Sabtu, 21 Februari 2015

PEMBELAJARAN BAHASA ARAB YANG KONTEKSTUAL PADA MADRASAH DINIYAH

PEMBELAJARAN BAHASA ARAB YANG KONTEKSTUAL
PADA MADRASAH DINIYAH
Rosniati Hakim
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang
e-mail: rosniati_hakim@yahoo.com

A. PENDAHULUAN
Secara historis, Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan Islam yang telah dikenal sejak penyiaran Islam di nusantara. Pengajaran dan pendidikan Agama Islam muncul secara alamiah melalui akulturasi secara damai sesuai
kebutuhan masyarakat saat itu. Hampir seluruh pelosok desa di tanah air terdapat Madrasah Diniyah dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, seperti pengajian, surau, rangkang, sekolah agama dan lain-lain. (Mustafa dan Abdullah Aly;1998:110).
         Kebutuhan masyarakat Islam akan tambahan pendidikan dan pengajaran agama Islam bagi anak-anak, tidak pernah terabaikan sejak dulu hingga sekarang. Di Sumatera Barat misalnya, pendidikan Islam dikenal dengan Pengajian Al-Qurān dan Pengajian Kitab yang dinamakan sistem pendidikan Surau. Sehingga abad ke-20 pendidikan Islam ini berhasil melahirkan ulama atau guru besar dibidang Agama Islam dan pemimpin masyarakat, dan melahirkan tokoh perjuangan kemerdekaan serta melahirkan lembaga pendidikan yang dikenal dengan madrasah Diniyah  (Mardanas Safwan, 1987:10)
            Kemampuan berbahasa Arab serta sikap positif terhadap bahasa Arab tersebut penting, karena dapat membantu warga belajar/peserta didik dalam memahami sumber ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan Hadis, serta kitab-kitab berbahasa Arab yang berkenaan dengan Islam. Oleh karena itu pelajaran bahasa Arab di Madrasah berfungsi sebagai bahasa agama dan ilmu pengetahuan di samping sebagai alat komunikasi. Bahasa Arab mempunyai kedudukan tersendiri dibanding dengan bahasa-bahasa lainnya. Pentingnya kedudukan tersebut semakin meningkat, disebabkan beberapa faktor yaitu: Bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an, merupakan bahasa dalam shalat, , merupakan bahasa al-Hadits, banyaknya penutur bahasa Arab, dan lain-lain (Yayan Nurbayan, 2008)      
Bagi yang aktif dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran di kelas, banyak sekali pertanyaan yang saat ini belum terjawab. Pertanyaan tersebut berkisar masalah pembelajaran, antara lain bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan dan membelajarkan konsep dan materi di kelas sehingga peserta didik dapat mengingat dan menggunakan atau mengamalkannya. Bahasa Arab dan Pendidikan Islam di Indonesia merupakan warisan peradaban, dan sebagai aset bagi pembangunan pendidikan nasional. Sebagai warisan, merupakan amanah sejarah untuk dipelihara dan dikembangkan oleh umat Islam dari masa ke masa. Sedang sebagai aset, harus ditata dan dikelola sesuai dengan sistem pendidikan nasional (Husni Rahim, 2001: 3).       
Problema yang dihadapi madrasah diniyah antara lain adalah pola manajemen undividual yang kurang transparan, kurangnya ketersediaan sumber daya manusia yang profesional, ketidakjelasan visi dan misi dikalangan penyelenggara madrasah diniyah, dan penyelenggaraan administrasi pendidikan yang di bawah standar. (Direktur Pekapontren, Arah dan Kebijaksanaan Kementerian Agama RI., dalam Pengembangan Madrasah Diniyah, makalah,  Ciawi, 20-12-2005:2). Problema ini disambut dengan lahirnya UU RI. no. 4 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Maka permasalahan secara berangsur dapat diatasi, menuju ketersediaan sumber daya manusia yang profesional.
Peserta didik harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, baik secara sosial-institusional maupun secara fungsional akademik. Upaya untuk menghasilkan manusia-manusia cakap, berkemampuan dan profesional, harus dimulai dari jenjang pendidikan paling rendah (Basuni Aziz” 1993). Berbagai persoalan pembelajaran dan keterbatasan waktu untuk pembelajaran di madrasah perlu diatasi dengan mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna. Sebab itu perlu mengembangkan model-model pembelajaran yang memiliki daya tarik dan efektif, di antara yang bisa dilakukan adalah dengan melaksanakan  pembelajaran yang kontekstual aktual dan bermakna, dalam hal ini bahasa Arab, sehingga bahasa Arab tidak hanya berada pada tataran dogma, yang normatif dan tekstual tetapi bahasa Arab harus dinamis dan kontekstual.
       Makalah ini mencoba membahas tentang pembelajaran bahasa Arab yang kontekstual pada Madrasah Diniyah. Pembahasan meliputi: konsep pembelajaran kontekstual, elemen dan karakteristik pembelajaran yang kontekstual, fokus dan strategi serta penerapan pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan kontekstual di kelas.        
B.  Konsep Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual; Contextual Teaching And Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. (Nurhadi: 2002)
Untuk memperkuat pengalaman belajar peserta didik diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri, dan bahkan sekedar sebagai pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang disampaikan guru. Oleh karena itu melalui pendekatan CTL, mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada peserta didik dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi peserta didik untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup dari apa yang dipelajarinya.
Pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara peserta didik memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.(Nurhadi: 2002).
Pembelajaran kontekstual sesungguhnya sudah lama dikembangkan dalam dunia pendidikan. Dalam khazanah pendidikan Islam dikenal ada tafsir bi al-Ra’yi  atau tafsir bi al-Ma’qul (kontekstual), serta dalam kelembagaan pondok pesantren pola pendidikan yang dikembangkan adalah menekankan pada pembelajaran kontekstual, di mana belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan hanya mengetahuinya. (Maksum, 1999). Oleh karena itu, pendidikan pesantren sangat identik dengan pendidikan agama yang kental dan tidak terlepas dari pembelajaran Bahasa Arab, membaca Kitab, belajar Tafsir dan Fikih yang bersumber dari kitab-kitab berbahasa arab. Dalam lingkungan pondok pesantren, santri berada dalam lingkungan belajar yang sebenarnya (mengalaminya) dan berinteraksi dengan lingkungannya selama 24 jam mulai dari mengurus segala keperluan dirinya hingga mengatur aktivitas belajarnya.
Model pembelajaran kontekstual dikembangkan John Dewey pada tahun 1916. Dalam bukunya Democracy and Education, dia menetapkan sebuah konstruktivistik pendidikan yang menyatakan bahwa kelas dapat dijadikan cerminan masyarakat yang lebih besar dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Paedagogi Dewey mengharuskan guru menciptakan lingkungan belajarnya suatu sistem sosial yang dicirikan dengan prosedur demokratis dan proses ilmiah. Tanggung jawab utama mereka ialah motivasi peserta didik untuk bekerja secara kooperatif dan untuk memikirkan masalah sosial penting yang muncul pada hari itu. Di samping upaya pemecahan masalah di dalam kelompok kecil, peserta didik belajar prinsip demokrasi melalui interaksi dalam kegiatan sehari-hari dengan yang lain.

C.  Elemen dan Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
CTL memiliki lima elemen belajar yang konstruktivistik, yaitu:
1.    Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowlidge)
2.    Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowlidge)
3.    Pemahaman pengetahuan (knowlidge knowlidge)
4.    Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman (appiying knowlidge)
5.    Melakukan refleksi (reflecting knowlidge)
       Selain elemen pokok tersebut, CTL juga memiliki karakteristik yang membedakan dengan model pembelajaran lainnya, yaitu: kerja sama, saling menunjang, menyenangan dan mengasyikan, tidak membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, dan menggunakan berbagai sumber siswa aktif (Trianto, 2010).
       Adapun karakteristik pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:
1.      Melakukan hubungan yang bermakna.
Peserta didik dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat
2.      Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan.
Peserta didik membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat.
3.      Belajar yang diatur sendiri.
Peserta didik melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya/hasilnya yang sifatnya nyata.
4.      Bekerja sama.
Peserta didik dapat bekerja sama. Sementara guru membantu peserta didik bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5.      Berpikir kritis dan kreatif.
Peserta didik dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif, dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti.
6.      Mengasuh atau memelihara pribadi peserta didik.
Peserta didik memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yanng tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Peserta didik tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. Peserta didik menghormati temannya dan juga orang dewasa.
7.      Mencapai standar yang tinggi.
Peserta didik mengenal dan mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan motivasi peserta didik untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada peserta didik cara mencapai apa yang disebut “excellence”.
8.      Menggunakan penilaian autentik.
Peserta didik menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna (Johnson: 2002)
D.  Fokus Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual menempatkan peserta didik di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal peserta didik dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual peserta didik dan peranan guru. Sehubungan dengan itu maka pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal berikut:
1.        Belajar berbasis masalah (problem-based learning), yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran
2.        Pengajaran autentik (authentic intruction) yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan peserta didik untuk mempelajari konteks bermakna
3.        Belajar berbasis inquiri (inquiry-based learning) yang membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metidologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna
4.        Belajar berbasis proyek/tugas (project-based learning) yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehebsif dimana lingkungan belajar peserta didik didesain agar peserta didik dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalama materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.
5.        Belajar berbasis kerja (work-based learning) yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan peserta didik mrnggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbsis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali ditempat kerja.
6.        Belajar berbasis jasa-layanan (service learning) yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa-layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut.
7.        Belajar kooperatif (cooperative learning) yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil peserta didik untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan belajar (Kementerian Agama RI., 2011).
E.  Lima Strategi Umum Pembelajaran Kontekstual
Center Of Occupational Reseach And Development (CORD) menyampaikan lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelajaran kontekstual, yang disingkat dengan REACT, yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferring (CORD, 2001). Kelima strategi tersebut apabila diterapkan dalam bahasa Arab dapat diuraikan berikut; Relating berarti membawa siswa untuk belajar bahasa Arab dalam konteks kehidupan nyata, experiencing berarti bealajar bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan ilmiah melalui eksplorasi, penemuan, dan penciptaan), applying berarti  membawa siswa untuk belajar bahasa Arab dengan menggali makna dan hikmah sehingga belajar dengan memadukan pengetahuan dengan kegunaannya, cooperating berarti belajar dikembangkan dengan belajar bersama dalam konteks interaksi kelompok, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar akademik juga mengharagai perbedaan dan keterampilan sosial, dan transfering berarti belajar bahasa Arab diarahkan untuk dapat menggunakan dan menerapkan ajaran, nilai, dan perilaku beragama dalam memecahkan berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan atau dalam konteks baru/berbeda).
Hal senada juga disampaikan (Nurhadi: 2002) sebagai berikut: (1) Menghubugkan (relating) yaitu belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Atau membawa peserta didik untuk belajar Bahasa Arab dalam konteks kehidupan nyata. (2) Mencoba (Experiencing), yaitu belajar ditekankan kepada penggalian (eksplorasi), penemuan (discovery), dan penciptaan (invention). (3) Mengaplikasikan (Applying) yaitu belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya. (4) Bekerja sama (Cooperating) yaitu belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian bersama dan sebagainya. (5) Proses transfer ilmu (Transferring) yaitu belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi atau konteks baru. Sementara Trianto (2010:109), menjelaskan bahwa kurikulum dan instruksi yang berdasarkan strategi pembelajaran kontekstual haruslah dirancang untuk merangsang 5 (lima) bentuk dasar dari pembelajaran dimaksud.

F.   Penerapan Pembelajaran Bahasa Arab Kontekstual Di Kelas
       Dalam pembelajaran kontekstual, Trianto (2010) mengemukakan 7 (tujuh) komponen pokok yang harus dikembangkan oleh guru yaitu: Kontruktivisme (contructivism), inkuiri (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat Belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection, dan penilaian sebenarnya/nyata (authentic assessment). CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja dan bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Adapun pembelajaran bahasa Arab, terdiri dari: pengajaran fonetik, pengajaran struktur kalimat, pengajaran kosa kata, pengajaran membaca dan menulis. (yayan nurbayan: 2008).
       Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas pada pembelajaran bahasa Arab adalah sebagai berikut:
1.    Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara kerja sendiri menemukan sendiri dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2.    Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3.    Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya
4.    Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
5.    Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6.    Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7.         Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Pertama: Kontruktivisme (contructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman. Pembelajaran melalui CTL, pada dasarnya mendorong agar peserta didik dapat mengkonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Mengapa demikian? Karena pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu. Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Asumsi inilah yang mendasari diterapkan asas konstruktivisme dalam pembelajaran melalui CTL, peserta didik didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.
Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, peserta didik membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik pusat kegiatan, bukan guru. Untuk itu tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan:
a.    Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi peserta didik
b.    Memberi kesempatan peserta didik menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan
c.    Menyadarkan peserta didik agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Kedua: Inkuiri (inquiry)
Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemuan, apapun materi yang diajarkannya. Siklus inkuiri terdiri diri:
a.       Obsevasi (obsevation)
b.      Bertanya (questioning)
c.       Mengajukan dugaan (hypothesis)
d.      Pengumpulan data (data gathering)
e.       Penyimpulan (conclussion)
Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
a.       Merumuskan masalah
b.      Mengamati atau melakukan obsevasi 
c.       menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya,
d.      Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain.
Dalam pelaksanaannya metode inkuiri dapat dilakukan dengan cara: guru membagi tugas meneliti suatu masalah di kelas. Atau menunjukan suatu benda/barang atau buku yang masih asing baginya, di depan kelas. Kemudian semua peserta didik disuruh mengamati, meraba, melihat, membaca dengan cermat. Lalu guru memberikan masalah atau pertanyaan. Jawaban tidak boleh menyimpang dari garis pelajaran yang sudah diberikan.
Ketiga: Bertanya (questioning)
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Bertanya merupakan strategi utama yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir peserta didik. Bagi peserta didik, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu: menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
Dalam suatu pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk:
a.         Menggali informasi tentang kemampuan peserta didik dalam penguasaan materi pembelajaran.
b.         Mencek pemahaman peserta didik
c.         Membangkitkan motivasi untuk belajar
d.        Meransang / merespon keingintahuan peserta didik terhadap sesuatu
e.         Mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta didik
f.          Menfokuskan peserta didik pada sesuatu yang diinginkan
g.         Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari peserta didik
h.         Menyegarkan kembali pengetahuan peserta didik (Trianto: 2010)
Keempat: Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain (kelompok belajar, sharing). Dalam kelas CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan dan juga mendatangkan dan mengundang orang-orang yang dianggap memilki keahlian khusus untuk membelajarkan peserta didik. Setiap orang bisa sering terlibat, bisa saling membelajarkan, bertukar informasi, dan bertukar pengalaman.
Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar satu sama lain. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komuniasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paing tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap orang harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. Oleh karena itu, bila setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar.
Kelima: Pemodelan (modeling)
Adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh peserta didik. Proses modeling, tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga memanfaatkan peserta didik yang dianggap memiliki kemampuan. Dalam pembelajaran muhadatsah, terlihat sekali penerapan model ini, sesuai dengan topik yang dimainkan oleh peserta didik. Awalnya terlihat kaku, namun melalui latihan yang berulang kali, peserta didik menjadi ketagihan.
Keenam: Refleksi (reflection)
Adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif peserta didik yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan CTL, setiap akhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Misalnya dalam materi menghafalkan kosa kata bahasa Arab yang diperlukan dalam memperkaya perbendaharaan bahasa perserta didik. Ini amat diperlukan guna memperoleh keterampilan bercakap-cakap atau keterampilan lisan dan tulisan.
Ketujuh: Penilaian Nyata (authentic assessment)
Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan peserta didik. Penilaian yang autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan hasil belajar.
Karakteristik authentic assessment adalah:
i.           Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
j.           Biasa digunakan untuk formatif maupun sumatif
k.         Yang diukur keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat fakta
l.           Berkesinambungan
m.       Terintegrasi, dan
n.         Dapat digunakan sebagai feed back.
Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari (learning how to learn).
G. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab yang Kontekstual
Berdasarkan pemahaman, karakteristik, dan komponen pendekatan kontekstual, beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan oleh guru melalui pembelajaran bahasa arab, yaitu antara lain: pembelajaran berbasis masalah, memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, memberikan aktivitas kelompok, membuat aktivitas belajar mandiri, membuat aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat, dan menerapkan penilaian autentik.
1.        Pembelajaran Berbasis Masalah
Sebelum melalui proses belajar mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena. Kemudian peserta didik diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
Dalam pembelajaran dekenal metode pemecahan masalah (problem solving). Maksudnya adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan dimana peserta didik dihadapkan dengan kondisi masalah. Dari masalah yang sederhana, menuju kepada masalah yang sulit/muskil. John Dewey (AS), sebagai tokoh pencipta metode problem solving ini menyarankan agar dalam pelaksanaan melalui metode ini peserta didik/siswi dibiasakan percaya pada diri sendiri untuk mengatasi kesulitan/masalah yang sedang dihadapinya. Baik mengenai dirinya sendiri, lingkungan maupun lingkungan dalam arti yang lebih luas, yakni masyarakat. Tujuan metode ini adalah agar peserta didik terbiasa berlatih menghadapi berbagai masalah, sebagai calon pemimpin ia berkemampua tinggi dan siap mental menghadapi atau memecahkan berbagai masalah.
2.        Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar
Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan diberbagai konteks lingkungan peserta didik, antara lain: di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Penugasan diberikan oleh guru, memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar di luar kelas. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman lansung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penugasan standar kompetensi, kemampuan dasar, dan materi pembelajaran.
3.        Memberikan aktivitas kelompok
Aktivitas belajar secara berkelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari tiga, lima, maupun delapan peserta didik sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan.
4.        Membuat aktivitas belajar mandiri
Peserta didik mampu mencari, menganalisis, dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru. Agar dapat melakukannya, peserta didik harus lebih memperhatikan bagaimana mereka mamproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji coba terlebih dahulu, menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri.
5.        Membuat aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat
Sekolah dapat melakukan kerja sama dengan orang tua peserta didik yang memiliki keahlian khusus untuk menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung, dimana peserta didik dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu, kerjasama juga dapat dilakukan dengan institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja.
6.        Menerapkan penilaian autentik
Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian autentik dapat membantu peserta didik untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses pembelajaran.
Adapun bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru, yaitu portofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis. Bentuk penilaian seperti ini lebih baik daripada menghafalkan teks, peserta didik dituntut untuk menggunakan keterampilan berpikir yang lebih tinggi agar dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. (Direktorat PAI Dirjen PAI Kemenag. RI: 2011)
H. PENUTUP
Bahasa Arab mempunyai kedudukan penting yang semakin meningkat, karena bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an, bahasa dalam shalat, bahasa al-Hadits, dan banyak penuturnya. Pembelajaran bahasa Arab di madrasah diniyah perlu menerapkan pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna, memiliki daya tarik dan efektif, di antaranya  dengan melaksanakan pembelajaran yang kontekstual, aktual dan bermakna, sehingga bahasa Arab tidak hanya berada pada tataran dogma, yang normatif dan tekstual tetapi bahasa Arab harus dinamis dan kontekstual.Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Arab yang kontekstual dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorongnya membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupannya.
Hal ini, terlihat pada elemen dan karakteristik, fokus serta strategi pembelajaran kontekstual. Dalam penerapan pembelajaran bahasa Arab yang kontekstual di kelas, guru harus mengembangkan tujuh komponen CTL, dengan langkah:
1.      Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna
2.      melaksanakan kegiatan inkuiri untuk semua topik
3.      Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya
4.      menciptakan masyarakat belajar
5.      Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6.      Melakukan refleksi di akhir pertemuan
7.      Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
       Demikian makalah ini disusun, dengan berbagai kekurangan dan kelemahan, penulis berharap kritikan dan masukan dari pembaca budiman.
Terima kasih, wabillahittaufiq walhidayah, Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Padang, 20 Agustus 2013 M/13 Syawal 1434 H
Rosniati Hakim
                                                           
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Basuni, (1993), Pandangan 15 Tokoh Pendidikan swasta, Jakarta: Dasa Media Utama

Blanchard, Alan. (2001). Contextual Teaching and Learning. BEST: USA.
Barbara Prashing, (2007), The Power of Learning Styles, Bandung: Kifa
CORD., (2001), What is Contextual Learning. World Wide Internet Publishing, Waco Texas.
Direktorat PAI Dirjen PAI Kemenag. RI., (2011), Modul Pengembangan Bahan Ajar PAI di Sekolah, Jakarta
Donald C. Orhich, Robert J. Hardner, Teaching Strategies: a Guide to Better Instruction, Boston : Hongtiton Mifflin Company, 2001
Elain, B. Johnson, (2002), Contextual Teaching and Learning, Corwin Press, Inc. Asage Publication Company Thousand Oaks, California.
Hisyam Zaini, dkk., Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi, Jogjakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, 2002
Kementerian Agama RI., (2011), Modul Strategi Dan Model-Model Paikem, Jakarta
Lie, Anita 2007, Cooperative Learning, Memperaktekkan Cooperative Learning di Ruang Kelas.
Moedjiono, (1993),  Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Sanjaya Wina (2006), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media.
M. Aguston dan Dewi Suliantini, (2006), Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Pasca Sarjana UNJ,
Nurbayan, Yayan, (2008), Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Penerbit, Al-Bayan.
Nurhadi dkk., Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Malang: UNM, 2004
Syaiful Bahri Djamrah, (2002), Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta
Silberman, Mel, (1996), Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject, Massachusetts: Allyn and Bacon
Sounders, John., (1999), Cotextually Based Learning: Fad or Proven Practice. CORD. Waco, Texas, USA.
Trianto, (2010), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif  (Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (TSP), Jakarta: Kencana.
Winataputra, Udin, S. (1997), Materi Pokok: Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Depdikbud. UT


Tidak ada komentar:

Posting Komentar