Dosen Fakultas
Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang
Abstract
The formation of the
human personality (character and moral building) which is balanced, healthy and strong, heavily influenced
by religious education and internalization of religious values within the learners. The basics of religious education which has been placed the elderly, also the task of the teacher, society and Government through a variety of educational institutions. Paper discusses the importance of Alquran education, education-based Alquran, character formation and learners through education. Education is a process that never fails a crucial character in the
present and the future. Does a
nation would emerge as the nation character good or bad, the
nation character depends greatly on
the quality of education that can form the character of the nation's children. The formation of character through education approach Alquran besides being part of the process of the formation of noble morals, is expected to be a
major boost in Foundation degrees and the dignity of the nation's children as learners.
Key
words: Characters, personalities, Alquran
Education, Morals, learners
Abstrak
Pembentukan kepribadian manusia (character
and moral building) yang seimbang, sehat dan kuat, sangat dipengaruhi oleh
pendidikan agama dan internalisasi nilai keagamaan dalam diri peserta didik. Dasar-dasar
pendidikan agama yang telah diletakkan orang tua, juga menjadi tugas guru,
masyarakat dan pemerintah melalui berbagai lembaga pendidikan. Tulisan membahas
tentang pentingnya pendidikan Alquran, pendidikan berbasis Alquran, dan pembentukan karakter peserta didik melalui
pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses yang tidak berkesudahan
yang sangat menentukan karakter bangsa pada masa kini dan masa datang. Apakah suatu
bangsa akan muncul sebagai bangsa berkarakter baik atau bangsa berkarakter
buruk, sangat tergantung pada kualitas pendidikan yang dapat membentuk karakter anak bangsa
tersebut. Pembentukan karakter melalui pendekatan pendidikan Alquran
selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak mulia, diharapkan
mampu menjadi pondasi utama dalam meningkatkan derajat dan martabat peserta didik
sebagai anak bangsa.
Kata kunci: Karakter, Kepribadian, Pendidikan Alquran, Akhlak, Peserta didik.
A.
PENDAHULUAN
Negara Indonesia memerlukan
sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama
dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan
memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 3 UU tersebut menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa.
Wacana tentang pendidikan karakter juga muncul
dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanggapai maraknya korupsi beserta
perilaku negatif lain, yang menunjukkan pelakunya tidak berkarakter baik.
Karakter yang dibangun pada
siswa tidak semata-mata tugas guru atau sekolah. Mengingat siswa beraktivitas tidak hanya di sekolah, namun siswa juga menghabiskan
waktu di rumah dan sekaligus menjadi anggota masyarakat yang merupakan
bagian dari warga negara Indonesia
maupun warga dunia. Disatu sisi guru dituntut untuk mendidik siswa
menjadi generasi muda yang berkarakter baik, namun disisi lain setiap hari
siswa melihat contoh orang tua di rumah dan masyarakat yang mungkin sering
tidak taat pada peraturan.
Pendidikan karakter selain menjadi bagian
dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, diharapkan mampu menjadi pondasi
utama dalam meningkatkan
derajat dan martabat bangsa Indonesia. Di lingkungan
Kementerian Pendidikan nasional sendiri, pendidikan karakter menjadi fokus
pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinannya. Pembentukan karakter itu dimulai dari fitrah yang diberikan Tuhan, yang kemudian membentuk jati diri dan perilaku. Dalam prosesnya sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam membentuk jati diri dan prilaku. Sekolah
dan masyarakat sebagai bagian dari
lingkungan memiliki peranan yang sangat penting, oleh karena itu setiap sekolah dan masyarakat harus memiliki pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Para pemimpin
dan tokoh masyarakat juga harus mampu memberikan suri
teladan mengenai karakter yang akan dibentuk tersebut.
Secara spesifik makalah ini akan
menjabarkan tentang bagaimana proses pembentukan kepribadian peserta didik dalam
lingkungan pendidikannya membawa peserta didiknya berkarakter islami.
Pembahasan makalah ini adalah didukung oleh hasil penelitian dan kajian
kepustakaan. Di awali dengan sebuah gagasan, kemudian memahami pentingya Pendidikan Alquran, pembentukan karakter melalui
pendidikan berbasis Alquran.
B.
PEMBAHASAN
1.
Sebuah Gagasan
Dalam rangka mengembangkan kemampuan
dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, sebgaimana tesebut di atas, menjadi perhatian sungguh-sungguh bagi
pemerintah daerah di Indonesia. Di
Sumatera Barat misalnya, diterbitkannya Peraturan Daerah Kota Padang No. 06 Th
2003 tentang kewajiban bagi peserta didik SD/MI pandai BTQ/A. Dan Peraturan
Gubernur no.70 Tahun 2010 tentang Pendidikan Alquran. Ditegaskan bahwa
pendidikan Alquran merupakan bagian dari struktur kurikulum pada semua jenjang
pendidikan formal (pasal 6 ayat 1), penyelenggaraan pendidikan Alquran merupakan bagian dari kurikulum nasional
(pasal 5 ayat 3). Pendidikan Alquran bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., cerdas,
terampil, pandai baca tulis Alquran, berakhlak mulia, mengerti dan memahami
serta mengamalkan kandungan Alquran”.
Setidaknya ada empat aspek yang menjadi alasan
untuk menerapkan gagasan ini. Pertama, aspek dogmatis. Secara dogmatis
diyakini bahwa Alquran adalah pedoman hidup manusia. Alquran tidak hanya
berbicara tentang kehidupan spiritual an sich, akan tetapi mengandung
ajaran yang komprehensif, holistik dan universal. Bahkan Alquran juga
mengandung isyarat-isyarat ilmiah yang tetap relevan sepanjang zaman sehingga
tatanan kehidupan masyarakat memiliki peradaban yang tinggi. Hanya saja, perlu
pengembangan metodologi dalam pemahaman Alquran sehingga ia lebih
"membumi" dan mampu menjawab tantangan dan kebutuhan umat. Jadi, jika
muncul anggapan dewasa ini umat Islam terbelakang bukan berarti Alquran yang
bermasalah, akan tetapi manusia itu sendirilah yang tidak mampu memahami
pesan-pesan Alquran tersebut.
Kedua, aspek sosio-kultural. Secara sosio-kultural, masyarakat Sumatera Barat Minangkabau dan beragama Islam memiliki
kultur yang menyatu dengan Alquran. Bahkan ketika orang berbicara tentang
sosio-kultural Sumatera Barat, maka key word yang ada dalam persepsinya
hanya ada dua kata: adat dan agama (Islam). Hal ini beralasan mengingat
falsafah Adat Basandi Syarak; Syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK) begitu mengakar
dalam budaya mereka. Untuk melestarikan dan mewujudkan falsafah yang selalu
didengungkan ini dalam kehidupan nyata, perlu dilakukan upaya melalui proses
pendidikan sehingga mampu menerapkan Kitabullah (Alquran) tersebut. Jika tidak,
maka falsafah ABS-SBK hanya menjadi buah bibir semata.
Ketiga, aspek historis. Berbicara tentang sejarah
pendidikan Minangkabau di Sumatera Barat tentu tidak terlepas dari pendidikan
surau. Sistem pendidikan Surau masih tetap menarik untuk dikaji dan diteliti
hingga saat ini. Sebab, pendidikan surau telah memberikan kontribusi yang amat
besar terhadap pembangunan daerah Sumatera Barat, bahkan terhadap bangsa
Indonesia secara nasional dengan tampilnya beberapa ulama dan cendikiawan
terkemuka yang merupakan produk dari pendidikan surau tersebut. Dan perlu
ditegaskan bahwa setiap surau yang berperan sebagai lembaga pendidikan pasti di
dalamnya terdapat pendidikan Alquran. Namun, pendidikan surau tidak mampu tampil
sebagai lembaga pendidikan survive seperti pesantren di tanah Jawa.
Kini, masyarakat Sumatera Barat banyak yang mengalami romantisme sejarah, lalu
mempopulerkan gagasan "babaliak ka surau" karena surau telah dianggap
berhasil pada zamannya. Cara yang paling bijak untuk menerapkan gagasan itu
adalah dengan menerapkan kembali ciri khas sistem pendidikan surau itu sendiri,
yaitu pedidikan al-Qurān.
Keempat, aspek politik. Secara politik, gagasan Alquran sebagai karakter pendidikan juga sangat
beralasan. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 4, misalnya,
disebutkan bahwa pada tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kata-kata iman dan takwa
jelas terinspirasi dari isi Alquran. Dalam perspektif Islam, mustahil seseorang
mampu beriman dan bertakwa tanpa mengamalkan kandungan Alquran. Karenanya, mempelajari Alquran merupakan
keniscayaan bagi yang ingin mengamalkan Alquran secara baik.
Selain itu, kebijakan pemerintah dewasa ini sedang
menerapkan pendidikan karakter. Hakikat pendidikan karakter adalah akhlak
mulia. Dalam perspektif Islam, akhlak itu mesti merujuk pada Rasulullah saw.
sebagai uswatun hasanah. Suatu ketika sahabat bertanya pada ‘Aisyah radhiallahu ’anha tentang akhlak Nabi saw.
عَنِ الْحَسَنِ
قَالَ : سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ؟
فَقَالَتْ :
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ (أحمد(
Artinya:
Dari Al-Hasan ia berkata: Aisyah ditanya tentang akhlaq Rasulullah saw., maka
dia menjawab: Akhlaqnya adalah Alquran . (HR
Ahmad).
Oleh karena itu, pendidikan Alquran melahirkan dan memperkuat
pendidikan karakter yang saat ini sedang dikembangkan di seluruh wilayah
Indonesia, termasuk di Propinsi Sumatera Barat. Bahkan Alquran sejatinya
menjadi karakter atau ciri khas pendidikan Islam di seluruh Indonesia ini.
2.
Pentingya Pendidikan Alquran
Pentingya Pendidikan Alquran, dapat dilihat pada:
Pertama pada tujuan mempelajari dan mengajarkan Alquran.
Alquran adalah kalamullah, kitab suci mulia yang paling paripurna, pedoman
dan landasan hidup setiap manusia beriman, yang mengakui Allah swt. sebagai
Tuhan Yang Maha Esa. Isinya mencakup segala segi kehidupan manusia. Kemuliaan
umat ini adalah tergantung kepada bagaimana mereka
berinteraksi terhadap Alquran. “Hidup di bawah naungan Alquran”, demikian kata al-Syahid Saiyyid
Quthb, dalam Zhilal-nya.
Sebagai kitab pedoman, ia harus
dibaca dan bahkan sangat dianjurkan untuk dijadikan bacaan harian. Hal ini
tersirat dalam berbagai keistimewaan, baik dalam keistimewaan tilawah,
keistimewaan tadabbur, dan keistimewaan hifzh atau hafalan (Abdul Aziz Rauf Al
Hafidz,Lc,1998:1-2).
Keistimewaan
tilawah, artinya Alquran adalah sebuah kitab yang harus dibaca, bahkan
dianjurkan untuk dijadikan bacaan harian. Membacanya dinilai oleh Allah swt sebagai
ibadah. Pahala yang diberikan–Nya berlipat ganda,
sebagaimana sabda Rasulullah saw. ;
لأقول الم حرف
واكن الف حرف ولام حرف وميم حرف (رواه الترمذى)
Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf. (HR. Turmuzi).
Pada hakikatnya tilawah bukanlah hal yang sederhana, namun dalam bertilawah
seorang qari (pembaca) dituntut untuk menjaga keaslian bacaan Alquran seperti yang diturunkan Allah kepada
nabi Muhammad saw. malalui Jibril as.
Firman Allah:
#sÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ
Artinya; Apabila Kami telah membacanya maka
ikutilah bacaannya itu.
(QS. al Qiyamah; [75]: 18).
Rasulullah saw. dalam hal pengajaran Alquran ini,
menunjuk dan memberi kepercayaan kepada beberapa orang sahabat untuk
mengajarkannya, di antaranya kepada Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Salim
Maula Abi Hudzaifah. Para sahabat kemudian mengajarkannya kepada Tabi’in, dan
demikian seterusnya. Alquran diajarkan
secara turun temurun dalam keadaan asli tanpa terkurangi huruf-hurufnya,
kalimat-kalimatnya, bahkan sampai teknis bacaannya. Untuk menjaga
keaslian itulah ulama menjaga sanad Alquran (runtutan para pengajar Alquran dari sejak
zaman Rasulullah saw. sampai sekarang). Karena itu pulalah, metode yang asasi dan asli
dalam mempelajari Alquran dengan Talaqqi, yaitu mempelajari Alquran melalui
seorang guru langsung berhadap-hadapan dimulai dari surat al Fatihah sampai al-Nas.
Namun mengingat terbatasnya jumlah orang yang menguasai Alquran , terutama dalam hal tilawah, maka ulama
ahli qiraat meletakkan kaedah-kaedah cara membaca yang baik dan benar,
yang disebut dengan tajwid.
Keistimewaan dalam tadabbur,
artinya Alquran akan benar-benar menjadi ruh (penggerak) bagi kemajuan
kehidupan manusia manakala selalu dibaca dan ditadabburkan makna yang
terkandung dalam setiap ayat-ayatnya. Allah swt. berfirman :
y7Ï9ºxx.ur
!$uZøym÷rr&
y7øs9Î)
%[nrâ
ô`ÏiB
$tRÌøBr&
4 $tB
|MZä.
Íôs?
$tB
Ü=»tGÅ3ø9$#
wur
ß`»yJM}$#
`Å3»s9ur
çm»oYù=yèy_
#YqçR
Ïök¨X
¾ÏmÎ/
`tB
âä!$t±®S
ô`ÏB
$tRÏ$t6Ïã
4 y7¯RÎ)ur
üÏöktJs9
4n<Î)
:ÞºuÅÀ
5OÉ)tGó¡B
ÇÎËÈ
Artinya; Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu sebuah ruh (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu
tidaklah mengetahui apakah al-Kitab itu dan tidak pula mengetahui apakah iman
itu, tetapi Kami menjadikan Alquran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia
siapa d-iantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi
petunjuk kepada jalan yang lurus (Q.S. al-Syura; [42]: 52)
ë=»tGÏ.
çm»oYø9tRr&
y7øs9Î)
Ô8t»t6ãB
(#ÿrã/£uÏj9
¾ÏmÏG»t#uä
t©.xtFuÏ9ur
(#qä9'ré&
É=»t6ø9F{$#
ÇËÒÈ
Sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan
berkah agar mereka mentadabburkan ayat-ayatnya dan agar menjadi peringatan bagi
orang-orang yang berakal. (Q.S Shad; [38]: 29)
Keistimewaan hafalan, artinya Alquran
selain dibaca atau direnungkan juga perlu dihafal, dipindahkan dari
tulisan ke dalam dada, karena hal ini
merupakan ciri khas orang-orang yang diberi ilmu, juga sebagai tolok ukur
keimanan dalam hati seseorang. Firman Allah swt.:
ö@t/
uqèd
7M»t#uä
×M»oYÉit/
Îû
Írßß¹
úïÏ%©!$#
(#qè?ré&
zOù=Ïèø9$#
4 $tBur
ßysøgs
!$uZÏF»t$t«Î/
wÎ)
cqßJÎ=»©à9$#
ÇÍÒÈ
Artinya: Sebenarnya Alquran itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam
dada-dada orang-orang yang diberi ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami
kecuali orang-orang dzalim. (QS al-Angkabut; [29]: 49).
Rasulullah
saw. bersabda:
إن
الذى ليس في جوفه شئ من القران كالبيت الخرب (رواه الترمذى)
Artinya: Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya
tidak terdapat sebagian ayat daripada Alquran, bagaikan rumah yang tidak ada
penghuninya. (HR. Turmuzi)
Kedua,
dilihat pada keutamaan belajar dan mengajarkan Alquran, seperti berikut:
a.
Orang
yang belajar dan mengajarkan Alquran adalah sebaik-baik umat, kelak mereka
akan menerima balasan pahala dari Allah yang berlipat ganda, Rasulullah saw. bersabda:
خيركم
من تعلم القران وعلمه
Artinya; Dari ‘Utsman, dari
Nabi saw. telah bersabda: sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Alquran dan
yang mengajarkannya. (HR. Bukhari)
Telah berkata Ibnu Mas’ud, bersabda Nabi saw.:
إقرؤ القران فإنكم تؤجرون عليه بكل حرف عشرحسنات .........
Artinya; Bacalah olehmu Alquran, maka sesungguhnya
kamu akan diberi pahala dengan setiap huruf itu sepuluh kebaikan….(HR.Turmuzi)
b.
Orang
yang membaca Alquran, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.
Allah swt. befirman dalam surat al Fathir ayat 29:
¨bÎ)
tûïÏ%©!$#
cqè=÷Gt
|=»tGÏ.
«!$#
(#qãB$s%r&ur
no4qn=¢Á9$#
(#qà)xÿRr&ur
$£JÏB
öNßg»uZø%yu
#uÅ
ZpuÏRxtãur
cqã_öt
Zot»pgÏB
`©9
uqç7s?
ÇËÒÈ
Sesungguhnya orang-orang yang membaca Alquran, mendirikan
shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepadanya dengan
diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak
akan merugi. (QS. Al Fathir; [35]: 29)
c.
Di samping amal
kebajikan, memperbanyak membaca Alquran dapat membebaskan seseorang
dari sentuhan api neraka, karena ia datang kelak pada hari kiamat memberi
syafa’at. Abdul Mukti (1987:216-217), mengemukakan fatwa Imam Jalaluddin Al
Suyuthy;
.....إقرؤا القران فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا
لأصحابه
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, hadits dari Abi
Amamah, barsabda Nabi saw.: Bacalah olehmu Alquran karena Alquran itu datang pada hari kiamat memberi syafa’at
bagi pembacanya.
d.
Membaca
Alquran merupakan
ibadah yang lebih utama dari umat Muhammad saw. Rasulullah saw. pernah
menerangkan kepada para sahabatnya tentang kemuliaan orang yang membaca Alquran, sebagaimana riwayat berikut:
Artinya: … Barang siapa yang
mengharap hendak bertemu dengan Allah, maka hendaklah ia memuliakan ahli Allah,
sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah Allah mempunyai ahli? Jawab Nabi: Ya. Kemudian sahabat bertanya lagi: Siapakah mereka itu ya
Rasulullah? Rasulullah menjawab: Ahli Allah di dunia ialah orang-orang yang
membaca Alquran. Ketahuilah, barang siapa yang
memuliakan mereka itu, Allah akan memuliakannya, dan memberikan surga
kepadanya. Dan barang siapa yang menghinakan mereka itu, maka Allah akan
menghinakannya pula, dan akan memasukkannya
ke dalam neraka. Hai Abu Hurairah, tidak ada seorangpun yang paling
mulia di sisi Allah selain dari orang yang membaca Alquran. Ketahuilah,
sesungguhnya orang yang membawa Alquran (untuk
dibaca) itu di sisi Allah lebih mulia daripada semua orang selain para nabi…
Pada riwayat lain Nabi
Muhammad saw. membanggakan umatnya yang gemar membaca Alquran:افضل عبادة أمتي تلاوة القـرإن
Ibadah umatku yang
lebih utama ialah yang membaca Alquran (Abdul Mukti TS, 1987:217-220)
Begitu pentingnya membaca Alquran, Rasulullah saw. telah bersabda; Artinya:
“Didiklah anak-anakmu dengan tiga
perkara: mencintai nabimu, mencintai keluarga nabi, dan membaca Alquran ”,
HR Thabrani)”. “Sebaik-baik kamu adalah
orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya , HR: Bukhari)”.
Pentingnya pendidikan Alquran, dapat juga dilihat dari tujuan
mempelajari Alquran dan mengajarkannya. Tujuan
mempelajari Alquran selain
sebagai ibadah membacanya, Mahmud Yunus dalam bukunya; (1978:55-56)
mengemukakan sebagai berikut:
1.
Memelihara
kitab suci dan membacanya serta memperhatikan apa-apa isinya, untuk jadi
petunjuk dan pengajaran bagi kita dalam kehidupan didunia.
2.
Mengingat
hukum agama yang termaktub dalam Alquran, serta menguatkan keimanan dan mendorong
berbuat kebaikan dan menjauhi kejahatan.
3.
Mengharapkan
keridhaan Allah dengan menganut i’ktikad yang sah dan mengikuti segala suruhan-Nya dan
menghentikan segala larangan-Nya.
4.
Menanamkan
akhlak yang mulia dengan mengambil ‘ibrah dan pengajaran, serta suri teladan yang
baik dari riwayat-riwayat yang termaktub dalam Alquran.
5.
Menanam
rasa keagamaan dalam hati dan menumbuhkannya, sehingga bertambah tetap keimanan
dan bertambah dekat hati kepada Allah.
Mempelajari Alquran amat penting sekali dimulai sejak kanak-kanak, baik di
sekolah, atau diluar sekolah, seperti di rumah, di mesjid, atau langgar,
atau surau, di Taman Pendidikan Alquran
(TPA), di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), di pondok-pondok Alquran dan
sebagainya, karena waktu ini (sebagai langkah
awal), tenaga hafalan kanak-kanak
sangat kuat, sehingga mudah baginya
menghafal ayat-ayat. Hal ini sejalan
dengan pendidikan shalat, bahwa anak-anak harus bisa menghafal ayat-ayat yang
perlu dibaca dalam shalat atau di luar shalat. Sebab itu pula
sudah menjadi kebiasaan dari dahulu kala, kanak-kanak belajar Alquran itu di
surau-surau (langgar) di seluruh Indonesia. Perguruan Alquran itu harus
dihidupkan di tempat-tempat seperti disebut di atas, baik petang hari atau
malam hari, pagi atau siang. Tetapi supaya pelajaran itu lebih teratur dan
menghasilkan tujuan di atas, haruslah diikuti cara-cara yang baik untuk
mengajarkannya. Lebih lanjut Mahmud Yunus mengatakan bahwa, pada zaman
sekarang, kita merasa perlu mempelajari Alquran menurut dasar-dasar yang kokoh, bukan
semata-mata membaca dan melagukan saja.
Karena Alquran itu di turunkan Allah untuk petunjuk dan
penuntun bagi masyarakat Islam khususnya dan masyarakat / ummat manusia
umumnya.
Sementara Moh. Saleh Samak,
mengemukakan pula dalam bukunya; Ilmu
Pendidikan Islam-Fannu al Tadris (1983:65-66), bahwa tujuan mengajarkan Alquran kepada murid-murid adalah sebagai berikut:
1.
Untuk
menjelaskan asas utama syariat Islam.
2.
Untuk
meninggikan daya berfikir murid-murid tentang hidup dan menikmati keindahan
bahasanya.
3.
Untuk
memberi faham ayat-ayat yang dipelajarinya.
4.
Supaya
murid-murid mengetahui hukum-hukum agama yang terkandung di dalam Alquran dan mengingati serta menghafalnya.
5.
Untuk membentuk akhlak murid-murid.
Untuk memberi paham tentang ayat-ayat
yang dipelajari, misalnya mengerti tiap-tiap arti perkataan, makna ayat dan
seterusnya, harus dilakukan melalui hafalan di samping membaca. Di saat itu
murid dibiasakan menghafal ayat-ayat Alquran sesuai kandungan ayat secara
bertahap sesuai kemampuan murid. Tujuan mengajar Alquran untuk membentuk akhlak murid, dapat dicapai
dengan memahami dan mengerti nas-nas dari Alquran.
Pentingnya pendidikan Alquran merupakan suatu kewajiban
bagi setiap orang beriman (mukmin), di samping mengimani, membaca, mengamalkan,
dan memeliharanya. Melalui pedidikan Alquran
setiap peserta didik akan mencapai
tujuan yang diharapkan yaitu terbentuknya karakter baik atau akhlak mulia
sebagai tujuan tertinggi dari pendidikan Islam.
Disini letak
pentingnya tugas seorang guru, baik dalam pendidikan informal, nonformal dan
formal. Guru sebagai insan termulia, mempunyai fungsi yang tidak dapat terlepas
dari tiga fungsinya, sebagaimana dinyatakan Daoed Yoesoef (1980), bahwa seorang
guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas
kemasyarakatan.
3.
Pendidikan Berbasis Alquran
Pendidikan Alquran bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Allah swt., cerdas, terampil, pandai baca tulis Alquran, berakhlak mulia, mengerti dan memahami serta mengamalkan kandungan Alquran”. Pendidikan berbasis Alquran adalah pendidikan
yang mengupas masalah Alquran dalam makna; membaca (tilawah), memahami
(tadabbur), menghafal (tahfizh) dan mengamalkan serta mengajarkan atau
memeliharanya melalui berbagai usnsur. Pendidikan Alquran adalah
pendidikan yang menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran yang terlihat dalam sikap dan
aktivitas peserta didik dimana dia berada.
Hal ini mengingatkan kita semua, terutama
kalangan pendidik, bahwa mu’allim (guru) memegang peranan penting dalam
pembentukan perilaku manusia dalam menjalani hidupnya. Karena anak didik adalah amanah Allah, maka para pedidiknya
terlebih dahulu harus mengubah diri mereka sebelum mendidik orang lain. Dalam sejarah
pendidikan Islam dialog antara calon pendidik dengan orang tua anak sangat
terkenal sebagaimana dikutip oleh Ibnu Khaldum, dari amanah Umar bin Utbah yang
diucapkannya kepada calon pendidik anaknya sebagai berikut: “Sebelum engkau
membentuk dan membina anakku, terlebih dahulu hendaklah engkau membentuk dan
membina dirimu sendiri, karena anakku tertuju dan tertambat kepadamu. Seluruh
perbuatanmu itulah yang baik menurut pandangannya. Sedangkan apa yang engkau
hentikan dan tinggalkan itu pulalah yang salah dan buruk di matanya
(Nashruddin, 1979:107)
Di sekolah, Pendidikan Alquran berfungsi sebagai, pengenalan,
pembiasaan, pencegahan, dan penanaman nilai-nilai. Sedangan Ruang Lingkup
Pendidikan Alquran, kepada peserta didik diajarkan dan dididik menulis,
membaca, menghafal ayat-ayat pendek dan pilihan serta mencontohkan nilai-nilai
dalam Alquran sekaligus melatih dan membiasakan membaca Alquran bagi peserta
didik dalam kehidupan sehari-hari (Kurikulum Pendidikan Alquran di sekolah, 2008)
Untuk menghidupkan dan menyuburkan
semaraknya pendidikan Alquran diperlukan
kerja sama terpadu secara berkelanjutan antara sekolah, rumah tangga dan
masyarakat. Hal ini tidak diragukan lagi, bahwa
pendidikan Alquran adalah bahagian dari PAI, yang merupakan mata
pelajaran wajib diberikan dari TK sampai perguruan tinggi. Di dalam masyarakat
ditemukan dan dilaksanakan pendidikan agama Islam nonformal seperti adanya
TPA/TPSA dan MDA/MDW dan MDU yang ada disetiap mesjid dan mushalla dan pondok Alquran
di setiap kecamatan. Bagi orang dewasa pendidikan Alquran dilakukan melalui majelis Taklim dan
pengajian Alquran lainnya dalam
berbagai bentuk seperti yasinan, tadarrus Alquran, tafsir Alquran dan
lain-lain.
Pemerintah memberikan dorongan di
samping adaya Perda tentang BTQ bagi anak usia SD/MI, ada pencanangan dan
himbauan untuk maghrib mengaji, subuh mubarakah dan lain. Adanya wirid remaja,
pesantren ramadhan serta kegiatan keagamaan lainnya yang di dalamnya ada pendidikan
Alquran.
Hal-hal seperti demikian setidaknya ada
empat manfaat yang dapat diperolah, yaitu; (a) tercegahnya masalah kenakalan
remaja, (b) dapat menyempurnakan pendidikan agama di sekolah, (c) meningkatkan
kesadaran siswa akan kebutuhan terhadap pembinaan keagamaan dan rasa memiliki
kegiatan keagamaan khususnya tentang Alquran, (d) membuka lapangan kerja bagi
alumni atau orang yang berkewajiban memberikan ilmunya (Muhaimin, 2003:127)
Pendidikan Alquran
secara bertahap membawa seseorang kepada pemahaman yang akhirnya mampu
mengamalkan dan merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari menjadi kepribadian
yang terpuji. Untuk memperoleh
pemahaman yang layak dari kajian tentang Alquran, perlu dilakukan pendekatan untuk
merefleksikan apa yang sedang dibaca. K. Murad dalam eseinya “Jalan menuju Alquran (The way to the Quran), mengungkapkan sebagai berikut:
1. Perhatikan syarat-syarat dasar guna
memperoleh buah kajian Alquran
a. Yakini sedalam-dalamnya bahwa dihadapan
anda tengah terbentang wahyu ilahi
b. Bacalah dengan niat hanya mencari ridha
Allah swt.
c. Terimalah petunjuknya secara penuh dan
utuh
d. Leburkan diri anda ke dalam petunjuk yang
dikandungnya
e. Mohonlah perlindungan kepada Allah dan
agungkan asma-Nya.
2. Perkuat dan jaga kehadiran hati
a. Selalu sadari bahwa Allah swt. selalu
memperhatikan anda
b. Rasakanlah seolah-olah anda mendengar
langsung Alquran dari Allah swt.
c. Rasakanlah seolah-olah Alquran
disampaikan langsung kepada anda
d. Lakukan dengan gerak jasmani yang wajar,
dan sucikanlah diri anda lahir dan batin
3. Refleksikanlah Alquran
dan berupayalah dengan
ber-sungguh-sungguh untuk memahaminya;
a. Perhatikan bahwa setiap ayat relevan
dengan kondisi sekarang
b. Bacalah keseluruhan Alquran agar
mendapat gambaran meyeluruh
c. Hindari pembahasan yang terlalu panjang.
d. Pelajarilah bahasa Alquran
e. Hayati secara mendalam apa yang tengah
anda baca,
dan daraslah dengan cara yang
harmonis (bacaan tartil)
4. Ajaklah hati anda untuk terlibat dalam
pengkajian Alquran
a. Pelajari bagaimana Rasul saw. dan para
sahabatnya berinteraksi dengan al-Qurān
b. Padanglah bahwa setiap ayat merupakan
wahyu yang ditujukan untuk anda
c. Kembangkanlah tanggapan hati terhadap
ayat, dan ungkapkanlah dengan memuji Allah, serta mohonlah ampunan-Nya.
Abul
A’la Maududi mengemukakan beberapa pedoman untuk mengkaji Alquran;
a. Bacalah Alquran dengan
fikiran yang terbebas bias bayangan lain
b. Bacalah Alquran lebih dari satu kali, sehingga mendapatkan
pandangan yang shahih
c. Catat pertanyaan yang muncul,
d. Sementara anda membaca, carilah perintah Alquran
yang sudah anda tangkap dan rasakan
e. Sesudah membaca pertama kali, segera
lakukan pembacaan yang semakin rinci, pikirkan bagaimana hal tersebut dapat
diterapkan
f. Jangan lupakan bahwa kunci nyata untuk
memahami Alquran adalah melaksanakan
secara praktis ajaran Alquran.
(Baca A.Van Denffer, 1981:211)
Perlu diperhatikan bahwa seseorang tidak akan pernah menyentuh kebenaran
yang dikandung Alquran apabila
hanya sekedar membaca saja. Untuk itu ia harus aktif melibatkan diri dalam
perjuangan kaum beriman yang dipesankan Alquran, yaitu membaca, menghafalkannya dan mempelajari isi kandungannya, sehingga
mampu mengamalkannya.
Memperhatikan paparan di atas, akan sangat dirasakan oleh setiap siswa
dan kaum beriman umumnya apa yang menjadi pesan dan fungsi Alquran; sebagai rahmat dan hudan bagi manusia, di antaranya;
ö@è%
$ygr'¯»t
ÚZ$¨Z9$#
ÎoTÎ)
ãAqßu
«!$#
öNà6ös9Î)
$·èÏHsd
Ï%©!$#
¼çms9
Ûù=ãB
ÏNºuq»yJ¡¡9$#
ÇÚöF{$#ur
( Iw
tm»s9Î)
wÎ)
uqèd
¾Çósã
àMÏJãur
( (#qãYÏB$t«sù
«!$$Î/
Ï&Î!qßuur
ÄcÓÉ<¨Y9$#
ÇcÍhGW{$#
Ï%©!$#
ÚÆÏB÷sã
«!$$Î/
¾ÏmÏG»yJÎ=2ur
çnqãèÎ7¨?$#ur
öNà6¯=yès9
crßtGôgs?
ÇÊÎÑÈ
Artinya:
Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu
semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka
berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada
Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya
kamu mendapat petunjuk" (QS. al-A’raf; [7]:158).
!$tBur
$uZø9tRr&
y7øn=tã
|=»tGÅ3ø9$#
wÎ)
tûÎiüt7çFÏ9
ÞOçlm;
Ï%©!$#
(#qàÿn=tG÷z$#
ÏmÏù
Yèdur
ZpuH÷quur
5Qöqs)Ïj9
cqãZÏB÷sã
ÇÏÍÈ
Artinya: Dan Kami tidak menurunkan kepadamu
Al-Kitab (Alquran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa
yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang
beriman ( An-Nahl; [16]: 64-65)
Sungguh sangat naif
bila seorang atau pelajar muslim tidak mengambil petunjuk dan rahmat Allah swt.
yang telah di turunkan melalui kitab Alquran
sebagai sumber ajarannya. Oleh karena itu pembentukan karakter atau
akhlak, yang menjadi misi Rasulullah saw. di utus ke dunia, perlu
diformulasikan dalam penyelenggaraan pendidikan Islam sebagai pendidikan
berkarakter, melalui berbagai lembaga pendidikan dan oleh semua komponen.
Ssurat al-fatihah
(ibu Alquran) mengandung berbagai prinsip hidup, termasuk prinsip-prinsip untuk
menggali dan melejitkan potensi diri. Setiap muslim harus mempelajari tentang manthuq
(arti tersurat) dan mafhum (arti tersirat) dari ayat-ayat al-Qurān.
Wajdi (2007) mengemukakan ada 7 (tujuh) prinsip menggali dan melejitkan diri
dengan Quranic Quotiont, yang termaktub dalam surat al-fatihah sebagai berikut;
Prinsip pertama: awali dengan basmalah, prinsip kedua: terimalah
diri apa adanya, prinsip ketiga: berikan yang terbaik, prinsip keempat:
lihatlah impian, prinsip kelima: temukan potensi dan peluang diri, prinsip
keenam: rumuskan cara meraih impian, dan prinsip ketujuh: belajarlah dari
pengalaman.
4.
Pembentukan Karakter Peserta
Didik Melalui Pendidikan
Menurut Dr Daoed Joesoep (http://lemlit, 15/03/2013), bahwa ada tiga
elemen dasar pembentukan watak atau karakter bangsa Indonesia yaitu, pola
pikir, kebudayaan nasional, dan pancasila. Pertama, pola pikir ini
didasari oleh fakta empiris, religiusitas/mitologi, politik etik, dan
generalisasi ilmiah. Dari keempat dasar pola pikir tersebut ketiganya (fakta
empiris, religius dan politik) cenderung divergen yang pada akhirnya bisa
membuat bias watak/karakter bangsa. Kedua, kebudayaan nasional bangsa
Indonesia dihadapkan pada tantangan keanekaragaman bentuk dan latar
belakangnya. Ini bisa menjadi sebuah modal dasar yang positif dalam bingkai
bhineka tunggal ika, tapi tak jarang menimbulkan tantangan tersendiri dalam
pengelolaannya. Ketiga, pancasila adalah merupakan modal positif untuk
menjadi butir-butir yang pantas menjadi filosafi, tapi belum cukup untuk
menjadi sistem filosofi bangsa. Sebagai butir-butir yang pantas menjadi
filosofi perlu diurai lebih dalam menjadi sistem filosofi. Mencermati tantangan
yang muncul dari ketiga elemen dasar pembentukan watak/karakter bangsa tersebut
maka mepecahanya adalah melalui pembenahan bidang pendidikan. Pendidikan yang
sebenarnya yaitu pendidikan yang memanusiakan manusia Indonesia. Tidak hanya
menggunakan pendekatan ekonomi semata. Sebagai umat yang beragama tentunya kita
telah memahami bahwa ayat pertama yang diturunkan adalah Iqro, bacalah
belajarlah, berfikirlah. Pergunakan akal untuk menggali ilmu pengetahuan. Akal
adalah makna dari otak yang dimanfaatkan untuk berfikir dan ilmu pengetahuan
yang dapat menghantarkan martabat dan karakter bangsa hanya bisa dikembangkan
oleh akal (otak yang dioperasionalisasikan). Dari sini jelas bahwa memang untuk
membangun karakter, watak martabat bangsa harus dimulai dari pendidikan.
(Daoed Joesoep, 15/03/2013)
Pendidikan karakter adalah suatu
sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri,
sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan
kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders)
harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan
atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas,
pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan
lingkungan sekolah.
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan
dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan
karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang,
sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan
peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya,
mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan
akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Melalui program ini
diharapkan setiap lulusan memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan
terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya
Indonesia. Pada tataran yang lebih
luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.
Pendidikan karakter di sekolah sangat terkait dengan manajemen atau
pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan
karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan
pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut antara lain
meliputi, nilai-nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran,
penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan, dan komponen terkait lainnya.
Dengan demikian manajemen sekolah merupakan salah satu media yang efektif dalam
pendidikan karakter di sekolah. Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian
pendidikan karakter adalah terbentuknya budaya sekolah. Budaya
sekolah yang dimaksud yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan
simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah dan masyarakat sekitar
sekolah (Ide Guru: 2005)
Menurut Mulyasa
(2012: 125), pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai model, yaitu
model pembiasaan dan keteladanan, pembinaan disiplin, hadiah dan hukuman,
pembelajaran kontekstual, bermain peran, dan pembelajaran partisipatif.
Pembentukan karakter
peserta didik melalui pendidikan berbasis Alquran dimaksudkan,
dapat melakukan pembiasaan dan keteladanan, pembinaan disiplin, memberi hadiah
dan hukuman, menerapkan pembelajaran kontekstual, bermain peran, dan
pembelajaran partisipatif, yang dilakukan secara berkelanjutan dan secara
terpadu oleh pendidik terhadap peserta didiknya, baik di rumah, di sekolah atau
di masyarakat. Pendidikan berbasis Alquran ini sebenarnya telah diterapkan
sejak lama melalui pendidikan surau yang sekarang umumnya dilaksanakan melalui
pendidikan di sekolah/madrasah melalui mata pelajaran PAI dan Quran-Hadis, dan
di TPA/Q dan MDA/MDTA yang tersebar diseluruh Nusantara.
Di sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah di Sumatera Barat khususnya, Alquran selalu
dikumandangkan dan dibaca oleh peserta didik. Diselingi dengan do’a, asmau al-husna dan kalimat thayyibah lainnya. Alquran juga dibaca dan dikumandangkan pada hari Jum’at sebagai
kegiatan rutin disetiap sekolah, dan setiap hari minggu subuh disetiap mesjid
dan mushalla. Alquran bahkan dipelajari
di TPA/Q dan MDA, di pondok Alquran dan
majelis Taklim, di kelompok-kelompok pengajian dan lain-lain. Alquran juga dibaca pada setiap kegiatan atau acara
keluarga ataupun kegiatan kemasyarakatan, baik di sekolah, di kantor, ataupun
di mana kegiatan diadakan, selalu diawali dengan membaca Alquran. Alquran dibaca dan dipelajari melalui pesantren
Ramadhan oleh peserta didik di sekolah yang dialihkan ke mesjid dan mushalla
tempat dia bermukim.
Dengan demikian, Alquran yang senantiasa dibaca dan dipelajari
sejak kecil, hingga akhir hayatnya dan dilakukan diberbagai tingkat dan tempat,
oleh semua umur, bila dipahami dengan baik, akan dapat mengamalkan nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya. Alquran diambil
sebagai petunjuk dan pedoman hidup setiap muslim, tentu akan menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt. Iman dan takwa adalah karakter yang
sangat tinggi nilainya di sisi Allah swt., dan itulah orang yang paling mulia
di sisi Allah swt.
Menurut Adian
Husaini (2010), pada skala mikro,
pendidikan karakter ini harus dimulai dari sekolah, pesantren, rumah tangga,
juga Kantor Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Dari atas sampai ke
bawah, dan sebaliknya. Sebab, guru, murid, dan juga rakyat sudah terlalu sering
melihat berbagai paradoks. Banyak pejabat dan tokoh agama bicara tentang taqwa;
berkhutbah bahwa yang paling mulia di antara kamu adalah yang taqwa. Tapi,
faktanya, saat menikahkan anaknya, yang diberi hak istimewa dan dipandang mulia
adalah pejabat dan yang berharta. Rakyat kecil dan orang biasa dibiarkan
berdiri berjam-jam mengantri untuk bersalaman. Kalau para tokoh agama, dosen,
guru, pejabat, lebih mencintai dunia dan jabatan, ketimbang ilmu, serta tidak
sejalan antara kata dan perbuatan, maka percayalah, Pendidikan Karakter yang
diprogramkan Kementerian Pendidikan hanya akan berujung slogan!
Ada beberapa penelitian yang
membuktikan bahwa karakter seseorang dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang.
Di antaranya berdasarkan penelitian di Harvard University
Amerika Serikat (http://akhmadsudrajat.Wordpress
.com/…/pendidikan-karakter-di-smp/), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan
semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja,
tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Penelitian ini mengungkapkan
bahwa kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard
skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang
tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft
skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu
pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Sementara itu Ratna
Megawangi (2007)
mencontohkan bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter
sejak awal tahun 1980-an.
Menurutnya pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing
the good, loving the good, and acting the good (suatu proses
pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga berakhlak
mulia).
Penelitian tentang Manajemen Madrasah Diniyah Awaliyah; Studi Kasus
MDA Baitul Haadi (Hakim: 2013) dan Lez (Investigasi, 2013), mampu melahirkan
peserta didik berkarakter dan islami. Manajemen yang diterapkan di MDA Baitul Haadi, melalui
fungsi-fungsi manajemen, telah memberikan keberhasilan bagi pelaksanaan
pendidikan dan pembelajaran peserta didiknya. Implikasi
dari pengelolaan yang diterapkan kepala MDA tersebut mempunyai arti dan
pengaruh besar terhadap meningkatkan kualitas pembelajaran, baik pada proses
pembelajaran maupun pada hasil dan tujuan. Kegiatan ini mewujudkan peserta didik yang berkualitas; berprestasi;
yang mampu memahami dan menguasai kompetensi pembelajaran, berdisiplin dan
bertanggung jawab, serta berperilaku
terpuji atau
berakhlaqul karimah, memiliki rasa tanggung
jawab yang tinggi, menimbulkan rasa dihargai,
dan rasa diperhatikan, adanya budaya berani tampil, persaingan
sehat/berkompetisi. Terlaksananya manajemen MDA ini, merupakan sebuah sistem yang
dibangun dan dipelihara secara terus menerus antara kepala MDA, guru, peserta
didik, orang tua, pengurus dan masyarakat, serta pemerintah. Kerjasama yang
dibangun membuat MDA Baitul Haadi mampu meningkatkan kualitas sumber daya
madrasahnya, sehingga menjadikan popularitas di antara MDA yang ada di kota
Padang.
Berkarakter
atau Berakhlak mulia itu dalam ajaran
Islam adalah orang yang dipujikan Allah dan ditinggikan derjatnya. Orang yang
berakhlak mulia itu adalah orang yang sukses, sehat dan bahagia hidupnya.
Setiap pribadi semestinya memiliki akhlak yang mulia, apalagi para pendidik, agar
ia lebih bijaksana dalam menjabarkan nilai-nilainya ke dalam program-program
untuk dituangkan dalam rencana-rencana pembangunan manusia seutuhnya. Dalam
ajaran Islam, pribadi dan sepak terjang Rasulullah adalah manifestasi dan
realisasi dari ajaran-ajaran Alquran, yang di dalamnya terkandung sumua
sifat-sifat Tuhan. Siti ‘Aisyah, dalam menerangkan sifat-sifat Rasulullah
dengan ringkas tetap berkata: ”akhlak Rasulullah ialah Alquran” (Hamka,1982;I:70, dan Humaidi Tatamangarsa,1980:16-7). Lebih dari
itu Alquran sendiri telah dengan tegas
menyatakan bahwa Rasulullah adalah sebagai panutan/ikutan yang baik. (QS. al
Ahzab, 33:21). Dalam sejarah tercatat, selama hidupnya beliau senantiasa
mempunyai karakter terpuji; membantu orang lain, dan sangat peduli terhadap
penderitaan orang lain.
Sahabat pernah bertanya pada Nabi
tentang inti agama sebagai berikut: Hai Nabi! Apakah inti agama itu (maad diin)? Pertanyaan ini ditanyakan
sahabat kepada Nabi sebanyak empat kali. Tiga kali Nabi menjawab pertanyaan itu
dengan “akhlak yang baik” (husnul-khuluq). Sedang jawaban keempat
Nabi memberikan “amaa tafqahu, wahuma
allaa taghdhab!” (Ahmad bin Hambal,1981:255 dan 288). Jawaban ini
hakikatnya juga akhlak, yakni agar orang jangan cepat emosi. Dalam menjawab
tentang hakikat (inti) agama, Nabi saw.,
ada yang mengatakan bahwa agama itu adalah nasehat menasehati (ad-diinul nashiihah), agama itu adalah
muamalah (ad-diinul mu’amalah), agama
itu adalah iman (ad-diinul iimaan),
akhlak itu tandan kesempurnaan iman (akmalul
mukminiina iimaanan ahsanuhum khuluqan), akhlak itu wadah agama (akhlaqu wi’aaud diin), dan bahwa
kebahagiaan seseorang itu terletak pada akhlaknya yang baik (min sa’aadatil mar’i husnul khuluq).
(Muhammad Mawardi, Jawahir al Hadis, t.t.:22).
Nabi sendiri menegaskan bahwa aku diutus menjadi Rasul adalah bertugas untuk
menyempurnakan akhlak manusia (innamā
bu’istu liutammimā makārim al-akhlāq) (Hambal, 1981:331). Di samping itu
pribahasa (Syauqy) mengatakan pula bahwa “Tegaknya suatu umat itu karena akhlak
baiknya dan apabila akhlaknya rebah maka rebah pulalah umat (bangsa) itu”
(Asmaran,1992:5).
Saat ini di samping MTQ secara
nasional, juga dibudayakan musabaqah dibidang Alquran ini
dalam berbagai bentuk dan tingkatnya oleh beberapa lembaga atau instansi yang
mempunyai kepedulian terhadap Alquran. Hal ini
dipahami sebagai pendidikan berbasis Alquran, dalam
rangka memelihara Alquran, dan mengambil
i’tibar, dan nilai-nilai daripadanya untuk dapat diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari.
C.PENUTUP
Pendidikan Alquran berfungsi
sebagai, pengenalan, pembiasaan, pencegahan, dan penanaman nilai-nilai kepada peserta didik dalam rangka
membangun manusia beriman dan bertakwa kepada Allah swt. Pembentukan karakter
peserta didik, sangat penting dan tidak boleh diabaikan oleh siapapun terhadap
masa depan bangsa dan terpeliharanya agama. Pembentukan karakter peserta didik
adalah tanggung jawab setiap orang; keluarga, sekolah, masyarakat dan
pemerintah. Pembentukan karakter sangat dipengaruhi oleh
keadaan lingkungan, sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup
besar dalam membentuk jati diri dan perilaku peserta didik. Pembentukan karakter melalui
pendidikan Alquran yang berkualitas
(membaca, mengetahui dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya),
sangat perlu dan tepat serta mudah dilakukan, secara berjenjang dan oleh setiap
lembaga secara terpadu melalui manajemen yang baik. Para pendidik harus lebih
bijaksana dalam menjabarkan nilai-nilai Alquran ke dalam program-program untuk dituangkan
dalam rencana-rencana pembangunan manusia seutuhnya melalui proses
pembelajaran. Diikuti dengan menerapkan pembiasaan
dan keteladanan, melakukan pembinaan disiplin, memberi hadiah dan hukuman,
pembelajaran kontekstual, bermain peran, dan pembelajaran partisipatif.
Disempurnakan,
28 Juni 2014 M/ 2 Ramadhan 1435 H
Rosniati
Hakim
REFERENSI
Adian, Husaini. 2010. Perlukah Pendidikan
Berkarakter, dalam:http://insistnet.
com/index.php?option=com_content&view=article&id=133perlukahpendidikan-berkarakter&catid=1%3Aadian-husaini&Itemid=23. Diakses jum’at 15/03/2013
Al- Abrasyi, Athiyah, Mohammad, 1970. Al-Tarbiyah al-Islamiyah,
(terj.), Bustami: Dasar-Dasar Pokok
Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang. Mukti, Al-Ustadz Abdul TS, Editor,
Artikel
Pendidikan: Konsep Pendidikan Karakter, Sumber
http://elementary-education-schools.blogspot.com/2011/08/all-about-elementary-education-in.html/15-03-2013
Asmaran, As., 1992. Pengantar Studi
Akhlak, Jakarta: Rajawali
Darraz, Muhammad Abdullah. 1882. La Morale Du Koran, terj. Abdush Shabur
Denffer, A.Van, 1981. Ilmu Al-Quran
Pengenalan Dasar, Jakarta: Rjawali.
Hakim, Abdul Hamid, 1995. Tahzib al Akhlaq, Bukittinggi: Pustaka Nusantara.
Hakim,
Rosniati, 2013. Manajemen Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA); Studi Kasus MDA
Baitul Haadi Padang, Disertasi, PPS IAIN Imam Bonjol Padang.
Hambal, Ahmad bin. 1981. Al
Musnad Ahmad bin Hambal, Beirut: Daar al Fikr.
Hamka. 1982. Tafsir Al Azhar, Jakarta:
Pustaka Panjimas.
Ide-ide guru, Peranan Guru Dalam Pendidikan
Karakter, Budaya, Dan Moral, dalam http://ide-guru.blogspot.com/2010/05/peranan-guru-dalam-pendidikan-karakter.html
diakses tanggal 15/03/2013
Joesoep, Daoed, Membangun Karakter Mulai dari Pendidikan Sesuai Ajaran
Islam, dalam: http://lemlit.uhamka.ac.id/index.php?pilih=news&mod=
yes&aksi= lihat &id= 153&judul=dr-daoed-joesoep-:-membangun-karakter-mulai-dari-pendidikan-sesuai-ajaran-islam.html, diakses Jum’at
15/03/2013)
Lez (penulis),
5 Maret 2013. Rosniati Hakim, MDA Lahirkan Generasi Berkarakter dan
Islami, Padang, Investigasi, dalam: http://mingguaninvestigasi.blogspot.com/
2013/03/dr-dra-rosniati-hakim-mag-mda-lahirkan.html, selasa 28
Juni 2014
Majdi, Udo Yamin
Efendi, 2007. Quranic Quontient; Menggali dan Melejitkan potensi Diri
Melalui Al-Quran, Jakarta: Qultum Media.
M. Furqon Hidayatullah.
2010. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas.
Surakarta: Yuma Pustaka.
Maskawaih, Ibnu, 1908. Tahzibu al-Akhlaq, Kairo: Dar al Nahdhah
al Mishriyah
Megawangi, Ratna, 2007.
Semua Berakar Pada Karakter. Jakarta: FE-UI.
Muhaimin, 2003.
Arah Baru Pengembangn Pendidikan Islam, Bandung: Nuansa Cendikia,
Muhammad, Mawardi, tt. Jawahir al Ahadis, Padang Panjang: Pustaka Sa’adiyah.
Mukti, Al-Ustadz Abdul, TS., 1987. Manhalul ’Irfan,Ilmu Tajwid
dan Adab Memmbaca Al-Quran, di edit oleh: Harry Suryana, Bandung: Pen, CV.
Sinar Baru
Mulyasa, 2012. Manajemen
Pendidikan Karakter, Jakarta: Bumi Aksara
Nata, Abuddin. 1996. Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Razak,
Nashruddin, 1993. Dienul Islam, Bandung: Al-Ma’arif
Samak, Saleh,
M., 1983. Ilmu Pendidikan Islam-Fannu al
Tadris
Syahain. Judul asli: “Dustuur al
Akhlaq fii al-Qur’an,” Kuwait, Daar al Buhuusti al ‘Ilmiiyah.
Tim Perumus,
2008. Kurikulum Pendidikan Alquran di
sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Pertama, Sekolah Lanjutan Atas, Dinas
Pendidikan Nasional Sumatera Barat.
UU No 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Yunus, Mahmud, 1878 M/1398 H. Metodik Khusus Pendidikan Agama,
Jakarta: PT. Hidakarya
Yunus, Mahmud. 1975. Akhlak,
Jakarta: Hidakarya Agung
[1]
Makalah pernah disampaikan pada Seminar Internasional; Rekonstruksi Formulasi
Penyelenggaraan Pendidikan Islam sebagai pendidkan Islam Berkarakter. Kegiatan
dalam rangka HUT ke-63 Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) di
Provinsi Sumatera Barat, bersama IAIN Imam Bonjol dan Kementerian Agama , 16
Maret 2013 di Auditorium Gebernuran Padang Prov. Sumatera Barat. Untuk jurnal ini, beberapa bagian dilakukan penyempurnaan, walaupun
masih jauh dari kesempurnaan.
Terimakasih Tulisnya sangat bermanfaat untuk bahan referensi. :)
BalasHapus