PEMBELAJARAN BAHASA ARAB YANG KONTEKSTUAL
PADA MADRASAH DINIYAH
Rosniati Hakim
Dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Imam
Bonjol Padang
e-mail: rosniati_hakim@yahoo.com
A. PENDAHULUAN
Secara
historis, Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan Islam yang telah dikenal
sejak penyiaran Islam di nusantara. Pengajaran dan pendidikan Agama Islam
muncul secara alamiah melalui akulturasi secara damai sesuai
kebutuhan masyarakat saat itu. Hampir seluruh pelosok desa di tanah air terdapat Madrasah Diniyah dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, seperti pengajian, surau, rangkang, sekolah agama dan lain-lain. (Mustafa dan Abdullah Aly;1998:110).
kebutuhan masyarakat saat itu. Hampir seluruh pelosok desa di tanah air terdapat Madrasah Diniyah dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, seperti pengajian, surau, rangkang, sekolah agama dan lain-lain. (Mustafa dan Abdullah Aly;1998:110).
Kebutuhan masyarakat Islam akan tambahan pendidikan dan pengajaran agama Islam bagi anak-anak, tidak
pernah terabaikan sejak dulu hingga sekarang. Di Sumatera Barat misalnya,
pendidikan Islam dikenal dengan Pengajian Al-Qurān dan Pengajian Kitab
yang dinamakan sistem pendidikan Surau. Sehingga abad ke-20 pendidikan Islam
ini berhasil melahirkan ulama atau guru besar dibidang Agama Islam dan pemimpin
masyarakat, dan melahirkan tokoh perjuangan kemerdekaan serta melahirkan
lembaga pendidikan yang dikenal dengan madrasah Diniyah (Mardanas Safwan, 1987:10)
Kemampuan
berbahasa Arab serta sikap positif terhadap bahasa Arab tersebut penting,
karena dapat membantu warga belajar/peserta didik dalam memahami sumber ajaran
Islam, yaitu al-Qur’an dan Hadis, serta kitab-kitab berbahasa Arab yang
berkenaan dengan Islam. Oleh karena itu pelajaran bahasa Arab di Madrasah
berfungsi sebagai bahasa agama dan ilmu pengetahuan di samping sebagai alat
komunikasi. Bahasa Arab mempunyai kedudukan tersendiri dibanding dengan
bahasa-bahasa lainnya. Pentingnya kedudukan tersebut semakin meningkat,
disebabkan beberapa faktor yaitu: Bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an,
merupakan bahasa dalam shalat, , merupakan bahasa al-Hadits, banyaknya penutur
bahasa Arab, dan lain-lain (Yayan Nurbayan, 2008)
Bagi
yang aktif dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran di kelas, banyak
sekali pertanyaan yang saat ini belum terjawab. Pertanyaan tersebut berkisar
masalah pembelajaran, antara lain bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan dan
membelajarkan konsep dan materi di kelas sehingga peserta didik dapat mengingat
dan menggunakan atau mengamalkannya. Bahasa Arab dan Pendidikan Islam di
Indonesia merupakan warisan peradaban, dan sebagai aset bagi pembangunan
pendidikan nasional. Sebagai warisan, merupakan amanah sejarah untuk dipelihara
dan dikembangkan oleh umat Islam dari masa ke masa. Sedang sebagai aset, harus
ditata dan dikelola sesuai dengan sistem pendidikan nasional (Husni Rahim,
2001: 3).
Problema yang
dihadapi madrasah diniyah antara lain adalah pola manajemen undividual yang kurang transparan,
kurangnya ketersediaan sumber daya manusia yang profesional, ketidakjelasan
visi dan misi dikalangan penyelenggara madrasah diniyah, dan penyelenggaraan
administrasi pendidikan yang di bawah standar. (Direktur Pekapontren, Arah dan Kebijaksanaan
Kementerian Agama RI., dalam Pengembangan Madrasah Diniyah, makalah, Ciawi, 20-12-2005:2). Problema ini disambut
dengan lahirnya UU RI. no. 4 tahun 2005 tentang guru dan dosen. Maka
permasalahan secara berangsur dapat diatasi, menuju ketersediaan sumber daya manusia yang profesional.
Peserta didik harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, baik secara sosial-institusional maupun secara fungsional akademik. Upaya untuk
menghasilkan manusia-manusia cakap, berkemampuan dan profesional, harus dimulai
dari jenjang pendidikan paling rendah (Basuni Aziz” 1993). Berbagai
persoalan pembelajaran dan keterbatasan waktu untuk pembelajaran di madrasah perlu
diatasi dengan mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna.
Sebab itu perlu mengembangkan model-model pembelajaran yang memiliki daya tarik
dan efektif, di antara yang bisa dilakukan adalah dengan melaksanakan pembelajaran yang kontekstual aktual dan
bermakna, dalam hal ini bahasa Arab, sehingga bahasa Arab tidak hanya berada
pada tataran dogma, yang normatif dan tekstual tetapi bahasa Arab harus dinamis
dan kontekstual.
Makalah ini mencoba membahas tentang
pembelajaran bahasa Arab yang kontekstual pada Madrasah Diniyah. Pembahasan
meliputi: konsep pembelajaran kontekstual, elemen dan karakteristik
pembelajaran yang kontekstual, fokus dan strategi serta
penerapan pembelajaran bahasa
Arab dengan pendekatan kontekstual di kelas.
B. Konsep Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual; Contextual
Teaching And Learning
(CTL) merupakan konsep belajar yang
dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi
dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. (Nurhadi: 2002)
Untuk memperkuat pengalaman belajar
peserta didik diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri, dan
bahkan sekedar sebagai pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua
informasi yang disampaikan guru. Oleh karena itu melalui pendekatan CTL,
mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada peserta didik dengan
menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata,
akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi peserta didik untuk
mencari kemampuan untuk bisa hidup dari apa yang dipelajarinya.
Pembelajaran kontekstual adalah konsep
belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong
peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara peserta didik
memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi
sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan
masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.(Nurhadi: 2002).
Pembelajaran kontekstual sesungguhnya sudah lama dikembangkan dalam
dunia pendidikan. Dalam khazanah pendidikan Islam dikenal ada tafsir bi
al-Ra’yi atau tafsir bi al-Ma’qul
(kontekstual), serta dalam kelembagaan pondok pesantren pola pendidikan yang
dikembangkan adalah menekankan pada pembelajaran kontekstual, di mana belajar
akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan hanya
mengetahuinya. (Maksum, 1999). Oleh karena
itu, pendidikan pesantren sangat identik dengan pendidikan agama yang kental
dan tidak terlepas dari pembelajaran Bahasa Arab, membaca Kitab, belajar Tafsir
dan Fikih yang bersumber dari kitab-kitab berbahasa arab. Dalam lingkungan pondok pesantren, santri
berada dalam lingkungan belajar yang sebenarnya (mengalaminya) dan berinteraksi
dengan lingkungannya selama 24 jam mulai dari mengurus segala keperluan dirinya
hingga mengatur aktivitas belajarnya.
Model pembelajaran kontekstual dikembangkan
John Dewey pada tahun 1916. Dalam bukunya Democracy
and Education, dia menetapkan sebuah konstruktivistik pendidikan yang
menyatakan bahwa kelas dapat dijadikan cerminan masyarakat yang lebih besar dan
berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata. Paedagogi
Dewey mengharuskan guru menciptakan lingkungan belajarnya suatu sistem sosial yang dicirikan dengan prosedur demokratis
dan proses ilmiah. Tanggung jawab utama mereka ialah motivasi peserta didik
untuk bekerja secara kooperatif dan untuk memikirkan masalah sosial penting yang muncul pada hari itu. Di samping upaya pemecahan masalah
di dalam kelompok kecil, peserta didik belajar prinsip demokrasi melalui
interaksi dalam kegiatan sehari-hari dengan yang lain.
C. Elemen dan Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
CTL memiliki lima elemen belajar yang
konstruktivistik, yaitu:
1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowlidge)
2. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowlidge)
3. Pemahaman pengetahuan (knowlidge knowlidge)
4. Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman (appiying knowlidge)
5. Melakukan refleksi (reflecting knowlidge)
Selain elemen pokok tersebut,
CTL juga memiliki karakteristik yang membedakan dengan model pembelajaran
lainnya, yaitu: kerja sama, saling menunjang, menyenangan dan mengasyikan, tidak
membosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, dan
menggunakan berbagai sumber siswa aktif (Trianto, 2010).
Adapun karakteristik
pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut:
1. Melakukan hubungan yang bermakna.
Peserta didik dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar
secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat
bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar
sambil berbuat
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan.
Peserta didik membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai
konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai
anggota masyarakat.
3. Belajar yang diatur sendiri.
Peserta didik melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada
urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada
produknya/hasilnya yang sifatnya nyata.
4. Bekerja sama.
Peserta didik dapat bekerja sama. Sementara guru membantu peserta didik
bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana
mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5. Berpikir kritis dan kreatif.
Peserta didik dapat menggunakan tingkat berfikir yang lebih tinggi secara
kritis dan kreatif, dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah,
membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi peserta didik.
Peserta didik memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian,
memiliki harapan-harapan yanng tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri.
Peserta didik tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. Peserta didik
menghormati temannya dan juga orang dewasa.
7. Mencapai standar yang tinggi.
Peserta didik mengenal dan mencapai standar yang tinggi: mengidentifikasi
tujuan dan motivasi peserta didik untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada
peserta didik cara mencapai apa yang disebut “excellence”.
8. Menggunakan penilaian autentik.
Peserta didik menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata
untuk suatu tujuan yang bermakna (Johnson: 2002)
D. Fokus Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual menempatkan peserta didik di dalam konteks
bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal peserta didik dengan materi yang
sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual
peserta didik dan peranan guru. Sehubungan dengan itu maka pendekatan
pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal berikut:
1.
Belajar
berbasis masalah (problem-based learning),
yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai
suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang berfikir kritis dan
keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep
yang esensi dari materi pelajaran
2.
Pengajaran
autentik (authentic intruction) yaitu
pendekatan pengajaran yang memperkenankan peserta didik untuk mempelajari
konteks bermakna
3.
Belajar
berbasis inquiri (inquiry-based learning)
yang membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metidologi sains dan
menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna
4.
Belajar
berbasis proyek/tugas (project-based
learning) yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehebsif dimana
lingkungan belajar peserta didik didesain agar peserta didik dapat melakukan
penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalama materi dari suatu
topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.
5.
Belajar
berbasis kerja (work-based learning)
yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan peserta didik
mrnggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbsis
sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali ditempat kerja.
6.
Belajar
berbasis jasa-layanan (service learning)
yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan
jasa-layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk
merefleksikan jasa-layanan tersebut.
7.
Belajar
kooperatif (cooperative learning)
yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil peserta
didik untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan belajar (Kementerian Agama RI.,
2011).
E. Lima Strategi Umum Pembelajaran Kontekstual
Center Of Occupational Reseach And Development (CORD) menyampaikan
lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelajaran kontekstual,
yang disingkat dengan REACT, yaitu
relating, experiencing, applying,
cooperating, dan transferring (CORD, 2001). Kelima strategi tersebut apabila diterapkan dalam bahasa
Arab dapat diuraikan berikut; Relating berarti membawa siswa untuk belajar bahasa
Arab dalam konteks kehidupan nyata, experiencing berarti bealajar bahasa Arab dengan menggunakan pendekatan ilmiah melalui eksplorasi,
penemuan, dan penciptaan), applying
berarti membawa siswa untuk belajar bahasa
Arab dengan menggali makna dan hikmah sehingga belajar dengan memadukan pengetahuan dengan
kegunaannya, cooperating berarti
belajar dikembangkan dengan belajar bersama dalam konteks interaksi kelompok,
sehingga dapat meningkatkan hasil belajar akademik juga mengharagai perbedaan
dan keterampilan sosial, dan transfering
berarti belajar bahasa Arab diarahkan
untuk dapat menggunakan dan menerapkan ajaran, nilai, dan perilaku beragama
dalam memecahkan berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan atau dalam
konteks baru/berbeda).
Hal
senada juga disampaikan (Nurhadi: 2002) sebagai berikut: (1) Menghubugkan (relating)
yaitu belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Atau membawa peserta didik untuk belajar Bahasa Arab dalam konteks kehidupan nyata.
(2) Mencoba (Experiencing), yaitu belajar ditekankan kepada penggalian (eksplorasi),
penemuan (discovery), dan penciptaan (invention). (3)
Mengaplikasikan (Applying) yaitu belajar bilamana pengetahuan
dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya. (4) Bekerja sama (Cooperating)
yaitu belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian bersama dan
sebagainya. (5) Proses transfer ilmu (Transferring) yaitu belajar
melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi atau konteks baru. Sementara
Trianto (2010:109), menjelaskan bahwa kurikulum dan instruksi yang berdasarkan
strategi pembelajaran kontekstual haruslah dirancang untuk merangsang 5 (lima)
bentuk dasar dari pembelajaran dimaksud.
F.
Penerapan Pembelajaran Bahasa Arab Kontekstual
Di Kelas
Dalam pembelajaran
kontekstual, Trianto (2010) mengemukakan 7 (tujuh) komponen pokok yang harus
dikembangkan oleh guru yaitu: Kontruktivisme (contructivism), inkuiri (inquiry),
bertanya (questioning), masyarakat Belajar (learning community),
pemodelan (modeling), refleksi (reflection, dan
penilaian sebenarnya/nyata (authentic assessment). CTL dapat diterapkan
dalam kurikulum apa saja dan bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun
keadaannya. Adapun pembelajaran bahasa Arab, terdiri dari: pengajaran fonetik,
pengajaran struktur kalimat, pengajaran kosa kata, pengajaran membaca dan menulis.
(yayan nurbayan: 2008).
Secara garis besar
langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas pada pembelajaran bahasa Arab adalah
sebagai berikut:
1.
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan
cara kerja sendiri menemukan sendiri dan mengkonstruksikan sendiri pengetahuan
dan keterampilan barunya.
2.
Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3.
Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya
4.
Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok)
5.
Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6.
Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7.
Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Pertama: Kontruktivisme (contructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan
baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman. Pembelajaran
melalui CTL, pada dasarnya mendorong agar peserta didik dapat mengkonstruksi
pengetahuannya melalui proses pengamatan dan pengalaman. Mengapa demikian?
Karena pengetahuan hanya akan fungsional manakala dibangun oleh individu.
Pengetahuan yang hanya diberikan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna.
Asumsi inilah yang mendasari diterapkan asas konstruktivisme dalam pembelajaran
melalui CTL, peserta didik didorong untuk mampu mengkonstruksi pengetahuan
sendiri melalui pengalaman nyata.
Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan
“menerima” pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, peserta didik membangun
sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses
pembelajaran. Peserta didik pusat kegiatan, bukan guru. Untuk itu tugas guru
adalah menfasilitasi proses tersebut dengan:
a.
Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi peserta didik
b.
Memberi kesempatan peserta didik menemukan dan menerapkan idenya
sendiri, dan
c.
Menyadarkan peserta didik agar menerapkan strategi mereka sendiri
dalam belajar.
Kedua: Inkuiri (inquiry)
Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan
penemuan melalui proses berpikir sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah
fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.
Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah
materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan
peserta didik dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Guru harus
selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemuan, apapun materi
yang diajarkannya. Siklus inkuiri terdiri diri:
a.
Obsevasi (obsevation)
b.
Bertanya (questioning)
c.
Mengajukan dugaan (hypothesis)
d.
Pengumpulan data (data gathering)
e.
Penyimpulan (conclussion)
Secara umum
proses inkuiri dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
a.
Merumuskan masalah
b.
Mengamati atau melakukan obsevasi
c.
menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan,
bagan, tabel, dan karya lainnya,
d.
Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman
sekelas, guru, atau audiensi yang lain.
Dalam pelaksanaannya metode inkuiri dapat dilakukan dengan cara:
guru membagi tugas meneliti suatu masalah di kelas. Atau menunjukan suatu
benda/barang atau buku yang masih asing baginya, di depan kelas. Kemudian semua
peserta didik disuruh mengamati, meraba, melihat, membaca dengan cermat. Lalu
guru memberikan masalah atau pertanyaan. Jawaban tidak boleh menyimpang dari
garis pelajaran yang sudah diberikan.
Ketiga: Bertanya (questioning)
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.
Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu,
sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir.
Bertanya merupakan strategi utama yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam
pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan
menilai kemampuan berpikir peserta didik. Bagi peserta didik, kegiatan bertanya
merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri,
yaitu: menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan
mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
Dalam suatu
pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk:
a.
Menggali informasi tentang kemampuan peserta didik dalam penguasaan
materi pembelajaran.
b.
Mencek pemahaman peserta didik
c.
Membangkitkan motivasi untuk belajar
d.
Meransang / merespon keingintahuan peserta didik terhadap sesuatu
e.
Mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta didik
f.
Menfokuskan peserta didik pada sesuatu yang diinginkan
g.
Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari peserta didik
h.
Menyegarkan kembali pengetahuan peserta didik (Trianto: 2010)
Keempat: Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar dalam CTL menyarankan agar hasil
pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain (kelompok belajar, sharing).
Dalam kelas CTL, penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan
menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Peserta didik dibagi dalam
kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari
kemampuan dan kecepatan belajarnya, maupun dilihat dari bakat dan minatnya.
Biarkan dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan dan juga mendatangkan dan
mengundang orang-orang yang dianggap memilki keahlian khusus untuk
membelajarkan peserta didik. Setiap orang bisa sering terlibat, bisa saling
membelajarkan, bertukar informasi, dan bertukar pengalaman.
Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua
arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran
saling belajar satu sama lain. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila
tidak ada pihak yang dominan dalam komuniasi, tidak ada pihak yang merasa segan
untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paing tahu, semua pihak mau
saling mendengarkan. Setiap orang harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki
pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.
Oleh karena itu, bila setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap
orang lain bisa menjadi sumber belajar.
Kelima: Pemodelan (modeling)
Adalah
proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat
ditiru oleh peserta didik. Proses modeling, tidak terbatas dari guru saja, akan
tetapi dapat juga memanfaatkan peserta didik yang dianggap memiliki kemampuan. Dalam
pembelajaran muhadatsah, terlihat sekali penerapan model ini, sesuai dengan
topik yang dimainkan oleh peserta didik. Awalnya terlihat kaku, namun melalui
latihan yang berulang kali, peserta didik menjadi ketagihan.
Keenam: Refleksi (reflection)
Adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang
dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran
yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan
dimasukkan dalam struktur kognitif peserta didik yang pada akhirnya akan
menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya. Dalam proses pembelajaran
dengan menggunakan CTL, setiap akhir proses pembelajaran, guru memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk “merenung” atau mengingat kembali apa
yang telah dipelajarinya. Misalnya dalam materi menghafalkan kosa kata bahasa
Arab yang diperlukan dalam memperkaya perbendaharaan bahasa perserta didik. Ini
amat diperlukan guna memperoleh keterampilan bercakap-cakap atau keterampilan
lisan dan tulisan.
Ketujuh: Penilaian Nyata (authentic assessment)
Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi
tentang perkembangan belajar yang dilakukan peserta didik. Penilaian yang
autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian
ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada proses belajar bukan hasil belajar.
Karakteristik authentic assessment adalah:
i.
Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
j.
Biasa digunakan untuk formatif maupun sumatif
k.
Yang diukur keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat fakta
l.
Berkesinambungan
m.
Terintegrasi, dan
n.
Dapat digunakan sebagai feed back.
Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya
ditekankan pada upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari (learning
how to learn).
G. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab yang Kontekstual
Berdasarkan pemahaman, karakteristik, dan komponen pendekatan
kontekstual, beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan oleh guru
melalui pembelajaran bahasa arab, yaitu antara lain: pembelajaran berbasis
masalah, memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman
belajar, memberikan aktivitas kelompok, membuat aktivitas belajar mandiri,
membuat aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat, dan menerapkan
penilaian autentik.
1.
Pembelajaran Berbasis Masalah
Sebelum melalui
proses belajar mengajar di dalam kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta
untuk mengobservasi suatu fenomena. Kemudian peserta didik diminta untuk
mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah
meransang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah yang
ada. Tugas guru adalah mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan
asumsi, dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
Dalam
pembelajaran dekenal metode pemecahan masalah (problem solving). Maksudnya
adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan dimana peserta didik
dihadapkan dengan kondisi masalah. Dari masalah yang sederhana, menuju kepada
masalah yang sulit/muskil. John Dewey (AS), sebagai tokoh pencipta metode
problem solving ini menyarankan agar dalam pelaksanaan melalui metode ini
peserta didik/siswi dibiasakan percaya pada diri sendiri untuk mengatasi
kesulitan/masalah yang sedang dihadapinya. Baik mengenai dirinya sendiri,
lingkungan maupun lingkungan dalam arti yang lebih luas, yakni masyarakat. Tujuan
metode ini adalah agar peserta didik terbiasa berlatih menghadapi berbagai masalah, sebagai calon pemimpin ia
berkemampua tinggi dan siap mental menghadapi atau memecahkan berbagai masalah.
2.
Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh pengalaman
belajar
Guru memberikan
penugasan yang dapat dilakukan diberbagai konteks lingkungan peserta didik,
antara lain: di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Penugasan diberikan oleh
guru, memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar di luar kelas. Peserta
didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman lansung tentang apa yang sedang
dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan
peserta didik dalam rangka mencapai penugasan standar kompetensi, kemampuan
dasar, dan materi pembelajaran.
3.
Memberikan aktivitas kelompok
Aktivitas
belajar secara berkelompok dapat memperluas perspektif serta membangun
kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Guru dapat menyusun
kelompok terdiri dari tiga, lima, maupun delapan peserta didik sesuai dengan
tingkat kesulitan penugasan.
4.
Membuat aktivitas belajar mandiri
Peserta didik
mampu mencari, menganalisis, dan menggunakan informasi dengan sedikit atau
bahkan tanpa bantuan guru. Agar dapat melakukannya, peserta didik harus lebih
memperhatikan bagaimana mereka mamproses informasi, menerapkan strategi
pemecahan masalah, dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh.
Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji coba terlebih dahulu,
menyediakan waktu yang cukup, dan menyusun refleksi serta berusaha tanpa
meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri.
5.
Membuat aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat
Sekolah dapat
melakukan kerja sama dengan orang tua peserta didik yang memiliki keahlian
khusus untuk menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan
pengalaman belajar secara langsung, dimana peserta didik dapat termotivasi
untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu, kerjasama juga dapat dilakukan dengan
institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja.
6.
Menerapkan penilaian autentik
Dalam
pembelajaran kontekstual, penilaian autentik dapat membantu peserta didik untuk
menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi
nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi
peserta didik untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses
pembelajaran.
Adapun bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru, yaitu
portofolio, tugas kelompok, demonstrasi, dan laporan tertulis. Bentuk penilaian
seperti ini lebih baik daripada menghafalkan teks, peserta didik dituntut untuk
menggunakan keterampilan berpikir yang lebih tinggi agar dapat membantu memecahkan
masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. (Direktorat PAI Dirjen PAI
Kemenag. RI: 2011)
H. PENUTUP
Bahasa Arab mempunyai kedudukan penting yang semakin meningkat, karena
bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an, bahasa dalam shalat, bahasa al-Hadits, dan
banyak penuturnya. Pembelajaran bahasa Arab di
madrasah diniyah perlu menerapkan pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna,
memiliki daya tarik dan efektif, di antaranya dengan melaksanakan pembelajaran yang
kontekstual, aktual dan bermakna, sehingga bahasa Arab tidak hanya berada pada
tataran dogma, yang normatif dan tekstual tetapi bahasa Arab harus dinamis dan
kontekstual.Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Arab yang kontekstual dapat
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata peserta didik dan mendorongnya membuat hubungan antara pengetahuan dan
penerapannya dalam kehidupannya.
Hal
ini, terlihat pada elemen dan karakteristik, fokus serta strategi pembelajaran
kontekstual. Dalam penerapan pembelajaran bahasa Arab yang kontekstual di
kelas, guru harus mengembangkan tujuh komponen CTL, dengan langkah:
1.
Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna
2.
melaksanakan kegiatan inkuiri untuk semua topik
3.
Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya
4.
menciptakan masyarakat belajar
5.
Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6.
Melakukan refleksi di akhir pertemuan
7.
Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Demikian makalah ini
disusun, dengan berbagai kekurangan dan kelemahan, penulis berharap kritikan
dan masukan dari pembaca budiman.
Terima kasih, wabillahittaufiq walhidayah, Wassalamu
‘alaikum wr.wb.
Padang, 20 Agustus 2013 M/13 Syawal 1434 H
Rosniati Hakim
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Basuni, (1993), Pandangan
15 Tokoh Pendidikan swasta, Jakarta: Dasa Media Utama
Blanchard,
Alan. (2001). Contextual Teaching and
Learning. BEST: USA.
Barbara
Prashing, (2007), The Power of Learning Styles, Bandung: Kifa
CORD.,
(2001), What is Contextual Learning.
World Wide Internet Publishing, Waco Texas.
Direktorat PAI Dirjen PAI Kemenag. RI., (2011), Modul Pengembangan Bahan Ajar PAI di Sekolah, Jakarta
Donald C.
Orhich, Robert J. Hardner, Teaching Strategies: a Guide to Better
Instruction, Boston : Hongtiton Mifflin Company, 2001
Elain, B. Johnson, (2002), Contextual Teaching and Learning,
Corwin Press, Inc. Asage Publication Company Thousand Oaks, California.
Hisyam Zaini,
dkk., Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi, Jogjakarta: CTSD IAIN
Sunan Kalijaga Jogjakarta, 2002
Kementerian Agama RI., (2011), Modul Strategi Dan Model-Model Paikem, Jakarta
Lie, Anita 2007, Cooperative Learning, Memperaktekkan Cooperative
Learning di Ruang Kelas.
Moedjiono, (1993), Strategi
Belajar Mengajar, Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti, Proyek Pembinaan Tenaga
Kependidikan Sanjaya Wina (2006), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media.
M. Aguston dan
Dewi Suliantini, (2006), Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Pasca
Sarjana UNJ,
Nurbayan,
Yayan, (2008), Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, Penerbit, Al-Bayan.
Nurhadi dkk., Pembelajaran
Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Malang: UNM, 2004
Syaiful Bahri
Djamrah, (2002), Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta
Silberman, Mel, (1996), Active Learning: 101 Strategies to
Teach Any Subject, Massachusetts: Allyn and Bacon
Sounders,
John., (1999), Cotextually Based
Learning: Fad or Proven Practice. CORD. Waco, Texas, USA.
Trianto,
(2010), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif (Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (TSP), Jakarta: Kencana.
Winataputra, Udin, S. (1997), Materi Pokok: Strategi Belajar Mengajar,
Jakarta: Depdikbud. UT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar