Kamis, 05 Maret 2015

URGENSI KURIKULUM BTA/Q BAGI SD/MI DI KOTA PADANG

URGENSI KURIKULUM BTA/Q BAGI SD/MI
DI KOTA PADANG

A. Pendahuluan

Alquran adalah kalamullah, kitab suci mulia yang paling paripurna, pedoman dan landasan hidup setiap manusia beriman, yang mengakui Allah Swt. sebagai Tuhan Yang Maha Esa.  Isinya mencakup segala segi kehidupan manusia. Kemuliaan umat ini adalah tergantung kepada bagaimana mereka berinteraksi terhadap
Alquran. “Hidup di bawah naungan Alquran”, (al Syahid Saiyyid Quthb, dalam Zhilal-nya.)
Sebagai kitab pedoman, ia harus dibaca dan bahkan sangat dianjurkan untuk dijadikan bacaan harian. Hal ini tersirat dalam berbagai keistimewaan, baik dalam keistimewaan tilawah, keistimewaan tadabbur, dan keistimewaan hifzh (hafalan). Membacanya dinilai Allah sebagai ibadah, sehingga di sisi lain Alquran benar-benar menjadi motivasi kemajuan kehidupan manusia, manakala selalu dibaca dan ditadabburkan serta dihafalkan. (Baca QS. Asy Syu’ara, 42:52, Shad, 38:29, al Baqarah, 2:129 dan 159, Ali Imran, 3:164, al Jum’ah, 62:2, al Angkabut, 29:49) Begitu pentingnya, Rasulullah Saw. Telah bersabda yang artinya: “Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai nabimu, mencintai keluarga nabi, dan membaca Alquran”, HR Thabrani)”. “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya , HR: Bukhari)”.
Kurikulum mata pelajaran Baca Tulis Alquran (BTA/Q) muatan lokal, yang tengah disusun untuk tingkat SD/MI ini adalah suatu usaha yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah Swt., dan bagi pendidikan agama Islam sendiri, karena hal ini termasuk pemeliharaan Alquran melalui pembelajaran sejak usia dini yang kelak bermuara kepada keselamatan manusia dari kehancuran, dan membawanya kepada keselamatan.
Fakultas Tarbiyah sebagai lembaga pendidikan agama Islam, yang mempersiapkan tenaga calon pendidik Islam. menyambut positif dan sangat mendukung usaha ini. Disamping kewajiban setiap muslim, juga merupakan kewajiban moril dan materil bagi setiap lembaga Islam. Oleh karena itu Fakultas Tarbiyah tetap punya program “Metode Pembelajaran Alquran” dan bimbingan “Praktek Tilawah” sebagai mata kuliah non SKS, untuk membantu mahasiswa membaca, menulis, menghafal Alquran dengan pendekatan dua sisi; satu sisi sebagai peserta didik, dan sisi lain sebagai calon guru/pendidik. Karena sangat dimaklumi bahwa pada hakikatnya “Tilawah bukanlah hal yang sederhana, dalam bertilawah (membacakan) seorang qari (pembaca) dituntut untuk menjaga keaslian bacaan Alquran (Baca:  QS. Al Qiyamah 18). Oleh karena seorang mahasiswa belum bisa mengikuti komprehensif dan munaqasyah, sebelum mendapatkan sertifikat lulus ujian ”Praktek Tilawah” dimaksud. Sehubungan dengan itu mahasiswa diberi kesempatan melalui Lembaga Darul-Qur an (LDQ) IAIN Imam Bonjol Padang.
Setiap kegiatan ilmiah memerlukan suatu perencanaan dan organisasi, yang harus dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur. Demikian pula halnya dalam pendidikan BTA/Q, diperlukan adanya program yang mapan dan dapat menghantarkan proses pendidikannya sampai pada tujuan yang diinginkan. Proses pelaksanaan, sampai penilaian dalam pendidikan lebih dikenal dengan istilah ”kurikulum Pendidikan”.
Komponen kurikulum dalam pendidikan sangat berarti, karena merupakan operasionalisasi tujuan yang dicita-citakan, bahkan tujuan tidak akan tercapai tanpa keterlibatan kurikulum pendidikan. Kurikulum adalah salah satu komponen pokok pendidikan dan kurikulum sendiri juga merupakan sistem yang mempunyai komponen-komponen tertentu. Komponen kurikulum tersebut paling tidak mencakup tujuan, program, strategi pelaksanaan yang menyangkut sistem penyajian pembelajaran, penilaian hasil belajar, bimbingan penyuluhan, administrasi dan supervisi pendidikan. Atau setidak-tidaknya kurikulum pendidikan mencakup 4 klaster (kelompok) pokok yakni: klaster komponen dasar, komponen pelaksanaan, komponen pelaksana dan pendukung, dan komponen usaha-usaha pengembangan.  (Lihat: Muhaimin, Abd. Mujib 1993:184)
Kehadiran kurikulum BTA/Q ini sudah sangat dinantikan oleh sekolah / madrasah di Kota padang khususnya dan Sumatera Barat Umumnya. Hal ini sudah sepatutnya lahir, tersendiri/khusus, disamping didorong oleh Alquran sendiri juga dikuatkan oleh berbagai undang-undang dan peraturan pemerintah,

B. Landasan
1. Landasan  Ideal      : a. Alquran dan hadis Rasul:
                                                  b. Falsafah Negara Pancasila
2. Landasan Operasional
    a.   UU RI Nomor  22 tahun 1999,  tentang Pemerintah Daerah.
b.      UU Nomor 25 tahun 2000 tentang Propenas, bab IV Pembangunan Agama p. 3 tentang program peningkatan kualitas pendidikan agama
c.       UU Nomor 20 tahun 2003, tentang  sistem pendidikan Nasional. Pasal 37 memuat (1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat; a. Pendidikan Agama … dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang maha esa serta berakhlaq mulia
d.   PP nomor 25 tahun 2000 tentang pelimpahan kewenangan pemerintah dan propinsi sebagai daerah otonom…
e.  Peraturan pemerintah RI Nomor 55 tahun 2007, tentang Pendidikan agama dan Keagamaan, bab III pasal 24 ayat (3) pendidikan Alquran dapat dilaksanakan secara berjenjang dan tidak berjenjang.
f.       SKB  Mendagri dan Menag RI No. 128 tahun 1982 / No. 44 A tahun 1982 tentang usaha peningkatan kemampuan baca tulis Alquran bagi umat Islam dalam rangka peningkatan penghayatan dan pengamalan Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
    b.  Instruksi Menag RI No. 3  tahun 1990 tentang pelaksanaan
         upaya peningkatan kemampuan baca tulis huruf Alquran.
g.  Intruksi Dirjen Bimbaga Islam dan Urusan Haji No. 08 tahun 1991, tentang upaya mempercepat peningkatan gerakan Baca Tulis Huruf Alquran dikalangan masyarakat.
h.      Perda Propinsi S. Barat Nomor 3 Tahun 2007, tentang pendidikan Alquran.  Pasal 13 tentang  kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa  (a) tamat SD pandai membaca, menulis dan memahami ayat Alquran, mengenal tajwid dasar serta hafal 10 surat juz ’Amma
i.        Perda kota Padang Nomor 6 tahun 2003, tentang kewajiban bagi murid SD / MI  pandai Baca Tulis Alquran dan menjadi persyaratan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTP/berikutnya.         
Mencermati landasan di atas dapat difahami bahwa usaha peningkatan kemampuan baca tulis Quran disamping program umat Islam, juga menjadi program pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah yang wajib ditempuh untuk membawa dan mengembalikan generasi dan peserta didik kepada semangat dan motivasi yang tinggi untuk membaca kitab sucinya yaitu Alquran, sehingga apa yang diupayakan sejak usia dini berlanjut secara kontiniu hingga ke perguruan tinggi umumnya dan khususnya lembaga pendidikan agama IAIN Imam Bonjol, dalam rangka mewujudkan generasi qurani di masa depan. Hal demikian merupakan peluang yang sangat baik bagi pendidikan agama Islam khususnya pendidikan Alquran.
C. Permasalahan
Kita perlu mencermati apa yang terlihat dan dirasakan oleh berbagai pihak terhadap pendidikan agama Islam, masih jauh dari harapan. Karena itu perlu renungan tentang apa yang dimaksudkan dengan pendidikan tidak terbatas hanya kepada pengajaran. Pendidikan hendaknya berkisar antara dua dimensi hidup: “penanam rasa taqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa dan pengembangan rasa kemanusiaan kepada sesama. (Nurcholis Madjid, dalam Indra Djati; Menuju Masyarakat Belajar, 2003:xiii) Ada tiga hal penting yang akan ditrasfer melalui pendidikan, yaitu; nilai (values), pengetahuan (knowledge), dan ketrampilan (skiils) (Qodri A. Azizy, 2003: 19)  Oleh karena itu sebagai gambaran umum dirasakan berbagai fenomena.
  1. Kondisi Objektif PAI di Sekolah Dasar / MI
    1. Perbandingan guru dan murid untuk mencapai tujuan PAI sulit dijangkau/dicapai
    2. Sedikitnya waktu tersedia, terutama dalam masalah praktikum
    3. Sarana pra-sarana yang kurang mendukung
    4. Kerjasama semua pihak masih dirasakan minim, sementara pengaruh lingkungan dengan berbagai macamnya sangat kuat/deras
    5. Dan lain-lain
  2. Problema yang dihadapi;
    1. Keterbatasan sumber daya manusia professional dibidang BTA/Q
    2. Perhatian dan dukungan orang tua dan masyarakat masih kurang
    3. Banyaknya anak/siswa yang kurang mampu membaca Alquran walaupun mereka telah melalui pendidikan agama baik formal dan non formal di TPA atau MDA
    4. Kurangnya budaya belajar untuk meningkatkan kualitas dikalangan pendidik 
    5. Kurangnya pembinaan guru disamping lemahnya fungsi pengawasan
    6. Dan lain-lain
D. Memanfaatkan kekuatan dan Peluang
     serta Mengatasi Kelemahan dan Tantangan

Berdasarkan hasil analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, threat), dan kajian dari berbagai sumber dapat dikemukakan faktor dominan  (kekuatan dan peluang) serta faktor penghambat (kelemahan dan tantangan) tim/pengelola pendidikan BTA/Q dalam paradigma baru manajeman pendidikan, dan bagaimana pengelola memanfaatkan kekuatan dan peluang serta mengatasi kelemahan dan tantangan untuk mendorong visi menjadi aksi.
1.      faktor dominan (kekuatan dan Peluang)
a.       Gerakan peningkatan kualitas pendidikan yang dicanangkan pemerintah     (2 Mai 2003).
b.      Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan
c.       Gotong royong dan kekeluargaan
d.      Potensi pengelola (kemauan dan kemampuan)
e.       Organisasi formal, informal, dan nonformal
f.       Organisasi profesi
g.      Harapan terhadap kualitas pendidikan (komitmen dan motivasi)
h.      Input manajemen  yang telah dimiliki seperti:
1)    Tugas yang jelas
2)   Rencana yang rinci dan sistematis
3)   Program yang mendukung implementasi
4)   Aturan main yang jelas
5)    Adanya sistem pengendalian waktu yang handal
Pengelola harus fokus pada pelanggan, melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas lulusan dari proramnya.
a. Meningkatkan kualitas lulusan dan kualifikasi tenaga
    kependidikan.
b. Mendorong peserta didik untuk melanjutkan pada program berikutnya.
c. Menggalang partisipasi masyarakat dan orang tua dalam
    pengelolaan program pendidikan di sekolah
       2. Faktor penghambat (kelemahan dan tantangan)
a.            Sistem politik yang kurang stabil
b.          Rendahnya sikap mental
c.           Wawasan pengelola/tim yang masih sempit
d.          Kurang sarana dan prasarana
e.           Lulusan kurang mampu bersaing
f.           Rendahnya kepercayaan masyarakat
g.          Rendahnya produktivitas kerja
h.          Belum tumbuhnya budaya mutu
Selanjutnya upaya untuk memanfaatkan kekuatan dan peluang serta mengatasi kelemahan dan tantangan terhadap paradigma baru pengelola profesional dapat dilakukan dengan:
1.             Pembinaan kemampuan profesional pengelola dan guru
2.             Revitalisasi Musyawarah Guru dan Manajemen Peningkatan Mutu
          pengelola
3.             Peningkatan disiplin
4.             Pembentukan kelompok diskusi
5.             Peningkatan layanan perpustakaan dengan menambah koleksi
     3. Paradigma dan Arah Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal BTA/Q
a. Autonomy: pemberian otonomi yang lebih besar kepada pengelolaan
    dan pengembangan program
 b. Accountability: peningkatan kemampuan program dalam
               pertanggung- jawaban sosial
c. Quality assurance: peningkatan relevansi yang lebih tegas antara out-put
               program dengan kebutuhan masyarakat
  1. Reposisi Peran lembaga Terkait:
    1. Partisipatoris: mendorong lembaga pengelola untuk terus meningkatkan  partisipasi terhadap pendidikan BTA/Q
    2. Pemberdayaan : mendorong pengelola / lembaga program sehingga melahirkan out-put yang berkualitas
    3. Mempersiapkan sumber daya manusi professional dibidang BTA/Q
    4. Melaksanakan Pembinaan teknis baik menyangkut kepribdian guru  maupun menyangkut keprofesionalan dalam melaksanakan tugas.
  2. Bentuk pelayanan terhadap Program:
    1. Rekognisi: pengakuan pemerintah terhadap penyelenggaraan program BTA/Q
    2. Fasilitas: pelayanan fasilitas untuk penguatan  lembaga dan penyelenggaraan program
    3. Regulasi: pengaturan dalam kerangka menjamin mutu (quality control), dan pembaharuan sistem
  3. Revitalisasi Program
    1. Mempertegas visi dan misi pengembangan program
    2. Meningkatkan prtisipasi semua pihak
    3. Membangun kerjasama dengan berbagai pihak
    4. Mendorong pemerintah daerah untuk terus meningkatkan dukungan terhadap penyelenggaraan program
Berdasarkan hal-hal di atas, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya penyelenggara dan pelaksanaan penilaian atau evaluasi menyeluruh bagi semua komponen terkait dan terlibat, yaitu:
1.      Bagi Guru;
2.      Bagi  pengelola program
3.      Bagi anak / peserta didik
4.      Bagi orang tua, dan seterusnya

E. Penutup
Kurikulum Muatan lokal BTA/Q merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Subtansinya muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan (SD/MI) (lihat PP Mendiknas RI nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi . . .h.7).
Oleh karena demikian, keluarga dapat membina anak agar mempunyai kepribadian utama, kemudian dikembangkan dalam lembaga pendidikan masyarakat melalui mesjid/mushalla atau surau yang memiliki Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), atau pendidikan melalui pondok, madrasah/sekolah yang merupakan tempat peralihan dari pendidikan keluarga secara luas terutama untuk tingkat dasar seperti Sekolah Dasar (SD), Taman Kanak Kanak (TK), atau Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Kota Padang merupakan salah satu daerah yang subur tumbuhnya lembaga pendidikan Islam sejak bernama mengaji di surau, mesjid, mushalla dan bahkan di rumah  guru mengaji, hingga bernama TPA/TPSA dan MDA, MDW dan MDU. Sampai  sekarang kehidupan masyarakat di kota Padang, daerah Ranah Minang yang memiliki falsafah hidup: ”Adat basandi syara’, Syara’ basandi Kitabullah” (ABS-SBK), tidak dapat dilepaskan dari kehidupan surau, mesjid, mushalla sebagai basis pengembangan agama Islam, di samping tempat melakukan ibadah juga sebagai lembaga pendidikan agama Islam suplemen dari pendidikan agama di sekolah khususnya di SD/MI.
Semoga kita berharap melalui pendidikan formal, informal dan nonformal, akan dapat mewujudkan tujuan Pendidikan Agama Islam yang diharapkan.

Padang, 27-28  Desember 2007
Penulis,

 Rosniati Hakim


Disampaikan dalam kegiatan;
Sosialisasi dan Workshop Kurikulum Muatan Lokal Baca Tulis Alquran
Di Hotel Pangeran Padang Tanggal 27-28 Desember 2007

















1 komentar:

  1. Titanium watches | TITanium Art | TITanium Studio
    Titanium titanium aura quartz watches can help you to titanium helix earrings recognize titanium phone case the curves of the real thing, or does titanium set off metal detectors increase the perceived edge of the model. titanium ring

    BalasHapus