URGENSI KURIKULUM BTA/Q BAGI SD/MI
DI KOTA
PADANG
A. Pendahuluan
Alquran adalah kalamullah, kitab suci mulia yang paling paripurna,
pedoman dan landasan hidup setiap manusia beriman, yang mengakui Allah Swt.
sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Isinya
mencakup segala segi kehidupan manusia. Kemuliaan umat ini adalah tergantung
kepada bagaimana mereka berinteraksi terhadap
Alquran. “Hidup di bawah naungan Alquran”, (al Syahid Saiyyid Quthb, dalam Zhilal-nya.)
Alquran. “Hidup di bawah naungan Alquran”, (al Syahid Saiyyid Quthb, dalam Zhilal-nya.)
Sebagai kitab pedoman, ia harus dibaca dan bahkan sangat dianjurkan untuk
dijadikan bacaan harian. Hal ini tersirat dalam berbagai keistimewaan, baik
dalam keistimewaan tilawah, keistimewaan tadabbur, dan keistimewaan hifzh
(hafalan). Membacanya dinilai Allah sebagai ibadah, sehingga di sisi lain Alquran
benar-benar menjadi motivasi kemajuan kehidupan manusia, manakala selalu dibaca
dan ditadabburkan serta dihafalkan. (Baca QS. Asy Syu’ara, 42:52, Shad, 38:29, al
Baqarah, 2:129 dan 159, Ali Imran, 3:164, al Jum’ah, 62:2, al Angkabut, 29:49) Begitu
pentingnya, Rasulullah Saw. Telah bersabda yang artinya: “Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai nabimu, mencintai
keluarga nabi, dan membaca Alquran”, HR Thabrani)”. “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan
mengajarkannya , HR: Bukhari)”.
Kurikulum mata pelajaran Baca Tulis Alquran (BTA/Q) muatan lokal, yang
tengah disusun untuk tingkat SD/MI ini adalah suatu usaha yang sangat tinggi
nilainya di sisi Allah Swt., dan bagi pendidikan agama Islam sendiri, karena
hal ini termasuk pemeliharaan Alquran melalui pembelajaran sejak usia dini yang
kelak bermuara kepada keselamatan manusia dari kehancuran, dan membawanya
kepada keselamatan.
Fakultas Tarbiyah sebagai lembaga pendidikan agama Islam, yang mempersiapkan
tenaga calon pendidik Islam. menyambut positif dan sangat mendukung usaha ini. Disamping
kewajiban setiap muslim, juga merupakan kewajiban moril dan materil bagi setiap
lembaga Islam. Oleh karena itu Fakultas Tarbiyah tetap punya program “Metode
Pembelajaran Alquran” dan bimbingan “Praktek Tilawah” sebagai mata kuliah non
SKS, untuk membantu mahasiswa membaca, menulis, menghafal Alquran dengan
pendekatan dua sisi; satu sisi sebagai peserta didik, dan sisi lain sebagai
calon guru/pendidik. Karena sangat dimaklumi bahwa pada hakikatnya “Tilawah bukanlah
hal yang sederhana, dalam bertilawah (membacakan) seorang qari (pembaca)
dituntut untuk menjaga keaslian bacaan Alquran (Baca: QS. Al Qiyamah 18). Oleh karena seorang
mahasiswa belum bisa mengikuti komprehensif dan munaqasyah, sebelum mendapatkan
sertifikat lulus ujian ”Praktek Tilawah” dimaksud. Sehubungan dengan itu
mahasiswa diberi kesempatan melalui Lembaga Darul-Qur an (LDQ) IAIN Imam Bonjol
Padang.
Setiap kegiatan ilmiah
memerlukan suatu perencanaan dan organisasi, yang harus dilaksanakan secara
sistematis dan terstruktur. Demikian pula halnya dalam pendidikan BTA/Q,
diperlukan adanya program yang mapan dan dapat menghantarkan proses
pendidikannya sampai pada tujuan yang diinginkan. Proses pelaksanaan, sampai penilaian dalam
pendidikan lebih dikenal dengan istilah ”kurikulum Pendidikan”.
Komponen kurikulum dalam
pendidikan sangat berarti, karena merupakan operasionalisasi tujuan yang
dicita-citakan, bahkan tujuan tidak akan tercapai tanpa keterlibatan kurikulum
pendidikan. Kurikulum adalah salah satu komponen pokok pendidikan dan kurikulum
sendiri juga merupakan sistem yang mempunyai komponen-komponen tertentu.
Komponen kurikulum tersebut paling tidak mencakup tujuan, program, strategi
pelaksanaan yang menyangkut sistem penyajian pembelajaran, penilaian hasil
belajar, bimbingan penyuluhan, administrasi dan supervisi pendidikan. Atau
setidak-tidaknya kurikulum pendidikan mencakup 4 klaster (kelompok) pokok
yakni: klaster komponen dasar, komponen pelaksanaan, komponen pelaksana dan
pendukung, dan komponen usaha-usaha pengembangan. (Lihat: Muhaimin, Abd. Mujib 1993:184)
Kehadiran kurikulum BTA/Q ini
sudah sangat dinantikan oleh sekolah / madrasah di Kota padang khususnya dan
Sumatera Barat Umumnya. Hal ini sudah sepatutnya lahir, tersendiri/khusus,
disamping didorong oleh Alquran sendiri juga dikuatkan oleh berbagai
undang-undang dan peraturan pemerintah,
B. Landasan
1. Landasan Ideal : a. Alquran dan hadis Rasul:
b.
Falsafah Negara Pancasila
2. Landasan Operasional
a. UU RI Nomor
22 tahun 1999, tentang Pemerintah
Daerah.
b.
UU Nomor 25 tahun 2000 tentang
Propenas, bab IV Pembangunan Agama p. 3 tentang program peningkatan kualitas
pendidikan agama
c.
UU Nomor 20 tahun 2003,
tentang sistem pendidikan Nasional. Pasal
37 memuat (1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat; a.
Pendidikan Agama … dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha esa serta berakhlaq mulia
d. PP nomor 25 tahun 2000 tentang
pelimpahan kewenangan pemerintah dan propinsi sebagai daerah otonom…
e. Peraturan pemerintah RI Nomor 55
tahun 2007, tentang Pendidikan agama dan Keagamaan, bab III pasal 24 ayat (3)
pendidikan Alquran dapat dilaksanakan secara berjenjang dan tidak berjenjang.
f.
SKB Mendagri dan Menag RI No. 128 tahun 1982 /
No. 44 A tahun 1982 tentang usaha peningkatan kemampuan baca tulis Alquran bagi
umat Islam dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengamalan Alquran dalam
kehidupan sehari-hari.
b. Instruksi Menag RI No. 3 tahun 1990 tentang pelaksanaan
upaya peningkatan kemampuan baca tulis huruf Alquran.
g. Intruksi Dirjen
Bimbaga Islam dan Urusan Haji No. 08 tahun 1991, tentang upaya mempercepat
peningkatan gerakan Baca Tulis Huruf Alquran dikalangan masyarakat.
h.
Perda Propinsi S. Barat Nomor 3
Tahun 2007, tentang pendidikan Alquran.
Pasal 13 tentang kompetensi dasar
yang harus dimiliki siswa (a) tamat SD
pandai membaca, menulis dan memahami ayat Alquran, mengenal tajwid dasar serta
hafal 10 surat juz ’Amma
i.
Perda kota Padang Nomor 6 tahun 2003, tentang
kewajiban bagi murid SD / MI pandai Baca
Tulis Alquran dan menjadi persyaratan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang
SLTP/berikutnya.
Mencermati landasan di atas dapat difahami bahwa usaha peningkatan
kemampuan baca tulis Quran disamping program umat Islam, juga menjadi program
pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang wajib ditempuh
untuk membawa dan mengembalikan generasi dan peserta didik kepada semangat dan
motivasi yang tinggi untuk membaca kitab sucinya yaitu Alquran, sehingga apa
yang diupayakan sejak usia dini berlanjut secara kontiniu hingga ke perguruan
tinggi umumnya dan khususnya lembaga pendidikan agama IAIN Imam Bonjol, dalam
rangka mewujudkan generasi qurani di masa depan. Hal demikian merupakan peluang
yang sangat baik bagi pendidikan agama Islam khususnya pendidikan Alquran.
C. Permasalahan
Kita perlu mencermati apa yang terlihat dan dirasakan oleh berbagai pihak
terhadap pendidikan agama Islam, masih jauh dari harapan. Karena itu perlu renungan
tentang apa yang dimaksudkan dengan pendidikan tidak terbatas hanya
kepada pengajaran. Pendidikan hendaknya berkisar antara dua dimensi
hidup: “penanam rasa taqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa dan pengembangan rasa
kemanusiaan kepada sesama. (Nurcholis Madjid, dalam Indra Djati; Menuju Masyarakat
Belajar, 2003:xiii) Ada
tiga hal penting yang akan ditrasfer melalui pendidikan, yaitu; nilai (values),
pengetahuan (knowledge), dan ketrampilan (skiils) (Qodri A.
Azizy, 2003: 19) Oleh karena itu
sebagai gambaran umum dirasakan berbagai fenomena.
- Kondisi Objektif PAI di Sekolah Dasar / MI
- Perbandingan guru dan murid untuk mencapai tujuan PAI sulit dijangkau/dicapai
- Sedikitnya waktu tersedia, terutama dalam masalah praktikum
- Sarana pra-sarana
yang kurang mendukung
- Kerjasama semua pihak masih dirasakan minim, sementara pengaruh lingkungan dengan berbagai macamnya sangat kuat/deras
- Dan
lain-lain
- Problema yang dihadapi;
- Keterbatasan sumber daya manusia professional dibidang BTA/Q
- Perhatian
dan dukungan orang tua dan masyarakat masih kurang
- Banyaknya
anak/siswa yang kurang mampu membaca Alquran walaupun mereka telah
melalui pendidikan agama baik formal dan non formal di TPA atau MDA
- Kurangnya
budaya belajar untuk meningkatkan kualitas dikalangan pendidik
- Kurangnya
pembinaan guru disamping lemahnya fungsi pengawasan
- Dan
lain-lain
D. Memanfaatkan kekuatan dan Peluang
serta Mengatasi Kelemahan dan
Tantangan
Berdasarkan hasil analisis
SWOT (Strength, weakness, opportunity, threat), dan kajian dari berbagai
sumber dapat dikemukakan faktor dominan
(kekuatan dan peluang) serta faktor penghambat (kelemahan dan tantangan)
tim/pengelola pendidikan BTA/Q dalam paradigma baru manajeman pendidikan, dan bagaimana
pengelola memanfaatkan kekuatan dan peluang serta mengatasi kelemahan dan
tantangan untuk mendorong visi menjadi aksi.
1.
faktor dominan (kekuatan dan
Peluang)
a. Gerakan
peningkatan kualitas pendidikan yang dicanangkan pemerintah (2 Mai 2003).
b. Sosialisasi
peningkatan kualitas pendidikan
c.
Gotong royong dan kekeluargaan
d. Potensi
pengelola (kemauan dan kemampuan)
e.
Organisasi formal, informal, dan nonformal
f. Organisasi
profesi
g. Harapan
terhadap kualitas pendidikan (komitmen dan motivasi)
h. Input
manajemen yang telah dimiliki seperti:
1) Tugas yang jelas
2) Rencana yang rinci dan
sistematis
3) Program yang mendukung
implementasi
4) Aturan main yang jelas
5) Adanya sistem pengendalian
waktu yang handal
Pengelola harus fokus
pada pelanggan, melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas lulusan
dari proramnya.
a. Meningkatkan
kualitas lulusan dan kualifikasi tenaga
kependidikan.
b. Mendorong peserta didik untuk melanjutkan pada program berikutnya.
c. Menggalang
partisipasi masyarakat dan orang tua dalam
pengelolaan program pendidikan di sekolah
2.
Faktor penghambat (kelemahan dan tantangan)
a.
Sistem
politik yang kurang stabil
b.
Rendahnya sikap mental
c.
Wawasan pengelola/tim yang
masih sempit
d.
Kurang sarana dan prasarana
e.
Lulusan kurang mampu bersaing
f.
Rendahnya kepercayaan masyarakat
g.
Rendahnya produktivitas kerja
h.
Belum tumbuhnya budaya mutu
Selanjutnya upaya untuk
memanfaatkan kekuatan dan peluang serta mengatasi kelemahan dan tantangan
terhadap paradigma baru pengelola profesional dapat dilakukan dengan:
1.
Pembinaan kemampuan profesional
pengelola dan guru
2.
Revitalisasi Musyawarah Guru
dan Manajemen Peningkatan Mutu
pengelola
3.
Peningkatan disiplin
4.
Pembentukan kelompok diskusi
5.
Peningkatan layanan
perpustakaan dengan menambah koleksi
3.
Paradigma dan Arah Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal BTA/Q
a. Autonomy: pemberian otonomi
yang lebih besar kepada pengelolaan
dan pengembangan program
pertanggung-
jawaban sosial
c. Quality assurance: peningkatan relevansi yang lebih tegas antara
out-put
program dengan kebutuhan masyarakat
- Reposisi Peran lembaga Terkait:
- Partisipatoris:
mendorong lembaga pengelola untuk terus meningkatkan partisipasi terhadap pendidikan BTA/Q
- Pemberdayaan : mendorong pengelola / lembaga program sehingga melahirkan out-put yang berkualitas
- Mempersiapkan sumber daya manusi professional dibidang BTA/Q
- Melaksanakan
Pembinaan teknis baik menyangkut kepribdian guru maupun menyangkut keprofesionalan dalam
melaksanakan tugas.
- Bentuk
pelayanan terhadap Program:
- Rekognisi:
pengakuan pemerintah terhadap penyelenggaraan program BTA/Q
- Fasilitas:
pelayanan fasilitas untuk penguatan
lembaga dan penyelenggaraan program
- Regulasi: pengaturan dalam kerangka menjamin mutu (quality control), dan pembaharuan sistem
- Revitalisasi Program
- Mempertegas visi dan misi pengembangan program
- Meningkatkan prtisipasi semua pihak
- Membangun kerjasama dengan berbagai pihak
- Mendorong pemerintah daerah untuk terus meningkatkan dukungan terhadap penyelenggaraan program
Berdasarkan hal-hal di atas, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya
penyelenggara dan pelaksanaan penilaian atau evaluasi menyeluruh bagi semua
komponen terkait dan terlibat, yaitu:
1.
Bagi Guru;
2.
Bagi pengelola program
3.
Bagi anak / peserta didik
4.
Bagi orang tua, dan seterusnya
E. Penutup
Kurikulum Muatan lokal BTA/Q merupakan kegiatan kurikuler untuk
mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah,
termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam
mata pelajaran yang ada. Subtansinya muatan lokal ditentukan oleh satuan
pendidikan (SD/MI) (lihat PP Mendiknas
RI nomor 22 tahun 2006 tentang
Standar Isi . . .h.7).
Oleh karena demikian, keluarga dapat membina anak agar mempunyai
kepribadian utama, kemudian dikembangkan dalam lembaga pendidikan masyarakat
melalui mesjid/mushalla atau surau yang memiliki Taman Pendidikan Alquran (TPA)
dan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), atau pendidikan melalui pondok,
madrasah/sekolah yang merupakan tempat peralihan dari pendidikan keluarga
secara luas terutama untuk tingkat dasar seperti Sekolah Dasar (SD), Taman
Kanak Kanak (TK), atau Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Kota Padang merupakan salah
satu daerah yang subur tumbuhnya lembaga pendidikan Islam sejak bernama mengaji
di surau, mesjid, mushalla dan bahkan di rumah
guru mengaji, hingga bernama TPA/TPSA dan MDA, MDW dan MDU. Sampai sekarang kehidupan masyarakat di kota Padang,
daerah Ranah Minang yang memiliki falsafah hidup: ”Adat basandi syara’, Syara’ basandi Kitabullah” (ABS-SBK), tidak
dapat dilepaskan dari kehidupan surau, mesjid, mushalla sebagai basis
pengembangan agama Islam, di samping tempat melakukan ibadah juga sebagai
lembaga pendidikan agama Islam suplemen dari pendidikan agama di sekolah
khususnya di SD/MI.
Semoga kita berharap melalui
pendidikan formal, informal dan nonformal, akan dapat mewujudkan tujuan Pendidikan
Agama Islam yang diharapkan.
Penulis,
Disampaikan dalam
kegiatan;
Sosialisasi dan Workshop Kurikulum Muatan
Lokal Baca Tulis Alquran
Di Hotel Pangeran Padang
Tanggal 27-28 Desember 2007
Titanium watches | TITanium Art | TITanium Studio
BalasHapusTitanium titanium aura quartz watches can help you to titanium helix earrings recognize titanium phone case the curves of the real thing, or does titanium set off metal detectors increase the perceived edge of the model. titanium ring