kelompok dan perorangan membaca
materi tadi, guru membimbing.
d.
Siswa berlatih menemukan/menciptakan kombinasi huruf-huruf yang
menyerupai kata.
e.
Siswa berlatih membaca secara berkelompok.
f.
Siswa memperagakan bacaan dan guru menilai.
g.
Siswa diberi pekerjaan rumah atau tugas-tugas.
H. Pola Umum Pembelajaran Menulis/menyalin Alquran
Secara umum kegiatan pembelajaran menulis Alquran
adalah sebagai berikut
a. Latihan menulis huruf hijaiyyah
1) Latihan permulaan
-
Meniru dengan gerakan tangan
-
Menjiplak
-
Menebalkan
2)
Latihan menulis
menirukan :
-
Menirukan berurutan
menurut huruf hijaiyyah
-
Meniru berurutan
berdasarkan persamaan bentuk huruf.
-
Menurut keinginan siswa.
2) Latihan menulis secara kelompok-kelompok.
3) Menulis imlak huruf jika memungkinkan
b. Latihan menulis kata/kalimat/ayat Alquran
1) Latihan menulis kata yang dicontohkan guru.
2) Latihan menulis menurut pilihan siswa.
3) Latihan menulis kalimat thaiyibah tanpa melihat
contoh.
Jika memungkinkan, menulis atas dasar pendengaran
bukan penglihatan. Semua kegiatan tersebut dapat dilakukan secara klasikal,
kelompok dan perorangan, serta selalu diiringi oleh evaluasi dan pada
akhir pelajaran siswa diberi pekerjaan rumah.(Departemen Agama RI
Pedoman guru PAI Seri 8, Cara Mengajarkan Membaca Alquran tingkat dasar,
1990:14-15)
I. Metode pembelajaran Alquran menurut para ahli.
Metode/cara Mengajarkan Alquran
menurut Mahmud Yunus
1. Melalui hafalan ayat /surat yang mudah dalam shalat
2. Mengajarkan huruf-huruf Alquran + tanda bacanya.
3. Melalui tulisan, membaca, melatih dan menghafal.
4. Mengajarkan artinya.
5. Melatih mencari dalam mashhaf, halaman dan ayat.
6. Menyalinnya.
7. Membaca, yang lain menyimak.
8. Ajarkan membacanya di rumah dengan bantuan jadwal
dari guru. (Metodik khusus pendidikan agama)
Metode/Cara
mengajarkan alquran menurut Muhammad Salih Samak,
Pada
tahun-tahun permulaan di tingkat sekolah rendah adalah dengan menyuruh murid
menghafal setengah-setengah ayat yang pendek, melalui cara mendengar, mengikuti
dan mengulanginya beberapa kali. Secara luas dapat diikuti cara berikut:
1. Memulai pelajaran dengan
sesuatu unsur yang munasabah.
2. Membentangkan teks ayat
atau surat di papan dengan tulisan yang terang dan nyata.
3. Membacakan kepada murid dengan
bacaan yang baik; perlahan-lahan dan penuh perasaan.
4. Menerangkan maknanya dengan
keterangan yang berpatutan.
5. Mengulangi bacaan teks
ayat.
6. Menyuruh murid membaca
seorang-seorang, dan atau beramai-ramai. (Ilmu Pendidikan, Fannut-tadris, 1983:68-70)
III.
PENUTUP
Demikian sajian materi ini
sebagai bahan pengantar diskusi, sehingga bagaimana metode pembelajaran Alquran
itu sesungguhnya telah berjalan, dan sedang dihadapi serta kita bisa mengembangkan
bagaimana ke depannya. Apa yang dibutuhkan masyarakat, tuntutan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang berjalan sangat cepat ini. Tentu kita bisa
meraih dan mengisi berbagai peluang dan kesempatan, di samping banyak tantangan
dan kelemahan yang terbentang di hadapan kita, tidak akan menjadi penghalang
untuk maju. Yang jelas metode adalah alat atau cara untuk mencapai
tujuan yang bersifat procedural, dan teknik pembelajaran merupakan pelaksanaan
apa yang sesungguhnya terjadi (dilakukan guru) untuk mencapai tujuan yang
bersifat implementatif. Biasanya metode digunakan melalui salah satu strategi,
tetapi juga tidak tertutup kemungkinan beberapa metode berada dalam strategi
yang bervariasi, artinya penetapan metode dapat divariasikan melalui strategi
yang berbeda tergantung pada tujuan yang akan dicapai dan konten proses yang
akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Guru dituntut mengetahui dan
memahami pola-pola umum pembelajaran baik membaca, menulis, menghafal dan
mengamalkan Alquran, di samping metode pembelajarannya. (http://zaifbio.wordpress.com/2009/07/01/konsep-dasar-metode-dan-teknik-pembelajaran/30042014)
Terima kasih
Wassalam,
Rosniati hakim
DAFTAR PUSTAKA
Abin
Syamsuddin Makmun. 2003. Tersedia di http://mgmpips.wordpress.com/pendekatan-pembelajaran/Mrs.Admin. diakses tanggal 12 September 2011.
Alhsby Abu Abdu. Model Pembelajaran tersedia
di http
:// khairuddinhsb.blogspot.com/ model-pembelajaran-inductive-thinking.html
J.J. Hasibuan, Moedjiono. 1988. Proses
Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya.
Moedjiono dan Moh. Dimyati.
1992. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta: DEPDIKBUD
Nasution, Noehi,
dkk.2007.
Pendidikan IPA di SD. Jakarta : Universitas Terbuka
Roestiyah N.K, Yumiati Suharto. 1985. Srategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina
Aksara.
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta : Kencana.
Senjaya Wina. 2008. Pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran.Tersedia di http://akhmadsudrajat.wordpress.com/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/. diakses tanggal 12 September 2011.
Sudjana, Nana.
1989. Dasar- Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru. Di
akses tanggal 22 September 2010.
Sudrajat Akhmad. 2008. Pengertian Pendekatan,
Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan Model Pembelajaran. Tersedia di http://smacpiring.wordpress.com/pendekatan-dan-metode-pembelajaran/. Diakses Tanggal 22 September
2010.
Syah Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru. Bandung : Remaja Rosda
Karya.
Toeti Soekamto. 1997. Teori Belajar dan
Model-model Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.
Zaif.
2009. Model-model pembelajaran. tersedia di http://zaifbio.wordpress.com/model-model-pembelajaran/.
diakses tanggal 19 September 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar