PENGEMBANGAN
PENDIDIKAN ISLAM
BERBASIS TUJUAN[1]
Rosniati
Hakim
Dosen
Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang
e-mail: rosniati_hakim@yahoo.com
A. Pendahuluan
Posisi manusia yang unik di dunia ini dan segala yang
ada diperuntukkan baginya. Segala yang ada dan segala yang terjadi di bumi ini
mempunyai tujuan. Manusia itu dikelilingi oleh fenomena alamiah tiada
terhingga, dan masing-masingnya mempunyai pesan-pesan tersendiri. Apabila
segala yang meliputi manusia itu mempunyai tujuan dan yang lebih tepat menawarkan suatu maksud
tertentu,
maka eksistensi manusiapun tidak dapat lepas dari tujuan-tujuan. Al-Qur’an lebih jauh menegaskan, apapun perbuatan yang dilakukan manusia harus dikaitkan dengan Allah swt. (Q.S.Al-an’am [6]:162).
maka eksistensi manusiapun tidak dapat lepas dari tujuan-tujuan. Al-Qur’an lebih jauh menegaskan, apapun perbuatan yang dilakukan manusia harus dikaitkan dengan Allah swt. (Q.S.Al-an’am [6]:162).
Peserta didik mungkin tidak tahu alasan mengapa harus
belajar, namun, sebaliknya pendidik yang
mengajarnya harus mengetahui tujuan pengajaran yang berproses itu. Kurikulum
dalam lembaga pendidikan harus memuat tujuan umum yang sesuai dengan
sasaran-sasaran khusus yang dikehendaki, dan harus mampu memberi arahan kepada
peserta didik.
Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh
keluarga, masyarakat dan pemerintah dan atau latihan yang dilakukan di sekolah
dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar
dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa
yang akan datang. Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram
dalam bentuk pendidikan formal, non formal, dan informal di sekolah dan luar
sekolah yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan optimalisasi pertimbangan
kemampuan-kemampuan individu, agar dikemudian hari dapat memainkan peranan hidup
secara tepat. (Redja Mudyahardjo, 2002:11). Ungkapan ini menunjukkan
bahwa pendidikan bertujuan untuk mempersiapkan dan mengoptimalisasikan
kemampuan peserta didik agar kelak mereka mampu memainkan peran hidupnya secara
tepat.
Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam
pendidikan. Sebab, tanpa perumusan yang jelas tentang tujuan pendidikan,
perbuatan menjadi acak-acakan, tanpa arah, bahkan bisa sesat atau salah
langkah. Oleh karena itu perumusan tujuan dengan tegas dan jelas, menjadi inti
dari seluruh pemikiran pedagogis dan perenungan filsofi (Kartini Kartono,1992:204).
Dikatakan lebih lanjut bahwa tujuan pendidikan itu
penting, disebabkan karena secara implisit dan eksplisit di dalamnya terkandung
hal-hal yang sangat asasi, yaitu pandangan hidup dan filsafat hidup
pendidikannya, lembaga penyelenggara pendidikan, dan negara.
Faktor tujuan dalam proses pembelajaran merupakan
komponen pertama yang harus ditetapkan. Tujuan ini merupakan rumusan tingkah
laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki oleh peserta didik setelah
ia menyelesaikan pengalaman dan kegiatan belajar dalam proses pembelajaran.
Oleh karena itu membahas tujuan pendidikan; sebagai
komponen pertama disamping komponen lainnya, yaitu kurikulum, tenaga
kependidikan, peserta didik, lembaga, pembiayaan, pendekatan dan metode,
evaluasi, administrasi dan manajemen pendidikan, adalah merupakan hal yang
mesti dalam sistem pendidikan. Islam dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak
menyuruh hamba-Nya melainkan agar ikhlas dalam pengabdiaannya, dalam rangka
mencari ridha Allah SWT.
Tulisan ini akan memaparkan sebuah kajian analisis
tentang komponen pendidikan Islam terkait tujuan pendidikan Islam yang meliputi
konsep tujuan, fungsi tujuan, dasar perumusan tujuan, tahap–tahap tujuan serta
aspek-aspek tujuan pendidikan Islam, ranah tujuan, tujuan pendidikan Islam
universal, dan tujuan pendidikan Islam di Indonesia.
B.PEMBAHASAN
1. Konsep Tujuan
Istilah “tujuan”
atau “sasaran” atau “maksud” dalam bahasa Arab dinyatakan
dengan “ghayat” atau “ahdaaf” atau “maqaasid”. Sedangkan dalam bahasa inggris istilah “tujuan” dinyatakan dengan “goal”
atau “purpose” atau “objectivies” atau “aim”. Secara umum istilah-istilah itu mengandung pengertian yang
sama, yaitu perbuatan yang diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, atau arah, atau
maksud yang hendak dicapai melalui upaya atau aktifitas (Ramayulis, 2013:209
dan Abdurrahman Saleh,1990:131-132).
Menurut Zakiah Daradjat (1992:31), tujuan adalah
sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai.
Sedangkan menurut Arifin,
(1993:223), tujuan itu bisa jadi menunjukkan kepada futuritas (masa depan) yang
terletak pada suatu jarak tertentu yang tidak dapat bisa dicapai kecuali dengan
usaha melalui proses tertentu. Sementara Al-Syaibany (1979:399),
mengemukakan bahwa, tujuan pendidikan adalah perubahan yang diingini yang
diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya, baik
pada tingkah laku individu, atau pada kehidupan masyarakat, atau pada proses pendidikan
dan pengajaran sebagai suatu aktifitas asasi.
Selain istilah di atas, As-Syaibany (1979:401-403)
mengemukakan pula istilah matlamat
(tanda-tanda), ramalan, hasil, keinginan, dan nilai-nilai, dan hubungannya,
yakni: a. Hubungan antara tujuan dan
tanda-tanda b. Hubungan antara tujuan dengan ramalan c. Hubungan antara tujuan dan hasil d.
Hubungan antara tujuan dan keinginan. e. Hubungan antara tujuan dan
nilai-nilai.
Hubungan antara
“tujuan” dan “tanda-tanda” adalah hubungan perserupaan, atau persamaan dalam
makna, tempat pencapaian tujuan, dan tanda menghendaki adanya perencanaan dan
usaha yang disengaja dan rentetan langkah-langkah yang berkaitan antara satu
dan lainnya. Dengan demikian, tujuan dan tanda adalah akhir suatu proses, dan
proses itu mempunyai permulaan. Permulaan dan akhir itu ditentukan oleh
langkah-langkah yang bertalian satu sama lain, lengkap melengkapi, yang satu
mengikuti yang lain dengan teratur untuk mencapai matlamat (tanda-tanda). Adapun mengenai hubungan istilah tujuan dengan
ramalan, lebih lanjut dijelaskan oleh al-Syaibany, bahwa istilah tujuan dan
ramalan mempunyai pengertian yang berbeda. Tujuan adalah sesuatu yang hendak
dicapai oleh institusi pendidikan, sedangkan ramalan adalah sesuatu yang
diharapkan terjadinya oleh institusi pendidikan.
Selanjutnya istilah tujuan dan hasil dijelaskan oleh
al-Syaibny (1979:401-403), bahwa jika tujuan merupakan akhir dari suatu usaha
yang disengaja, teratur, dan tersusun, maka hasil tidaklah merupakan
penghabisan yang pasti dari serentetan langkah-langkah yang berkaitan satu sama
lain. Sedangkan mengenai hubungan antara istilah tujuan dengan keinginan adalah
terletak pada sifatnya, yaitu keinginan itu mudah berubah, sedangkan tujuan
adalah lebih tetap adanya. Sedangkan hubungan antara tujuan dan nilai-nilai,
dapat dianggap tujuan-tujuan pendidikan itu sebagai nilai-nilai yang disukai
untuk melaksanakannya. Dan masalah tujuan dalam pendidikan; terutama sekali,
merupakan masalah nilai, itu karena pendidikan mengandung pilihan bagi anak tertentu, kemana
perkembangan murid-murid menuju. Pilihan ini sudah tentu berkaitan rapat dengan
nilai-nilai yang mengandung pengutamaan dan pembedaan terhadap beberapa nilai
dan sumber atas yang lainnya.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa sebenarnya
konsep tujuan itu amat luas. Hal ini menggambarkan bahwa suatu tujuan dalam
prakteknya menghendaki pilihan-pilihan yang dilakukan secara seksama terhadap
berbagai alternatif yang ditawarkan. Kesalahan dalam memilih alternatif dalam
perumusan suatu tujuan akan membawa hasil yang salah pula. Dengan demikian itu
tujuan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengantarkan dan mengarahkan
usaha pendidikan.
Sebagai pedoman hidup, Islam telah memberikan program
paripurna dengan perumusan yang sangat luar biasa, dan untuk manusia diberikan Al-Qur’an dengan
tujuan membawa manusia ke jalan yang penuh kegemilangan, melalui
petunjuk-petunjuk-Nya. Firman Allah swt. dalam surah Al-Maidah;
@÷dr'¯»t É=»tGÅ6ø9$# ôs% öNà2uä!$y_ $oYä9qßu ÚúÎiüt7ã öNä3s9 #ZÏW2 $£JÏiB öNçFYà2 cqàÿøéB z`ÏB É=»tGÅ6ø9$# (#qàÿ÷ètur Ætã 9ÏV2 4 ôs% Nà2uä!%y` ÆÏiB «!$# ÖqçR Ò=»tGÅ2ur ÑúüÎ7B ÇÊÎÈ Ïôgt ÏmÎ/ ª!$# ÇÆtB yìt7©?$# ¼çmtRºuqôÊÍ @ç7ß ÉO»n=¡¡9$# Nßgã_Ì÷ãur z`ÏiB ÏM»yJè=à9$# n<Î) ÍqY9$# ¾ÏmÏRøÎ*Î/ óOÎgÏôgtur 4n<Î) :ÞºuÅÀ 5OÉ)tGó¡B ÇÊÏÈ
Artinya: Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul
Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-kitab yang kamu sembunyikan, dan
banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari
Allah, dan kitab yang menerangkan (Nabi Muhammad SAW dan Al-Quran). Dengan
kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu
dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan se-izin-Nya, dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS Al-Maidah, [5:15-16).
2. Fungsi Tujuan
Sebagaimana telah dibicarakan di atas, bahwa tujuan
pendidikan merupakan masalah inti dalam pendidikan dan saripati dari seluruh
renungan pedagogis (Achmadi,1992:45-46). Oleh karena itu, suatu
rumusan tujuan pendidikan akan tepat bila sesuai dengan fungsinya. Pendidikan
sebagai suatu usaha pasti mengalami permulaan dan mengalami kesudahannya. Ada
pula usaha terhenti karena sesuatu kendala sebelum mencapai tujuan, tetapi
usaha itu belum dapat disebut berakhir.
Pada umumnya, suatu usaha baru berakhir kalau tujuan akhir telah tercapai.
Sehubungan dengan ini A.D. Marimba (1980:45-46) menyatakan, bahwa fungsi
tujuan adalah pertama, sebagai
standar mengakhiri usaha, kedua
mengarahkan usaha, ketiga merupakan
titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, disamping itu juga dapat
membatasi ruang gerak usaha agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang
dicita-citakan, dalam segi lainnya fungsi tujuan juga mempengaruhi dinamika
dari usaha itu, dan keempat memberi
nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.
Pendidikan, adalah usaha yang bertujuan banyak dalam
urutan satu garis (linier). Sebelum mencapai tujuan akhir, pendidikan Islam
lebih dahulu mencapai beberapa tujuan sementara. Lebih lanjut A.D. Marimba
menyatakan bahwa fungsi tujuan akhir ialah memelihara arah usaha itu dan
mengakhirinya setelah tujuan itu tercapai. Sedangkan fungsi tujuan sementara
ialah membantu memelihara arah usaha dan menjadi titik berpijak untuk mencapai
tujuan-tujuan lebih lanjut dan tujuan akhir.
Menurut Arifin (1993:223), dengan adanya tujuan yang
jelas, maka suatu pekerjaan akan jelas pula arahnya. Lebih-lebih pekerjaan
mendidik yang bersasaran pada hidup psikologis manusia didik yang masih berada
pada taraf perkembangan, maka tujuan merupakan faktor yang paling penting dalam
proses kependidikan itu, oleh karena dengan adanya tujuan yang jelas, materi
pelajaran dan metoda-metoda yang digunakan, mendapat corak dan isi serta
potensialitas yang sejalan dengan cita-cita yang terkandung dalam tujuan
pendidikan. Senada dengan ini , Nasution (1982:28) mempertegas pula bahwa
tujuan yang jelas akan dapat memberi pegangan dan petunjuk tentang metode mengajar
yang serasi, serta memungkinkan penilaian proses dan hasil belajar yang lebih
teliti.
Dari beberapa ungkapan di sekitar fungsi tujuan di
atas, dapat difahami bahwa tujuan di dalam pendidikan adalah berfungsi sebagai
standar, sebagai pegangan dan petunjuk, sebagai penjelas, sebagai pengarah,
sebagai ukuran penilaian, sebagai pemotivasi aktifitas pendidikan. Oleh karena
itu, untuk memenuhi fungsi-fungsi tersebut, tujuan pendidikan harus dirumuskan
atas dasar nilai-nilai ideal yang diyakini, yang kelak akan dapat mengangkat
harkat dan martabat manusia, yaitu nilai ideal yang menjadi kerangka pikir dan
bertindak bagi seseorang.
3. Dasar Perumusan Tujuan
Suatu rumusan tujuan pendidikan, tidaklah bebas dibuat menurut
kehendak yang menyusunnya, melainkan harus berpijak pada nilai-nilai yang
digali dari ajaran Islam itu sendiri (Abuddin Nata,1997:46).
Pilihan terhadap suatu tujuan mengandung unsur
mengutamakan terhadap beberapa nilai atas yang lainnya. Nilai-nilai yang
dipilih sebagai pengarah dalam merumuskan tujuan pendidikan tersebut yang pada
akhirnya akan menentukan corak masyarakat yang akan dibina melalui pendidikan
(Al-Syaibany,1979:399).
Menurut Langgulung (1980:178), tujuan-tujuan pendidikan
agama Islam harus mampu mengkoordinasikan tiga fungsi utama dari agama, yang
sarat nilai, yaitu :
a.
Fungsi spiritual yang berkaitan dengan akidah dan iman.
b.
Fungsi psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku individual,
termasuk nilai-nilai akhlak yang mengangkat derajat manusia kederajat yang lebih sempurna.
c.
Fungsi sosial yang berkaitan dengan aturan-aturan yang
menghubungkan manusia dengan manusia yang lain atau masyarakat, dimana
masing-masing masyarakat menyadari hak-hak dan tanggung jawabnya untuk menyusun
masyarakat yang harmonis dan seimbang.
Arifin, (1995:32), dalam Kapita Selekta Pendidikan
menyatakan bahwa model pendidikan Islam harus berorientasi kepada pandangan
falsafi sebagai berikut:
a.
Filosofis; yang memandang manusia hidup adalah hamba Tuhan yang
diberi berbagai kemampuan.
b.
Etimologis; potensi untuk berilmu pengetahuan.
c.
Pedagogis; manusia adalah makhluk belajar sejak ayunan sampai
liang lahat.
Secara kurikuler, orientasi ini didesain menjadi
conten, pendidik, dan peserta didik. Lebih lanjut dikatakannya; orientasi dasar
pendidikan Islam yang diletakkan Rasulullah SAW. pada awal risalahnya
ialah mengembangkan sistem kehidupan
sosial yang penuh kebajikan dan kemakmuran (dengan amal saleh), meratakan
kehidupan ekonomi yang berkeadilan sosial berpolakan dunia-akhirat yang
bertumpu pada nilai-nilai moral yang tinggi; dan berorientasi kepada kebutuhan
pendidikan yang mengembangkan daya kreativitas dan pola pikir intelektual bagi
terbinanya tekno-sosial yang berkeadilan dan berkemakmuran.
Hasan Langgulung (2002:25), telah merumuskan tujuan
pendidikan Islam, melalui program “Strategi Pendidikan ke arah Pembangunan dan
Perpaduan Umat Islam”. Strategi dimaksud sejumlah prinsip dan pikiran yang
mengarahkan tindakan sistem-sistem pendidikan di dunia Islam. Di mana dunia
Islam, memiliki ciri khas yang tergambar dalam aqidah Islamiyah, maka patutlah
strategi pendidikan itu mempunyai corak Islam. Strategi yang diusulkan itu
mempunyai tiga komponen utama yaitu tujuan, dasar, dan prioritas tindakan dalam
pendidikan
Segala gagasan untuk merumuskan tujuan-tujuan Islam di
dunia Islam haruslah memperhitungkan tujuan kedatangan Islam, yakni untuk
mencapai kesempurnaan manusia (QS.[5]: 3 dan QS.[3:110). Tujuan-tujuan yang
ingin dicapai diiringi dalam dua tujuan pokok, yaitu :
a. Pembentukan insan yang saleh dan beriman
kepada Allah dan agama – Nya.
b.
Pembentukan masyarakat yang saleh yang mengikuti petunjuk agama
Islam dalam segala wawasannya.
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, pendidikan Islam
haruslah berangkat dari berbagai dasar pokoknya, yaitu ajaran Islam itu
sendiri, yang meliputi: a. keutuhan (syumuliyah), b. keterpaduan, c.
kesinambungan, d. keaslian, e. bersifat pratikal (kerja), f. kesetiakawanan,
dan g. keterbukaan. (Langgulung, 2002: 28-30)
Pada tulisannya yang lain, Hasan Langgulung (2002:25)
mengungkapkan, perumusan tujuan pendidikan Islam harus berorientasi pada
hakikat pendidikan, yaitu: a. tujuan dan tugas hidup manusia, b. memperhatikan
sifat-sifat dasar manusia. Sementara, Al-Syaibany (1979:399) menyebut dengan
prinsip-prinsip. Prinsip-prinsip dalam memformulasikan tujuan pendidikan Islam
menurutnya adalah sebagai berikut:
a.
Prinsip Syumuliyah (Universal)
b.
Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan
c.
Prinsip kejelasan
d.
Prinsip tak bertentangan
e.
Prinsip realisme dan dapat dilaksanakan
f.
Prinsip perubahan yang diingini
g.
Prinsip menjaga perbedaan-perbedaan individu
h.
Prinsip dinamis dan menerima perubahan serta perkembangan dalam
rangka metode-metode keseluruhan yang terdapat dalam agama.
Di samping pendapat Hasan Langgulung di atas, ditemukan
pula pendapat Tilaar (2002:147), dalam bukunya Paradigma Baru Pendidikan Nasional, berbicara mengenai pengembangan
pendidikan Islam. Dikatakan, bahwa menjadikan pendidikan Islam sebagai salah
satu pendidikan alternatif membutuhkan paradigma-paradigma baru untuk
meningkatkannya, antara lain peningkatan manajemen pendidikan Islam. Menurut
Tilaar, pendidikan Islam sebagai sub-sistem pendidikan nasional, visi
pendidikan Islam tentunya sejalan dengan visi pendidikan nasional, yaitu
mewujudkan manusia yang taqwa dan produktif sebagai anggota masyarakat
Indonesia yang Bhineka. Sedangkan misi pendidikan Islam adalah mewujudkan
masyarakat Indonesia yang saleh dan produktif.
Misi adalah perwujudan dari visi. Dengan demikian misi
pendidikan Islam adalah mewujudkan nilai-nilai keislaman di dalam pembentukan
manusia Indonesia, yang kita cita-citakan yaitu manusia yang saleh dan
produktif. Mewujudkan nilai-nilai keislaman, adalah merupakan ciri-ciri khas
dari pendidikan Islam. Hal ini telah dirumuskan oleh Sarkowi Suyuyuty dalam
Tilaar, (2002:150-151), bahwa apa yang disebut pendidikan Islam itu mempunyai
tiga ciri khas berikut :
a.
Suatu sistem pendidikan yang didirikan karena didorong oleh hasrat
untuk mengejawantahkan nilai-nilai Islam.
b.
Suatu sistem yang mengajarkan ajaran Islam.
c.
Suatu sistem pendidikan Islam yang meliputi kedua hal tersebut.
Malik Fajar mengemukakan bahwa pendidikan Islam dapat
menjadi alternatif apabila dia memenuhi 4 tuntutan sebagai berikut:
a.
Kejelasan cita-cita dengan langkah-langkah yang operasional di
dalam usaha mewujudkan cita-cita pendidikan islam.
b.
Memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali sistemnya.
c.
Meningkatkan dan memperbaiki manajemen.
d.
Peningkatan mutu sumber daya manusianya
Melalui beberapa pendapat dan penekanan di atas, dapat
diambil suatu pengertian bahwa perumusan tujuan pendidikan Islam haruslah
didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:
- Berpijak
pada nilai-nilai Islam
- Memperhatikan
tujuan kedatangan Islam
- Berangkat
dari berbagai dasar pokok Islam
- Berorientasi
pada hakikat pendidikan dan pandangan falsafi
- Memperhatikan
perinsip Islam
- Sejalan
dengan visi dan misi pendidikan nasional
- Melalui
paradigma-paradigma baru peningkatan pendidikan
Tujuan pendidikan Islam jika dirumuskan sedemikian rupa
dengan memperhatikan dan mempertimbangkan persoalan-persoalan yang penulis
paparkan di atas, besar kemungkinan tujuan pendidikan Islam itu, akan
terlaksanakan dan berdaya-guna. Hal ini disebabkan karena kegiatan pendidikan
dilakukan dalam upaya mempertahankan dan melanjutkan hidup dan kehidupan
manusia. Sebagaimana telah diungkapkan
di atas, bahwa kegiatan pendidikan itu
harus dilihat dari kacamata hakikat dan tujuan hidup manusia. Gambaran manusia yang berdimensi unik dan luar biasa
itu, harus terekam dalam tujuan
pendidikan. Oleh sebab itu dalam praktek, tujuan pendidikan Islam
diformulasikan sesuai dengan ruang lingkup dan tingkatan usia, tahapan, atau jenjang
pendidikan.
Dari segi ruang lingkup, jenjang pendidikan Islam
berurut dari yang sifatnya umum ke khusus, yakni dari yang sifatnya nasional,
institusional, program kurekuler pengajaran umum dan pengajaran khusus. Sementara dari segi tahapan, dikenal
tujuan-tujuan yang memperhatikan tingkat dan jenjang pendidikan, TK, SD, SLTP,
SLTA, Perguruan Tinggi, yang biasanya relevan dengan perkembangan usia dan
kepribadian anak. Hal inipun tidak terlepas dari bentuk atau jenis bidang studi,
baik dalam dataran kepentingan individu maupun kepentingan sosial. Sedangkan
pada tingkat program studi dan kurikulum IAIN sendiri misalnya dapat
berbeda-beda (lihat: Sanusi Uwes, 2003:19).
4. Tahap-tahap Tujuan
Menurut Abu Achmadi (1992: 63) tahap-tahap tujuan
pendidikan Islam meliputi: 1. Tujuan
tertinggi/terakhir. 2. Tujuan umum. 3. Tujuan khusus, dan 4. Tujuan sementara.
a.
Tujuan Tertinggi/Terakhir.
Tujuan terakhir ini bersifat mutlak, tidak mengalami
perubahan dan berlaku umum karena sesuai dengan konsep ketuhanan yang
mengandung kebenaran mutlak dan universal. Dalam tujuan pendidikan Islam,
tujuan tertinggi ini pada akhirnya sesuai dengan tujuan hidup manusia dan
peranannya sebagai ciptaan Tuhan, yaitu:
1)
Menjadi hamba Allah. Firman Allah dalam surah al-Zariyat;
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku (QS. al-Zariyat,
[51]: 56).
2)
Mengantarkan subjek didik menjadi wakil tuhan di bumi yang mampu
memakmurkannya dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya,
sesuai dengan tujuan penciptaannya dan sebagai konsekuensinya setelah menerima
Islam sebagai pedoman hidup. Firman Allah dalam al-Quran;
øÎ)ur tA$s% /u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkÏù `tB ßÅ¡øÿã $pkÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB w tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
Artinya:
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya
aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah, [2]: 30)
bÎ)ur óOä3ZÏiB wÎ) $ydßÍ#ur 4 tb%x. 4n?tã y7În/u $VJ÷Fym $wÅÒø)¨B ÇÐÊÈ §NèO ÓÉdfuZçR tûïÏ%©!$# (#qs)¨?$# âxtR¨r úüÏJÎ=»©à9$# $pkÏù $wÏWÅ_ ÇÐËÈ #sÎ)ur 4n?÷Gè? óOÎgøn=tæ $uZçF»t#uä ;M»oYÉit/ tA$s% tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. tûïÏ%©#Ï9 (#þqãZtB#uä r& Èû÷üs)Ìxÿø9$# ×öyz $YB$s)¨B ß`|¡ômr&ur $wÏtR ÇÐÌÈ ö/x.ur $uZõ3n=÷dr& Nßgn=ö6s% `ÏiB Abös% öNèd ß`|¡ômr& $ZW»rOr& $ZöäÍur ÇÐÍÈ
Artinya:
Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu, hal itu
bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan
menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim
di dalam neraka dalam keadaan berlutut. Dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata
kepada orang-orang yang beriman: "Manakah di antara kedua golongan (kafir
dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat
pertemuan(nya)?" Berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum
mereka (umat-umat yang mengingkari Allah seperti kaum 'Aad dan Tsamud), sedang
mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya dan lebih sedap di pandang mata. (QS. Maryam [19]:71-74)
3)
Untuk memperoleh kesejahteraan kebahagiaan hidup di
dunia sampai akhirat, baik individu maupun masyarakat. Firman Allah dalam surah
al-al-Quran;
Oßg÷YÏBur `¨B ãAqà)t !$oY/u $oYÏ?#uä Îû $u÷R9$# ZpuZ|¡ym Îûur ÍotÅzFy$# ZpuZ|¡ym $oYÏ%ur z>#xtã Í$¨Z9$# ÇËÉÊÈ
Artinya:
Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa
neraka" (Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim) (QS.
Al-Baqarah, [2]: 201)
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù 9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( wur [Ys? y7t7ÅÁtR ÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJ2 z`|¡ômr& ª!$# øs9Î) ( wur Æ÷ö7s? y$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# w =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ
Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat
baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS.
Al-Qashash, [28]: 77)
!$tBur »oYù=yör& wÎ) ZptHôqy úüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ
Artinya:
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam. (Q.S: al Anbiya’ [21]:107).
Tujuan tertinggi tersebut di atas pada dasarnya
merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan, bahkan secara ideal
ketiga-tiganya harus dicapai secara bersama melalui proses yang sama dan seimbang.
Ketiga tujuan tersebut berdasarkan pengalaman hidup manusia dan dalam
pengalaman aktifitas pendidikan dari masa ke masa, belum pernah tercapai
seluruhnya. Apalagi yang disebut kebahagian dunia dan akhirat, kedua-duanya
tidak mungkin dapat diketahui tingkat pencapaiannya secara empirik. Namun perlu
ditegaskan, bahwa tujuan tertinggi ini diyakini sebagai sesuatu yang ideal dan
dapat memotivasi usaha pendidikan dan bahkan dapat menjadikan aktifitas
pendidikan lebih bermakna.
b. Tujuan umum
Berbeda dengan tujuan tertinggi yang lebih mengutamakan
pendekatan filosofi, tujuan umum lebih bersifat empirik dan realistik. Tujuan
umum ini berfungsi sebagai arah yang taraf pencapaiannya dapat diukur karena
menyangkut perubahan sikap, perilaku dan kepribadian subjek didik
(Achmadi,1992:66)
Tujuan pendidikan yang bersifat umum di antaranya
adalah rumusan yang disarankan oleh Konferensi Internasional pertama tentang
pendidikan Islam di Mekah, 8 April 1977 yang menyatakan bahwa pendidikan harus
di arahkan untuk mencapai pertumbuhan keseimbangan kepribadian manusia
menyeluruh, melalui latihan jiwa, intelek, jiwa nasional, perasaan dan
penghayatan lahir. Karena itu pendidikan harus menyiapkan pertumbuhan manusia
dalam segi: spiritual, Intelektual, imajinasi, jasmani, ilmiah, linguistik, baik individu maupun kolektif, dan semua itu
didasari oleh motivasi mencapai kebaikan dan prefeksi. Tujuan akhir pendidikan
muslim itu terletak pada (aktifitas) merealisasikan pengabdian kemanusiaan
seluruhnya (Frist World Conference on Muslim Education, Recomendations, dalam Ramayulis,
2013:214).
Tujuan tertinggi maupun tujuan umum, dalam praktek
pendidikan boleh dikatakan belum pernah tercapai sepenuhnya. Karena untuk
mencapai tujuan tertinggi atau terakhir itu diperlukan upaya dengan melibatkan
semua unsur terkait, dan hal ini
merupakan upaya yang tidak pernah berakhir. Sedangkan tujuan umum “realisasi diri” sebagai proses becoming , selama hayat prosesnya tetap
berlangsung. Dalam Islam dikenal dengan konsep pendidikan sepanjang hayat, kewajiban
menuntut ilmu walaupun di negeri Cina, kewajiban menuntut ilmu bagi setiap
muslim. Di samping itu berlaku pula konsep pendidikan manusia seimbang dan seutuhnya.
Dengan demikian bukan apologi bila dikatakan bila konsep tersebut mendahului
konsep yang dewasa ini populer dengan sebutan long life education.
c. Tujuan khusus
Tujuan khusus adalah pengkhususan atau opersionalisasi
tujuan tertinggi/terakhir dan tujuan umum (pendidikan Islam). Tujuan khusus
bersifat relatif sehingga dimungkinkan untuk diadakan perubahan dimana perlu,
sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan, selama tetap berpijak pada kerangka
tujuan tertinggi/terakhir dan umum itu. Pengkhususan tujuan tersebut dapat
didasarkan pada kultur dan cita-cita suatu bangsa, serta minat, bakat, dan
kesanggupan subjek didik, dan tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu
(Achamadi,1992:70).
1)
Kultur dan cita-cita suatu bangsa
Kultur
atau kebudayan setiap bangsa yang umumnya berbeda-beda, memungkinkan perbedaan
cita-citanya. Hal ini juga memungkinkan terjadinya perbedaan dalam merumuskan
tujuan yang dikehendakinya dibidang pendidikan. Dalam Islam, ayat-ayat al-Qur’an
menjadi landasan tumpu terhadap penghargaan dan penyikapan yang benar terhadap
keragaman misalnya; QS. Al-Baqarah [2]; 62 dan 148; dua ayat ini di samping
mengandung kenyataan bahwa keragaman itu bagian dari Sunnat-u Allâh, sekaligus
juga melalui perbedaan kita dituntut untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiq
al-khairât). Multikultur juga merupakan kebijakan Tuhan yang berlaku dalam
sejarah (QS. Al-Rum [30]: 22 dan al-Baqarah [2]: 213. Artinya, kenyataan “tidak
seragam” tersebut adalah keinginan Allah sendiri, karena jika Allah
menghendaki, tentulah Dia menciptakan manusia dalam satu komunitas saja. Ide
semisal ini diulang-ulang di banyak tempat dalam al-Qur’an dengan penekanan
berbeda semisal pengujian kualitas hamba terhadap pemberian-Nya (QS.Al-Mȃ’idah
[5]: 48); pemberian petunjuk bagi mereka yang mau mengikuti Tuhan (QS. Al-Nahl
[16]: 93) dan memasukkan orang yang dikehendaki ke dalam rahmat-Nya (QS. Al-
Syûrâ [42]: 8).
2)
Minat, bakat, dan kesanggupan subjek didik.
ö@è% @@à2 ã@yJ÷èt 4n?tã ¾ÏmÏFn=Ï.$x© öNä3/tsù ãNn=÷ær& ô`yJÎ/ uqèd 3y÷dr& WxÎ6y ÇÑÍÈ
Artinya:
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya (tabiat dan
pengaruh alam sekitarnya) masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui
siapa yang lebih benar jalannya (QS. Al-Isra’, [17]: 84).
3)
Tuntutan situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu.
Tujuan pendidikan secara khusus harus mempertimbangkan masalah
situasi, kondisi pada kurun waktu tertentu, di samping faktor-fakor lainnya.
d. Tujuan Sementara
Menurut Zakiah Deradjat dkk. (1996:31-32), tujuan
sementara itu merupakan tujuan yang akan dicapai setelah peserta didik diberi
sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan
formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan pembelajaran yang dikembangkan
menjadi tujuan pembelajaran umum dan khusus (TIU DAN TIK), dapat dianggap
tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda.
Dalam tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola taqwa
sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa
ciri pokok sudah kelihatan pada pribadi peserta didik. Tujuan pendidikan
Islam seolah-olah suatu lingkaran yang
pada tingkat paling rendah mungkin merupakan suatu lingkaran kecil. Semakin
tinggi tingkat pendidikannya, lingkaran tersebut semakin besar. Tetapi sejak
dari tujuan pendidikan tingkat permulaan, bentuk lingkarannya sudah kelihatan.
Bentuk lingkaran inilah yang menggambarkan insan kamil itu. Disinilah
barangkali perbedaan mendasar tujuan dalam pendidikan Islam dibanding dengan
pendidikan lainnya.
Dalam proses pendidikan, menurut Muhaimin dan Abd. Mujib (1993:156-158), tujuan pendidikan
Islam, meliputi tujuan normatif, fungsional, dan operasional, dimana semuanya
bermuara kepada tujuan akhir. Menurutnya, tujuan akhir harus konprehensif,
mencakup semua aspek, serta terintegrasi dalam pola kepribadian ideal yang
bulat dan utuh. Tujuan akhir mengandung nilai-nilai Islami dalam segala
aspeknya; aspek normatif, aspek fungsional, dan aspek operasional. Hal tersebut
menyebabkan pencapaian tujuan pendidikan tidak mudah, bahkan sangat kompleks
dan mengandung resiko mental spiritual, lebih-lebih lagi menyangkut
internalisasi nilai-nilai Islami, yang di dalamnya terdapat , iman, Islam, dan
takwa, serta ilmu pengetahuan menjadi vital.
Secara teoritis, tujuan akhir ini menurut Muhaimin,
dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu;
1)
Tujuan normatif
Tujuan yang ingin dicapai berdasarkan norma-norma yang
mampu mengkristalisasikan nilai-nilai yang hendak diinternalisasi, misalnya:
a)
Tujuan formatif yang bersifat memberi persiapan dasar yang
korektif.
b)
Tujuan selektif yang bersifat memberikan kemampuan untuk
membedakan hal-hal yang benar dan yang salah.
c)
Tujuan determinatif yang bersifat memberi kemampuan untuk
mengarahkan diri pada sasaran-sasaran yang sejajar dengan proses kependidikan.
d)
Tujuan integratif yang bersifat memberi kemampuan untuk memadukan
fungsi psikis (pikiran, perasaan, kemauan, ingatan dan nafsu) kea rah tujuan
akhir.
e)
Tujuan aplikatif yang bersifat memberi kemampuan penerapan segala
pengetahuan yang telah diperoleh dalam
pengalaman pendidikan.
2)
Tujuan fungsional
Tujuan yang sasarannya diarahkan pada kemampuan peserta
didik untuk memfungsikan daya kognisi,
afeksi, dan psikomotorik dari hasil pendidikan yang diperoleh, sesuai dengan
yang ditetapkan. Tujuan ini meliputi :
a)
Tujuan individual; yaitu kemampuan untuk pengamalan
nilai-nilai ke dalam pribadi berupa
moral, intelektual, dan skil.
b)
Tujuan sosial; kemampuan pengamalan nilai-nilai ke dalam kehidupan
social, interpersonal, dan interaksional dengan orang lain dalam masyarakat.
c)
Tujuan moral; kemampuan untuk berprilaku sesuai dengan tuntutan
moral atas dorongan motivasi yang bersumber pada agama (teogenetis), dorongan
social (sosiogenetis), dan dorongan biologis (biogenetis).
d)
Tujuan professional; kemampuan untuk mengamalkan keahliannya,
sesuai dengan kompetensi.
3)
Tujuan operasional
Tujuan yang mempunyai sasaran teknis manajerial. Tujuan
ini dibagi menjadi enam macam, yaitu;
a)
Tujuan umum (tujuan total)
b)
Tujuan khusus; sebagai indikasi tercapainya tujuan umum
c)
Tujuan tak lengkap; merupakan suatu aspek saja.
d)
Tujuan insidental ; tujuan seketika atau secara kebetulan
e)
Tujuan sementara; tujuan yang ingin dicapai pada fase-fase
tertentu dari tujuan umum.
f)
Tujuan intermedier; tujuan yang berkenaan dengan penguasaan suatu
pengetahuan dan keterampilan demi tercapainya tujuan sementara.
Tujuan pendidikan di atas tidak hanya terfokus pada
tujuan yang bersifat teoritis, tetapi juga bertujuan praktis yang sasarannya
pada pemberian kemampuan praktis pada peserta didik (lihat: Muhaimin,Tajab,1993:156-158).
Abuddin Nata (1997:57-58) menyebutkan dengan istilah
struktur perumusan tujuan pendidikan
Islam, menurutnya tujuan pendidikan itu terdiri dari:
a)
Tujuan umum yang dikenal pula dengan tujuan akhir
b)
Tujuan khusus, sebagai penjabaran dari tujuan umum
c)
Tujuan per-bidang pembinaan
d)
Tujuan setiap bidang studi sesuai dengan bidang-bidang pembinaan
e)
Tujuan setiap pokok bahasan yang terdapat dalam setiap bidang
studi
f)
Tujuan setiap pokok bahasan yang terdapat dalam setiap pokok bahasan.
Uraian mengenai tahap-tahap atau struktur tujuan
pendidikan Islam di atas, memperlihatkan
dengan jelas keterlibatan fungsional mengenai gambaran ideal dari manusia yang
ingin dibentuk oleh kegiatan pendidikan. Merumuskan gambaran sosok manusia yang
ideal sesuai dengan tahap-tahap di atas, merupakan pekerjaan para filosof di
bidang pendidikan, berdasarkan pada ajaran Islam sebagai sumber acuan utamanya.
Selain itu, hal ini diperkirakan dapat membantu tugas
para pemikir di bidang pendidikan Islam. Ketika mereka akan melaksanakan
kegiatan pendidikan, maka sebelum merumuskan bidang kegiatan lainnya, terlebih
dahulu ia harus dapat merumuskan dengan jelas mengenai sosok manusia yang ingin
dihasilkannya melalui kegiatan pendidikannya itu. Untuk dapat merumuskan tujuan
pendidikan tersebut, ia memerlukan jasa pemikiran para filosof yang sesuai
dengan petunjuk al-Qur’an dan al-Hadits (Abuddin Nata,1997:58).
Dalam penjabaran lebih lanjut, menurut Nana Sudjana
(2004:57-58), sesuai dengan tingkatan, jenis sekolah dan program pendidikan
yang diberikan, kita mengenal 4 tingkatan tujuan pendidikan yaitu:
a)
Tujuan umum pendidikan, yakni pembentukan manusia
pancasila/seutuhnya.
b)
Tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan).
c)
Tujuan kurikuler (tujuan bidang studi/mata pelajaran).
d)
Tujuan instruksional (tujuan proses belajar dan
mengajar/pembelajaran).
Tujuan umum ini ditetapkan oleh pemerintah, biasanya
melalui undang-undang pendidikan. Tujuan umum
pendidikan tidak sama untuk setiap Negara, karena tujuan itu bukan hanya
bersifat filosofik, tetapi juga bersifat politik, seperti aturan putusan
pemerintah dan malahan dalam bentuk undang-undang. Negara kita telah
menggariskan dasar, sistem dan tujuan pendidikan nasional pancasila yang secara
umum menjadi dasar dan arah kegiatan pendidikan. Sedangkan pendidikan Islam berdasarkan kepada ajaran
ajaran Islam, bersumberkan al-Qur’an dan sunah, sebagaimana telah disinggung
terdahulu.
Tujuan institusional adalah tujuan yang diharapkan
dicapai oleh lembaga atau jenis tingkatan sekolah sebagai antara untuk sampai
pada tujuan umum. Sementara tujuan kurikuler adalah penjabaran tujuan
institusional yang berisi program-program pendidikan dalam kurikulum lembaga
pendidikan. Tujuan ini menggambarkan peserta didik yang sudah memperoleh
pendidikan dalam bidang-bidang studi
yang diajarkan di lembaga
pendidikan tertentu. Adapun tujuan instruksional (umum dan khusus atau dikenal dengan
TIU-TIK/TPU-TPK) adalah merupakan tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan
pendidikan sehari-hari. Tujuan ini akan menjawab pertanyaan: apa yang harus
dicapai oleh peserta didik dalam bidang studi ….ini? dalam…..menit pada hari
ini?
Pencapaian tujuan instruksional ini akan menunjang
pencapaian tujuan kurikuler. Dengan demikian jelas bahwa hirarki (tingkatan)
tujuan pendidikan yang hendak dicapai , mulai dari yang paling rendah sampai
kepada yang paling tinggi yaitu tujuan umum Di sini jelas bagaimana peran dan
andil pendidik dalam menjalankan fungsinya sebagai seorang pendidik
professional, baik dalam merumuskan tujuan atau menyusun rencana pembelajaran
yang didesain sedemikian rupa. Kemana peserta didik akan di arahkan? Aspek
aspek apa saja yang diharapkan dari tujuan pendidikan Islam? Berikut ini akan
dicoba mengemukakannya secara umum.
5. Aspek-aspek Tujuan Pendidikan Islam
Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah (1990:142-148),
komponen sifat dasar manusia itu terdiri dari tubuh, ruh, dan akal. Tujuan
pendidikan Islam secara umum harus di
bangun berdasarkan ketiga komponen ini yang masing-masingnya harus terpelihara
sebaik-baiknya. Kegagalan dalam memncapai hasil memproduksi suatu pribadi akan
menyebabkan hasilnya tidak kualified bagi peran khalifah. Dalam pendidikan,
menurutnya harus mempunyai tujuan pokok, yang merupakan komponen atau aspek
dari tujuan itu, yaitu:
b.
tujuan pendidikan jasmani (ahdaf al-Jismiyah),
c.
tujuan pendidikan rohani (ahdaf al-ruhaniyah),
d.
tujuan pendidikan akal (ahdaf al-`Aqliyah),
e.
tujuan pendidikan sosial (ahdaf al- ijtima’iyah).
Tujuan pendidikan jasmani, mempersiapkan diri manusia
sebagai pengemban tugas khalifah di bumi, melalui pelatihan
keterampilan-keterampilan fisik. Beliau berpijak pada pendapat dari Imam Nawawi
yang menafsirkan al-qawy sebagai
kekuatan iman yang ditopang oleh kekuatan fisik (QS.[2]:247, [8]:60). Juga
bertujuan menghindari situasi-situasi yang mengancam kesehatan fisik peserta
didik.
Tujuan pendidikan rohani, dimaksudkan meningkatkan jiwa
dari kesetiaan yang hanya kepada Allah semata dan melaksanakan moralitas Islami
yang diteladani oleh Nabi Muhammmad SAW. Dengan berdasarkan pada cita-cita
ideal dalam al-Qur’an (QS.[3]:19) Indikasi pendidikan rohani ini adalah tidak
bermuka dua (QS.[2]:10), berupaya memurnikan dan mensucikan diri manusia secara
individual dari sikap negatif (QS.[2]:129) yang disebut dengan tazkiyah atau purifikasi dalam hikmah.
Tujuan pendidikan akal, dimaksudkan perkembangan
intelegensi yang mengarahkan peserta didik sebagai individu atau pengarahan
intelegensi untuk dapat menemukan kebenaran yang sebanar-benarnya melalui
telaah tanda-tanda kekuasaan Allah dan penemuan pesan-pesan ayat-ayat-Nya yang membawa iman kepada Sang
Pencipta. Dengan tahapan-tahapan: pencapaian kebenaran ilmiah (ilmu yaqin) (QS.[105]:5), pencapaian
kebenaran empiris (ainul yaqin)
(Q.S.105:7), pencapaian kebenaran meta-empiris atau sebagai kebenaran filosofis
(haqqul yaqin) (QS.[56]:95, [69]:51)
Tujuan pendidikan sosial ini adalah pembentukan
kepribadian yang utuh dari roh, tubuh, dan akal. Identitas individu di sini
tercermin sebagai an-Nas yang hidup pada masyarakat yang plural
(majemuk).
Apa yang dipaparkan dalam aspek-aspek tujuan pendidikan
di atas, telah tercermin dalam rumusan
tujuan pendidikan Islam yang dikemukakan oleh para ahli pendidikan Islam,
seperti Athiyah Al Abrasyi, Al Gazali, Ibnu Khaldum, Abdurrasyid ibnu Abdil
Aziz, Ali Ashraf, dan lain-lain. Pada hakikatnya rumusan
tujuan
tersebut terfokus pada tiga bagian, sebagaimana ditulis Muhaimin, Tajab (1993:164-166) dalam bukunya
Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya,
menyimpulkan sebagai berikut.
a.
Terbentuknya insan Kamil (manusia universal, concience)
yang mempunyai wajah-wajah Qur’ani, misalnya:
1)
Wajah kekeluargaan dan persaudaraan yang menumbuhkan sikap
egalitarianisme (Q.S. [49]: 10-13)
2)
Wajah yang penuh kemuliaan sebagai makhluk yang berakal dan
dimuliakan (QS. [8]:4, [16:70, [17]:23, [25]:72, [33]:44, [49]:13, [56]:77, [69]:40,
[89]:17, [96]:3).
3)
Wajah kreatif yang menumbuhkan gagasan-gagasan baru dan bermanfaat
bagi kemanusiaan (QS. [23]:14).
4)
Wajah yang penuh keterbukaan yang menumbuhkan pretasi kerja dan
pengabdian mendahului prestasi (QS.[ 6]:132).
5)
Wajah yang monokotomis yang menumbuhkan integralisme sistem
ilahiyah ke dalam sistem insaniyah dan sistem kaumniyah (QS. [2]:25, [38], [3]:9,
[4]:135).
6)
Wajah keseimbangan yang menumbuhkan kebijakan dan kearifan dalam
mengambil keputusan (Q.S. [55]:78).
7)
Wajah kasih sayang menumbuhkan karakter dan aksi solidalitas dan
sinerji (Q.S. [7]:151,156, [21]:107, [17]:24, [30]:21, [31]:3, [48]:29, [80]:31,
[90]:17).
8)
Wajah alturistik yang menumbuhkan wajah kebersamaan dalam
mendahulukan orang lain (Q.S. [59]:9)
9)
Wajah demokrasi yang menumbuhkan wajah penghargaan dan
penghormatan terhadap persepsi dan aspirasi yang berbeda (Q.S. [9]:60, [59]:7).
10) Wajah keadilan yang menumbuhkan persamaan hak serta
perolehan (Q.S. [5]:8 dan seterusnya).
11) Wajah disiplin yang menumbuhkan keteraturan dan
ketertiban dalam kehidupan (Q.S. [2:187, [24]:51, [59]:18).
12) Wajah manusiawi yang menumbuhkan usaha mengindarkan
diri dari dominasi dan eksploitasi (Q.S. [2]:256, [40]:8,9).
13) Wajah penuh kesederhaan yang menumbuhkan rasa dan karsa
menjauhkan diri dari pemborosan (Q.S. [2]:165, [3]:15,17,185, [4]:135, [7:131, [79]:38,39).
14) Wajah yang intelektual atau terpelajar yang menumbuhkan
daya imajinasi dan daya cipta (Q.S. [58]:11).
15) Wajah bernilai tambah (value added) (Q.S. [2]2:78,
[5]3:39, [59:18, dan seterusnya).
b.
Terciptanya insan kaffah yang memiliki dimensi-dimensi
religius, budaya dan
ilmiah.
1)
Dimensi religius yaitu merupakan makhluk yang mengandung berbagai
misteri dan tidak dapat direduksikan kepada faktor semata-mata.
2)
Dimensi budaya, manusia merupakan makhluk etis yang mempunyai
kewajiban dan tanggung jawab terhadap kelestarian ilmiah seisinya. Dalam
dimensi ini, manusia mendaptkan dasar untuk mempertahankan keutuhan
kepribadiannya dan mampu mencegah harus zaman yang membawa pada desintegrasi
dan framentasi yang selalu mengancam kehidupan manusia.
3)
Dimensi ilmiah, dimensi yang mendorong manusia untuk selalu
bersikap objektif realistis dalam menghadapi tantangan zaman, serta berbagai
kehidupan manusia terbina untuk bertingkah laku secara kritis dan rasional,
serta berusaha mengembangkan keterampilan dan kreatifitas berfikir.
c.
Penyadaran fungsi manusia sebagai hamba Allah SWT., sebagai
khalifah Allah SWT., serta sebagai waratsatul Anbiya` dan memberikan
bekal yang memadai dalam rangka pelaksanaan fungsi tersebut.
6. Ranah Tujuan
Dalam penjabaran aspek-aspek yang hendak dicapai dalam
tujuan pendidikan, sesuai dengan tingkatan, jenis sekolah dan program
pendidikan yang diberikan melalui tahap-tahap tujuan yang telah dikemukakan di
atas, perlu diingat bahwa kegiatan pendidikan yang dilaksanakan selalu di arahkan pada tiga bidang/aspek
/ranah tujuan yaitu : a. aspek kognitif (pengetahuan), b. aspek afektif
(perasaan dan sikap), dan aspek psikomotorik (keterampilan dan perbuatan) (Nana
Sudjana, 2004:60).
Perumusan tujuan ke arah aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik ini, dimunculkan sejak tahun
1965, dengan terciptanya buku pertama yang berjudul : Taxonomy of Educational Objectives: Cognitive Domain (Taksonomi
Tujuan-tujuan Pendidikan: Bidang Kognitif), oleh Benyamin Bloom, seorang maha
guru dari Universitas Chicago. Buku kedua:
Taxonomy of Educational Objectives Affective Domain, ditulis oleh Krathwohl
cs, (1964) sedang buku ketiga berjudul: A
Txonomy of the Psychomotor Domain, ditulis oleh: Anita J.Harrow (1972)
Ketiga buku
inilah yang dijadikan dasar oleh dunia pendidikan sekarang ini. Secara
umum Nana Sudjana (2004:59-60),
mencantumkan rangkuman tujuan-tujuan
tersebut untuk tiap-tiap bidang
atau domain.
Domain kognitif: a. pengetahuan yang khusus, b.
pemahaman, c. penggunaan atau aplikasi, d. analisa, e. sintesa, f. evaluasi.
Domain afektif: a. menerima, b. menjawab, c. menilai, d. mengorganisasikan, e.
memberi sifat atau karakter. Domain psikomotor: a. gerakan refleks, b. gerakan
dasar dan sederhana, c. kemampuan menghayati, d. kemampuan fisik (jasmani), e.
gerakan yang sudah terampil, f. komunikasi ekspresif.
Sementara, Winkel (1996:245) mengemukakan taksonomi
atau klasifikasi sebagai berikut:
a. Ranah kognitif (cognitive domain), menurut Bloom dan
kawan-kawan: (1) pengetahuan, (2) pemahaman, (3) penerapan, (4) analisis, (5)
sintesis, dan (6) evaluasi.
b. Ranah afektif (affective domain), menurut taksonomi Kratwohl,
Bloom dan kawan-kawan: (1) penerimaan, (2) partisipasi, (3) penilaian, (4)
organisasi, dan (5) pembentukan pola hidup .
c.
Ranah psikomotorik
(pcychomotorik domain) , menurut klasifikasi Simpson: (1) persepsi, (2) kesiapan, (3) gerakan
terbimbing, (4) gerakan yang terbiasa, (5) gerakan yang kompleks, (6)
penyesuaian, dan (7) kreativitas.
Tiga ranah ini amat terkait dengan salah satu orientasi
kurikulum, yaitu orientasi pada peserta didik, di mana orientasi ini memberikan
kompas pada kurikulum untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang disesuaikan
dengan bakat, minat, dan kemampuan. Oleh karena itu menjadi suatu keharusan bagi seorang pendidik
atau guru untuk sedapat mungkin menggunakan kata-kata operasional dalam
perumusan TIK (Lihat Winkel, 1996:250-254).
Mengingat rumusan tujuan dibuat oleh guru , maka guru
harus memahami tiga hal pokok, yaitu: (1) Guru harus mempelajari kurikulum. (2)
Guru harus memahami tipe-tipe hasil belajar. (3) Memahami cara merumuskan
tujuan pembelajaran .
Ranah pendidikan Islam, lebih luas lagi, di samping
kognitif, afektif, dan psikomotorik, juga meliputi ranah konatif dan
performance. Konatif, berhubungan dengan motivasi atau dorongan dari dalam atau
disebut niat, sebagai titik tolak peserta didik untuk melakukan sesuatu.
Sedangkan performance adalah kinerja yang dilakukan bekualitas yang dapat
diketahui melalui afektif. Misalnya kinerja shalat seseorang itu khusyuk atau
tidak? Hal ini akan dapat di lihat dari hasil perbuatan shalat yang kelak
mencerminkan akhlak yang terpuji.
Tahun ajaran
2004/2005, pemerintah kita Indonesia memberlakukan kebijakan perubahan
kurikulum, dari kurikulum 1994 ke kurikulum berbasis kompetensi (KBK) secara
bertahap. Kegiatan yang harus dilakukan
dalam perencanaan pengembangan silabus KBK tersebut antara lain :
a.
Mengidentifikasi dan menentukan jenis-jenis kompetensi dan tujuan
setiap bidang studi
b.
Mengembangkan kompetensi dan pokok-pokok bahasan serta
mengelompokkannya sesuai dengan ranah/aspek pengetahuan, pemahaman, kemampuan
(keterampilan), nilai dan sikap.
c.
Mendeskripsikan kompetensi serta mengelompokkannya sesuai dengan
ruang lingkup dan urutannya.
d.
Mengembangkan indikator untuk setiap kompetensi dan kriteria
pencapaiannya. (Mulyasa, 2004:58)
Dengan demikian, sekolah diharapkan dapat melakukan
proses pembelajaran yang efektif, dapat mencapai tujuan yang diharapkan, materi
yang diajarkan relevan dengan kebutuhan masyarakat, berorientasi pada hasil,
dampak, serta melakukan penilaian , pengawasan, dan pemantauan secara terus
menerus dan berkelanjutan.
Kebijakan pemerintah tentang pemberlakuan KBK di atas,
telah pula melahirkan buku-buku pedoman tentang itu, baik untuk sekolah, maupun
untuk madrasah pada setiap jenjang pendidikan .
Memperhatikan apa yang telah dipaparkan di atas, baik
aspek tujuan pendidikan Islam, dengan mengemukakan segi jasmani, rohani, akal,
dan sosial, dan hal-hal yang diharapkan dari masing-masingnya, disisi lain
aspek kognitif, afektif, dan psikomotor serta hal-hal yang diharapkan, maka ini
merupakan pemikiran yang searah dan sejalan, dan tidak ada pertentangan, tapi
saling mengisi. Apa yang dikemukakan dalam Islam, sungguh sangat luar biasa.
Namun semua itupun tak berarti bila pelaksana-pelaksana pendidikan tidak memberlakukannya
sebagai sumber dan dasar pendidikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
7. Tujuan Pendidikan Islam yang bersifat universal
Tujuan
Pendidikan Islam adalah perwujudan nilai-nilai Islami dalam pribadi manusia
didik yang diikhtiarkan oleh pendidik muslim melalui proses yang terminal pada
hasil (produk) yang berkepribadian Islam yang beriman, bartakwa dan berilmu
pengetahuan yang sanggup mengembangkan dirinya menjadi hamba Allah yang taat.
Hasil rumusan tentang tujuan pendidikan Islam menurut
Kongres Pendidikan Islam se Dunia di Islamabad tahun 1980, menunjukkan Bahwa
pendidikan harus merealisasikan cita-cita (idealist) Islami yang mencakup
pengembangan kepribadian muslim yang bersifat menyeluruh secara harmonis
berdasarkan potensi psikologis dan fisiologis (jasmaniah) manusia yang mengacu
kepada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara berkeseimbangan
sehingga terbentuklah manusia muslim yang peripurna, yang berjiwa tawakkal
(menyerahkan diri) secara total kepada Allah SWT. sebagaimana firman Allah
dalam surat al-An’am ayat 162 dan al
Hujurat ayat 11 sebagai berikut:
ö@è%
¨bÎ)
ÎAx|¹
Å5Ý¡èSur
y$uøtxCur
ÎA$yJtBur
¬!
Éb>u
tûüÏHs>»yèø9$#
ÇÊÏËÈ
Artinya:
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam (QS. al-An’am, [6] 162).
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) @Ï% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿt ª!$# öNä3s9 ( #sÎ)ur @Ï% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×Î7yz ÇÊÊÈ
Artinya: Hai orang-orang beriman apabila
kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka
lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Artinya: … niscaya Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di antara kamu dan orang-oang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dengan demkian tujuan pendidikan Islam barjangkauan
sama luasnya dengan kebutuhan hidup manusia modern masa kini dan masa yang akan
dating, di mana manusia tidak hanya memerlukan iman atau agama melainkan juga
ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat untuk memperoleh kesejahteraan
hidup di dunia sebagai sarana untuk mencapai kehidupan spiritual yang bahagia
di akhirat terhindar dari siksaan neraka.
Sejalan dengan tujuan pendidikan yang besifat paripurna
di atas, Mohd Fadhil al Djamaly, berpendapat bahwa sasaran pendidikan Islam
yang sesuai dengan ajaran al Qur’an ialah membina kesadaran atas diri manusia
sendiri dan atas sistem sosial yang Islami, sikap dan rasa tanggung jawab
sosialnya, juga terhadap alam sekitar ciptaan Allah serta kesadarannya untuk
mengembangkan dan mengelolanya bagi kepentingan kesejahteraan umum manusia.
Namun yang paling utama dari semuanya itu ialah membima makrifat kepada Allah
Pencipta alam dan beribadah kepada-Nya dengan cara mentaati
perintah-perintah-Nya serta manjauhi segala larangan-Nya. (Mohd Fadhil Al
Djamaly dalam Arifin M..Ed.,1993:225)
Berikut ini dikemukakan rumusan tujuan pendidikan Islam
dari beberapa pendapat para ahli/ulama Islam.
Pertama, menurut Ikhwanussofa, cendrung berorientasi
kepada mazhab filsafat dan kepada keyakinan politisnya merumuskan tujuan
pendidikan untuk menumbuh-kembangkan
kepribadian muslim yang mampu mengamalkan cita-citanya.
Kedua, menurut Abul Hasan Al-Qabisi yang menganut
paham ahlisunnah waljama’ah merumuskan tujuan pendidikan untuk mencapai
makrifat dalam agama baik ilmiah maupun amaliah.
Ketiga, menurut Ibnu Maskawaih, seorang ahli fiqh dan
hadits menitik beratkan rumusannya pada usaha mencapai tujuan pendidikan yang
berkualitas baik, benar dan indah atau merealisasikan kebaikan , kebenaran, dan
keindahan.
Keempat, menurut Al Gazaly, tujuan pendidikan dengan
menitik beratkan pada melatih anak agar dapat mencapai makrifah kepada Allah
melalui jalan tasawwuf yaitu dengan mujahadah (membiasakan) dan melatih
nafsu-nafsu.
Meskipun berbeda-beda
dalam rumusan pendapat para ahli tersebut di atas, namun satu aspek
prinsipil yang sama adalah semuanya menghendaki terwujudnya nilai-nilai Islami
dalam pribadi peserta didik, yaitu keislaman, keimanan, dan ketakwaannya. (Ali
Al Djumlathy dan Abu Al Futuh Al Ruwanisy dalam Arifin M.Ed., 1993:226)
Sebagian ulama ada yang merumuskan tujuan pendidikan
Islam yang didasarkan atas cita-cita hidup umat Islam yang menginginkan
kehidupan duniawi dan ukhrawi , bahagia secara harmonis, sehingga tujuan
pendidikan Islam secara teoritis dibedakan menjadi dua jenis tujuan, yaitu
tujuan keagamaan (al ghardud-dieny) dan tujuan ke duniaan (al ghardud-dunyawi)
Perlu disebutkan di sini, bahwa ISESCO telah
menyiapkan rencana strategi pendidikan yang akan diajukan kepada Negara-negara
anggota untuk dikaji dan dimintakan pendapatnya sebelum diajukan kepada
mentri-mentri pendidikan Negara Islam untuk disetujui. Strategi dimaksud adalah
sejumlah prinsip dan pikiran yang mengarahkan tindakan sistem-sistem pendidikan
di dunia Islam. Strategi yang diusulkan itu terdiri dari tiga komponan utama
yaitu tujuan, dasar, dan prioritas dalam pendidikan (lihat: Hasan Langgulung, 2002;25).
I. Tujuan
Pendidikan Islam di Indonesia
Pendidikan Islam di Indonesia di samping berorientasi
pada tujuan umum pendidikan Islam sebagaimana di atas, juga harus pula
berorientasi pada tujuan pendidikan Nasional.
Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945, berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi paeserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga Negara yang demokkratis serta bertanggung jawab. (UU RI No 20
Tahun 2003 Tentang Sisdiknas: 7). Rumusan tujuan inilah yang dijadikan sebagai
arah dalam proses pendidikan pada setiap lembaga pendidikan di Indonesia,
sehingga lembaga pendidikan Islam di Indonesia diharapkan dapat melahirkan manusia muslim yang
Pancasilais.
Secara makro pendidikan Nasional bertujuan membentuk
organisasi pendidikan yang bersifat otonom sehingga mampu melakukan inovasi
dalam pendidikan untuk menuju suatu lembaga yang beretika, selalu menggunakan
nalar, berkemampuan berkomunikasi sosial yang positif dan memiliki sumber daya
manusia yang sehat dan tangguh. Sedang kan secara mikro pendidikan Nasional
bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa , beretika ( beradab dan berwawasan budaya bangsa Indonesia), memiliki
nalar (maju, cakap, cerdas, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab), berkemampuan
komunikatif sosial (tertib dan sadar hokum, kooperatif, demokratis), dan
berbadan sehat sehingga menjadi manusia mandiri. Acuan inilah yang akan
menjadikan sosok manusia Indonesia lulusan dari berbagai jenjang pendidikan
(Pendidikan Dasar, Menengah Umum, Menengah Kejuruan, Pendidikan Tinggi, Luar
sekolah, Keluarga).
Jika diamatai, tujuan pendidikan Islam dan tujuan
pendidikan Nasional di atas, jelas sekali
relevansi dan persesuaiannya. Semuanya
bertujuan untuk menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat
membangun dirinya sendiri dan bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa. Meskipun pendidikan agama
(Islam) tidak termasuk pola dasar pembangunan Nasional melainkan sebagai
salah satu komponen strategis dalam pembinaan watak bangsa Indonesia karena
tergolong ke dalam kelompok dasar dari Kurikulum Pendidikan Nasional, maka
pelaksanaannya menuntut kepada terwujudnya keterjalinan kerjasama antara
penanggung jawab pendidikan di samping keterjalinan tekad antara penentu kebijakan
dan program pendidikan sampai kepada pelaksana teknis di lapangan, operasional
kelembagaan formal dan non formal untuk mensukseskan tujuan pokoknya.
Pendidikan agama wajib dilaksanakan di semua
lingkungan pendidikan oleh semua unsur penanggung jawab pendidikan, mengingat
pendidikan agama di Indonesia bukan semata-mata panggilan misionair atau dakwah
agama, melainkan ia merupakan misi nasional yang mengikat seluruh komponen
bangsa untuk mensukseskannya.
Sejalan dengan tujuan pendidikan Nasional yang telah
ditetapkan dalam TAP-TAP MPR, terutama TAP.MPR/II/1988, yang merupakan aspek
utama dari tujuan Nasional itu, maka tugas dan fungsi pendidikan agama adalah
membangun fondasi kehidupan pribadi bangsa Indonesia yaitu mental rohaniah yang
berakar tunggang pada faktor keimanan dan ketakwaan yang berfungsi sebagai
pengendali, pattern of reference
spiritual dan sebagai pengokoh jiwa bangsa melalui pribadi-pribadi yang
tahan banting dalam segala cuaca perjuangan.
Dengan demikian konsepsi keimanan dan ketakwaan itu
harus dapat dijabarkan ke dalam pengertian operasional kependidikan sehingga
dapat diinternalisasikan melalui berbagai potensi psikologis yang bercorak
homeostetika (berkeselarasan) antara akal kecerdasan (ratio) dengan perasaan
(emosi,afeksi) yang melahirkan perilaku yang akhlaqul karimah dalam hidup
berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu model pendidikan Islam (agama) yang
ideal sesuai dengan cita cita bangsa dan agama adalah bila berproses ke arah
pengembangan kognitif-afektif dan afektio-afektif secara selaras dan
serasi.(Lihat Arifin: 1995:85-86)
Strategi pengembangan pendidikan Islam yang
berpolakan berkeselarasan menuntut kepada upaya yang lebih menekankan pada
faktor kemampuan berpikir dan berperasaan atau akhlaqiah yang merentang ke arah
Tuhannya dan ke arah masyarakatnya (‘ubudiyah dan mu’amalahnya) di mana iman
dan takwa menjadi rujukannya. Dalam pendidikan Islam, keseluruhan proses belajar bepegang pada prinsip al Qur’an dan
Sunnah serta terbuka untuk unsur-unsur
luar secara adaptif yang ditilik dari persepsi Islam. Kelima domain atau ranah
yang dikehendaki Islam adalah perubahan yang dapat menjembatani indiividu
dengan masyarakat dan dengan Khaliq. Tujuan akhir pembentukan orientasi hidup
secara menyeluruh sesuai dengan kehendak Tuhan dan konsisten dengan
kekhalifahannya.
C. Penutup
Setelah mempelajari masalah tujuan dalam komponan
pendidikan Islam, yang merupakan salah satu sistem pendidikan Islam yang sangat
menentukan arah pendidikan Islam itu sendiri, dirasakan sangat penting diketahui.
Beberapa hal dapat diambil sebagai kesimpulan dalam tujuan ini adalah:
·
Tujuan penting dan perlu di ketahui oleh setiap orang, dalam
dunia pendidikan. Tujuan lebih penting lagi karena menyangkut keselamatan orang lain, yaitu peserta didik
sebagai amanah dari Yang Mahakuasa.
·
Tujuan adalah suatu yang diharapkan tercapai, suatu perbuatan
yang diarahkan kepada hal-hal tertentu, maksud yang yang hendak dicapai,
perubahan yang diingini terhadap berbagai aspek, yang diusahakan melalui proses
pendidikan Islam.
·
Tujuan berfungsi sebagai standar, petunjuk, pegangan, penjelas,
pengarah, pemotivasi, ukuran penilaian dalam suatu usaha/pekerjaan pendidikan
Islam.
·
Perumusan tujuan haruslah
didasarkan kepada nilai-nilai Islam, serta tujuan kedatangan Islam sebagai pegangan
inti, dengan memperhatikan berbagai aspek yang mempengaruhi tujuan tersebut, antara lain; hakikat
pendidikan dan pandangan falsafi,
prinsip-prinsip Islam, visi dan misi pendidikan nasional, paradigma-paradigma
baru dalam peningkatan pendidikan Islam
itu sendiri, serta disesuaikan dengan ruang lingkup dan tingkatan usia/tahap/jenjang pendidikan Islam itu.
·
Tujuan pendidikan Islam terdiri dari tujuan tertinggi/terakhir,
tujuan umum, tujuan khusus, dan tujuan sementara, yang dalam prakteknya disebut
tujuan umum, tujuan lembaga, tujuan kurikuler, dan tujuan intruksional baik
secara umum maupun secara khusus.
·
Tujuan pendidikan Islam ditujukan kepada aspek jasmaniayah, rohaniah, akal, dan
sosial, dalam menuju tercapainya tujuan yang paripurna.Dalam versi lain disebut
dengan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Penuangan ini terlihat pada seperangkat tujuan pembelajaran
yang dinyatakan sedemikian rupa melalui KBK yang tengah dimulai penerapan di
sekolah dan madrasah di Indonesia.
·
Tujuan pendidikan Islam terfokus pada tiga bagian besar, yaitu
terbentuknya insan kamil yang mempunyai wajah-wajah Qur’any, terciptanya insan
kaaffah yang memiliki dimensi
religius, budaya dan ilmiah, penyadaran
fungsi-fungsi manusia sebagai hamba Allah, sebagai khalifah Allah serta sebagai
waratsatul ambiya’ dan memberi bekal
yang memadai dalam pelaksanaan fungsi pendidikan.
·
Ranah pendidikan Islam tediri dari; kognitif, afektif,
psikomotorik, konatif, dan performance (kinerja).
·
Konsep tujuan pendidikan Islam secara teoritik sejalan dengan
konsep tujuan pendidikan Nasional. Ia hanya dapat dicapai antara lain melalui
proses yang melibatkan akal pikiran, tutur kata yang menyentuh jiwa, kisah manusia yang baik dan buruk, disertai
dengan panutan yang baik dari para pendidik.
Masalah tujuan dalam pendidikan Islam merupakan
masalah yang sangat mendasar sebagai penentu, maka setiap pelaku pendidikan
sudah semestinya memahami kurikulum, tipe-tipe hasil pembelajaran dan cara
merumuskan tujuan pembelajaran sehingga tujuan tersebut jelas isinya dan dapat dicapai oleh peserta didik setelah proses pembelajaran.
Padang,
Mei 2014 M/Rajab 1435 H
Rosniati
Hakim
DAFTAR
KEPUSTAKAAN
Achmadi, 1992. Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan, Yogyakarta: Aditya Media
Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib, 1979.
Konsep Pendidikan dalam Islam, Terjemahan
Haidar Bagir, Bandung: Mizan
Al-Syaibani, 1979. Falsafah Pendidikan Islam (terjemahan) Hasan Langgulung dari Falsafah
At-Tarbiyah Al-Islamiyah, Jakarta: Bulan Bintang
Arifin, H. Muzaiyin,
1993. Ilmu Pendidikan Islam Suatu
Tinjauan Teoritis dan Praktis berdasarkan Pendekatan Intern Desipliner, Bumi
Aksara: Jakarta
Arifin, H. Muzayin,
1991. Ilmu Pendidikan Islam: Suatu
Tinjauan Teoritis dan Praktis, Jakarta: Bumi Aksara
Arifin, H. Muzayin,
1993. Filsafat Pendidikan Islam,
Jakarta: Bumi Aksara
Arifin, H. Muzayin, 1993. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Arifin, H. Muzayin,
1995. Kapita Selekta Pendidikan (Islam
dan Umum), Bumi Aksara, Jakarta
Ashraf, Ali,
1991. Horison Baru Pendidikan Islam,
Jakarta: Pustaka Firdaus
Azra, Azrumardi,
1999. Pendidikan Islam: Tradisi dan
Modernisasi Menuju Milenium Baru, Ciputat: Logos Wacana Ilmu
Barnadib, Imam
Sutari, 1993. Pengantar Ilmu Pendidikan
Sistematis, Yogyakarta: Andi Offset
Brobacher, John.
S, 1950. Modern Philosophis of Education,
Mc.Graw Hill Book Company, INC New York Toronto London
Derajat, Zakiah,
1992. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:
Bumi Aksara
Jalal, Abdul
Fatah, 1998. Azas-Azas Pendidikan Islam,
Bandung: 1998
Kartono,
Kartini, 1992. Pengantar Ilmu Pendidikan
Teoritis, Bandung: Mandar Maju
Langgulung,
Hasan, 1980. Beberapa Pemikiran Tentang
Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif
Langgulung,
Hasan, 1987. Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta:
Pustaka Al-Husna
Langgulung,
Hasan, 1989. Manusia dan Pendidikan Suatu
Analisa Psikologi dan Pendidikan. Jakarta: Al-Husna
Langgulung,
Hasan, 2002. Peralihan Paradigma dalam
Pendidikan Islam dan Sains Sosial. Jakarta: Gaya Media Poalam
Marimba, A.D,
1980. Filsafah Pendidikan Islam,
Bandung: Al-Ma’arif
Mudyaharjo,
Redja, 2002. Pengantar Pendidikan: Sebuah
Studi Awal tentang Dasar-Dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di
Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Muhaimin dan
Tadjab, Pemikiran Pendidikan Islam,
Bandung: Trigenda Karya
Mulyasa, 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam
Konteks Menyukseskan MBS dan KBK, Bandung: Remaja Rasdakarya
Nasution, 1982. Teknologi Pendidikan, Bandung: Jammars
Nata, Abuddin,
1997. Filsafat Pendidikan Islam,
Bandung: Hogos Wacana Ilmu, 1997
Pidarta, Made,
1988. Manajemen Pendidikan Indonesia,
Jakarta: PT. Bina Aksara
Ramayulis, 2002.
Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Radar
Jaya Offset
Ramayulis, Haji,
2013. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Saleh,
Abdurrahman Abdullah, 1990. Teori-Teori
Pendidikan berdasarkan Al-Qur’an (terjemahan) Arifin M.Ed dan Zainuddin,
Jakarta: Rineka Cipta
Steenbrink,
Karel A, 1994. Pesantren, Madrasah,
Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurikulum Modern, Jakarta LP3ES
Sudjana, Nana,
2004. Dasar-Dasar proses Belajar
Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset
Tilaar, 1999. Manajemen Pendidikan Nasional, Bandung:
Remaja Rasdakarya
Tilaar, 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional,
Jakarta: Rineka Cipta
Uwes, Sanusi,
2003. Visi dan Pondasi Pendidikan (Dalam
Perspektif Islam), Jakarta: Hogos
Zuhairini dkk.,
1995. Filsafat Pendidikan Islam,
Jakarta: Bumi Aksara
[1]
Tulisan
ini pembahasan materi kuliah di S3 PPs IAIN Imam
Bojol Padang, Analisis Sistem Pendidikan Islam (Komponen Tujuan Pendidikan
Islam) tahun 2005 M/safar 1426H, direvisi Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar